fbpx

Menikmati Perbincangan Till There Was You, Kompleksitas di Balik Kesederhanaan

[Nia Agustina].

 

Far as the bird fly
As if every places
are memories
And after wound
There was no words

He flew away
As time pass longing
Oh to those eyes
His smile, and everything about him

In those eyes
I see everything
We see everything
Witnessing the love and life

Doors are open
There’re clouds and rain
Making love

Walking our own paths
Tell the world our story..

Alunan lagu In Those Eyes dengan lirik di atas membuka podcast yang dipandu oleh perempuan berjaket merah. Di tengah-tengah lagu, tiba-tiba ada perempuan lugu berbaju putih masuk dan ikut menyanyi bersama perempuan berjaket merah. Terlihat canggung menyanyi berdua, tapi mereka juga terasa menikmati. Setelah lagu usai, perempuan berjaket merah berinisiatif mengajak perempuan berbaju putih ikut ngobrol-ngobrol di dalam podcastnya. Dengan segan, perempuan berbaju putih yang mengenalkan dirinya dengan nama Wajah mengiyakan tawaran perempuan berjaket merah, si Cermin. Akhirnya meraka memulai obrolan mulai dari membahas lagu yang baru saja mereka nyanyikan bersama, soal kenangan, soal cinta dan bercinta, rindu, laki-laki, dan segala hal remeh temeh lainnya. Semua obrolan terasa tidak benar-benar selesai, meloncat dengan asiknya dari satu persoalan ke yang lainnya. Saya jadi teringat bagaimana ketika saya dan teman-teman nongkrong di cafe, selama berjam-jam kami akan secara acak membicarakan berbagai hal, dari memberitakan apa yang berubah dari masing-masing kita selama tidak saling bertemu, keluhan, hobi yang sedang dijalani, dan banyak lagi, semua obrolan itu juga tidak pernah tuntas ada kesimpulannya bahwa hobi yang satu lebih baik dari hobi yang lain atau perkembangan hidup yang satu lebih menarik dari perkembangan hidup yang lain. Masing-masing dari kita hanya mendengarkan dan berbicara bergantian dengan sama-sama antusiasnya, dan sudah, keperluannya hanya itu mendengarkan dan didengarkan. Meskipun apa yang dibicarakan berupa keluhan, terkadang masing-masing hanya ingin merasa didengarkan, tidak selalu penting perihal memberi solusi atau tidak meskipun kita teman dekat. Jadi memang obrolan antara Wajah dan Cermin terasa demikian, obrolan intim warung kopi.

Obrolan itu berlanjut hingga distraksi dari sosok bernama Bayangan yang diidentifikasi oleh Cermin dan Wajah berjenis kelamin laki-laki muncul. Cermin dan Wajah akhirnya mengajak Bayangan yang sedang kebingungan atas eksistensinya untuk bergabung dalam obrolan. Cerita tentang patah hati dan menduakan kekasih mewarnai obrolan yang sesekali disisipi isak tangis Bayangan. Podcast itu berakhir dengan tidak terduga namun terasa reflektif bagi saya sebagai penonton. Bahwa dengan segala kerumitan, kecepatan, kesibukan di hari-hari, bisa jadi kemudian kita sering lupa untuk mendengarkan diri kita sendiri, menyelami diri kita sendiri, bahkan seringkali kita tidak “hadir” dalam diri kita sendiri, bukankah begitu?

BACA JUGA:  Mother or Earth, Tinjauan dari Kursi Penonton Mother Earth Produksi Mila Art Dance

30 menit pembicaraan acak dalam pertunjukan berformat podcast itu terasa tidak memaksa, mengalir, dan meskipun tema-tema pembicaraannya remeh temeh, namun konsep-konsep dan pertanyaan-pertanyaan penting seperti, apa itu laki-laki dan perempuan? Bagaimana tabu dan tidak tabu? Apa itu bahagia dan sedih? Bagaimana merentang konsep dalam gap budaya desa kota? Dan masih banyak pertanyaan-pertanyaan lain. Semua pertanyaan itu muncul dengan perlahan namun asik kepada saya sebagai penonton.

Nilam Hao Xie, memerankan tokoh Cermin dan Dinar Roos sebagai Wajah. Foto dok. PSBK

Dilema pertunjukan online dan siasat podcast.

Pandemi Covid-19 di tahun 2020 ini menyeret kita untuk menyelami kemungkinan lain dari sebuah pertunjukan, salah satunya dengan pertunjukan dalam bentuk video yang disiarkan online, baik melalui media sosial maupun platform penyiaran video. Yang sulit dari kondisi ini adalah bahwa menerima kemungkinan tentang pertanyaan apakah ini pertunjukan, dokumentasi pertunjukan, atau bahkan film? Kelapangan menerima bahwa mungkin memang ini bukan seni pertunjukan sebagaimana definisinya. Namun hal baik dari kondisi ini tentu memberi ruang belajar bagaimana memilih alihwahana yang tepat dari pertunjukan yang kita kerjakan dengan memikirkan bagaimana penonton cukup dapat menikmatinya seperti intensi yang kita bayangkan. Ini pula negosiasi yang harus dialami pertunjukan Till There Was You. Banyaknya percakapan dan sedikitnya perubahan suasana dalam naskah yang ditulis secara kolaboratif oleh Dinar Roos dan Andy Eswe, disambut oleh tawaran format podcast oleh sutradara, Ahmad Jalidu. Ini tentu logis jika ditimbang berdasarkan bentuk naskah.

Untuk menyelami format podcast yang ditawarkan oleh pertunjukan ini, saya mencoba mengobservasi karya ini salah satunya tanpa menonton videonya, hanya benar-benar mendengarkan suara melalui earphone, dan ternyata saya tetap dapat menikmati obrolan dari Wajah, Cermin, dan Bayangan ini. Ini juga salah satu bukti bahwa memang format podcast bekerja dengan baik dalam pertunjukan ini, namun ini pengalaman yang sangat subyektif yang dapat berbeda dari satu penonton dan lainnya, jadi mengalami sendiri format audio dari pertunjukan ini menjadi penting. Selain itu, format ini menjadi menarik karena kali ini pertunjukan dilaksakanakan secara online melalui Youtube yang selama masyarakat diminta untuk tinggal di rumah untuk menekan penyebaran Covid-19, melalui platform ini tumbuh pula podcaster-podcaster baru. Di bulan April 2020, saat pandemi Covid-19 sudah terdeteksi merebak hampir di seluruh penjuru dunia, pendengar podcast secara global meningkat 42%.1) Selain itu, lebih dari 20% pengguna Spotify di Indonesia mendengarkan podcast setiap bulan, dengan jumlah lebih tinggi dari rata-rata global.2) Sebegitu besar perkembangan podcast baik di ranah global maupun dalam negeri, sehingga kemungkinan besar penonton pertunjukan di Indonesia juga familiar dengan format podcast baik yang ditayangkan melalui Youtube maupun diperdengarkan melalui berbagai aplikasi streaming audio. Membaca kondisi ini, memang menarik “meretas” seni pertunjukan dalam format podcast, yang artinya membawa penonton pada format yang mereka kenali sehari-hari di dalam belantara online streaming, sehingga tidak perlu bersusah payah membuat penonton masuk ke dalam pertunjukan ini.

BACA JUGA:  Butakah Kami? : Catatan dari Pertunjukan "Kami Bu-Ta" APDC
Pertunjukan Till There Was You Jagongan Wagen 2020
obrolan sederhana yang ringan dalam Till There Was You. Foto dok. PSBK

Para aktor, Dinar Roos sebagai Wajah, Nilam Hao Xie sebagai cermin, dan Ficky Tri Sanjaya sebagai Bayangan juga dengan apik menyampaikan kalimat perkalimat obrolan mereka dengan cukup terlihat nyaman, bahkan Dinar dan Nilam terasa seperti tidak perlu terlalu berusaha untuk memasuki peran Wajah dan Cermin. Ficky Tri Sanjaya meskipun sejatinya berbasis pantomimer, namun juga tidak kesulitan dalam peran yang membutuhkan dialog. Ada banyak hal tentunya yang mempengaruhi kenyamanan, karena dari naskahnya sendiri memang cukup memberi peluang untuk para aktor berbincang sebagaimana dalam obrolan keseharian ketika nongkrong atau berkumpul dengan teman di cafe seperti yang telah diutarakan di atas. Kondisi semacam ini tentu menguntungkan karena memori perbincangan dalam situasi itu sangat dekat dengan masing-masing aktor. Lagu-lagu yang diaransemen oleh Jenar Kidjing juga menambah kekhidmatan dalam menyelami perbincangan selama pertunjukan berlangsung. Lagu-lagu dengan aransemen yang sederhana berbasis instrumen yang minimalis juga menjadi pilihan bijak dalam karya dengan efek editing video yang juga terasa tidak neko-neko tapi beralasan.

Dengan naskah dan format keseluruhan pertunjukan, serta lagu-lagu yang ditampilkan semuanya tidak terasa berat, ringan, sekali lagi, remeh-temeh, tapi di balik kalimat-kalimat yang terucap di balik kemasan pertunjukan dan video dengan format podcast yang terkesan tidak rumit, dan di balik lirik serta aransemen lagu yang ear catching, syahdu, namun sederhana, ada kompleksitas yang dapat menjadi ruang pertemuan dengan pengalaman hidup masing-masing penonton sendiri, terasa dekat namun universal. Seperti lagu The Beatles yang berjudul sama, Till There Was You yang menjadi inspirasi awal karya ini, lirik yang sederhana dengan aransemen musik yang sederhana, namun terasa dekat dengan pengalaman pendengar, dan terasa universal ketika membicarakan soal cinta. Bukankah kita sebenarnya sudah kaya dengan pengalaman sepanjang hidup kita, bahwa kita sudah punya mekanisme menyelesaikan bertahan dan pengetahuan untuk menyelesaikan masalah dalam perjalanan hidup kita? Hanya saja kita sering lupa karena lagi-lagi terlalu sibuk dengan apa yang ada di luar diri, maka pertunjukan ini seperti ada dalam posisi sebagai pengingat saja bahwa kita punya kekayaan itu, jangan mengharapkan mendapatkan solusi atau kesimpulan dari pertunjukan ini.

BACA JUGA:  Menengok Kembali IDF 2018: Membaca Tari Kontemporer di Ruang Demokrasi Hari Ini

Saran saya, alami sendiri pertunjukan ini dengan terbuka, mindful, dan jika ada memori dan pengalaman lalu yang menyeruak selama menonton tidak perlu dihindari, tidak perlu terganggu, nikmati dengan segelas kopi atau teh bersama yang dicintai.

Catatan kaki:
  1. https://wptavern.com/podcasting-during-the-pandemic-castos-sees-300-growth-in-new-podcasters
  2. https://teknologi.bisnis.com/read/20200607/101/1249532/pandemi-covid-19-industri-podcast-bakal-makin-cuan

 

Data Pertunjukan

Judul : Till There Was You
Penulis : Dinar Ross dan Andy Eswe
Aktor : Dinar Roos (Wajah), Nilam Hao Xie (Cermin), Ficky Tri Sanjaya (Bayangan)
Music Director : Jenar Kidjing
Sutradara : Ahmad Jalidu

Tim Kreatif Till There Was You
Berdiri ki-ka : Ficky Tri Sanjaya, Jenar Kidjing.
Duduk ki-ka: Nilam Hao Xie, Ahmad Jalidu, Dinar Roos.
Foto dok. PSBK

Till There Was You adalah pertunjukan yang digelar ke publik sebagai bagian dari program Jagongan Wagen, sebuah program fasilitasi penciptaan pertunjukan oleh Padepokan Seni Bagong Kussudiardja, Bantul, D.I. Yogyakarta. Till There Was You, adalah karya yang digagas oleh Dinar Roos, seniman pertunjukan penerima Hibah Seni PSBK 2020.

Pertunjukan ditayangkan perdana di Youtube pada 25 Oktober dan masih terus bisa disimak di chanel Youtube: Media PSBK atau klik link berikut : https://www.youtube.com/watch?v=YYeWb5I3leU

 

 

 

Nia Agustina

Producer dan pendiri Paradance Festival di Yogyakarta. Bekerja sebagai kurator Indonesian Dance Festival 2017-2020.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *