Selasa, Juli 14, 2026
ULASANPanggung Tari

Ritual Syukur yang Hidup di Atas Panggung: Pesta Gawai Dayak di TMII

Sore hari yang cerah di Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Percakapan para pengunjung yang semula ramai perlahan mereda ketika dentuman gong mulai terdengar dari panggung terbuka. Beberapa penonton yang masih berjalan menghentikan langkahnya, sementara yang lain mengarahkan pandangan ke arah panggung dengan rasa penasaran. Kepulan asap dupa mulai memenuhi arena pertunjukan, disusul kemunculan seorang kepala suku yang berjalan perlahan sambil memimpin prosesi ritual. Kehadirannya bersama seorang anak yang membawa bunga membuat suasana berubah menjadi lebih khidmat. Beberapa penonton tampak mengabadikan momen tersebut dengan telepon genggam, sedangkan anak-anak yang berada di barisan depan memperhatikan setiap gerakan para penampil dengan antusias. Rasa penasaran tersebut kemudian terjawab melalui Pesta Gawai Dayak, sebuah pertunjukan yang mengangkat tradisi ungkapan syukur masyarakat Dayak atas hasil panen yang melimpah. Tradisi ini merupakan bentuk penghormatan kepada Tuhan, leluhur, dan alam yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat Dayak. Pertunjukan dibawakan oleh para penari dari Anjungan Kalimantan Barat TMII yang berupaya memperkenalkan kekayaan budaya Dayak kepada masyarakat melalui seni pertunjukan. Kehadiran para penari tidak hanya berfungsi sebagai penyaji karya tari, tetapi juga sebagai representasi budaya yang membawa identitas masyarakat Dayak ke ruang publik.

Pertunjukan Pesta Gawai Dayak oleh penari Anjungan Kalimantan Barat di panggung terbuka TMII.
Pertunjukan Pesta Gawai Dayak oleh penari Anjungan Kalimantan Barat di panggung terbuka TMII.

Pemilihan panggung terbuka dengan latar danau menjadi salah satu kekuatan visual pertunjukan. Ruang terbuka tersebut cukup relevan dengan tema Pesta Gawai Dayak karena kehidupan masyarakat Dayak sangat erat kaitannya dengan alam, sungai, dan hutan sebagai sumber kehidupan. Latar danau serta pepohonan di sekitar arena membantu membangun imajinasi penonton seolah-olah sedang menyaksikan sebuah perayaan adat di lingkungan masyarakat Dayak. Pertunjukan menggunakan pola panggung arena terbuka dengan posisi penonton berada di sisi depan menghadap langsung ke area pertunjukan sehingga seluruh rangkaian prosesi dapat diamati dengan jelas. Ruang pentas yang luas memungkinkan penari membentuk berbagai pola lantai, seperti garis lurus, diagonal, dan lingkaran yang mendukung jalannya cerita. Pada bagian penutup, para penari mengajak penonton untuk ikut menari bersama sehingga penonton tidak hanya berfungsi sebagai pengamat, tetapi juga menjadi bagian dari suasana perayaan yang dibangun selama pertunjukan.

Salah satu kelebihan utama pertunjukan ini terletak pada kemampuan koreografer menerjemahkan sinopsis ke dalam bentuk visual yang mudah dipahami. Adegan ritual yang dilakukan oleh tokoh kepala suku bersama seorang anak mampu menggambarkan penghormatan kepada leluhur sekaligus ungkapan syukur atas hasil panen. Hal ini sesuai dengan pendapat Suzanne K. Langer yang menyatakan bahwa seni merupakan bentuk simbolis (symbolic form) yang digunakan manusia untuk mengungkapkan pengalaman, perasaan, dan gagasan yang tidak selalu dapat disampaikan melalui bahasa verbal. Simbolsimbol berupa asap dupa, taburan bunga, gerak ritual, kostum, serta interaksi antartokoh berhasil menyampaikan makna budaya kepada penonton tanpa memerlukan penjelasan secara lisan. Dengan demikian, pesan yang terkandung dalam Pesta Gawai Dayak dapat dipahami melalui pengalaman visual yang disajikan di atas panggung.

BACA JUGA:  Dibuka: Hibah Seni PSBK 2019
Kepala suku bersama seorang anak membawa bunga dalam prosesi ritual Pesta Gawai Dayak di TMII.
Kepala suku bersama seorang anak membawa bunga dalam prosesi ritual Pesta Gawai Dayak di TMII.

Dari segi tata musik, pertunjukan ini memiliki nilai lebih karena menggunakan musik yang dimainkan secara langsung di atas panggung. Para pemusik mengenakan kostum bernuansa merah dan hitam serta memainkan alat musik tradisional, seperti gong, gendang, ketawak, dan sampeq (sape’) yang menjadi identitas musikal masyarakat Dayak. Irama musik mampu mengikuti perubahan suasana dari prosesi ritual hingga perayaan sehingga membangun atmosfer pertunjukan secara konsisten. Meskipun dipentaskan di ruang terbuka, tata suara terdengar cukup jelas dan mampu menjangkau area penonton. Musik tidak hanya berfungsi sebagai pengiring gerak, tetapi juga memperkuat suasana sakral sekaligus meriah yang menjadi ciri khas Pesta Gawai Dayak. Hal ini sejalan dengan pendapat Soedarsono bahwa tari memiliki fungsi sebagai sarana upacara sekaligus hiburan. Kedua fungsi tersebut tampak berjalan berdampingan sehingga penonton memperoleh pengalaman budaya sekaligus pengalaman estetik.

Bagian yang paling berkesan terdapat pada adegan ritual pembuka ketika kepala suku berjalan mengelilingi arena sambil menyebarkan asap dupa, sedangkan seorang anak menaburkan bunga ke arah penonton. Perpaduan aroma dupa, taburan bunga, iringan musik tradisional, serta latar danau menciptakan suasana yang sakral dan memukau. Banyak penonton tampak larut dalam suasana, bahkan beberapa di antaranya mengabadikan momen tersebut karena dianggap menarik dan berbeda dari pertunjukan tari pada umumnya. Hal ini sesuai dengan pandangan John Dewey mengenai seni sebagai pengalaman (art as experience), yaitu bahwa karya seni mampu melibatkan emosi dan indra penikmatnya. Dalam pertunjukan ini, penonton tidak hanya melihat rangkaian gerak tari, tetapi juga merasakan pengalaman budaya yang dibangun melalui perpaduan unsur gerak, musik, tata panggung, dan simbolsimbol ritual.

Meskipun demikian, masih terdapat beberapa aspek yang perlu diperbaiki. Dari segi tata busana, kostum penari perempuan yang didominasi warna kuning dan merah memang terlihat menarik secara visual, tetapi bentuknya cenderung merupakan hasil modifikasi modern sehingga identitas busana tradisional Dayak belum tergambar secara maksimal. Selain itu, kualitas teknik beberapa penari perempuan juga masih belum merata. Pada beberapa bagian terlihat adanya keterlambatan perpindahan posisi, kurangnya kekompakan gerak, serta beberapa penari yang masih menoleh untuk mencontoh gerakan rekannya. Menurut Soedarsono, teknik merupakan unsur penting dalam penyajian tari karena menentukan kualitas penampilan, sedangkan Alma M. Hawkins menekankan pentingnya kesadaran tubuh dan kepercayaan diri seorang penari dalam menyampaikan ekspresi. Oleh karena itu, latihan yang lebih intensif serta pendalaman terhadap makna gerak perlu dilakukan agar kualitas penyajian semakin optimal.

BACA JUGA:  Menghapus Garis Antara “Yang Realis” dan “Yang Mistis” | Catatan Atas Pertunjukan “Kapai-Kapai” Teater Kami Bercerita
Penari perempuan membawakan tarian Pesta Gawai Dayak dengan kostum bernuansa kuning dan merah.
Penari perempuan membawakan tarian Pesta Gawai Dayak dengan kostum bernuansa kuning dan merah.

Kelemahan lain terlihat pada pola keluar-masuk penari dan penggunaan properti. Beberapa penari tampak masih kebingungan saat melakukan perpindahan formasi sehingga terjadi kesalahan arah dan keterlambatan menempati posisi. Dalam teori komposisi tari Jacqueline Smith, perpindahan ruang harus dirancang dan dilaksanakan secara jelas agar alur pertunjukan tetap mengalir. Selain itu, terdapat aksesori yang sempat terjatuh dan beberapa properti yang kurang tepat penempatannya sehingga sedikit mengurangi kerapian visual pertunjukan. Secara keseluruhan, Pesta Gawai Dayak berhasil menyampaikan makna rasa syukur masyarakat Dayak melalui perpaduan gerak, musik, dan simbol-simbol ritual yang komunikatif. Kekuatan pertunjukan terletak pada keberhasilannya membangun suasana budaya Dayak yang autentik melalui musik langsung, penyajian visual yang menarik, serta interaksi dengan penonton. Sementara itu, kekurangan yang muncul lebih banyak berada pada aspek teknis penari, penguasaan formasi, penggunaan properti, dan pemilihan kostum. Pertunjukan ditutup dengan ajakan menari bersama penonton yang menciptakan suasana hangat, akrab, dan penuh kebersamaan, sehingga perayaan panen tidak hanya menjadi milik para penampil, tetapi juga menjadi ruang berbagi kebahagiaan dengan seluruh masyarakat yang hadir menyaksikannya.

Kurangnya keselarasan antara penari kemungkinan tidak hanya dipengaruhi oleh keterampilan teknis masing-masing, tetapi juga oleh kondisi tempat pertunjukan dan tingkat kompleksitas koreografi. Panggung terbuka di TMII memiliki ukuran yang cukup besar, sehingga memerlukan orientasi ruang yang baik dan kemampuan untuk menjaga jarak antarpenari secara konsisten. Di beberapa bagian, penari perlu beralih dari satu formasi ke formasi lainnya melalui pola pergantian yang diagonal, melingkar, dan lurus dalam waktu yang relatif singkat. Kerumitan dalam perpindahan ini bisa membuat beberapa penari lebih berkonsentrasi pada pencarian posisi daripada menjaga keseragaman dalam kualitas gerak, sehingga dapat muncul keterlambatan atau gerakan yang tidak serentak. Dengan demikian, kurangnya keselarasan dalam pertunjukan ini dapat dipahami sebagai hasil dari kombinasi antara tuntutan koreografi yang cukup kompleks dan tantangan dalam beradaptasi dengan panggung yang luas. Latihan blok dan orientasi ruang yang lebih sering akan membantu penari menjadi lebih percaya diri, menjaga ketepatan formasi, serta membuat penampilan tarian terlihat lebih kompak dan seragam.

BACA JUGA:  Mantra-Mantra Yang Bergerak : Catatan atas “Magic of Women” oleh Studio Taksu

Meskipun demikian, kekurangan tersebut tidak mengurangi nilai utama pertunjukan sebagai representasi budaya Dayak yang komunikatif. Dengan penyempurnaan pada aspek penguasaan ruang, ketepatan pola lantai, dan kekompakan antarpenari, Pesta Gawai Dayak berpotensi menjadi sajian yang tidak hanya kuat secara konseptual, tetapi juga semakin matang dari segi artistik dan teknis.


Donasi untuk gelaran.id dan program Adisukma Inisiatif lainnya
Donasi untuk gelaran.id dan program Adisukma Inisiatif lainnya
Dena Hanifa

Dena Hanifa

Dena Hanifa adalah mahasiswa Program Studi Pendidikan Tari dari Universitas Negeri Jakarta yang aktif dalam bidang seni tari, dan penelitian budaya. Memiliki ketertarikan pada pelestarian seni tradisi serta pengembangan kreativitas melalui pertunjukan dan kajian seni.