Menimbang Kembali Makna Dukungan: Hadir Sepenuhnya, Menjadi Manusia
[BAHASA INDONESIA] *English below
*Tulisan ini adalah terjemahan naskah presentasi saya di Morishita Studio Tokyo pada 25 Februari 2026 lalu yang merupakan bagian dari program Visiting Fellows The Saison Foundation

Saya ingin memulai dengan menyampaikan rasa terima kasih yang tulus kepada semua orang yang berkesempatan saya temui dan ajak berdiskusi sebelum saya datang ke Jepang, serta kepada mereka yang saya temui di Jepang yang telah membantu saya memperoleh berbagai wawasan untuk presentasi ini.
Meskipun apa yang saya presentasikan di sini tidak dapat sepenuhnya mencakup setiap percakapan yang telah saya lakukan, masing-masing percakapan tersebut sungguh telah menantang, menumbuhkan, dan memperluas perspektif saya dengan cara yang sangat bermakna.

Sebelum memulai, saya ingin terlebih dahulu mengakui bahwa setiap kali kita berbicara tentang dukungan dalam konteks dunia seni pertunjukan, kita tidak pernah berbicara dari posisi yang netral. Masing-masing dari kita datang dari infrastruktur yang berbeda, ekonomi yang berbeda, strategi bertahan hidup yang berbeda, sistem sosial yang berbeda—singkatnya, dari konteks yang berbeda.
Karena itu, penting untuk memulai dari konteks saya sendiri sebelum merefleksikan percakapan-percakapan yang saya lakukan selama berada di dan bahkan sejak sebelum saya datang ke Jepang.

Saya berasal dari konteks menjalankan Paradance Platform sebagai basis praktik saya. Kami telah beroperasi sejak tahun 2014. Paradance Platform dimulai sebagai sebuah inisiatif kecil dengan tujuan untuk merawat dan mendukung koreografer muda Indonesia-muda di sini tidak terbatas pada umur saja, namun juga muda dalam lintasan berkarya.
Program kami berkembang seiring waktu. Pada tahun 2014, kami memulai sebagai ruang showcase di mana para koreografer dapat mencoba karya mereka di depan penonton publik. Kami menamai program ini Paradance Mini Festival of Movement and Dance, dan rata-rata kami menyelenggarakannya tiga kali setiap tahun. Program ini berbasis open call, dan untuk setiap edisi kami memilih lima hingga tujuh karya dari koreografer Indonesia yang mendaftar. Hingga saat ini kami telah menyelenggarakan 36 edisi program showcase ini dan menampilkan sekitar 212 karya dari koreografer yang berasal dari berbagai wilayah di Indonesia.

Apa yang kami tawarkan sebenarnya sederhana: sebuah panggung dengan dukungan teknis dan staf, kesempatan bagi karya mereka terhubung dengan publik, akomodasi bagi koreografer yang datang dari luar Yogyakarta, serta ruang untuk bercakap. Kami tidak mengharapkan karya yang sudah final; karya dalam proses maupun presentasi riset dalam format performans juga sangat mungkin dipentaskan dalam ruang ini.


Seiring waktu, kegiatan kami juga berkembang. Saat ini kami juga menjalankan program edukasi bagi seniman dan komunitas, program penulisan bagi koreografer, program residensi, serta menyelenggarakan presentasi produksi akhir atau pentas keliling dari seniman Indonesia maupun luar negeri. Karena kami tidak memiliki sumber daya finansial yang besar, transparansi kepada seniman dan mitra mengenai apa yang dapat kami tawarkan dan apa keterbatasan kami sebelum mereka terlibat dalam program kami menjadi sangat penting.
Sejak awal, sebagian besar kebutuhan finansial kami berasal dari kantong pribadi, hibah kecil per proyek, serta donasi. Namun selama ini kami tidak pernah membutuhkan dana dalam jumlah yang sangat besar, karena kami didukung oleh komunitas dalam bentuk ruang, fasilitas teknis, dan kerja kolektif. Tentu saja, kami tidak take it for granted atas hadirnya dukungan ini.

Basis kami berada di sebuah ruang bernama Balai Budaya Minomartani, yang terletak di bagian utara Yogyakarta. Ruang ini menjadi rumah bagi beragam kelompok—mulai dari praktisi seni pertunjukan kontemporer seperti kami hingga praktisi seni tradisional. Ruang ini juga digunakan oleh warga setempat untuk berbagai pertemuan dan kegiatan komunitas.
Setelah memilih ruang ini sebagai rumah bagi Paradance Platform, saya merasa memiliki tanggung jawab bukan hanya untuk menjalankan program kami, tetapi juga untuk terlibat dalam merawat ruang ini sebagai bangunan dan sebagai komunitas. Jadi sistemnya, karena tim kami mendukung pengelolaan ruang ini dan program-program komunitas lain, orang-orang di sini juga mendukung ketika kami menjalankan program Paradance Platform. Semuanya berjalan melalui resiprositas—melalui memberi dan menerima, melalui hubungan yang dirawat. Setiap kelompok, bahkan setiap individu yang bernaung di Balai Budaya Minomartani, memiliki visi yang beragam, tetapi di satu sisi kami menjaga ruang ini bersama-sama.

Begitulah cara ruang ini beroperasi sejak didirikan pada tahun 1990. Sistem ini tidak dimulai oleh tim Paradance Platform; kami masuk ke dalam sistem yang sudah ada dan memilih untuk terus bekerja dengan cara ini karena model ini telah terbukti secara berkelanjutan dalam menjaga keberlangsungan ruang ini.
Ruang ini sebagian besar berfungsi di luar logika moneter—bukan karena kami menghindari mencari dukungan finansial, tetapi karena dalam konteks kami memang tidak banyak peluang pendanaan yang tersedia.
Pada saat yang sama, jika kami menunggu pendanaan untuk melakukan sesuatu, ruang ini hanya akan menjadi bangunan kosong, bukan ruang yang hidup. Jadi kami menjalankannya sekreatif mungkin dengan menggunakan semua sumber daya yang kami miliki. Kami mengaktifkan ruang ini dengan apa yang tersedia.
Sebagai bagian dari ruang komunal yang telah lama ada, masing-masing orang di dalamnya menawarkan apa yang bisa kami berikan—baik kontribusi material maupun immaterial: perhatian, kehadiran, waktu, energi, pengetahuan, keterampilan praktis, donasi finansial, makanan, dan lain-lain. Dari waktu ke waktu kami menerima donasi kecil dari individu maupun para anggota, serta sesekali hibah kecil.
Hingga tahun 2022, kami tidak pernah memiliki dana dalam jumlah besar—hanya cukup untuk menjaga program dan ruang tetap berjalan. Sampai akhirnya, pada tahun 2023, kami menerima pendanaan pemerintah yang jumlahnya dua puluh kali lebih besar dari dana yang sebelumnya pernah ada di rekening organisasi kami untuk satu tahun program.
Saat itu, kami merasa dukungan akhirnya datang. Kami bahkan dapat membayar beberapa orang dengan gaji bulanan yang sederhana.
Namun sesuatu mulai berubah.
Relasi di dalam ruang ini mulai mengalami pergeseran. Konflik muncul. Beberapa anggota mulai menjauh. Koneksi relasional kami mulai melemah. Uang ternyata membawa ritme yang berbeda.
Kami akhirnya menyadari bahwa tidak semua kerja dapat dibaca secara ekonomi. Ada kerja yang bersifat afektif, kultural, historis, dan relasional. Kerja seperti ini terlalu kompleks untuk diukur secara kuantitatif. Ketika dukungan finansial masuk ke dalam ruang kami, ia membawa logika baru. Dalam kasus kami, logika ini justru menyederhanakan hubungan manusia yang telah dibangun dalam waktu lama, dengan seluruh kompleksitas dan kedalamannya.
Saya menyadari bahwa penjelasan ini mungkin masih terdengar membingungkan atau sulit dipahami. Saya sendiri masih kesulitan mengartikulasikannya dengan jelas, karena konteks ini lebih mudah dipahami ketika kita merasakannya sendiri. Namun saya berharap penjelasan ini dapat memberikan dasar bahwa ketika saya berbicara hari ini, saya berbicara dari titik ini. Dan saya percaya latar belakang ini secara tidak terelakkan membentuk refleksi yang akan saya bagikan dalam sesi kali ini.

Minggu lalu (17 Februari 2026) saya bertemu Tomoyuki Arai dan Hiromi Maruoka, dan saya mendapat sebuah pertanyaan cukup sulit yang terus terngiang di pikiran saya:
- Apakah dukungan adalah tujuan dari apa yang kita lakukan?
Atau
- Tujuan itu sebenarnya sudah ada terlebih dahulu, sehingga kita merasa perlu untuk mendukungnya?
Sebelum datang ke program ini, saya berkesempatan berbincang dengan beberapa seniman Indonesia—sebagian besar koreografer—yang berasal dari latar belakang yang beragam (secara geografis, pendekatan kerja, gender, status pernikahan, dan sebagainya).
Salah satu seniman, Eka Wahyuni, mengatakan bahwa agar orang dapat mendukung kita, pertama-tama kita perlu mempertanyakan diri kita sendiri tentang visi dan agensi kita sebagai seniman. Kita perlu mulai membangun tubuh karya dan peta jalan kita sendiri, serta memetakan posisi dan agensi yang kita pilih dalam ekosistem seni. Dari kejelasan inilah, kita dapat memahami apa yang sebenarnya kita butuhkan. Kemudian barulah kita dapat mencari jenis dukungan yang selaras dengan kebutuhan tersebut. Di sisi lain, pihak yang ingin mendukung kita juga tidak akan bingung, karena senimannya sudah jelas soal apa yang dituju.
Dalam situasi ini, maka seniman sudah memiliki tujuan, dan dukungan menjadi sarana untuk memperkuat dan mempertahankan tujuan tersebut.
Namun tidak semua seniman dan praktisi seni serta merta tahu apa yang mereka inginkan. Mereka mungkin belum memiliki visi yang jelas atau agensi yang terdefinisi. Semua itu tentu membutuhkan waktu untuk dipelajari, dieksplorasi, dan dibentuk.
Dalam situasi seperti ini, dukungan bukan hanya alat untuk mempertahankan tujuan yang sudah terbentuk—dukungan justru menjadi bagian dari tujuan itu sendiri. Dukungan menjadi ruang di mana visi terbentuk, di mana agensi ditemukan, dan di mana arah artistik serta tubuh karya perlahan mulai terbangun. Dukungan menciptakan kondisi yang memungkinkan tujuan itu muncul.
Banyak seniman yang saya temui bahkan tidak cukup memiliki privilese untuk menyadari bahwa mereka sebenarnya memiliki pilihan. Mungkin terdengar aneh mengatakan bahwa seseorang tidak tahu bahwa ia memiliki kebebasan untuk memilih. Tetapi ini adalah kondisi yang nyata. Pemahaman kita tentang “apa yang mungkin” sangat dipengaruhi oleh lingkungan kita—termasuk sistem pendidikan, konteks budaya, kondisi ekonomi, dan ekspektasi sosial.
Terkadang apa yang kita anggap sebagai “pilihan kita” sebenarnya hanyalah sesuatu yang diberikan kepada kita. Pengetahuan kita dibatasi oleh apa yang pernah kita temui. Jika kita tidak pernah diperlihatkan alternatif, kita mungkin tidak tahu bahwa alternatif itu ada.
Dalam situasi seperti ini, menurut pandangan pribadi saya, pihak-pihak yang menawarkan pilihan juga perlu sadar bahwa tidak ada di antara kita yang benar-benar netral.
Sebagai institusi, pemberi dana, kurator, atau organisasi yang menyediakan kesempatan, program, atau kerangka kerja—kita tidak hanya memberikan dukungan. Kita juga membentuk medan. Kita menentukan praktik seperti apa yang menjadi terlihat, serta estetika dan narasi seperti apa yang dianggap bernilai.
Bahkan ketika niatnya sangat baik, pilihan tidak pernah sepenuhnya netral. Setiap struktur membawa asumsi. Setiap desain program mencerminkan nilai tertentu. Setiap proses seleksi mengandung perspektif tentang apa yang dianggap bermakna, mendesak, atau sah.
Dalam hal ini, dukungan tidak hanya memungkinkan kebebasan—ia juga membingkai kebebasan itu.
Itulah sebabnya mengapa menawarkan pilihan dan membuka ruang bisa memperluas cakrawala, tetapi juga secara tidak sadar dapat membatasi ruang.
Saya akan menyampaikan beberapa kutipan dari seniman yang saya temui di sini (Jepang), namun saya tidak akan menyebutkan nama mereka karena hal ini mungkin cukup sensitif.
Seorang seniman mengatakan kepada saya bahwa karya mereka mungkin tidak cocok dengan platform atau festival besar — dan itu tidak apa-apa. Mungkin justru lebih baik mencari alternatif yang independen, terutama ketika karya tersebut tidak beresonansi dengan struktur yang sudah ada. Dengan cara itu, karya tersebut terasa lebih jujur terhadap tubuh mereka sendiri, dan sekaligus melepaskan tekanan bahwa “kesuksesan” harus selalu didefinisikan melalui pengakuan dari institusi atau platform tertentu.
Seniman lain mengatakan bahwa dia melihat banyak rekan yang karyanya sangat kuat tetapi tidak memiliki kemampuan menulis proposal. Di sisi lain, ada seniman yang proposalnya lebih kuat daripada karyanya, sehingga mereka mendapatkan lebih banyak pengakuan. Akhirnya, dia merasa perlu untuk menjadi baik dalam keduanya — tetapi sebagai seniman, hal ini sangat menantang dan sulit.
Seniman Indonesia, M. Safrizal, mengatakan bahwa menjadi seniman membutuhkan pengelolaan diri — bukan dalam arti fisik atau administratif, tetapi secara spiritual. Kita perlu bersabar dengan proses kita sendiri dan menemukan kejelasan tentang apa yang kita inginkan. Terus melakukan kerja kita, sambil percaya bahwa akan ada platform yang beresonansi dengan apa yang kita lakukan.

Saya merasa inilah cara para seniman mempertanyakan diri mereka sendiri untuk menemukan bentuk kebebasan atau negosiasi di dalam sistem dukungan yang sudah ada. Pada akhirnya, ini semua berkaitan dengan kesadaran atas pilihan.
Sebagai seseorang yang menjalankan sebuah platform, ini menjadi semacam wake-up call bagi saya. Bukan untuk mencoba memenuhi semua kebutuhan setiap seniman yang kami temui — karena itu tidak mungkin — tetapi untuk menjadi lebih sadar akan agensi kami sendiri sebagai pihak yang memberi dukungan. Kejelasan posisionalitas kami juga dapat membantu seniman memutuskan apakah mereka ingin terhubung dengan kami atau tidak.
Saya ingin mengatakan ini dengan tegas: kita tidak perlu mengakses setiap kesempatan yang terbuka. Kita dapat memilih untuk mengakses sesuatu ketika itu beresonansi dengan kita, dan memilih untuk tidak melakukannya ketika hal tersebut tidak sejalan.
Mungkin muncul pertanyaan: mengapa kita tidak memanfaatkan kesempatan yang sudah ada tepat di depan kita?
Karena sistem dukungan yang sudah mapan terkadang memang perlu ditantang — oleh orang-orang atau pihak-pihak yang memilih untuk tidak mengaksesnya ketika tidak selaras dengan mereka, juga oleh orang-orang dan pihak-pihak yang mulai menciptakan bentuk-bentuk dukungan yang baru. Meskipun hal ini mungkin tidak langsung mengubah sistem yang sudah ada, seiring waktu hal tersebut dapat membuka jalur-jalur alternatif.

Di Indonesia, sejak tahun 2022, dengan dukungan Yayasan Kelola dan Kementerian Kebudayaan Indonesia, Jaringan Produser Seni Pertunjukan Indonesia (JPPI) didirikan. Atsuko Hisano menjadi salah satu fasilitator dalam salah satu program JPPI di Bali pada tahun 2024 bersama Sasapin Siriwanij dan Yuya Tsukahara. Sebagai peserta yang mengikuti beberapa programnya sejak tahun 2023, saya merasa pengalaman ini telah memperluas perspektif saya sebagai seseorang yang menjalankan sebuah platform.
Terkadang kita merasa sendirian ketika mencoba mendukung para seniman. Namun di dalam jaringan ini, kami menyadari bahwa kami sebenarnya dapat saling berbagi sumber daya. Mereka yang memiliki koneksi dapat membagikannya kepada yang membutuhkan. Mereka yang memiliki sumber daya finansial dapat berbagi dengan mereka yang memiliki ide, pengetahuan, dan waktu. Mereka yang memiliki program showcase dapat berkolaborasi dengan mereka yang memiliki program inkubasi seniman.
Di dalam forum ini, kami juga berbicara tentang pilihan untuk terhubung atau tidak terhubung. Kita perlu mengetahui agensi masing-masing untuk kemudian dapat berkolaborasi dengan platform yang sejalan dengan nilai-nilai yang kita pegang.
Menciptakan ruang komunal di antara para produser dan platform semacam ini dapat membentuk ruang aman, terutama dalam konteks di mana sumber daya finansial tidak selalu tersedia. Namun dengan catatan kita perlu menghargai sumber daya moneter maupun non-moneter secara setara. Dalam dunia yang kapitalistik, kita sering melihat mereka yang memiliki uang sebagai pihak yang lebih dominan daripada mereka yang tidak memilikinya, meski kontribusi yang diberikan bisa jadi jauh melampaui apa yang dapat diukur dengan uang.

Ketika kita berbicara tentang sumber daya non-moneter, sering muncul pertanyaan: jika tidak ada uang, bagaimana kita membayar orang?
Kondisi kerja yang tidak pasti bukanlah sesuatu yang romantis. Setiap orang berhak mendapatkan kompensasi atas kerja mereka. Saya ingin mengaskan hal ini. Niat saya bukan untuk menolak sistem pembayaran, tetapi untuk mempertanyakan apakah “pembayaran” mungkin memiliki berbagai bentuk yang berbeda tergantung pada konteksnya.
Dalam beberapa konteks, pembayaran jelas berkaitan dengan uang. Namun dalam konteks lain, nilai bayar juga dapat dibangun melalui afeksi, resiprositas, dan saling merawat. Ia menjadi sebuah sistem memberi dan menerima yang tidak selalu dapat diukur secara finansial.
Baik bentuk moneter maupun non-moneter dapat menjadi strategi keberlanjutan dalam cara kita saling mendukung.
Di Indonesia, selama masa pandemi dan berlanjut hingga tahun 2025 — di tengah turbulensi politik setelah presiden baru terpilih, serta berbagai bencana di beberapa wilayah negara — banyak orang mulai mempertanyakan keputusan pemerintah. Kepercayaan terhadap institusi publik menurun di berbagai sektor.
Dalam situasi tersebut, yang kita miliki hanyalah satu sama lain.
Gerakan seperti #salingjaga dan #wargajagawarga muncul — orang-orang saling menjaga satu sama lain. Dalam beberapa hal, ini sebenarnya bukan sesuatu yang sepenuhnya baru dalam konteks Indonesia. Sejak saya kecil, aktivitas komunal telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Kita terbiasa melakukan kerja bersama, saling membantu, dan membangun sistem dukungan di tingkat komunitas masyarakat. Praktik-praktik ini membuat kehidupan menjadi lebih mudah dijalani, karena orang-orang akan saling membantu ketika dibutuhkan — selama kita tetap aktif dalam komunitas tersebut.
Pada masa krisis, logika komunal ini menjadi semakin kuat. Pusat dari gerakan-gerakan ini adalah care — kepedualian, saling merawat. Kepedulian dapat mengambil banyak bentuk: yang terlihat seperti uang atau bantuan material, dan yang tidak terlihat seperti empati, saling menanyakan kabar, berbagi waktu atau ruang, dan saling memperhatikan kebutuhan satu sama lain.
Dari sini, ketika kita merancang sistem dukungan, kita juga perlu berhati-hati agar tidak merusak ekologi relasional yang selama ini menopang kita.

Ketika saya bertemu beberapa seniman tari yang didukung oleh Dance Box NPO di Shin-Nagata, saya sangat terkesan bahwa dukungan dari staf Dance Box tidak berhenti pada soal pengembangan artistik saja. Baik secara sadar maupun tidak, dukungan mereka melampaui program itu sendiri.
Para seniman tersebut bercerita bahwa banyak dari mereka sebenarnya bukan berasal dari Shin-Nagata. Namun setelah mengikuti program tersebut, mereka memutuskan untuk tinggal di sana. Perlahan-lahan mereka mulai menambatkan kehidupan mereka di wilayah itu — dan hal ini juga dimungkinkan oleh dukungan dari orang-orang di Dance Box. Misalnya, mereka dihubungkan dengan hunian yang terjangkau, juga staff Dance Box menjadi teman ngobrol ketika mereka memulai inisiatif kecil atau membuka toko di lingkungan tersebut.
Tanpa mengabaikan usaha dan agensi mereka sendiri, kita dapat melihat bahwa dukungan artistik sebenarnya dapat berkembang menjadi bentuk dukungan yang lebih dalam — bentuk dukungan yang mungkin tidak langsung kita sadari. Ia mengalir secara intuitif, dari manusia ke manusia, melampaui struktur program yang formal.

Minggu lalu saya memasuki minggu ketiga saya di Jepang, dan itu juga merupakan minggu pertama Ramadan. Sebagai seorang Muslim, Ramadan biasanya adalah waktu ketika kami merasa perlu lebih dekat dengan keluarga dan kehidupan spiritual kami. Ini adalah bulan untuk melambat, untuk berkumpul, untuk berada dalam ritme yang familiar. Sejak kecil, tubuh saya telah dibentuk oleh sistem itu — tubuh saya tahu bahwa Ramadan adalah waktu untuk beristirahat dan merasakan keintiman.
Berada di sini, jauh dari keluarga saya pada minggu pertama Ramadan, ternyata lebih sulit dari yang saya bayangkan.
Ketika saya bertemu Reina Kimura saat mengunjungi studionya di bagian barat Tokyo, ia menawarkan sesuatu yang sangat sederhana. Ia bertanya apakah saya ingin pergi ke sungai di dekat studionya. Saya menjawab ya.
Kami hanya duduk di sana dalam diam beberapa saat.
Setelah hampir tiga minggu melakukan riset intensif, berhadapan dengan banyak percakapan, dan berpikir secara intensif, tiba-tiba saat itu saya merasakan pikiran saya mulai melambat, beristirahat dan saya merasakan kembali keintiman dengan diri saya sendiri. Hanya sekitar lima belas menit, tetapi duduk di tepi sungai itu ternyata adalah sesuatu yang benar-benar saya butuhkan — sesuatu yang bahkan sebelumnya tidak saya sadari.
Intuisi Reina — sesuatu yang spontan, mungkin bahkan tidak sepenuhnya disadari — menjadi sebuah bentuk care dan dukungan bagi saya. Itu tidak direncanakan. Tidak terstruktur. Tidak tertulis dalam proposal apa pun. Namun itu sangat diperlukan.
Kemudian ketika saya sudah kembali, ia mengirim pesan kepada saya:
“Seniman memang membutuhkan dukungan, tetapi menurut saya orang-orang yang mendukung mereka juga membutuhkan dukungan. Saya ingin kita sadar untuk saling mendukung. Mungkin hal-hal kecil — seperti bertemu, berbicara, berbagi sesuatu, atau makan bersama — ini akan membantu baik sesama manusia maupun membantu kesenian itu sendiri.”

Dan di sinilah kita kembali pada pertanyaan tentang dukungan.
Karena ketika kita berbicara tentang uang, rasanya uang tidak pernah cukup. Selalu ada kekurangan dana, kekurangan anggaran. Namun pada saat yang sama, kita sebenarnya membawa begitu banyak kapasitas kemanusiaan di dalam diri kita — intuisi, kepekaan, perhatian, kepedulian, kemampuan untuk menyadari ketika seseorang sedang lelah, dan kesediaan untuk duduk bersama.
Semua itu juga merupakan sumber daya.
Dan terkadang, justru hal-hal itulah yang memungkinkan segala sesuatu tetap berjalan, termasuk seni.
Mungkin dukungan bukan hanya sesuatu yang dapat dihitung dalam sebuah lembar excel. Dukungan juga sesuatu yang kita pahami secara intuitif — sesuatu yang relasional, yang hidup dalam tubuh, tetapi sering kali menunggu untuk disadari.
Pada akhirnya, saya tidak ingin memberikan daftar tentang seperti apa dukungan seharusnya dalam setiap konteks. Karena kita sendirilah yang paling memahami apa yang dibutuhkan dalam situasi kita masing-masing.
Mungkin pada akhirnya kita tidak akan pernah sepenuhnya dapat menjawab apa arti dukungan yang sebenarnya.
Namun kita bisa mulai menjadi lebih sadar tentang bagaimana kita membayangkan dukungan — dan tentang realitas apa yang kita ciptakan melalui cara kita mempraktikkannya.
***
Dokumentasi sesi presentasi tersebut dapat diakses melalui/Documentation of the presentation session can be accessed at: https://youtu.be/dApcH8st0Sw
[ENGLISH]
Rethinking the Meaning of Support: Being Presence, Being Human
*This text is the script of my presentation on February 25, 2026, as part of the Visiting Fellows program at The Saison Foundation.
I would like to begin by expressing my sincere gratitude to everyone I had the chance to meet and have conversations with before coming to Japan, and to those I have met here in Japan who have helped me gain diverse insights for this presentation.
Although what I present here cannot fully encompass every conversation I’ve had, each one has truly challenged me, nurtured me, and expanded my perspective in meaningful ways.

Before I begin, I want to acknowledge that whenever we talk about support in the context of the performing arts scene, we are never speaking from a neutral place. Each of us comes from different infrastructures, different economies, different survival strategies, different social system, simply different contexts.
That is why I feel it is important to begin with my own context before reflecting on the conversations I had during my stay here in Japan and even before I came to Japan.

I come from the context of running Paradance Platform as my base practice. We have been operating since 2014. Paradance Platform started as a small initiative with the intention of nurturing a younger generation of Indonesian choreographers.
Our programs have grown over the years. In 2014, we began as a showcase space where choreographers could try out their works in front of a public audience. We called this program the Paradance Mini Festival of Movement and Dance, and we run it on average three times per year. The program is based on an open call, and for each edition we select five to seven works by Indonesian choreographers who apply. We have organized 36 editions of this showcase program and presented approximately 212 works by choreographers from across Indonesia.
What we offer is simple: a stage with technical support and staff, an opportunity to connect their work with the public, accommodation for choreographers coming from outside Yogyakarta, and a space for conversation. We didn’t expect the final work, work in progress or research sharing with performance format are very welcome.

Over time, our activities expanded. Now we also run educational programs for artists and community, choreographers writing, residency programs, and we also host final productions from Indonesia and abroad. As we do not have substantial financial resources, transparency with artists and partners about what we can offer and what our limitations are before they engage with our programs is essential.


Since the beginning, most of our financial needs have come from our own pockets, small grants per project, and donations. However, we have never needed a large amount of money because we are supported by the community in our space in the form of space, technical facilities, and collective labor. Don’t get me wrong, we’re not taking for granted all this support.

Our base is in a space called Balai Budaya Minomartani, located in the northern part of Yogyakarta. This space is home to diverse groups—from contemporary performing arts practitioner like us to traditional art practitioners, and this space is also used by local residents for community gatherings and events.
After choosing this space as the home of Paradance Platform, I felt a responsibility not only to run our programs but also to be involved in maintaining the building and connecting the different groups that share this space. So here is the system, because our team supports the space and other communities programs, the people also support us when we work on our programs. Everything operates through reciprocity—through giving and receiving, through relationships. Each community, even each of us hold different visions, yet we hold the space together.

This is how the space has operated since it was established in 1990. It did not begin with the Paradance Platform team; we entered an already existing system and chose to continue working in this way because it has proven to be a sustainable model for sustaining this space.
The space functions largely outside monetary logic—not because we avoid seeking financial support, but because in our context there are simply not many funding opportunities available.
At the same time, if we waited for funding before taking action, the space would remain only a building, not a living space. So instead, we run it as creatively as we can, using all the resources we have. We activate it with what is available.
As part of this long-standing communal space, we offer what we can—both material and immaterial contributions: care, presence, time, energy, knowledge, practical skills, financial donation, food, and more. From time to time, we receive small donations from individuals and members of the space, and occasionally small grants.
Until 2022, we never had a large amount of funding—only enough to maintain the program and the space. Then in 2023, we received government funding that was twenty times larger than the amount we previously had in our organizational account for one year program.
We were grateful. We thought support had finally arrived. We were able to pay people a modest monthly salary.
But something shifted.
Relationships within the space began to reorganize. Conflicts surfaced. Some members started to distance themselves. Our relational connections began to weaken. Money introduced a different rhythm.
We realized that not all labor is economically legible. Some labor is affective, cultural, historical, and relational. It is too complex to be measured quantitatively. When monetary support entered our space, it introduced a new logic. In our case, it simplified human relationships that had been built over a long time, with all their complexity and depth.
I am aware that this explanation may still sound confusing or difficult to grasp. I struggle to articulate it clearly, because this context is easier to understand when we feel and experience it ourselves. But I hope it can give the foundation that when I speak today, I speak from this place. And I believe this background inevitably shapes the reflections I am about to share with you in this session.

Last week (February 17, 2026), I met Tomoyuki Arai and Hiromi Maruoka, and I was asked a difficult question that has stayed in my mind:
- Is support the purpose of what we do?
Or - Is the purpose already there, and that is why people feel the need to support it?
Before coming to this program, I had conversations with several Indonesian artists, mostly choreographers, who come from diverse backgrounds (geographic, working approach, gender, marital status, and so on).
Eka Wahyuni, one of the artists that I had a conversation with, said that in order for people to support us, we first need to question ourselves about our vision and our agency as artists. We need to begin building our own body of work and roadmap, and to map the position and agency we choose within the arts scene.
From this clarity, we can understand what we actually need. Then we can seek the kind of support that aligns with that need. On the other hand, those who wish to support us will not be confused, because the artist is already clear about their vision and agency. In this case, the artist has a purpose, and support becomes a means to strengthen and sustain that purpose.
However, many artists and art practitioners do not automatically know what they want. They may not yet have a clear vision or defined agency. It takes time to learn, explore, and form these things.
In this situation, support is not merely a tool to sustain an already formed purpose — it becomes part of the purpose itself. Support becomes the space where vision is formed, where agency is discovered, and where artistic direction and body of work slowly takes shape. It creates the conditions in which purpose can emerge.
Many of the artists I have met are not privileged enough to even realize that choices are available to them. It may sound strange to say that someone do not know they have the freedom to choose. But this is a real condition. Our understanding of what is possible is shaped by our environment — including our educational system, cultural context, economic situation, and social expectations.
Sometimes what we believe is “our choice” is simply what has been given to us. What we know is limited by what we have been exposed to. If you are never shown alternatives, you may not know that alternatives exist.
In this situation, in my personal view, the entities that offer choices must also be conscious that none of us are neutral.
As institutions, funders, curators, and organizations that provide opportunities, programs, or frameworks, we are not simply giving support. We are also shaping the field. We decide what kinds of practices become visible, and what kinds of aesthetics and narratives are valued.
Even when the intention is generous, choices are never neutral. Every structure carries assumptions. Every program design reflects certain values. Every selection process implies a perspective on what is meaningful, urgent, or legitimate.
In this case, support does not only enable freedom, it also frames it. This is why offering choices and opening space can either expand horizons or unconsciously limit them.
I will rephrase some quotes from artists I met in Japan, but I will not mention their names as it might be a bit sensitive.
One artist told me that their work might not fit into major platforms or festivals—and that’s okay. It may be better to seek independent alternatives, especially when the work does not resonate with existing structures. In doing so, the work feels more honest to their own body, and it releases the pressure that “success” must be defined by recognition from certain institutions or platforms.
Another said that they see many colleagues whose work is strong but who lack the ability to write proposals. On the other hand, there are artists whose proposals are stronger than their work, and they receive more recognition. So then they need to try to be good at both — but as an artist, that is very challenging.
An Indonesian artist, M. Safrizal said that being an artist requires self-management — not in a physical or administrative way, but spiritually, because we need to be patient with our own process and find clarity about what we want. Just doing the work, and believing that there will be platforms that resonate with what we do.

I feel this is how artists question themselves and attempt to find liberation or negotiation within the existing support systems. It is all about consciousness of choices.
As someone who runs a platform, this is a wake-up call for me. Not to try to support all the needs of every artist we encounter — because we never can — but to be more conscious of our own agency as supporters. Our clarity can also help artists choose whether to connect with us or not.
I would like to say this clearly: none of us need to access every opportunity that is open. We can choose to access something when it resonates with us, and choose not to when it does not align.
It may raise the question: why would we not access an opportunity that is right in front of us? Because support systems that are already established sometimes need to be challenged — by people who refuse to access them when it is not aligned, and by people who begin new forms of support. Even if this does not immediately change the established system, over time it can regenerate new paths of support.

In Indonesia, since 2022, supported by Yayasan Kelola and the Ministry of Culture of Indonesia, the Network of Indonesian Performing Arts Producers (JPPI) was established. Atsuko Hisano was one of the facilitators of one of their programs in Bali in 2024 along with Sasapin Siriwanij from BIPAM and Yuya Tsukahara. As a participant since 2023, I feel this has expanded my perspective as someone who runs a platform.
Sometimes we feel alone in trying to support artists. But within this network, we realize that we can share resources with each other. Those who have connections can share them with others who need it. Those who have financial resources can share them with those who have idea, knowledge and time. Those who have a showcase program can collaborate with those who have an artist incubation program.
In this forum, we also talk about having the choice to connect or not connect. We must know our agency. We can choose to collaborate with platforms that align with our values.
Creating communal space among producers and platforms generates safer conditions in a context where financial resources are not always available. In this case, we need to value monetary and non-monetary resources equally. In a capitalistic world, we sometimes see those with money as more dominant than those without it even though what they contribute may be far beyond what money can measure.

When we talk about non-monetary resources, a question often comes up: if there is no money, how do we pay people?
Precarity is not romantic. Everyone deserves to be compensated for their labor. I want to be very clear about that. My intention is not to deny payment, but to question whether “payment” might take many different forms depending on the context.
In some contexts, payment is clearly about money. But in other contexts value can also circulate through affection, reciprocity, and mutual care. It becomes a system of giving and return that may not always be financially measurable. Both monetary and non-monetary forms can become strategies of sustainability in how we support one another.
In Indonesia, during the pandemic and continuing into 2025 — amid political turbulence after the new president was elected, and during disasters in several parts of the country — many people began questioning government decisions. Trust in public institutions decreased across sectors.
In that situation, what we had was each other. Movements like #salingjaga (taking care of each other) and #wargajagawarga ( citizens looking out for each other) emerged — people taking care of one another directly. In some ways, this was not entirely new in the Indonesian context. Since I was a child, communal activities have been part of everyday life. We participate in shared labor, mutual help, and neighborhood support systems. These practices make life more manageable, because people step in when needed — as long as we remain active within the community.
During times of crisis, this communal logic intensified. The center of these movements was care. And care can take many forms: visible ones like money or material support, and invisible ones like empathy, checking in, sharing time, and looking out for one another.
From here, when we design support systems, we also need to not dismantling the context of relational ecologies that sustain us.

When I met a couple of dance artists who were supported by Dance Box in Shin-Nagata, I was struck by how the support from the Dance Box staff did not stop at artistic development. Whether consciously or not, their support extended far beyond the program.
The artists told me that they were not originally from Shin-Nagata. However, after participating in the program, they decided to stay there. Gradually, they began to ground their lives in that area — and this was also made possible by the support of the people at Dance Box. For example, they were connected to affordable housing, and later some of them even started small initiatives or shops in the neighborhood. Without dismissing their own efforts and agency, we can see that artistic support can extend into much deeper forms of support — forms that we may not immediately recognize. It flows intuitively, human to human, beyond formal program structures.

Last week, I was entering my third week in Japan, and it was also the first week of Ramadan. As a Muslim, Ramadan is usually a time when we feel more connected to our families and our spiritual lives. It is a month of slowing down, of gathering, of being held by familiar rhythms. Since childhood, my body has been shaped by that system — it knows that Ramadan is a time of rest and intimacy.
Being here, far from my family during the first week of Ramadan, was harder than I expected.
When I met Reina Kimura during my visit to her studio on the west side of Tokyo, she offered something very simple. She asked if I would like to go to the river near her studio. I said yes. We just sat there quietly for a while. After almost three weeks of intense research, conversations, and constant thinking, I suddenly felt my mind begin to rest and I felt the intimacy with myself. It was only about fifteen minutes, but sitting beside the river was exactly what I needed — something I had not even realized before.
Reina’s intuition — something spontaneous, perhaps even unconscious — became a form of care and support for me. It was not planned. It was not structured. It was not written into any proposal. But it was deeply necessary.
Later, she sent me a message saying:
“Artists need support, but I think the people who support them also need support. I want to be aware of supporting each other. It may be a small thing, but meeting, talking, sharing something, and having meals together — I think that kind of thing helps both humans and art.”
And here we are, circling back to this question of support.

Because when we talk about money, it is never enough. There is always not enough funding, not enough budget, not enough security. But at the same time, we abundantly carry within ourselves deeply human capacities — intuition, sensitivity, attention, care, the ability to notice when someone is tired, the willingness to sit together. These are resources too. And sometimes, they are the very things that allow everything else to continue, including art.
So perhaps support is not only something that can be calculated in an excel sheet. It is also something we know intuitively — something relational, something embodied but often waiting to be made conscious.
In the end, I do not want to provide a fixed list of what support should look like in every context, because we are the ones who truly understand what is needed in our own situations. In the end, perhaps we cannot fully answer what support really means. But we can begin to become conscious of how we imagine support and of the realities we are producing through the ways we practice it.
Sudah baca yang ini?:
Let Me Change Your Name: Rapuhnya Diri dalam Dunia yang Serba "Cepat"
Semoga Tak hanya Satu Kali : Catatan untuk pentas “Hanya Satu Kali” – Sasmita Teat...
Trem Bernama Desire: Female Gaze dalam Spektakel Warna-Warni
Seni Kebangru'an; Seni dari Alam Gaib
Grotesk di Meksiko
Setelah Menonton "Letters to the Sky"-Papermoon Puppet Theatre
- Menimbang Kembali Makna Dukungan: Hadir Sepenuhnya, Menjadi Manusia - 11 April 2026
- Utau-Hahagokoro: Membangun Praktik Teater yang Berakar dari Pengalaman dan Pengetahuan Para Ibu - 3 Desember 2025
- Catatan dan Ingatan Dramaturgis - 23 April 2025

