Sendratari Nitra Duta Mangleawan : Menyala Bersama Kesetiaan Hanoman
Saat pertama kali menonton pertunjukan Sendratari Nitra Duta Mangleawan dari kelompok seni Swargaloka, saya langsung merasakan kemegahan cerita pewayangan Nusantara. Berbeda dengan tarian daerah yang menceritakan keseharian masyarakat, pertunjukan ini membawa penonton menyelami epos klasik Ramayana yang penuh ketegangan. Secara historis, kisah Ramayana memang berasal dari daratan India yang kemudian berpadu dengan kebudayaan lokal Jawa, melahirkan berbagai lakon seni pertunjukan yang sarat makna. Pada pementasan ini, Swargaloka secara khusus mengangkat bagian sejarah tentang perjalanan utusan kera putih yang lebih akrab dikenal masyarakat dengan lakon Hanoman Obong.

Dalam pementasannya, alur cerita yang disajikan berpusat pada perjuangan Hanoman sang kera putih. Lewat narasi pembukanya, penonton diberi gambaran bahwa Hanoman melompati samudera bukan sekadar sebagai pesuruh biasa, melainkan sebagai wujud nyata dari kesetiaan yang menolak padam. Ia datang ke Taman Arga Soka membawa pesan cinta berupa sebuah cincin kecil untuk Dewi Sinta yang sedang terkurung. Cincin tersebut menjadi simbol harapan bahwa cinta sejati tidak akan kalah oleh jarak dan kekuasaan. Puncak ceritanya terjadi ketika ekor Hanoman dibakar oleh musuh akibat kesombongan mereka. Namun, api tersebut justru berubah menjadi cahaya kebenaran yang menerangi sekaligus melalap wilayah Alengka.
Tokoh tokoh yang terlibat dalam sendratari ini digambarkan dengan watak yang sangat kuat dan jelas. Hanoman tampil sebagai tokoh utama yang tangguh dan penuh pengabdian. Di sisi lain, Dewi Sinta digambarkan sebagai sosok perempuan yang tetap kuat bernapas di tengah penderitaan. Meskipun sosok Sri Rama dan Rahwana tidak terus menerus mendominasi panggung. Rama hadir lewat amanat cincin yang dibawa Hanoman, sementara pihak Alengka mewakili wujud kesombongan yang pada akhirnya dihancurkan oleh api kebenaran mereka sendiri.

Meskipun wataknya sangat jelas, penyajian konflik dramatis yang dibangun terasa kurang berkembang secara optimal. Pertentangan antara tokoh protagonis dan antagonis disajikan secara langsung, sehingga penonton dapat dengan mudah membedakan pihak baik dan pihak jahat. Penyajian konflik yang terlalu lurus dan sederhana ini pada akhirnya membuat pertunjukan kurang memberikan ruang bagi penonton untuk menafsirkan makna yang lebih kompleks di balik cerita.
Untuk mendukung cerita epik ini, Pertunjukan ini digelar di panggung amfiteater terbuka Taman Mini Indonesia Indah. Panggung yang berbentuk arena melingkar memberikan keleluasaan bagi penari untuk mengeksplorasi ruang dan membangun komposisi gerak yang variatif. Bentuk panggung ini juga memungkinkan penonton menyaksikan pertunjukan dari berbagai sudut pandang, sehingga setiap garis tubuh, arah gerak, dan perpindahan posisi penari menjadi lebih terlihat. Kondisi tersebut sejalan dengan konsep kesadaran garis dalam struktur tari, yaitu pemanfaatan bentuk tubuh di dalam ruang sebagai unsur visual yang tidak hanya menghadirkan keindahan estetis, tetapi juga memperkuat penyampaian makna dan karakter dalam pertunjukan.
Namun, tata artistik pementasan ini belum sepenuhnya berhasil membangun atmosfer cerita yang diidamkan. Penggunaan elemen artistik dan pencahayaan yang terbatas membuat suasana spesifik, seperti perjalanan Hanoman menuju Alengka atau kepedihan Dewi Sinta di taman, kurang terasa kuat secara visual. Akibatnya, penonton lebih banyak mengandalkan narasi pendamping daripada pengalaman visual panggung yang benar benar mendukung suasana adegan.
Dari segi teknik menari, pertunjukan ini menampilkan penguasaan olah tubuh yang sangat matang. Penari Hanoman membawakan ragam gerak tari putra gagah yang lincah dan bertenaga. Gerakannya sangat lebar, tegas, dan banyak menampilkan lompatan serta putaran tubuh yang membutuhkan keseimbangan tingkat tinggi. Karakter gerak yang keras ini sangat berlawanan namun selaras saat disandingkan dengan penari Dewi Sinta yang menggunakan teknik tari putri halus. Gerakan Sinta sangat mengalir, pelan, menapak bumi, dan anggun. Perbedaan wujud gerak inilah yang membuat pementasan terasa kaya dan bentuk tariannya tidak terlihat berulang secara membosankan.
Sayangnya, pertunjukan Nitra Duta Mangleawan cenderung terlalu berfokus pada keberanian, kesaktian, dan adegan laga sehingga nilai-nilai kemanusiaan seperti kesabaran, pengorbanan, dan harapan kurang tergali secara mendalam. Dominasi aksi fisik tersebut juga membuat pendalaman emosi tokoh belum tersampaikan secara maksimal, sehingga penonton lebih mudah mengikuti alur pertarungan daripada merasakan pergulatan batin para tokoh. Selain itu, variasi dinamika pertunjukan yang relatif seragam menyebabkan ketegangan dramatik kurang berkembang, sehingga alur emosi penonton tidak mengalami peningkatan yang signifikan sepanjang pertunjukan.

Kekuatan teknik tubuh tersebut kemudian disempurnakan oleh ekspresi wajah dan tata busana para penarinya. Penari Hanoman mengenakan kostum bernuansa putih yang melambangkan kesucian niat dan kebenaran. Riasan wajah karakternya digambar dengan sangat rapi dan tebal menyerupai kera, tetapi hebatnya, riasan tersebut tidak menutupi ekspresi wajah asli sang penari. Hanoman tetap mampu memancarkan wibawa dan rasa setia seorang prajurit lewat sorot matanya. Begitu pula dengan Dewi Sinta yang berhasil menampilkan ekspresi wajah sendu namun memancarkan secercah harapan saat menerima cincin utusan.
Namun demikian, terdapat kelemahan yang cukup terlihat pada aspek tata suara dan perpindahan latar yang sangat memengaruhi kesatuan bentuk pertunjukan. Saat adegan yang memuat dialog berlangsung, volume musik pengiring sering kali bocor dan terlalu keras sehingga menutupi frekuensi suara penari. Kelemahan ini semakin tampak pada artikulasi pengucapan kata yang kurang jelas, sehingga esensi pesan yang disampaikan menjadi sulit ditangkap secara utuh oleh penonton. Selain itu, perpindahan latar cerita antar babak terasa kurang terbangun dengan baik. Transisi suasana yang muncul secara tiba-tiba membuat alur waktu dan perkembangan cerita kurang mengalir, sehingga penonton harus menafsirkan sendiri hubungan antar adegan yang ditampilkan.
Di luar urusan teknis panggung dan kendala penyajian tersebut, karya yang dibawakan Swargaloka ini memiliki kaitan yang sangat erat dengan fenomena sosial di kalangan generasi muda. Di tengah gempuran tren digital yang serba cepat, cerita pewayangan sering kali dianggap sebagai sesuatu yang kuno dan membosankan. Banyak anak muda yang lebih memilih budaya populer luar negeri dibandingkan menggali epos dari tanah airnya sendiri.
Namun, Sendratari Nitra Duta Mangleawan berhasil membuktikan bahwa anggapan tersebut keliru. Dengan bentuk penyajian yang megah, penguasaan teknik gerak yang luar biasa, dan kemasan visual yang modern, karya ini menunjukkan bahwa kisah leluhur sangat bisa dinikmati di era sekarang. Pertunjukan ini bukan sekadar tontonan hiburan yang memanjakan mata, melainkan sebuah bentuk nyata pelestarian budaya. Karya ini mengingatkan kita bahwa cerita kepahlawanan Nusantara memiliki daya tarik yang kuat dan layak untuk terus dihidupkan di tengah perkembangan zaman.

