Hijab di Panggung Gawai Dayak : Ketika Tradisi Bertemu Adaptasi
Suara petikan sampek berpadu dengan denting kangkanong mengawali sore itu di Amfiteater Panggung Budaya Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Perlahan, suasana yang semula riuh oleh percakapan penonton berubah menjadi hening. Semua mata tertuju pada panggung ketika tokoh adat memasuki arena, diikuti para penari yang bergerak perlahan mengiringi prosesi pembuka. Malam itu bukan sekadar pertunjukan tari, melainkan perayaan budaya melalui Pesta Gawai Dayak Kalimantan Barat yang menghadirkan ritual, musik, dan berbagai tarian tradisional dalam satu rangkaian pementasan.
Sebagai penonton, saya menikmati bagaimana pertunjukan dibangun secara bertahap. Musik tradisional menjadi elemen yang kuat dalam menciptakan suasana. Ritme yang terus berkembang membuat setiap perpindahan adegan terasa hidup. Kehadiran penari anak dalam prosesi ritual juga memberikan kesan bahwa tradisi tidak hanya dipertontonkan, tetapi sedang diwariskan kepada generasi berikutnya. Di bagian lain, penonton diajak berpartisipasi dalam atraksi menyumpit balon setelah melalui prosesi adat. Keterlibatan tersebut membuat batas antara panggung dan penonton seolah menghilang. Pertunjukan tidak lagi menjadi tontonan satu arah, melainkan pengalaman budaya yang melibatkan semua orang yang hadir.
Beberapa tarian yang ditampilkan juga memiliki daya tarik masing-masing. Tari Luing memperlihatkan gerak yang energik dan dinamis, meskipun sempat terjadi insiden kecil ketika salah satu properti penari terjatuh. Insiden tersebut tidak mengganggu jalannya pertunjukan karena para penari tetap mampu menjaga konsentrasi dan profesionalitas. Tari Genong menawarkan tantangan teknis melalui penggunaan properti yang diletakkan di atas kepala sehingga menghasilkan komposisi visual yang menarik. Sementara itu, Tari Tidayu memperlihatkan perpaduan budaya Dayak dan Tionghoa melalui penggunaan kipas, kostum, serta iringan musik yang memperlihatkan proses akulturasi yang telah lama hidup di Kalimantan Barat.

Di balik seluruh kekuatan pertunjukan tersebut, ada satu hal yang terus menarik perhatian saya sejak awal hingga akhir pertunjukan. Di antara puluhan penari yang tampil dengan kostum adat Dayak, terdapat seorang penari yang mengenakan hijab. Kehadirannya langsung terlihat berbeda karena secara visual kontras dengan penari lain yang tidak mengenakan penutup kepala. Saya mendapati diri saya beberapa kali mengalihkan perhatian dari keseluruhan komposisi tari kepada sosok penari tersebut. Bukan karena kualitas geraknya lebih baik atau lebih buruk, melainkan karena perbedaan visual itu begitu mencolok.
Pengalaman tersebut memunculkan pertanyaan yang menurut saya menarik untuk didiskusikan. Apakah penggunaan hijab memang telah dirancang sebagai bagian dari konsep artistik pertunjukan, atau sekadar menjadi penyesuaian terhadap kebutuhan pribadi penari? Pertanyaan ini penting karena dalam seni pertunjukan, kostum bukan hanya pakaian yang dikenakan penari. Tata busana merupakan bagian dari bahasa visual yang membantu membangun karakter, identitas budaya, suasana, dan kesatuan estetika sebuah pertunjukan.
Selama pertunjukan berlangsung, saya tidak melihat penggunaan hijab menghambat kualitas gerak penari. Ia mampu mengikuti pola lantai, menjaga tempo, dan menampilkan gerakan dengan baik seperti penari lainnya. Dari sisi teknik tari, tidak ada persoalan yang berarti. Namun, dari sisi artistik, saya merasa desain hijab tersebut belum sepenuhnya menyatu dengan keseluruhan kostum yang digunakan kelompok penari. Akibatnya, perhatian penonton lebih mudah tertuju pada perbedaan busana dibandingkan menikmati komposisi gerak yang sebenarnya telah disusun dengan cukup baik.
Di sinilah letak kritik saya terhadap pertunjukan ini. Kritik tersebut bukan diarahkan kepada keputusan penari untuk mengenakan hijab. Sebagai bagian dari masyarakat yang majemuk, saya melihat setiap penari berhak menjalankan keyakinannya. Yang saya pertanyakan justru adalah bagaimana tim artistik mengolah perbedaan tersebut agar menjadi bagian yang utuh dari konsep visual pertunjukan. Dalam sebuah karya tari, setiap unsur mulai dari gerak, musik, tata rias, tata busana, hingga tata cahaya idealnya saling mendukung. Ketika salah satu unsur tampak berdiri sendiri, perhatian penonton dapat bergeser dari makna pertunjukan menuju hal-hal yang sebenarnya bukan fokus utama karya.
Menurut saya, persoalan ini sebenarnya dapat diatasi melalui kreativitas penata busana. Hijab dapat dirancang dengan warna, tekstur, atau motif yang selaras dengan kostum adat Dayak sehingga tetap menghormati identitas budaya sekaligus mengakomodasi kebutuhan penarinya. Di berbagai pertunjukan budaya lain, adaptasi serupa telah dilakukan tanpa mengurangi kekuatan visual pertunjukan. Justru melalui proses kreatif tersebut, seni tradisi menunjukkan kemampuannya untuk berkembang mengikuti perubahan zaman tanpa kehilangan jati dirinya.

Fenomena penari berhijab dalam seni tari tradisi juga semakin sering dijumpai di berbagai festival budaya. Hal ini menunjukkan bahwa dunia seni sedang berusaha membuka ruang yang lebih inklusif bagi para pelaku seni dari berbagai latar belakang. Menurut saya, langkah tersebut patut diapresiasi. Namun, keterbukaan itu sebaiknya tidak berhenti pada pemberian ruang tampil saja. Adaptasi artistik juga perlu dipikirkan secara matang agar keberagaman yang hadir benar-benar memperkaya kualitas pertunjukan, bukan justru menciptakan kesan visual yang terpisah dari keseluruhan konsep.
Terlepas dari catatan tersebut, saya tetap menganggap Pesta Gawai Dayak sebagai pertunjukan yang berhasil memperkenalkan kekayaan budaya Kalimantan Barat kepada masyarakat luas. Iringan musik yang kuat, ragam tari yang beragam, keterlibatan penonton, serta semangat pelestarian budaya menjadi kekuatan utama yang membuat pertunjukan ini layak diapresiasi. Saya justru melihat kritik mengenai penggunaan hijab sebagai bentuk perhatian terhadap kualitas artistik pertunjukan, bukan sebagai penolakan terhadap keberagaman.
Pada akhirnya, pengalaman menonton pertunjukan ini mengingatkan saya bahwa seni tradisi tidak pernah benar-benar berhenti berkembang. Tradisi selalu berdialog dengan zaman, termasuk ketika harus berhadapan dengan kebutuhan dan identitas para pelaku seninya. Tantangan terbesar bukan memilih antara mempertahankan tradisi atau menerima perubahan, melainkan menemukan cara agar keduanya dapat berjalan berdampingan. Ketika adaptasi dilakukan dengan pertimbangan artistik yang matang, keberagaman tidak akan menjadi gangguan visual, melainkan menjadi bagian dari keindahan yang memperkaya panggung budaya Indonesia.


