Ketika Tari Kedidi Berhenti Mencari Makna : Catatan Atas Pertunjukan “Perang Ketupat” Di Amfiteater Panggung Budaya TMII
Sore itu, langit TMII perlahan berubah warna ketika para pengunjung mulai memenuhi area Amfiteater Panggung Budaya, sebuah teater terbuka yang menjadi ruang pertemuan berbagai ekspresi budaya Nusantara. Sebelum pertunjukan dimulai, Para petugas dan staff dari Anjungan Bangka Belitung menyambut penonton dengan keramahan khas daerahnya melalui kegiatan icip-icip makanan tradisional. Aroma makanan khas yang berpadu dengan semilir angin sore menghadirkan suasana hangat, seolah mengajak setiap orang memasuki ruang budaya Bangka Belitung sebelum pertunjukan dimulai.
Pertunjukan dipersembahkan oleh diklat Anjungan Bangka Belitung pada Minggu, 7 Juni 2026, dengan semangat yang seolah membawa denyut tradisi dari tanah pesisir ke tengah panggung terbuka TMII. Di bawah langit sore yang mulai meredup, para penampil hadir seperti hembusan angin laut yang perlahan membangunkan ingatan bersama tentang adat, doa, dan syukur yang diwariskan turun-temurun.
Ketika musik pengiring mulai terdengar dan para penari memasuki arena pertunjukan, perhatian penonton langsung tertuju pada sajian budaya yang mengangkat tradisi Perang Ketupat, salah satu ritual adat masyarakat Bangka Belitung yang sarat dengan nilai religius, rasa syukur, serta harapan akan keselamatan dan kesejahteraan hidup. Di dalam rangkaian pertunjukan tersebut turut ditampilkan Tari Kedidi, sebuah tarian yang terinspirasi dari gerak burung kedidi yang hidup di kawasan pesisir Bangka Belitung.

Sebagai seni pertunjukan budaya, sajian ini diharapkan tidak hanya menampilkan keindahan visual, tetapi juga mampu menyampaikan nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi Perang Ketupat, seperti nilai kebersamaan, gotong royong, syukur kepada Tuhan, penghormatan terhadap adat dan leluhur, serta semangat menjaga keharmonisan hidup bermasyarakat. Menurut Soedarsono, seni pertunjukan merupakan media komunikasi budaya yang berfungsi menyampaikan gagasan dan identitas masyarakat kepada penonton.
Secara visual, pertunjukan ini tampil cukup memikat. Kostum berdominasi warna merah yang dikenakan para penari berhasil memperkuat identitas budaya Bangka Belitung yang dikenal dengan busana adat Melayunya. Iringan musik yang menggunakan tabuhan dari alat musik khas Bangka Belitung yaitu musik dambus yang menciptakan suasana yang hidup, sementara penggunaan arena panggung terbuka memberikan keleluasaan bagi para penari dalam mengeksplorasi ruang pertunjukan. Tari Kedidi yang disajikan juga menghadirkan ragam gerak yang lincah dan menarik perhatian penonton.
Namun, di balik kekuatan visual tersebut, terdapat persoalan mendasar yang cukup terasa sepanjang pertunjukan berlangsung. Kemeriahan yang dibangun melalui koreografi, musik, dan tata penyajian justru belum mampu mengantarkan penonton memahami esensi tradisi Perang Ketupat secara utuh. Nilai-nilai yang menjadi ruh tradisi tersebut seolah tertutup oleh dominasi unsur hiburan yang lebih menonjol.
Menurut Suzanne K. Langer, seni merupakan bentuk simbol yang digunakan untuk mengkomunikasikan pengalaman batin manusia. Dalam pertunjukan ini, simbol-simbol yang berkaitan dengan rasa syukur, permohonan keselamatan, serta nilai kebersamaan masyarakat Bangka Belitung belum tampil secara kuat. Penonton memang dapat menikmati keindahan gerak dan musik yang disajikan, tetapi sulit menemukan momen yang benar-benar menggugah pemahaman mengenai makna filosofis tradisi Perang Ketupat.
Dari sisi teknik kepenarian, para penari menunjukkan energi dan penguasaan ruang yang baik, para penari menari dengan tenaga yang cukup kuat, geraknya tidak lemas, dan mampu memanfaatkan seluruh area panggung secara aktif. Akan tetapi, masih terlihat ketidaksamaan kualitas gerak antarpenari sehingga kesan kesatuan kelompok belum terbentuk secara maksimal. Selain itu, ekspresi yang ditampilkan belum sepenuhnya mampu menghadirkan suasana emosional yang sesuai dengan tema pertunjukan.
Menurut Jazuli, keberhasilan tari tidak hanya terletak pada teknik, tetapi juga pada kemampuan penari menghayati dan menyampaikan pesan melalui gerak. Dalam konteks ini, penghayatan yang kurang kuat menyebabkan pesan budaya yang ingin disampaikan menjadi tidak sepenuhnya sampai kepada penonton.
Hal yang paling disayangkan adalah belum munculnya puncak dramatik yang mampu menghidupkan makna Perang Ketupat sebagai sebuah tradisi sakral. Pertunjukan tersebut belum menampilkan peningkatan intensitas gerak, perubahan tempo musik, maupun penguatan ekspresi penari pada bagian-bagian tertentu yang semestinya menjadi penanda puncak dramatik ritual. Oleh karena itu, diperlukan penggarapan artistik yang lebih terarah melalui penegasan aksentuasi gerak, pengolahan musik, dan pembentukan suasana panggung agar nilai sakral Perang Ketupat dapat lebih dirasakan oleh penonton.

Pertunjukan berjalan dengan ritme yang relatif datar sehingga tidak tercipta momentum emosional yang dapat membangkitkan kesadaran penonton mengenai nilai-nilai yang terkandung dalam ritual tersebut. Akibatnya, tradisi yang sejatinya lahir dari rasa syukur dan doa bersama masyarakat hanya tampak sebagai rangkaian adegan yang menarik untuk ditonton, tetapi belum cukup kuat untuk direnungkan.
Ketika pertunjukan berakhir dengan tepuk tangan penonton menggema luas di ruang terbuka Amfiteater Panggung Budaya TMII, tersisa kesan bahwa pertunjukan ini berhasil menghadirkan kekayaan budaya Bangka Belitung dalam bentuk yang indah dan menghibur. Namun, keindahan tersebut belum sepenuhnya diiringi oleh kedalaman makna yang mampu menyentuh emosi penonton.
Sebagai upaya pelestarian budaya, pertunjukan ini layak mendapatkan apresiasi. Akan tetapi, penyajian budaya tidak cukup hanya menghadirkan tontonan yang menarik secara visual. Pertunjukan budaya seharusnya juga mampu menjadi ruang refleksi yang menghubungkan penonton dengan nilai-nilai yang diwariskan oleh masyarakat pendukungnya. Ketika makna tersebut belum tersampaikan secara utuh, maka pertunjukan beresiko berhenti sebagai hiburan semata, bukan sebagai pengalaman budaya yang membekas dalam ingatan.

