fbpx
Minggu, Maret 3, 2024
ULASANPanggung Teater

Sekedar Tragedi atau Refleksi Diri? | Catatan atas La Leçon — Teater Sagaloka

“Arithmetic leads to philology, and philology leads to crime.”

[Ekwan Wiratno].Demikian kutipan yang ditulis oleh Eugene Ionesco dalam naskahnya yang bertajuk La Leçon atau Lesson. Kutipan tersebut secara kasar dapat diterjemahkan sebagai ilmu hitung mengarahkan pada ilmu bahasa, dan ilmu bahasa yang justru mengarahkan pada kriminalitas. Kutipan tersebut telah menjelma menjadi inti dari pertunjukan yang digelar oleh oleh Teater Sagaloka, pada 14-15 Juli 2023 di gedung Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara Malang.

Tapi apakah sebuah pertunjukan sekedar corong untuk menyampaikan informasi? Tentu tidak.

WhatsApp Image 2023 07 18 at 13.56.54 | Sekedar Tragedi atau Refleksi Diri? | Catatan atas La Leçon — Teater Sagaloka

Serangkaian Tragedi

Di dalam posternya, Teater Sagaloka menuliskan “Sebuah Tragedi Bahasa.” Tentu ini menjadi penting. Seluruh cerita bermula dari sebuah pelajaran menghitung, kemudian bergeser secara absurd ke sebuah tragedi.

Tragedi bukan hanya perihal pembunuhan, tapi soal transisi dari kisah pada umumnya menuju realitas baru yang bagi kebanyakan masyarakat dianggap aneh dan ganjil. Hal ini muncul dari reaksi beberapa penonton yang cenderung gelisah dalam duduknya ketika adegan menuju ke realitas baru yang dihadirkan di atas panggung La Leçon. Reaksi tersebut menjadi jamak di masyarakat yang tidak terlampau banyak mendapatkan sajian berbagai jenis teater yang ada. Sebuah tragedi bagi kekayaan jenis dan penerjemahan teater yang sudah berlangsung ribuan tahun.

Tragedi kedua adalah ketimpangan kemampuan aktor dalam mewujudkan karakter di atas panggung. Pemeran Professor sangat memukau dalam menyajikan transisi dan penguasaan ruang. Ini bukan kejutan sebab sang aktor, Doni Kus Indarto, merupakan seniman teater kawakan yang memiliki jam pentas yang terlampau banyak untuk dihitung. Gestur, vokal, dan berbagai ekspresi kecilnya sangat memukau. Hanya saja, ini akan cukup menyulitkan bagi aktor lain, pemeran Murid, untuk kemudian mengimbangi akting pemeran Professor.

Pada awal pertunjukan, pemeran Murid tampak sedikit kaku dan terdapat jarak yang sangat jauh dengan gaya bermain Professor. Untungnya pada pertengahan hingga akhir sang aktris, Anindya Aulia, mampu tampil semakin memukau. Spontanitas dan gesturnya menunjukkan usaha yang sangat keras dalam proses latihan.

Pemeran pembantu yakni Sera Liu, bagi saya sangat mengambil perhatian. Kemunculannya memberikan perubahan signifikan pada suasana pertunjukan. Aktinya yang mengingatkan perilaku sang Profesor mampu memberikan penyegaran bagi struktur cerita yang mulai membosankan. Bahkan tanpa dialog, sang aktris mampu memberikan nuansa yang berbeda pada panggung.

BACA JUGA:  Catatan Pasca Pertunjukan "Sarah Wulan" Teater Air SMA N 3 Tuban.

Tragedi yang terakhir, meskipun sangat kecil dan tidak signifikan adalah keberadaan 2 benda: biola dan buku. Biola digunakan tokoh Murid di tengah “tragedi” sakit gigi yang justru aneh, alih-alih absurd. Adegan ini seperti hendak menonjolkan kemampuan aktor bermain biola tanpa konteks yang kuat. Keberadaan adegan ini justru mengganggu ritme sakit gigi dan teror Profesor yang intensif dilakukan untuk mendoktrin sang Murid.

Menurut saya, adegan tersebut justru mengganggu. Belum lagi dengan bentuk buku catatan yang mengingkari konsistensi yang coba dibangun oleh gedung, kostum para aktor dan beberapa properti yang terkesan lawas dan klasik. Kemudian material tua bangunan tua milik Kementerian Keuangan, telah memberikan transisi bagi penonton dari dunia modern ke dunia lawas melalui pajangan, meja, kursi dan semua properti yang berada di dalamnya.

Semua properti tersebut sangat membantu penonton mengkondisikan isi kepala dan hati menuju pertunjukan La Leçon yang ditulis di sekitar Perang Dunia II. Tapi, sekali lagi, buku tulis anak sekolah tersebut cukup mengganggu. Padahal sangat mudah menemukan buku yang bersampul kulit yang dapat membuat susunan keindahan ini semakin rapi dan total.

WhatsApp Image 2023 07 18 at 13.56.46 | Sekedar Tragedi atau Refleksi Diri? | Catatan atas La Leçon — Teater Sagaloka

Masihkah Ada Ideologi?

Tragedi bahasa yang saya sampaikan pada pagelaran tersebut, sebetulnya sangat terkait dengan zaman ketika naskah ditulis. La Leçon ditulis pada saat tragedi propaganda Hitler dengan Nazinya yang menggunakan berbagai media untuk terus melakukan indoktrinasi. Seluruh intelektual Jerman, seperti ilmuwan, pendidik, bahkan seniman, dikerahkan untuk rela menggunakan kekuatan mereka guna memutarbalikkan kebenaran, memberi kepalsuan penampakan kebenaran.

Mereka ditugaskan untuk membenarkan semua yang dilakukan oleh Nazi. Semua berawal dari pemikiran dan pidato Hitler yang berapi-api, berasal dari bahasa kemudian menjelma hilangnya nyawa-nyawa. Inilah tragedi yang sebenarnya.

Ideologi disebarkan melalui semua media, termasuk teater di dalamnya. Tapi “tidak ada ideologi di teater,” demikian kata Radhar Panca Dahana. Baginya, yang ada di teater hanya kepentingan. Semua mengejar apa yang disebut sebagai ketenaran dan uang (mungkin juga kekuasaan). Seniman teater bergerak sama sekali bukan karena sebuah ideologi.

Apakah ideologi dan tanpa ideologi sama berbahayanya?

Tentu saja. Ideologi yang ekstrim dan totaliter justru menolak keberagaman ekspresi. Kita banyak mendapatkan contoh dari revolusi kebudayaan di Uni Soviet dan Cina. Atas nama ideologi, mereka “menertibkan” karya seni (termasuk senimannya).

BACA JUGA:  Menonton Latihan Tadashi Suzuki dan SCOT

Tapi tanpa ideologi, seni dan senimannya justru tidak punya dasar berpijak. Mereka sekedar daun yang terhempas angin kemana-mana, sambil menunggu lapuk dan menjadi debu. Seniman harus punya ideologi untuk menjadi benang merah bagi keberpihakan. Sebab tanpa keberpihakan, seniman hanya tukang suruh yang sangat taat pada pemberi upah.

Lakon La Leçon memberikan gambaran betapa ideologi yang totaliter dan salah mampu membuat seorang terpelajar menjadi bodoh dan mudah diarahkan menjadi pembunuh. Sebagai bentuk kritik terhadap indoktrinasi Jerman, naskah ini harusnya juga memberikan pandangan tentang lemahnya pendidikan kita. Pendidikan yang disusun sesuai dengan pasar tidak akan menghasilkan pencipta, tapi semata pembeli. Hal ini sama berbahayanya dengan pendidikan yang sempit dan kolot.

Pertunjukan La Leçon oleh Teater Sagaloka memang tidak terlalu fokus pada isu ideologi, tapi sejatinya naskah ini sudah cukup berbicara tentang itu. Pertunjukan ini harusnya dapat digunakan sekaligus untuk menyampaikan bahwa bahkan di dalam teater kita sudah tidak ada ideologi. Bahkan di beberapa lokasi, “ideologi” yang ada hanya sabda seniman senior, serupa sabda pemimpin agama yang selalu benar dan suci. Mereka mengajarkan bahwa ilmu hanya bersumber dari mulut mereka sendiri, tanpa perlu belajar tentang ideologi teater atau pola keberpihakan lain yang lebih universal. Mereka serupa “nabi-nabi” yang bila dihindari, akan membuat kita masuk neraka paling dalam.

Kekejaman Pelaku Teater Hari Ini

Ideologi seniman-seniman tua dan kolot inilah yang menciptakan kekejaman. Mereka, yang umumnya malas belajar ini, menumpulkan kemauan belajar generasi yang lebih muda. Mereka membangun doktrin bahwa merekalah satu-satunya kebenaran sejati, bahwa buku-buku tidak penting lagi. Bahwa punya buku saja cukup tanpa perlu mengerti.

Kekejaman inilah yang menyedihkan apabila dibandingkan dengan teater kita sejak awal 1900-an. Pada saat itu, ideologi dipahami sebagai jalan berpikir, jalan keberpihakan, dan secara meyakinkan didiskusikan dan diekspresikan di atas panggung teater. Diskusi-diskusi menjadi kaya dan menarik.

Perbedaan-perbedaan cara pandang menjadi kekuatan dalam perbincangan di warung kopi, bukan semata alkohol, kebodohan dan pertengkaran. Totalitarian seniman teater di zaman ini menciptakan kebuntuan berfikir generasi selanjutnya.

BACA JUGA:  Batas Ruang dan Identitas (Catatan atas pertunjukan Identity Project - FAY)
WhatsApp Image 2023 07 18 at 13.56.47 | Sekedar Tragedi atau Refleksi Diri? | Catatan atas La Leçon — Teater Sagaloka

Betapa tidak? Diskusi teater menjadi kering dan sepi. Pelatihan, workshop dan diklat semata ajang reuni dan pesta-pora. Seniman-seniman yang sudah tidak lagi punya karya terus diminta menjadi juri dan pembicara dimana-mana. Menularkan kemalasan belajar dan keusangan mereka.

Pola tirani yang dilakukan oleh Nazi, pola totaliter yang melahirkan indoktrinasi harus dikikis dari dunia seni pertunjukan. Tidak boleh ada lagi “corong” paling benar, tidak boleh lagi ada yang dianggap cendekia tapi sejatinya menyimpan bibit kekerasan. Tidak boleh lagi kita biarkan seorang Profesor, yang dianggap cendekia, ternyata adalah hewan buas yang dihasilkan dari indoktrinasi, bukan kesehatan pikiran.

Bahasa panggung juga jangan lagi sekedar bahasa yang liar dan tidak masuk akal, sebagaimana dilontarkan Professor. Bahasa, tidak boleh kehilangan makna, sebab akan menjadi lebih mematikan.

Ekwan Wiratno

Ekwan Wiratno

Ekwan Wiratno adalah Dosen Universitas Brawijaya, Malang yang juga merupakan kritikus teater, penulis naskah, dan sutradara. Selain sebagai kritikus, penulis merupakan pendiri Malang Study-Club for Theatre (MASTER) (IG: master.malang) yang berfokus pada upaya literasi dan pengembangan keilmuan teater secara umum. Kini tinggal di Malang dan membuka peluang komunikasi melalui account Instagram @ekwan_wiratno.