Seabad Dardanella dan Hal-hal yang Tersisa Setelahnya
Pukul delapan malam, 23 Juni 2026, Mait Idoep karya Kwee Tek Hoay digelar di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki. Naskah yang ditulis pada 1931—di tengah hegemoni kolonial dan puncak kejayaan Dardanella—kini dihadirkan kembali dalam rangka peringatan 100 tahun kelompok teater legendaris itu, dengan Irfan Hakim sebagai sutradara. Hampir seabad kemudian, kita menyaksikan lagi sebuah lakon yang secara khusus diciptakan Kwee Tek Hoay untuk rombongan sandiwara keliling yang namanya telah melegenda, bahkan kerap disebut sebagai salah satu perintis teater modern di Indonesia.
Pertunjukan yang digawangi para pemain rekrutan dari ekosistem Festival Teater Jakarta ini berhasil membangkitkan rasa penasaran kita akan Dardanella, sebab kita memang nyaris tak pernah tahu bagaimana gaya teater mereka di atas panggung. Maka wajar jika pementasan ini memilih fokus pada penghidupan relasi antartokoh dan konflik teks, ketimbang dibebani eksperimen artistik yang, dalam konteks ini, rasanya justru akan mengganggu.

Di atas panggung, hanya beberapa kursi dan meja yang tampak. Di bagian belakang yang remang, bangku-bangku berderet menjadi tempat para pemain menunggu giliran, berada tepat di luar sorotan lampu yang menerangi zona aksi. Pergantian babak dipertegas dengan proyeksi penggalan naskah asli Kwee Tek Hoay sebagai sebuah piranti yang membantu penonton menavigasi alur cerita dengan jelas.
Bagi saya, kesederhanaan setting dan tata panggung ini bukanlah kekurangan atau representasi dari frasa “kegagahan dalam kemiskinan” semata. Ia sekadar dipertahankan agar perhatian penonton tertambat pada akting dan kata-kata, bukan pada kemewahan visual yang nyaris absen sama sekali.
Naskah Mait Idoep mengisahkan Lian Ge, seorang pemuda yang mewarisi sifilis dari ayahnya. Sejak lahir, ia memikul akibat dari kesalahan yang tak pernah ia perbuat. Tubuhnya menjadi sarang penderitaan turun-temurun, sementara hidupnya bergerak dalam bayang-bayang sakit, kematian, dan pertanyaan-pertanyaan tentang makna dari keberadaannya sendiri.

Dibalut melodrama khas 1930-an, Mait Idoep sesungguhnya berbicara tentang warisan, rasa bersalah, dan nasib manusia yang kerap harus menanggung beban pilihan orang lain. Kwee Tek Hoay tak menjadikan sifilis sebagai plot device semata. Ia juga menjadikannya sebagai metafora untuk “penyakit masyarakat” yang menjalar antargenerasi. Boleh juga jika kita mau memaknainya dalam konteks kemunafikan, eksploitasi, dan kegagalan moral kaum elite.
Naskah ini termasuk salah satu yang paling berani di zamannya karena mengungkap penyakit kelamin secara terbuka di tengah masyarakat kolonial yang masih diselimuti tabu, sembari mengkritik kalangan berada Tionghoa yang gemar mengubur masalah internal mereka. Itulah ciri khas Kwee sebagai pengarang realis. Dia membuat cerita yang tidak ditujukan hanya untuk hiburan, melainkan juga medium bagi penyuluhan moral dan sosial.
Namun, untuk memahami keberanian itu, kita juga perlu melihat siapa Kwee Tek Hoay di luar panggung. Ia bukan bagian organik Dardanella. Ia adalah jurnalis dan penulis prosa yang bersahabat dengan pendiri kelompok itu, Vladimir Klimanof atau yang lebih dikenal sebagai Piedro. Lebih dari itu, Kwee bisa dianggap salah satu penulis Indonesia awal yang sungguh-sungguh mendalami realisme Ibsen.
Pada 1926, setahun sebelum menulis Bunga Ros dari Tjikembang, ia mempelajari An Enemy of the People (Musuh Masyarakat) dan menulis Korbannya Kok-Eng sebagai sebuah kritik pedas terhadap kesalahan para pemimpin Tiong Hoa Hwee Koan (THHK), perkumpulan ternama yang mengelola sekolah-sekolah Tionghoa. Adaptasi atas Ibsen ini, yang bertolak dari pergulatan lokal, jauh mendahului Armijn Pane. Baru pada 1943, Armijn diketahui mempelajari A Doll’s House dan mengadaptasinya menjadi Ratna. Hal ini dilakukannya hampir dua dekade setelah Kwee membuka jalan.

***
Seminggu setelah pementasan Mait Idoep di TIM, giliran Klub Buku Titimangsa menggelar acara bertajuk serupa, “100 tahun Dardanella”, di Teater Luwes, Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Kali ini, naskah lain dihadirkan dalam konsep pembacaan dramatikal (dramatic reading) oleh para mahasiswa IKJ. Naskah itu adalah dr. Samsi karya Andjar Asmara, yang pertama kali dimainkan oleh Dardanella pada akhir Januari 1931 di Medan. Dosen IKJ sekaligus penulis seni budaya, Seno Joko Suyono, yang menjadi pembicara dalam diskusi, menyebut lakon ini sebagai “bibit bagi munculnya naskah-naskah realisme Indonesia”.
Tanpa tata panggung dan gerak akting yang menyita perhatian, format pembacaan dramatikal justru memungkinkan kita menyelami teks dengan lebih saksama. Seno menyampaikan bahwa banyak pengamat melihat dr. Samsi bersinggungan dengan semangat nasionalisme. Wajar, karena naskah ini lahir setelah Sumpah Pemuda 1928. Sejak 1931, Dardanella konsisten membawanya berkeliling Nusantara, menjangkau publik luas dengan bahasa Indonesia yang sederhana dan mudah dicerna.
Mengusung latar modern dan sama sekali tanpa tokoh Belanda, dr. Samsi ikut menyebarkan kultur baru dalam masyarakat pribumi. Namun, jangan harap menemukan dialog yang secara terang-terangan mengkritik kolonialisme atau membahas pergerakan. Andjar lebih memilih mengangkat persoalan personal.
Lakon ini bercerita tentang dr. Samsi, yang semasa mahasiswa kedokteran menghamili seorang perempuan bernama Sukaesih. Kini, setelah menikah dan menjadi dokter di rumah sakit, Samsi kembali dihantui masa lalu ketika Sukaesih meninggalkan bayi hasil hubungan gelap itu di tempatnya bekerja.
Di saat yang sama, bayi sah Samsi dengan Raden Ayu tengah sakit keras. Bayi itu wafat. Atas usul asistennya, Leo, Samsi melakukan tindakan nekad dengan menukar mayat bayi kandungnya dengan bayi sehat titipan Sukaesih. Jadilah pasangan Samsi–Raden Ayu membesarkan anak yang bukan darah daging mereka, meskipun anak itu memang benar anak dr. Samsi tetapi dari wanita lain. Di masa depan, anak bernama Sugiat inilah yang akan menjadi pembela di pengadilan bagi ibu kandungnya sendiri.

Betapapun ini bukan kisah perlawanan terang-terangan terhadap pemerintah kolonial, dr. Samsi dengan sengaja menempatkan tokoh-tokoh utamanya pada posisi sosial tertinggi di Hindia Belanda, yaitu dokter dan ahli hukum. Andjar seolah ingin menegaskan bahwa profesi modern semacam itu adalah hal yang wajar bagi orang Indonesia, yang sederajat dengan masyarakat penjajah.
Popularitas naskah ini terkonfirmasi dari adaptasi filmnya. dr. Samsi diangkat ke layar lebar pada 1952, disutradarai Ratna Asmara (istri Andjar dan mantan anggota Dardanella) yang bisa disebut sebagai sutradara perempuan pertama di Indonesia. Beberapa tahun lalu, Kemendikbud merestorasi film ini. Pita yang sempat rusak berhasil diperbaiki, dan hasilnya kini dapat disaksikan lagi. Setahun lalu saya berkesempatan menonton film ini di sebuah acara, meski sayangnya restorasi belum selesai sempurna sehingga beberapa bagian belum bisa dilihat secara utuh.
***
Andjar dan Kwee Tek Hoay, dalam pilihan tematika dan pendekatan yang berbeda, sama-sama menunjukkan bahwa Dardanella bukan sekadar rombongan hiburan keliling. Di satu sisi, kita melihat kesungguhan Kwee Tek Hoay mengadaptasi realisme Ibsen untuk mengkritik komunitasnya sendiri. Di sisi lain, Andjar Asmara menulis dr. Samsi yang, meski tampak sebagai drama personal, diam-diam menempatkan profesi modern seperti dokter dan ahli hukum sebagai hal yang wajar bagi orang Indonesia sebagai sebuah pernyataan tentang kesetaraan di tengah masyarakat kolonial.
Pertanyaan tentang posisi Dardanella dalam sejarah teater Indonesia memang menarik untuk diurai lebih lanjut, karena di sanalah letak ambiguitasnya. Kelompok ini dirayakan sebagai perintis, tetapi juga diperdebatkan. Mereka dianggap modern, tetapi juga dikritik karena terlalu komersial.
Sebutan Dardanella sebagai “perintis teater modern Indonesia” memang bukan tanpa kontroversi. H. Agus Salim, misalnya, keberatan jika Dardanella mendapat stigma sebagai perintis, dengan alasan kelompok seperti Miss Riboet’s Orion dan opera komedi untuk bangsawan sudah lebih dulu berkibar. Namun, ada yang menarik dari tanggapannya, ia mengakui bahwa Dardanella adalah “kelahiran baru” yang bukan “penitisan” dari masa-masa sebelumnya.
Apa yang membuat Dardanella berbeda? Kita bisa melihatnya dari beberapa inovasi penting yang mereka lakukan: memangkas durasi panggung menjadi lebih efisien, meminimalkan tarian dan nyanyian di tengah pertunjukan yang sebelumnya menjadi ciri khas teater stambul, menghapus adegan perkenalan para tokoh sebelum bermain, menghapus kebiasaan memainkan sebuah lakon seribu satu malam, mengangkat cerita-cerita asli yang bukan lagi dari hikayat-hikayat lama atau film-film terkenal, serta menghilangkan konvensi lelucon yang memberikan kesenangan lebih pada penonton.
Dengan pendekatan baru yang dinilai lebih sesuai dengan selera zaman inilah Dardanella disebut sebagai pembawa perubahan bagi seni teater Indonesia. Mereka juga memopulerkan penggunaan bahasa Indonesia dalam pergelaran seni teater, sejalan dengan Sumpah Pemuda 1928. Yang tak kalah penting, Dardanella memperkenalkan sistem manajerial pertunjukan secara profesional sebagai suprastruktur yang sebelumnya belum banyak dikenal dalam dunia teater kita.
Salah satu aspek yang membuat Dardanella berbeda dari pendahulunya adalah kesadaran akan siapa penonton mereka. Piedro, sebagai pemimpin, sangat sadar bahwa penonton Dardanella bukanlah rakyat biasa. Orang-orang terpelajar mulai meluangkan waktu untuk menyaksikan pertunjukan mereka. Maka, semiotika panggung pun digarap secara subtil.
Sasaran kritik mereka pun jelas: pemerintah kolonial. Lakon-lakon seperti Annie van Mendut tidak hanya mengkritik pernikahan paksa, tetapi juga menggambarkan bagaimana seseorang menjadi terasing dari bangsanya sendiri setelah mengenyam pendidikan Barat. Dalam lakon itulah muncul pertanyaan yang membuat intelijen Belanda waspada: “apa artinya cinta bangsa”.
Namun, di sinilah letak kerumitan Dardanella. Mereka adalah rombongan teater profesional yang hidup dari penjualan karcis. Mereka harus menarik penonton sebanyak-banyaknya, mengatur keuangan dengan ketat, dan bersaing dengan kelompok-kelompok lain. Mereka bukan teater idealis yang mementaskan karya-karya sastra tinggi semata. Dardanella adalah teater populer, meski rasanya sebutan itu bukanlah celaan.
Mereka-lah jenis kelompok teater yang berhasil karena mampu membaca zamannya. Ketika nasionalisme mulai menguat, mereka menampilkan lakon-lakon yang menyentuh kesadaran kebangsaan. Ketika penonton menginginkan tontonan yang lebih “modern”, mereka meninggalkan konvensi stambul dan mengadopsi gaya yang lebih dekat dengan estetika Hollywood dan era jazz.
Barangkali inilah yang membuat Dardanella tetap relevan untuk direnungkan, seratus tahun kemudian. Mereka telah menunjukkan bahwa teater bisa menjadi ruang di mana gagasan-gagasan baru diuji, kesadaran dibangun, dan perlawanan dirumuskan tanpa harus kehilangan sentuhan dengan publik yang sesungguhnya.

Maka, sebagai pertunjukan, Mait Idoep di TIM dan dr. Samsi di IKJ adalah kerja pelestarian yang elegan. Ia berhasil menghidupkan kembali naskah berusia hampir seratus tahun sehingga tetap bisa dinikmati penonton hari ini. Pesan moral dan kritik sosialnya masih menggigit, terutama soal hipokrisi elite dan warisan trauma keluarga.
Namun, sebagai sebuah perayaan seabad, saya bertanya-tanya, apakah yang kita rayakan ini sekadar fakta bahwa Dardanella pernah ada dan pernah berpengaruh? Ataukah kita sedang merayakan semangat yang dibawanya? Jika yang dimaksud adalah yang kedua, maka pementasan-pementasan ini, sekalipun terhormat dalam kesetiaannya pada teks, terasa masih menyisakan ruang yang menganga.
Mungkin itulah hal-hal yang tersisa setelah satu abad Dardanella, yang bukan semata-mata menghidupkan naskah-naskah lama yang diawetkan, melainkan juga mempertanyakan tentang bagaimana kita terus menghidupkan kembali semangat kritis yang pernah membuat Dardanella berani bicara di tengah zamannya. Dan pertanyaan itu, seperti Lian Ge yang hidup dengan warisan penyakit dari ayahnya, tampaknya akan terus membayangi kita, menuntut untuk dihadapi, bukan hanya untuk dikenang.

Sudah baca yang ini?:
Konvergensi Seni dan Teknologi dalam "Another Body - Another Space - Another Time" karya Densiel Leb...
Pengalaman Menonton TAI
Dramaturgi (Tari): Sesuatu Yang Dekat
Utau-Hahagokoro: Membangun Praktik Teater yang Berakar dari Pengalaman dan Pengetahuan Para Ibu
Teater di Pusaran Perang: Refleksi, Kritik, dan Perlawanan
Ini Pesona Bapak Budi
- Seabad Dardanella dan Hal-hal yang Tersisa Setelahnya - 14 Juli 2026
- Dokumen Minor : Ketika Pesta Kampung Membongkar Narasi Resmi - 17 Juni 2026
- Teater Kubur yang Melukis Panggung di Pentas Rintrik - 9 Januari 2026

