REVOLUSI IDENTITAS DARI LEMARI PAKAIAN
Kosmopolitanisme dalam Selembar Kain Nusantara
Ketertarikan saya pada pertunjukan teater ini bermula dari sebuah ingatan lama saat saya sedang menyusun buku tentang sejarah VOC. Proses riset kala itu membawa saya pada sebuah fakta yang cukup mengejutkan. Sebelum kongsi dagang tersebut menjadi sangat dominan dan mengedepankan kekerasan, mereka ternyata tidak selalu menukar rempah Nusantara menggunakan kepingan emas atau perak. Mereka justru lebih sering menggunakan lembaran kain mewah asal India, Persia, Jepang, maupun Tiongkok sebagai alat diplomasi dan alat tukar yang sangat bernilai (Maxwell, 2003). Ingatan tentang sejarah perdagangan kain inilah yang seketika menyeruak saat saya melangkahkan kaki memasuki ruang pementasan.
Nusantara sejak masa lampau, dan bahkan sampai sekarang, memang bukanlah produsen utama kapas atau sutra dunia. Ketergantungan pada kain luar ini acap kali dilihat sebagai sebuah kelemahan produksi lokal. Namun kita juga bisa menawar dengan cara pandang sebaliknya, bahwa fakta ini bisa membuktikan karakter kosmopolit dan keterbukaan bangsa kita (Lombard, 1990). Fakta sejarah itu menyadarkan saya bahwa pakaian tidak pernah sekadar berfungsi sebagai penutup tubuh bagi masyarakat kita.
Sejak ratusan tahun lalu kain telah menjelma menjadi simbol kekuasaan dan instrumen diplomasi tingkat tinggi di Nusantara. Masyarakat masa lampau menerima masuknya kain-kain asing tersebut dengan penuh kebanggaan dan rasa hormat. Raja, bangsawan, dan saudagar Nusantara sangat menghargai keindahan kain pendatang tersebut. Mereka memadukannya dengan budaya lokal dan bahkan mengangkat derajat lembaran kain itu menjadi pusaka yang diwariskan turun-temurun.

Pakaian sebagai Bahasa dan Sistem Tanda
Kompleksitas sejarah dan budaya pakaian inilah yang mengemuka dengan indah dalam pertunjukan teater Bajuku Bajumu Bhinneka in Fashion. Pementasan ini disutradarai oleh Verry Handayani pada penghujung Juni 2026 di Galeri Pascasarjana ISI Yogyakarta. Pertunjukan dokumenter ini berkolaborasi dengan desainer Lima Luthfi Majid dari jenama Limaniac serta persewaan busana Siwa Nata Raja, jasa sewa Sewarsa, dan Forum Aktor Yogyakarta (Tim Produksi, 2026). Mereka bersama-sama membongkar cara kita melihat pakaian daerah hari ini.
Untuk memahami kedalaman pementasan ini, kita bisa meminjam pemikiran sosiolog Prancis Roland Barthes. Barthes secara meyakinkan menyebut mode atau fashion sebagai sebuah sistem tanda (Barthes, 1983). Pakaian pada dasarnya adalah bahasa tanpa suara. Setiap potongan kain, motif, tata warna, dan cara pakainya adalah sebuah kode. Kode ini terus-menerus mengirimkan pesan kepada masyarakat tentang siapa pemakainya.
Sistem tanda ini terlihat sangat tajam pada salah satu adegan pementasan. Beberapa aktor memainkan situasi dilematis di sebuah tempat persewaan busana. Sang pemilik sewa menjelaskan makna sakral setiap motif batik yang harus sesuai dengan acara dan kedudukan pemakainya. Muncul sebuah konflik ketika seorang tokoh pejabat ingin menyewa baju daerah tetapi berniat menabrak pakem demi estetika modern.
Bagi masyarakat tradisional pakem bukanlah sekadar aturan usang. Pakem adalah struktur tata bahasa budaya itu sendiri. Menabrak pakem gaya Jogja dengan gaya Solo sama buruknya dengan mengacaukan tata bahasa lisan. Motif batik tradisional juga membawa simbol-simbol penting yang tidak boleh dilanggar. Sistem tanda ini tidak boleh dilanggar begitu saja karena pakaian adat memikul beban nilai komunal masyarakatnya.

Adaptasi Identitas yang Terus Hidup
Namun sistem tanda pakaian daerah juga tidak lantas kaku dan mati. Bahasa busana ini terus hidup dan beradaptasi dengan lincah seiring perubahan zaman. Hal ini ditunjukkan dengan sangat indah lewat kehadiran pemeran yang membawakan tarian berkostum pakaian daerah Sumbawa di atas panggung. Pakaian daerah perempuan Sumbawa yang mereka kenakan tampil menonjol dalam warna-warna cerah dengan atasan berhias sulaman benang emas. Baju atasan khas tersebut dipadukan dengan sarung tenun songket bermotif megah di bagian bawah.
Hal yang paling memikat mata dari penampilan mereka adalah adaptasi berlapis yang terlihat jelas pada penggunaan busana penutup. Para penari mengenakan selendang menyerupai kerudung transparan berenda yang disampirkan anggun menutupi kepala hingga bahu. Penampilan ini semakin dipertegas dengan penggunaan baju dalaman berlengan panjang berwarna gelap yang menutupi kulit para penari secara rapat dan sopan.
Suara narator kemudian mengalun untuk menerangkan evolusi sejarah di balik modifikasi wujud busana tersebut. Pakaian daerah perempuan Sumbawa rupanya telah mengalami transformasi panjang akibat persinggungan jalur perdagangan maritim dan menguatnya keyakinan agama masyarakat setempat. Sentuhan budaya luar terutama pengaruh gaya busana India dan nilai-nilai kesopanan Islam tampak sangat kental berbaur dalam tata pakaian ini.
Penggunaan baju dalaman lengan panjang dan kerudung kepala merupakan bentuk adaptasi kultural agar pakaian leluhur yang aslinya berlengan pendek atau lebih terbuka tetap bisa dikenakan tanpa menyalahi norma kesopanan baru di masyarakat. Fenomena adaptasi ini menjadi bukti nyata akar kosmopolit Nusantara yang pandai menyerap budaya pendatang dan meleburnya menjadi sebuah keindahan identitas baru tanpa harus kehilangan jati diri aslinya.
Panggung Demokratis Pembentuk Empati
Keistimewaan lain dari pertunjukan ini terletak pada pendekatan teater yang digunakan. Panggung seketika berubah menjadi ruang yang sangat demokratis saat sutradara memilih metode Playback Theatre. Batas kaku antara seniman dan penonton diruntuhkan sepenuhnya. Para aktor mengajak penonton berinteraksi langsung untuk memadupadankan pakaian daerah dengan atribut kasual sehari-hari. Penonton ditantang untuk meracik ulang baju King Bibinge dari Kalimantan atau Baju Bodo dari Makassar agar cocok dipakai untuk acara santai.
Permainan padu padan ini rupanya hanya gerbang pembuka. Setelah batas kecanggungan mencair penonton kemudian diundang untuk membagikan pengalaman batin mereka terkait baju daerah. Beberapa penonton mulai bercerita tentang kenangan mereka, dari kebanggaan hingga rasa canggung yang pernah mereka rasakan saat mengenakan busana tradisional. Proses ini memaksa penonton untuk menoleh ke belakang dan membongkar kembali ingatan mereka.
Seketika itu juga para aktor merespons dengan memainkan cerita penonton tersebut secara langsung di atas panggung. Metode teater semacam ini terbukti menjadi cermin psikologis yang sangat efektif untuk mengajak penonton memasuki ruang refleksi terdalam. Saat melihat kisah hidupnya sendiri dipentaskan penonton diajak menyadari bahwa pilihan-pilihan kecil yang mereka buat bukanlah sebuah kebetulan. Mereka disadarkan bahwa pengalaman keseharian mereka atas busana sebenarnya sarat makna kultural dan sangat layak untuk direnungkan secara mendalam.
Pada akhirnya metode ini tidak sekadar menunjukkan kepiawaian para aktor dalam berimprovisasi. Pertunjukan ini berhasil membangun empati komunal yang sangat kuat di dalam ruangan (Fox, 1994). Semua orang yang hadir merasa terhubung melalui rasa saling memahami saat melihat kepingan kisah hidup satu sama lain dibentangkan di atas panggung. Pakaian tidak lagi dilihat sebagai benda mati melainkan sebagai benang merah yang merajut perasaan dan ingatan kolektif.

Revolusi dari Dalam Lemari
Pertunjukan lantas ditutup dengan sebuah peragaan busana bergaya modern. Pakaian daerah dipadu padan dengan sangat berani menjadi pakaian kasual. Momen ini menjadi penegasan bahwa pakaian daerah bukan sekadar artefak masa lalu yang tersimpan di museum. Pakaian daerah adalah identitas yang terus bernapas dan merayakan relevansinya di tengah zaman.
Ada sebuah lagu penutup yang sangat membekas dari landasan peraga ini. Penggalan syairnya bernyanyi lantang bahwa revolution starts from what you wear. Rasa percaya diri dari pakaian itu akan membawa kita ke mana saja. Indonesia dalam busana modis indah dipandang dan sarat budaya bersandang.
Lagu penutup tersebut meninggalkan sebuah pertanyaan eksistensial yang tajam bagi kita semua. Jika kita masih merasa enggan atau tidak percaya diri mengenakan gaya busana beridentitas tradisional dalam rutinitas harian lalu sejauh mana kita sebenarnya bisa mengaku bangga menjadi orang Indonesia. Keengganan ini mungkin lahir dari sisa cara pandang kolonial yang secara halus menanamkan pikiran bahwa pakaian daerah adalah sesuatu yang kuno dan tidak praktis. Kita sering kali tanpa sadar memenjarakan identitas kultural kita sendiri hanya untuk perayaan seremonial.
Padahal kita bisa melihat bagaimana bangsa lain berhasil menormalisasi pakaian tradisional mereka dalam denyut kehidupan modern. Masyarakat Jepang misalnya sangat terbiasa mengenakan yukata modis untuk menonton festival musim panas atau berjalan-jalan santai di tengah hiruk pikuk Tokyo. Begitu pula di India saat para pekerja kantoran memadukan kurta dengan celana jins sebagai busana kerja yang sangat wajar. Mereka berhasil melepaskan pakaian tradisional dari beban kesakralan yang kaku dan mengubahnya menjadi pakaian keseharian yang nyaman.
Fenomena adaptasi keseharian ini sejalan dengan pandangan yang melihat tubuh manusia dan pakaian yang melekatinya sebagai arena perlawanan politik sehari-hari. Sosiolog seperti Joanne Entwistle berargumen bahwa berpakaian adalah praktik tubuh yang menjembatani identitas personal dengan tuntutan sosial (Entwistle, 2000). Pemilihan baju bukanlah tindakan netral melainkan sebuah penegasan sikap kebudayaan. Pementasan teater ini secara gemilang membuktikan bahwa perayaan kebhinekaan tidak melulu bermula dari pidato mimbar yang berapi-api. Revolusi identitas yang sesungguhnya justru sangat bisa kita mulai setiap pagi dari dalam lemari pakaian kita sendiri.
Daftar Pustaka
Barthes, R. (1983). The fashion system. University of California Press.
Entwistle, J. (2000). The fashioned body fashion dress and modern social theory. Polity Press.
Fox, J. (1994). Acts of service. Tusitala Publishing.
Lombard, D. (1990). Nusa Jawa silang budaya. Gramedia Pustaka Utama.
Maxwell, R. (2003). Textiles of Southeast Asia. Periplus Editions.
Tim Produksi. (2026). Press release Bajuku Bajumu Bhinneka in Fashion.

Sudah baca yang ini?:
Aku Hanya Seorang Laki-Laki Minang: Ulasan Pertunjukan Malin Kundang Lirih
Hilang Akal Lalu Dipasung : catatan atas “Pasang Pasung”–Ridho Fadil
(Percakapan) Pendekatan Matematis dalam Another Body - Another Space - Another Time
SEMAAN TEATER TAMARA: ROMANTISME SEJARAH SENI YANG ‘DIHILANGKAN’
Itu Perputaran Siklus, Bukan Rotasi : Catatan atas “Tatengghun Nemor” — Kamateatra...
Dance with the Minotaur: Bertandak Tindak Tanduk yang Tunduk
- REVOLUSI IDENTITAS DARI LEMARI PAKAIAN - 7 Juli 2026
- Menyimak Pembacaan Naskah GIRLX & RADIO TAKSI di IDRF 2019 - 6 Agustus 2019
- Jarak Sebagai Medium dalam “Cerita Anak” Pappermoon – Polygot - 24 Mei 2018

