fbpx

Amongster: Voyage of Lengger, pertunjukan oleh Otniel Tasman

Sebuah perjalan Lengger mendefinisikan dirinya di hadapan laju zaman…

Setelah 10 tahun berkarya, Otniel Tasman kini tengah mempersiapkan karya terbarunya berjudul “Amongster: Voyage of Lengger”. Karya ini adalah rangkuman kilas balik perjalanannya selama 10 tahun menekuni kesenian tradisi Lengger Lanang dalam pendekatan kontemporer. Dalam format pertunjukan multi-disiplin, narasi Amonster ini Otniel akan dipentaskan dalam tiga babak dan menampilkan karya koreografi, film, serta gubahan musik noise.“Amongster: Voyage of Lengger” akan dipentaskan pada 27 November 2020 mendatang di Taman Budaya Jawa Tengah, Surakarta.

Lahir dan besar di Banyumas, membuat Otniel Tasman akrab dengan tradisi Lengger Lanang sejak kecil. Lengger Lanang adalah kesenian tradisi asli Banyumas untuk pemujaan dewi kesuburan. Lengger umumnya populer lantaran menampilkan gerak gemulai perempuan namun ditarikan oleh laki-laki. Penari Lengger Lanang juga biasanya menghidupi identitas cross-gender tersebut di kehidupan sehari-hari. Dualitas gender, menghidupi sisi perempuan dan laki-laki di satu tubuh ini berdampak banyak hal di hidup seorang Lengger Lanang. Hal itulah yang dialami dan jadi benang merah kekaryaan Otniel Tasman selama 10 tahun terakhir.

Proses pengerjaan Amongster: Voyage of Lengger dikerjakan secara bertahap. Sebelumnya, cuilan karya ini, “Amongster #1: Tubuh di Antara” telah dipentaskan di Surakarta pada 2 Oktober 2020 lalu. Kini, “Amongster: Voyage of Lengger” akan menampilkan perjalanan tubuh lahir-batin Otniel Tasman secara lebih utuh dan artistik. Untuk karya ini, Otniel mengajak enam penari muda Surakarta, sutradara film pendek Zen Al Ansory, dan musisi noise asal Yogyakarta Mahamboro. Kolaborasi ini akan menghasilkan pertunjukan yang bisa dinikmati penonton secara utuh.

Selain latihan rutin di Surakarta sejak awal Oktober lalu, tim “Amongster: Voyage of Lengger” juga melakukan syuting di Banyumas –kota kelahiran Otniel Tasman–, serta melakukan perjalanan ke Makassar untuk bertemu pendeta Bugis yaitu Bissu. Selain Lengger, Bissu adalah entitas yang juga melakoni cross-gender di tubuh dan perannya secara adat. Mereka juga tengah berjuang bertahan menghadapi modernitas. Untuk itu, Otniel melakukan dialog dengan Bissu di sana. Hingga pada akhirnya, Otniel akan mewujudkan definisnya tentang Lengger Lanang yang ia pahami hari ini dalam bentuk koreografi.

BACA JUGA:  Dramaturgi (Tari): Sesuatu Yang Dekat

Perjalanan dan dialog jadi kata kunci untuk “Amongster: Voyage of Lengger”. Di karya ini, Otniel seperti melihat kembali perjalanan lahir-batinnya hingga hari ini, melihat segala hal yang telah berdialog dan membentuk diri Lengger Lanangnya. Untuk itu, selain penting secara kekaryaan personal Otniel Tasman sebagai koreografer muda, karya ini juga penting karena memantik dialog soal dualitas, gender, hingga bagaimana sang liyan merumuskan hidup sebagai manusia.

Menampilkan:

Amongster: Voyage of Lengger

 Koreografer & Sutradara: Otniel Tasman

Penari:

Ahmad Saroji

Mekratingrum Hapsari

Dani S Budiman

Sutrianingsih

Aditiar Anggit Wicaksono

Hana Medita

Direktur Musik: Bagus TWU

Penampil Musik: Mahamboro

Sutradara Film: Zen Al Ansory

 

Jadwal Pelaksanaan:

Hari Tanggal        : Jumat, 27 November 2020

Waktu                   : 19.00 WIB – selesai

Tempat                 : Taman Budaya Jawa Tengah, Surakarta

 

Otniel Dance Community

Otniel Dance Community (ODC) adalah sebuah komunitas di bidang kesenian tari, dibentuk pada September 2013 oleh Otniel Tasman, koreografer muda asal Banyumas, Jawa Tengah. Komunitas ini bersifat terbuka bagi seniman, koreografer, penari, maupun pegiat seni lintas-disiplin untuk turut berkegiatan. Tujuan dibentuknya komunitas ini antara lain sebagai forum bertukar pikiran dan gagasan mengenai seni pertunjukan, khususnya seni tari. Tidak hanya itu, ODC juga aktif berkarya dengan menerapkan riset dalam membangun konsep berkaryanya. ODC berharap bias turut berbagi ilmu pengalamannya selama berkarya, melalui forum diskusi terbuka, lokakarya, maupun kolaborasi.

Otniel Tasman

Otniel Tasman adalah korografer muda dengan akar budaya Jawa yang kuat, khususnya seni tradisi Banyumas, kota kelahirannya. Otniel banyak berekspreimen dengan tradisi Lengger Lanang, yang membuatnya bisa mengkontekstualkan apapun yang terjadi di hidupnya. Lengger Lanang  juga jadi inspirasi utama karya-karya

BACA JUGA:  Menengok Kembali IDF 2018: Membaca Tari Kontemporer di Ruang Demokrasi Hari Ini

nya. Keunikan tari ini adalah ditarikan oleh penari laki-laki yang memakai kostum dan riasan perempuan. Karya-karyanya banyak mengangkat isu identitas gender dan koreografi kontemporer. Otniel lulus dari Institut Seni Indonesia (ISI) Solo Indonesia pada 2013. Dia telah berkolaborasi dengan beberapa seniman nasional dan internasional, seperti Ming Wong (Jerman), Daniel Kok (Singapura)), Maxine Happner (Kanada), Hanafi Muhammad (Indonesia), dan Garin Nugroho (Indonesia).

 

UPDATE INFO EVENT:

 Instagram: @otnieldance

Kontak tim:

Email: otnieltasman@gmail.com

WA: Titah AW – 08113687993

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *