fbpx

MASIHKAH ADA TEATER PASCA PANDEMI?

[Ekwan Wiratno] Pelonggaran telah dilakukan di berbagai negara mengikuti menurunnya kasus Covid-19, termasuk bagi kegiatan teater. Tapi berbagai berita menunjukkan bahwa pelonggaran ini tidak lantas mengembalikan seluruh aktivitas teater sesemarak sebelum pandemi. Ada kelesuan yang terbaca di mana-mana.

Lantas bagaimana potret teater pasca pandemi?

TEATER MASA PANDEMI

Paksaan untuk lockdown pada saat pandemi Covid-19 sejak tahun 2020 telah memukul kegiatan teater, termasuk aspek ekonominya. Milyaran Pound Sterling hilang dari dunia teater Inggris akibat lockdown itu. The Creative Industries Federation bahkan memperkirakan kerugian teater mencapai 74 milyar Euro dan mengakibatkan 40.000 orang pelaku teater kehilangan pekerjaanya. Melihat fakta ini—sebagai sebuah kesenian yang begitu luwes—maka teater beradaptasi dengan keterbatasan ini. Upaya beradaptasi ini kemudian menghasilkan pemanfaatan teknologi informasi sehingga menghasilkan teater yang disiarkan secara online. Kemunculan platform streaming teater online seperti https://www.broadwayhd.com/ memberikan kesempatan untuk tetap menikmati teater dari rumah masing-masing dengan semboyan “bayar apa yang anda tonton.” Meskipun demikian, biaya produksi ternyata jauh lebih besar dibandingkan dengan hasil yang didapatkan dari platform tersebut. Penggunaan media baru tersebut ternyata juga mampu menghasilkan penonton baru sebesar satu perlima dari total penonton online. Dampak positif lainnya adalah terjadinya berbagai kolaborasi lintas negara untuk menghasilkan berbagai pertunjukan lintas budaya dan disiplin[i].

Oskar Eustis, artistic director The Public Theater, New York, mengatakan bahwa “Saya melihat dunia tanpa teater dan ini adalah dunia yang berbeda.”[ii] Untungnya, dugaan Oskar Eustis tidak terjadi. Kemampuan teater untuk beradaptasi dengan keterbatasan selama Pandemi Covid-19 terus berlangsung, bahkan menghasilkan berbagai kompetensi yang selama ini tidak terbayangkan. Teater menjadi tidak lagi eksklusif dan mampu menjangkau penonton yang jauh lebih luas. Di Indonesia, usaha ini juga dilakukan oleh berbagai kelompok teater, yaitu Titi Mangsa Production dan Teater Koma. Kedua kelompok teater ini menggunakan media Youtube dan https://karyakarsa.com/ untuk mementaskan karya mereka. Hanya saja, usaha semacam ini memang belum menjadi gerakan masal di Indonesia.

Gejala penurunan minat masyarakat untuk menonton teater bahkan sudah muncul sebelum Pandemi Covid-19. Jumlah penonton teater musikal pada tahun 2012 menurun sebesar 9% apabila dibandingkan dengan penonton pada tahun 2009. Ini adalah penurunan yang sangat signifikan dalam 25 tahun terakhir. Pertunjukan teater non musikal bahkan mengalami nasib yang lebih parah, yaitu jumlah penonton menurun hingga 12%[iii]. Jumlah penonton usia 25 hingga 44 terus menurun. Beberapa asumsi awal adalah mereka tidak mau lepas dari perangkat elektroniknya atau mereka tidak mau menonton teater karena mereka dapat menikmati hiburan yang mereka butuhkan dari handphone di tangannya tanpa meninggalkan kenyamanan rumah[iv].

BACA JUGA:  Membaca The Bagang, Membaca Orkestra Keseharian Misbah

Kondisi ini kemudian diperparah dengan munculnya Pandemi Covid-19 yang menurunkan jumlah penonton sangat parah. Berdasarkan data yang dikeluarkan organisasi seni Inggris, penurunan penonton acara kesenian pada tahun 2020 terjadi hingga 90% bila dibandingkan dengan jumlah penonton pada tahun 2019. Akibatnya, terjadi penurunan keuntungan dari 171 Juta Euro pada tahun 2019 menjadi hanya 16,5 juta Euro pada periode yang sama pada tahun 2020[v].

MASIH ADAKAH TEATER PASCA PANDEMI?

Pertanyaan ini tentu saja akan menghasilkan jawaban yang beragam. Ketika yang ditanya adalah orang teater, maka jawabannya akan diteriakkan dengan gegap gempita “Pasti ada dong!” Tapi dalam kesempatan ini saya ingin menunjukkan fakta-fakta.

Penurunan jumlah penonton di berbagai negara, termasuk Broadway (sayangnya di Indonesia tidak ada data yang bisa dirujuk), harusnya menjadi peringatan bagi para pegiat teater. Gejala ini telah muncul bahkan sebelum Pandemi Covid-19 terjadi. Pukulan akibat hilangnya interaksi penonton-panggung juga tentu memberikan akibat yang tidak dapat dibayangkan.

Berbagai pelonggaran pertunjukan teater di berbagai negara dan kota di dunia telah diberikan. Apakah lantas teater Kembali pada titik sebelum pandemi? Ternyata tidak. Sebuah survei di Los Angeles bertajuk Performing Arts and Reopening Survey menunjukkan bahwa terjadi penurunan jumlah penonton hingga hampir 50% dan keuntungan dari hasil penjualan tiket hanya sepertiga dari jumlah sebelum pandemi. Sementara itu, penerapan Protokol Kesehatan juga memberikan beban pengeluaran yang tidak sedikit di tengah inflasi dan biaya sewa yang tinggi. Hal inilah yang mengakibatkan jumlah pertunjukan yang dilakukan hanya 40% dari total pertunjukan yang biasa digelar setiap minggunya meskipun semua gedung pertunjukan telah diijinkan membuka aktivitasnya[vi].

Bagaimana dengan di Indonesia? Tentu nasibnya sama saja. Meskipun telah ada pelonggaran untuk kegiatan kesenian hingga 80% dan penghapusan keharusan memakai masker di luar ruangan, tapi kegiatan teater masih belum semarak. Beberapa kelompok memang telah menggelar pertunjukannya, misalnya Indonesia Kita yang telah mementaskan pertunjukan di beberapa kota atas Prakarsa BUMN dengan membawakan judul Tabib Suci. Demikian juga Titimangsa Production yang juga mementaskan sebuah pertunjukan teater musikal dengan judul Inggit Garnasih: Tegak Setelah Ombak. Beberapa kelompok juga telah mengumumkan rencana pertunjukannya. Geliat itu memang telah mulai terlihat, tapi jauh dari semarak sebelum Pandemi. Hal ini diperparah dengan berpulangnya beberapa seniman teater akibat Pandemi Covid-19.

BACA JUGA:  Puisiku Berjalan Menuju Naskah Teater

Masih adakah teater pasca pandemi? Apakah sekedar ada tapi tidak berdaya?

Itulah yang mesti dijawab Bersama. Tentu tidak sekedar ucapan atau diskusi di warung kopi. Eksistensi teater hanya bisa diwujudkan lewat kegiatan-kegiatan di wilayah publik. Beberapa strategi yang bisa dilakukan adalah[vii]

  • Harga adalah segalanya. Dengan semakin tingginya biaya produksi setelah pandemi, maka penentuan harga menjadi hal yang sangat penting. Tentu saja setiap produksi tidak mungkin mau rugi. Maka penyesuaian harga tiket harus dilakukan. Tentu saja hal ini tidak akan memuaskan penonton, tapi harus dilakukan untuk menyelamatkan ekonomi kelompok teater. Kelompok teater bisa menetapkan harga yang berbeda antara member dan non-member, atau berdasarkan usia (pelajar dan non-pelajar). Usaha lain adalah dengan menetapkan diskon untuk pembelian pertama atau pemberian label “50 tiket pertama telah terjual.” Hal ini terbukti memberikan suntikan kesan popularitas sekaligus memberikan jaminan jumlah penonton. Akhirnya, menjelang detik-detik pertunjukan, perlu juga diberikan harga khusus untuk memaksimalkan penjualan tiket.
  • Pengalaman baru. Pesatnya layanan streaming selama pandemi memberikan pengalaman yang berbeda bagi penonton. Hal ini tentu saja membuat penonton haus pada inovasi dan pengalaman baru. Teater sebelum pandemi tidak akan lagi cukup untuk memuaskannya. Seniman teater harus terus melakukan inovasi sehingga memberikan pengalaman baru bagi penonton. Nostalgia tentu saja satu kekuatan, mereka harus ditarik Kembali ke gedung pertunjukan untuk merasakan pengalaman yang sama Ketika menonton teater sebelum pandemi. Tapi hal ini tidak cukup, teater harus menarik penonton baru yang memiliki perilaku yang berbeda. Penggunaan berbagai teknologi adalah satu di antara berbagai strategi lain untuk menghasilkan pengalaman baru, pengalaman yang tidak ditemukan melalui platform yang selama ini ada dalam genggaman.
  • Up-to-date pada perkembangan teknologi. Generasi muda saat ini sangat tergila-gila dengan teknologi. Kegilaan ini harus ditangkap oleh seniman sebagai sebuah tantangan untuk juga turut menggunakannya. Penggunaan teknologi multimedia misalnya dalam produksi And Then They Came For Me: Remembering the World of Anne Frank oleh Jersey City Theatre Center berhasil memadukan antara rekaman interview para teman Anne Frank dengan pertunjukan langsung. Pengembangan teknologi Printer 3D juga memberikan kemudahan tak terbatas untuk membuat berbagai objek. Serta berbagai teknologi di bidang audio dapat juga dimanfaatkan dalam proses penciptaan pertunjukan teater. Seluruh elemen ini pada akhirnya akan memberikan kesan modern, up-to-date dan pengalaman berteater serta menonton yang barbeda. Tidak lupa, perkembangan teknologi terbaru seperti Computer-Generated imagery (CGI) dan metavers juga terus menunggu untuk diaksplorasi.
  • Menjaga ikatan dengan penonton. Tentu saja, kunci untuk mempertahankan eksistensi sebuah kelompok teater adalah bagaimana mereka menjaga hubungan dengan penontonnya. Selama pandemi, interaksi antara penonton dan penyaji menjadi berkurang sangat signifikan—untuk tidak menyebut hilang sama sekali. Maka penting untuk menggunakan berbagai media sosial untuk terus menunjukkan eksistensi dan interaksi. Teater Koma misalnya terus memproduksi pertunjukan teater berdurasi pendek di Youtube, usaha ini selain sebagai usaha untuk mempertahankan kreativitas, tentu saja juga berfungsi untuk mempertahankan ikatan dengan penontonnya. Berbagai organisasi teater Broadway bahkan untuk menarik Kembali penontonnya rela menggelar pertunjukan-pertunjukan kecil di pusat keramaian seperti taman. Juga, menggelar pertunjukan yang dilengkapi dengan stan makanan dan minuman juga ternyata mampu menarik penonton.
BACA JUGA:  Teater Jalanan dan Teater Feminis di India

Masih adakah teater pasca pandemi?

Sebaiknya pertanyaan ini terus kita tanyakan setiap saat, setidaknya agar kita terus bergiat untuk aktif dan berkarya. Sekaligus sebagai peringatan untuk tetap waspada.


[i] https://theconversation.com/the-pandemic-nearly-killed-theatre-the-creative-way-it-fought-back-could-leave-it-stronger-176185

[ii] https://www.npr.org/2020/09/20/914251681/what-will-the-future-of-theater-look-like-our-artists-are-going-to-lead-us

[iii] https://www.nytimes.com/2013/09/26/arts/a-new-survey-finds-a-drop-in-arts-attendance.html

[iv] https://www.star-telegram.com/opinion/opn-columns-blogs/other-voices/article65071237.html

[v] https://www.thestage.co.uk/news/audience-demographic-shifts-away-from-older-patrons-due-to-covid-19-report

[vi] https://www.latimes.com/entertainment-arts/story/2022-05-11/theater-is-back-attendance-is-down-costs-soaring-covid-19-pandemic

[vii] https://ungerboeck.com/resources/how-theatres-can-survive-rise-and-thrive-post-pandemic

Ekwan Wiratno
Latest posts by Ekwan Wiratno (see all)

Ekwan Wiratno

Ekwan Wiratno adalah Dosen Universitas Brawijaya, Malang yang juga merupakan kritikus teater, penulis naskah, dan sutradara. Selain sebagai kritikus, penulis merupakan pendiri Malang Study-Club for Theatre (MASTER) (IG: master.malang) yang berfokus pada upaya literasi dan pengembangan keilmuan teater secara umum. Kini tinggal di Malang dan membuka peluang komunikasi melalui account Instagram @ekwan_wiratno.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.