fbpx
Senin, Maret 4, 2024
ULASANPertunjukan Musik

Repertoar Pūkheā di Bingkai Balada, Sebuah Catatan Tentang Gunung Dalam Perjalanan Bersepeda Lombok – Jakarta

[Galih Suryadmaja]. Wing Sentot Irawan atau yang juga dikenal sebagai Mr. Yoi gelar konser karya Repertoar ภูเขา (Pūkheā) di ajang Selasa Warjack, Warung Jack Taman Budaya Nusa Tenggara Barat (NTB), Selasa malam (17/01/2023). Tampil dihadapan publik Mataram, Mr. Yoi sajikan 9 (sembilan) karya lagu bergaya balada, salah satunya adalah lagu berjudul ภูเขา (Pūkheā) yang disusunnya selepas melakoni perjalanan (touring) bersepeda Lombok – Jakarta pada sekitar bulan Oktober – Desember tahun 2022 lalu. Mr. Yoi merupakan salah satu seniman asal Lombok Barat yang kerap melakukan perjalanan tour bersepeda berkeliling ke berbagai daerah di Indonesia maupun di negara-negara Asean. Banyak karya musiknya yang telah di perdengarkan oleh sebagian masyarakat NTB. Dan kebanyakan karya-karya syair yang disusunnya terinspirasi dari alam dan perjalanan. Sekitar 2 (dua) bulan lamanya, Mr. Yoi mengayuh sepeda dari Lombok melenggang menuju Jakarta. Menjelajah berbagai kota seperti halnya Surabaya, Kediri, Solo, Yogyakarta, Bandung, dan Jakarta. Rute yang ditempuh tidak terlalu panjang seperti tahun-tahun sebelum Covid-19 melanda. Di mana ia menapaki Brunei Darussalam dan negeri Jiran melalui jalur Sumbawa,Sulawesi, dan Borneo. Dan dalam sebuah kesempatan, kayuhannya melintasi beberapa negara hingga mencapai Vientiane, Laos.

Wing Sentot Irawan Mr. Yoi Saat Membawakan Karya di Warjack Taman Budaya NTB | Repertoar Pūkheā di Bingkai Balada, Sebuah Catatan Tentang Gunung Dalam Perjalanan Bersepeda Lombok – Jakarta
Mr. Yoi, dalam Repertoire Pukhea di Warjack.

Hadir di atas panggung Selasa Warjack, Mr. Yoi didampingi tiga orang personel Yoi Akustik untuk bersama mengkonstruk bunyi. Berbekal gitar, bass, cajon, dan biola, setiap karya bergaya balada disuguhkan di sudut ruang Taman Budaya. Mengenakan pakaian-kaos dan kain-serba hitam bertuliskan ภูเขา (Pūkheā) di bagian dada, seragam dengan musisi lain yang membersamainya. Tepuk tangan menyambut hadirnya menyapa penonton yang telah menunggu karyanya ditampilkan.  Dibingkai sorot lampu kuning sederhana dan menggunakan sound seadanya, ia mencoba melafalkan idenya melalui syair dan nada.

Repertoar ภูเขา (Pūkheā) menjadi tajuk yang diusung dalam konser tersebut. ภูเขา (Pūkheā) merupakan satu istilah yang berasal dari bahasa Thailand yang berarti gunung. Sebuah catatan bahwa awalnya karya ini berjudul “Uul” (baca: ul) yang disadur Mr. Yoi dari bahasa Mongolia. Akan tetapi dalam perjalanannya, ia merubahnya dan memilih menggunakan istilah dari bahasa Thailand. Perubahan ini menurutnya dilakukan atas dasar pertimbangan estetika ‘visual’-yang sebenarnya tidak ada kaitan secara langsung dengan karya musiknya-terkait dengan bagaimana konstruksi huruf-huruf yang membentuknya menghadirkan citra ketika dituliskan.  Seperti halnya yang disampaikan Mr. Yoi di atas panggung Selasa Warjack,

BACA JUGA:  Kompleksitas Ambang dalam NoSheHeOrIt

“Tapi apa alasan saya memilih bahasa Thailand? Mulanya saya pilih bahasa mongol, ‘Uul’ ( dibaca Ul) dalam bahasa Indonesia berarti gunung. Karena huruf mongol ketika disablon kok kurang artistik, akhirnya saya putuskan menggunakan bahasa Thailand. Perubahan judul itu sebenarnya karena pertimbangan estetika secara visual semata.” Ungkap Mr. Yoi kala mengawali pertunjukan tersaji (17/01)

Apa yang disampaikan Mr. Yoi bukan perkara keterkaitan dari keduanya (unsur auditif dan visual) dalam menghadirkan pertunjukan malam itu. Hal itu lebih pada upaya untuk menstimulasi kesadaran bersama, meskipun pertunjukan yang dihadirkan adalah pertunjukan musik-yang bersifat auditif-namun, ketika hadir di atas panggung tentu sebuah pertunjukan tidak dapat dilepaskan dari unsur visualnya. Oleh karena kedua hal itu merupakan sebuah kesatuan ketika dipertontonkan pada khalayak. Pertimbangan estetika secara visual Mr. Yoi mungkin tampak sederhana oleh adanya konsep pertunjukan yang coba diusungnya. Di mana Mr. Yoi bersama dengan musisi pendukungnya (Yoi Akustik) tampil dengan menggunakan kaos yang seragam. Kaos yang pada bagian depannya menampilkan tajuk yang diusung dalam konser malam itu. Bahwa apa yang dihadirkan merupakan satu bentuk komunikasi yang coba dibangun antara Yoi Akustik dan penonton.

Apakah sulit hanya untuk sekedar menyebut gunung bagi Mr. Yoi? Tentu cukup mudah dengan melihat latar belakangnya sebagai orang Indonesia yang telah menempuh banyak perjalanan ke berbagai daerah. Menyaksikan keragaman dan keberagaman, serta banyaknya gunung tinggi yang menjulang di bentang luasnya bumi Nusantara. Menariknya, perubahan judul dari ‘Uul’ menjadi ‘Pūkheā’ yang terkesan biasa saja, justru menjadi sebuah stimulan kesadaran akan begitu banyaknya kata dan bahasa yang digunakan. Dengan maksud dan tujuan sama, setiap ruang memiliki caranya sendiri untuk menamai atau menyebut suatu hal.

BACA JUGA:  Pagi yang Bening, Cinta yang Hening : Ulasan “Pagi yang Bening” -Teater STEMKA di Linimasa #5

Pūkheā Dalam Sebuah Interpretasi

Serupa dengan gunung, faktanya Indonesia memiliki ratusan bahasa yang digunakan masyarakat untuk saling berkomunikasi. Menunjukkan, menjelaskan, dan memahami setiap entitas yang dijumpai layaknya orang Jawa menyebut sepeda dengan sebutan pit, orang Lombok menyebutnya Sempede, dan orang Inggris menyebutnya sebagai bycicle. Kata hanyalah wujud yang membungkus setiap entitas yang ingin disebutkan dalam penamaan. Tetapi sebenarnya ia tak pernah merubah esensi dari setiap entitas yang disebutkannya, hanya saja manusia memiliki keterbatasan vokabuler dalam upaya memahami setiapnya.

Judul Lagu : ภูเขา (Pūkheā)

Karya : Wing Sentot Irawan (Mr. Yoi)

Tapi aku bukan aku yang selalu selisih saat itu

Tapi aku bukan aku yang selalu selesai saat itu.

Aku pada semua itu selalu bertanya

Aku pada semua itu selalu menjawab

Diantaranya muara Sebagiannya iya.

Jika merunduk mengenali nafasnya

Yang melumpur dan berbatu,

Lembah, ngarai dan gemericik air

Berpagar pepohonan mengacakan fitrah nya.

Tapi aku bukan Pūkheā…

Realitas perjalanan dari Lombok menuju Jakarta, dan arah sebaliknya menjadi titik bagi Mr. Yoi di dalam memilih kata untuk membiaskan secara estetik citra yang diperolehnya. Ia seolah hendak mengungkapkan bahwa perjalanan dari Lombok menuju Jakarta adalah sebuah proses menapaki titian dari realitas ruang rural (desa) menuju ruang urban (kota). Gunung menjadi sebuah kiasan atas hadirnya ‘ketinggian’, yang merupakan titik puncak dari perjalanan peradaban. Puncak dari setiap ruang menghadirkan selisih dan tak pernah usai pada perjalanannya. Dan masing-masing menghadirkan aksi dan reaksi dalam mengkonstruk peradabannya.

Yoi Akustik Dalam Pementasan Repertoar Di Warjack Taman Budaya NTB 1 | Repertoar Pūkheā di Bingkai Balada, Sebuah Catatan Tentang Gunung Dalam Perjalanan Bersepeda Lombok – Jakarta
Yoi Akustik saat tampil di Warjack.

“Merunduk” serupa menengok ke belakang, menjadi sebuah catatan untuk kembali mengenali diri yang terasa asing. Teralienasi manakala mendapati banyak gedung menjulang tinggi, kegaduhan dan kebisingan di setiap sudut, dan kealpaan pada sapa sesama. Ramah tak serenyah citra nampak di ruang desa. Merunduk untuk kembali mengingat tentang cita yang seolah paradoks dengan ambisi untuk terus mengkonstruk puncak peradaban. Tetapi persepsi itu jelas hanyalah pandangan subyektif Mr. Yoi dalam memaknai setiap apa yang tampak dari pandangnya. Bahwa kedamaian, keramahan, keasrian desa menjadi sebuah cita di tengah ambisi untuk terus mewujudkan kemajuan atas peradaban.

BACA JUGA:  Mother Earth, Ekspresi Keluhuran Ibu

Pada sisi lain Mr. Yoi sebagai seorang pe-touring sepeda yang pernah berkeliling Indonesia bahkan Asean, tak jarang berjumpa dengan tempat-tempat sunyi tak berpenghuni. Hutan-hutan yang masih terjaga asri, mungkin terasa timpang ketika dihadapkan dengan hutan beton yang berjajar tinggi menjulang seolah menunjukkan keangkuhannya. Tetapi di antaranya hadir ruang-ruang yang merefleksi fitrah atas alam sesungguhnya melalui pagar-pagar hidup yang disusun dari pepohonan coba di reka di tengah peradaban kota.

Pada puncaknya, Mr. Yoi menghadirkan satu ruang untuk kembali memupus kegaduhan pikir kala menyaksikan dinamika kehidupan yang disaksikannya.  Menghentikan upayanya untuk menyaksikan ruang urban dengan kacamata rural, atau bahkan sebaliknya. Ia memilih untuk berhenti pada ruang kesadaran, bahwa dirinya bukanlah satu realitas dari ‘gunung’ yang dimaksudkan. Ia menutup segala wacana itu dengan sebuah ungkap yang tegas dan jelas bahwa “ia bukan gunung” melainkan sisi lain darinya.

Galih Suryadmaja

Galih Suryadmaja

Galih Suryadmaja, S.Sn., M.A. Peneliti budaya di Yayasan Widya Mandala, Lombok, Nusa Tenggara Barat. Tinggal di Mataram, NTB.