Apakah Penari Bahagia? : Catatan untuk Paradance ke-27

[Dinu Imansyah]. KONON, orang-orang yang bergerak adalah orang-orang yang paling berbahagia. Mereka tidak punya waktu untuk membiarkan kesia-siaan, kecemasan, dan kebimbangan menyita keseharian mereka. Mereka biarkan tubuh mereka menikmati hidup dengan penuh kebersahajaan dan penghayatan. Harapan dan cita-cita janganlah terus mendekam dalam angan-angan tapi harus segera diwujudkan. Sebagaimana waktu yang terus berdetak, kehidupan memang harus terus bergerak.

Life is like riding a bicycle. To keep your balance, you have to keep moving. Itulah kalimat yang aku temukan dari sebuah papan hiasan dinding di sebuah bar potong rambut di daerah Umbulharjo, Yogyakarta. Kalimat yang sama pernah dengan iseng dicoretkan ayahku di catatan harianku beberapa tahun lalu. So sweet, kan? Walau sampai sampai sekarang anaknya lebih suka berkubang dalam kesia-siaan dan hidup yang senantiasa stagnan. Njuk malah curhat.

Putri di Paradance
Karya Putri Lestari membuka Paradance edisi 27. Foto oleh Azwar Ahmad.

Kurang lebih hampir dua tahun aku absen memirsa Paradance. Pergelarannya yang menginjak seri ke-27 ini adalah yang pertama bagiku setelah sekian lama tidak bertandang ke festival mini gerak dan tari yang digagas oleh pasangan Nia Agustina dan Ahmad Jalidu ini. Kalau tidak salah ingat, Paradance terakhir yang aku sambangi adalah seri yang ke-20.

Ada tujuh penampil yang mengisi acara dwi-bulanan yang digelar pada Minggu, 26 Januari 2020 di Balai Budaya Minomartani itu. Mereka adalah Putri Lestari (Pekalongan), Tiaswening Maharsi (Yogyakarta), Nur Diatmoko (Wonogiri), Nurrachma Dinda (Kaltara), Mila Art Dance Young (Yogyakarta), Arjuni Prasetyorini (Yogyakarta) dan Rizka Yuana Putri (Purworejo). Sebagian dari mereka sudah pernah mencicipi pergelaran yang dinisiasi sejak tahun 2014 itu, beberapa baru pertama kali atau setidaknya tampil atas nama dirinya sendiri dan bukan atas nama koreografer lain.

BACA JUGA:  Setelah Thanksgiving Ada Apa?
Eros Arjuni Paradance
Arjuni dalam karya Eros di Paradance 27. Foto oleh Azwar Ahmad

Sebagaimana tagline-nya, festival mini seni gerak dan tari, tidak hanya tari yang ditampilkan pada Paradance malam itu tapi juga pantomime. Meskipun harus diakui bahwa saat ini sudah susah untuk mengotak-ngotakkan lagi mana yang tari, pantomime, teater hingga performance/happening art. Memang masih ada yang membeda-bedakan wilayah berkesenian? Ya…masih ada saja, sih, justru pertanyaannya seharusnya dibalik menjadi: “Memang (masih) ada yang tidak lagi memikirkan pembeda-bedaan wilayah berkesenian?”

Mari kita kembali menyoroti tentang gerak. Bagiku, gerak adalah sebuah keniscayaan sekaligus pilihan. Sudah menjadi fitrah manusia untuk selalu bergerak. Meskipun pada kenyataannya tidak semua manusia memilih untuk bergerak—atau setidaknya lebih banyak bergerak dibandingkan fitrah manusia yang lain yakni berpikir dan merasa.

Tyaswening Maharsi Pantomime Paradance
karya solo mime Splash 2 oleh Tyaswening Maharsi. foto oleh Azwar Ahmad.

Aku selalu menganggap gerak sebagai medium untuk kembali pada kenyataan. Jika aku sudah terlalu mabuk dengan teori-teori atau gonjang-ganjing rasa, aku akan kembali pada gerak. Jika aku sudah muak dengan buku-buku atau kebimbangan yang berbuncah-buncah, aku akan mencari kegiatan fisik apapun untuk melampiaskannya. Entah merapikan kamar, melapi laptop, menata kabel roll yang berkelindan dengan kabel-kabel lainnya, sit-up, push-up, cuci piring, atau sekedar bercengkrama dengan kucing kesayanganku.

Bergerak membuatku bahagia. Bergerak menjauhkanku dari gegap gempita wacana.

Eh.. Tapi kalau bergeraknya gara-gara (kebanyakan) wacana bagaimana?

Nah, itulah yang masih saja aku temui di gelaran Paradance #27 kali ini. Dari tujuh seniman yang tampil pada malam hari itu, sebagian besar masih saja sibuk bermain-main dengan wacana, alih-alih membiarkan tubuhnya menikmati gerak dengan bahagia.

Ya, bergerak dengan bahagia.

Hal inilah yang aku rasakan absen dari perkembangan tari kontemporer sekarang ini. Kenapa tari kontemporer kebanyakan masih sering dimaknai sebagai tarian yang serba ‘gelap’, ‘menyesakkan’, atau ‘tersiksa’? Wajah-wajah yang tegang, tubuh-tubuh yang menciut penuh geram, jiwa-jiwa yang pasrah pada keadaan dan berharap perubahan akan datang dengan sendirinya.

BACA JUGA:  Tradisi "Dibuang" Kemana? Performance and Discussion : Dinamika Wacana Tari dari Kursi Penonton

Perubahan itu pilihan, bukan anugerah. Sama halnya dengan kebahagiaan. Kebahagiaan itu kita sendiri yang menentukan, bukan siapapun. Kebahagiaan kok dititipkan. Kebahagiaan tidak butuh syarat apapun. Dia hanya butuh dipilih dan ditentukan. Tidak butuh jaminan, tidak butuh keadaan.

Memang, tidak semua seniman yang tampil pada Paradance malam itu lupa untuk berbahagia dengan tubuhnya sendiri. Ambil contoh Arjuni Prasetyorini (Juni) dengan “Eross”nya atau Tiaswening Maharsi (Tias) dengan “Splash #2”nya. Juni dengan balutan gaun merah darah bergerak lembut melintasi ruang dengan hati yang penuh kasmaran. Sedangkan Tias yang berpantomime di satu titik belaka, menikmati perubahan fisiknya yang semakin menua. Wacana mereka tempatkan sebagai pemantik untuk bergerak bebas, alih-alih sebagai dalih. Juni dan Tias membiarkan tubuhnya hanyut dalam suasana. Gerakan-gerakan yang bersahaja namun penuh kekhidmatan seperti inilah yang sering kita lupakan.

Dinda Paradance
Nurrachma Dinda menampilkan karya yang diinspirasi dari tari Bangun. Foto oleh Julio.

Memang, wacana tetap dibutuhkan sebagai dasar untuk menentukan sikap. Sikap yang baik bisa ditentukan dari wacana yang baik pula. Namun apalah artinya wacana kalau itu justru membuat kita jadi takut untuk bersikap?

Tidak ada yang salah dengan wacana-wacana yang ditawarkan pada Paradance malam itu. Beberapa mampu memberikan tawaran isu-isu yang menarik. Seperti perihal kesenjangan sosial oleh Putri Lestari serta keuletan dan kesabaran petani dalam menjaga sawah oleh Rizka Yuana Putri dkk. Ada pula yang berangkat dari kesenian tradisi seperti Nurrachma Dinda C yang terinspirasi dari tari Bangun Kalimantan dan Nurdiatmoko yang mengeksplorasi tari Kethek Ogleng gaya Wonogiri. Hingga yang terinspirasi dari pergerakan rasi bintang utara oleh Mila Art Dance Young.

Sayangnya isu-isu potensial tersebut masih dimaknai sebagai wacana yang terpisah dari aksi, belum embodied, menubuh. Ya, mana bisa embodied kalau menikmati gerakannya saja masih ngirit-ngirit. Wacana-wacana itu masih tertinggal di komposisi, perangkat artistik, atau mimik muka belaka.

BACA JUGA:  Tubuh di Antara Burung, Kata-kata dan Sumpah Pemuda : Catatan untuk Paradance #17

Sekali lagi ini bukanlah perkara kecakapan teknik gerak, jam terbang yang melimpah atau kepiawaian dalam menyusun komposisi koreografi. Ini adalah perihal menikmati apapun yang sedang kita jalani, khususnya melalui gerak jasmani. Mens sana in corporesano, wacana lu ke sana gerakan lu ke sono.

Yuk kita bergerak dengan lebih bahagia. Yuk berbahagia dengan bergerak!

 

 

 

 

Latest posts by M Dinu Imansyah (see all)

M Dinu Imansyah

Aktor dan dramaturg. Menempuh pendidikan pasca sarjana Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa Universitas Gajah Mada. Aktif bersama kelompok Kalanari Theatre Movement Yogyakarta dan beberapa komunitas lain di Jogja dan Malang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *