Senin, April 27, 2026
ULASANLintas DisiplinPanggung Teater

Joker Digital dan Spect-Actors di karya Megatruh BM : Evolusi Teater Pembebasan di Era Algoritma

“Selamat datang di era di mana ‘dinding keempat’ tidak hanya runtuh oleh tubuh aktor, tapi juga oleh notifikasi WhatsApp. Melalui pementasan berbasis AI, Megatruh Banyu Mili melakukan reaktualisasi radikal atas konsep Theatre of the Oppressed milik Augusto Boal. Di mana, penonton hadir sebagai spect-actors dalam simulasi sosial digital, dan krisis nyata soal pendidikan melebur dengan fiksi panggung di balik layar gawai.”

Jumat, 26 September 2025. Hari itu saya bingung. Seorang ibu di Yogyakarta membuat grup WhatsApp bernama: Sekolah Budi. Di sana, ia bertanya tentang pilihan sekolah untuk anaknya, Budi, yang sebentar lagi akan masuk SD. Saya ada di grup itu, tapi bukan orang Yogya, juga tidak punya anak. Jari saya berhenti sejenak di layar gawai, menimbang kata-kata sebelum mengetik. Saya ragu harus menjawab apa, tapi tetap mencoba membantu. Saya mencari di mesin pencari: berapa biaya sekolah terbaik di Yogyakarta?

Napas saya tertahan. Mesin pencari itu menggulirkan daftar sekolah swasta internasional dengan biaya masuk puluhan juta, bahkan ada yang memasang tarif 6.850 dolar per tahun—hampir seratus juta rupiah. Saya menelan ludah, mencoba mencerna angka-angka itu. Saat tautan tersebut saya kirim ke grup, Ibu Budi membalas: terlalu mahal. Ia orang tua tunggal dengan penghasilan UMK Yogyakarta—sekitar dua jutaan rupiah per bulan. Angka-angka itu seperti tembok yang mustahil ia panjat.

IMG 2386.JPG | Joker Digital dan Spect-Actors di karya Megatruh BM : Evolusi Teater Pembebasan di Era Algoritma
Sepulang Sekolah Budi Bercerita Kepada Ibu Bahwa Budi Ingin Sekolah; dok. Festival Minikita 2025

Malam berikutnya, grup semakin ramai, seperti pasar malam yang riuh dan tak terkendali. Notifikasi berdentang silih berganti. Ibu Budi sempat membuat polling untuk menjawab dilemanya soal pendidikan Budi, namun sayangnya pertanyaan itu justru tenggelam di antara candaan anggota grup, keluhan biaya hidup, hingga promosi nyeleneh.

Di tengah kekacauan itu, beberapa orang masih berupaya menawarkan saran: dari homeschooling, siasat meminjam alamat demi zonasi, hingga jalur ‘orang dalam’. Saya menangkap realitas yang lebih luas di sana; tentang bagaimana bangku sekolah favorit diperebutkan dengan sengit, sementara mereka yang gagal dipaksa menerima apa pun yang tersisa di sekitar rumah.

Beberapa lagi menyarankan agar Ibu Budi memilih sekolah yang sesuai kantong, atau sekadar mendampingi anak belajar di rumah jika sekolah tak lagi mampu memenuhi kebutuhan belajar. Kepandaian seolah ditarik kembali ke dalam bilik-bilik rumah; sementara sekolah berubah serupa barang di etalase supermarket—hanya bisa dipilih dan dibawa pulang sesuai isi dompet.

​​Di antara riuh itu, saya teringat kisah-kisah viral tentang anak dari keluarga miskin yang berhasil mencapai pendidikan tinggi. Kita sering memujinya sebagai bentuk kegigihan yang luar biasa. Namun, saya tetap bertanya: jika itu dianggap anomali, lalu bagaimana dengan nasib jutaan anak lainnya?

Kita tahu, meski jarang diakui, tak semua orang bisa sampai ke sana. Yang sering tampak hanya daya juang individu, sedangkan yang luput dari pandangan adalah batas-batas sistemik yang menghentikan langkah banyak orang di tengah jalan. Keberhasilan seolah hanya soal mentalitas, padahal sejak awal, sistem tidak memberi pijakan yang sama. Kita dipaksa mengejar ukuran keberhasilan yang seragam, meski harus memulai dari titik start yang berbeda.

Ibu Budi adalah wajah dari persimpangan itu. Usia Budi kini sudah enam tahun, waktu untuk masuk sekolah dasar sudah semakin mendesak. Di satu sisi ada tembok tinggi biaya sekolah swasta, di sisi lain ada labirin sistem zonasi negeri, hingga kekhawatiran yang membayangi opsi alternatif seperti pesantren. Tiga jalan yang dilematis.

Malam itu, percakapan tidak berhenti di layar ponsel. Ia bergema di ruang Black Box Sakatoya Collective Space; memantul tanpa henti antara ruang digital dan fisik. Fragmen foto dan rekaman suara di WhatsApp perlahan merajut adegan demi adegan; menghadirkan suasana ruangan yang seluruh sudutnya ditutupi kain putih.

BACA JUGA:  Tegangan Kediaman dan Mobilitas dalam Cabaret Chairil Vol. I

Di dalam ruang itu, kontras sosial terlihat nyata. Puluhan orang ada di dalam sana. Mereka yang duduk tampak rapi dengan setelan terbaik dan bersepatu—sesekali menyela sambil menatap ponsel. Sementara mereka yang berdiri, berpakaian santai tanpa alas kaki, lebih banyak mengamati alur percakapan di layar TV dan proyektor.

Di hadapan mereka, sebuah TV LCD memantulkan riuh grup WhatsApp tadi, bersanding dengan sosok Ibu Budi dalam wujud virtual di cahaya proyektor—sebuah figur yang mengingatkan pada ilustrasi buku teks SD era 1980-an. Gambar itu tidak statis; ia berubah latar dan bentuk melalui algoritma, seolah sedang menjelajahi berbagai kemungkinan realitas.

Sadar atau tidak, kami—baik yang di grup WhatsApp “Sekolah Budi” maupun yang hadir secara fisik di Black Box Sakatoya Collective Space—telah terseret ke dalam alur pertunjukan berbasis AI karya Megatruh Banyu Mili. Karya berjudul Sepulang Sekolah Budi Bercerita kepada Ibu bahwa Budi Ingin Sekolah ini dipentaskan pada hari kedua Festival Minikita 2025, 27 September 2025, di Yogyakarta. Kami menyimak, menanggapi, dan secara kolektif ikut membentuk jalannya cerita.

IMG 2389.JPG | Joker Digital dan Spect-Actors di karya Megatruh BM : Evolusi Teater Pembebasan di Era Algoritma
Suasana loby Sakatoya Creative Space sebelum pertunjukan dimulai. dok. Festival Minikita 2025

AI dan Pertunjukan yang Dimulai Sebelum Panggung Digelar

“By taking possession of the stage, the Spect-Actor is consciously performing a responsible act. The stage is a representation of reality, a fiction. But the Spect-Actor is not fictional. He exists in the scene and outside of it, in a dual reality. By transforming fiction, he is transformed into himself.”

— Augusto Boal, Theatre of the Oppressed (1979)

Dalam Forum Theatre yang dikembangkan Boal di Amerika Latin sekitar tahun 1970-an, panggung bukan sekadar representasi. Ia dibangun sebagai simulasi konflik sosial yang belum usai—tentang penindasan sistemik dan ketimpangan dari praktik hidup sehari-hari. Di sini, penonton menjadi spect-actors: masuk ke dalam cerita, menggantikan tokoh, dan menguji berbagai alternatif untuk melihat konsekuensi dari sebuah keputusan. Di antara mereka, hadir figur joker sebagai fasilitator; yang menjaga alur tetap terbuka, mendorong partisipasi, serta menggali berbagai solusi dari konflik yang muncul.

Pada karya Megatruh, struktur ini meluas. Lewat pemanfaatan Artificial Intelligence (AI), ia membaca kondisi sosial, teknologi, dan budaya kontemporer, lalu merajut unsur tersebut ke dalam pertunjukan. AI hadir bukan sekadar alat, melainkan lapisan yang ikut memengaruhi ritme dan estetika, sekaligus penanda bahwa kita hidup di era revolusi industri 5.0.

Jika Boal menekankan interaksi langsung selaku medium perubahan, Megatruh menambahkan dimensi baru: keterlibatan audiens melalui mekanisme digital yang bergerak secara organik. Dengan cara ini, kehadiran fisik bukan lagi batasan tunggal; respons dan opini penonton di ruang virtual menjadi bagian intrinsik dari struktur karya itu sendiri.

IMG 2383.JPG | Joker Digital dan Spect-Actors di karya Megatruh BM : Evolusi Teater Pembebasan di Era Algoritma
Di ruang pertunjukan, interaksi grup Whatsapp menjadi satu modus untuk menarik keterlibatan audiens menjadi spect-actor. Dok. Festival Minikita 2025

Teknologi dan interaksi ini perlahan membentuk ruang dialog baru yang melekat pada data, algoritma, dan interaktivitas digital. Hal ini sekaligus mengingatkan bahwa teater kini hidup di persimpangan manusia dan teknologi, di mana ruangnya telah melampaui “dinding ke-empat”.

Kondisi itulah yang memungkinkan pertunjukan Megatruh dimulai sebelum panggung fisik digelar. Serta, terjadi resonansi siklikal, di mana gema dari ruang digital menjadi asupan visual di panggung fisik, membentuk rangkaian gema tanpa henti yang hidup dari keputusan-keputusan kecil yang diambil bersama.

Hal menarik lainnya adalah bagaimana Megatruh mewujudkan batas-batas sistemik tersebut secara fisik melalui klasifikasi tiket. Kontras penonton yang di dalam Black Box berakar dari pembagian kelas penonton.

Tiket kelas SWASTA dihargai Rp75.000 dengan fasilitas terbaik: penonton diminta berpakaian rapi, mendapat minuman, duduk di baris utama, hingga hak menentukan arah cerita serta akses ke grup WhatsApp eksklusif.

BACA JUGA:  Kerakusan, Tipis Rembulan, dan Pertunjukan yang Masih Bisa Dimaksimalkan

Sementara itu, kategori NEGERI seharga Rp 60.000 memiliki fasilitas hampir mirip, namun berbeda dalam ketentuan pakaian—batik—, tanpa minuman, dan menempati bangku tengah. Sedangkan kelas CANTRIK di harga Rp 35.000, hanya diperkenankan mengenakan pakaian sehari-hari tanpa fasilitas tambahan, serta menyaksikan pertunjukan sambil berdiri di belakang. Sebelum panggung dibuka, ketiga kelompok ini bahkan dipisah di ruang tunggu yang berbeda.

Ketika Boal membuka peluang bagi semua penonton untuk menjadi spect-actor, Megatruh malah menyusun kesempatan itu secara berlapis. Posisi spect-actor di sini terasa seperti kemewahan yang terbatas (limited edition). Pilihan artistik ini mendorong lahirnya kesadaran dari pengalaman fisik dan simbolik mengenai representasi ketimpangan, mengajak audiens menatap kenyataan yang sering tersembunyi di balik struktur sosial, biaya, dan peluang; tentang bagaimana mereka diposisikan dalam sistem.

Dalam karya Megatruh, Artificial Intelligence (AI) bukan sekadar fitur tambahan, melainkan basis mekanik yang mendasari seluruh persiapan. Ia menjadi mesin kreatif yang mengolah fragmen kenyataan—gambar, video, hingga lanskap suara—menjadi aset sensorik yang presisi dalam memotret kecemasan kolektif.

Di sinilah peran Joker berkembang secara fundamental. Sosoknya tak lagi terbatas pada individu di atas panggung, melainkan menjelma dalam kerja kolektif di balik layar. Mereka adalah sosok-sosok “tak terlihat”: Megatruh Banyu Mili (sutradara), Ahmad Jalidu (dramaturg), Pupuh Hadi Mulya (desainer visual), Cahya Kalatidha & Kabanyunan (penata musik), serta Agatha Irena (penata cahaya).

Sebagai “Joker Digital” yang tersembunyi , mereka mengendalikan tuas teknologi untuk mengatur ritme, memilih input AI, dan mengarahkan arus pertunjukan melalui manipulasi sensorik. Intervensi inilah yang memastikan setiap respons digital penonton diolah menjadi cermin tajam, mendorong kita tanpa sadar menatap realitas sosial yang kerap terabaikan. Kontras dengan mereka, para performer seperti Sandya Kirana Larasati (Budi), Eka Luthfi, M. Dinu Imansyah, Nadia Ulinawa, Enji Sekar, dan Byakta BaBaM menjadi wajah manusiawi yang berinteraksi langsung dengan audiens.

Dengan demikian, karya ini memperoleh dimensi baru: tradisi pertunjukan manusia tetap menjadi inti, sementara AI dan peranti digital lainnya memperluas lapisan kemungkinan di atas koreografi Joker-Performer dan respons penonton. Ia menjadi medium yang memantulkan kembali keputusan dan pilihan setiap orang tanpa menggantikan kreativitas manusia.

Di tengah kombinasi ini, manusia tetap menjadi pusat. Partisipasi penonton, dengan hak dan batas yang berbeda, menghasilkan pengalaman reflektif yang nyata. Mereka mungkin bukan aktor utama, namun posisinya menentukan arah dan makna narasi. AI dan piranti digital lainnya memperkaya ruang tersebut, tetapi makna lahir dari kesadaran atas kesenjangan dan pilihan yang dibuat di setiap lapisan: dari Black Box, grup WhatsApp, hingga ingatan yang menjejak.

Sebuah Refeksi Pendidikan Kita

Judul karya ini, Sepulang Sekolah Budi Bercerita kepada Ibu bahwa Budi Ingin Sekolah, menyimpan sebuah paradoks yang menggelitik. Ada kejanggalan yang sengaja ditanamkan: bagaimana mungkin seseorang bercerita “sepulang sekolah” padahal ia baru “ingin sekolah”? Kontradiksi ini seolah menyentil stagnansi realitas pendidikan kita; sebuah siklus di mana anak-anak memang berangkat ke sekolah, namun esensi dari institusi itu sendiri—akses, kualitas, dan masa depan—tetap menjadi angan-angan yang belum tergapai.

IMG 2382.JPG | Joker Digital dan Spect-Actors di karya Megatruh BM : Evolusi Teater Pembebasan di Era Algoritma
Sandya Kirana Larasati sebagai Budi, muncul di ending pertunjukan. Dok. Festival Minikita 2025.

Kejutan lain muncul pada perwujudan subjeknya. Di panggung, Budi tidak hadir sebagai anak laki-laki seperti yang selama ini terkonstruksi dalam benak kolektif kita melalui buku teks. Ia muncul dalam wujud perempuan. Megatruh seakan ingin menggugat konteks gender yang kaku; bahwa “Budi” bukan sekadar nama atau penentu identitas gender seseorang, melainkan simbol bagi setiap anak yang memiliki hak dan kegelisahan serupa terhadap akses pengetahuan.

BACA JUGA:  Semesta Sumilah: Teater, Arsip dan Harapan

Pilihan artistik yang menyerupai ilustrasi buku pelajaran sekolah dasar dekade 1980-1990 terasa sebagai kritik simbolik. Dengan membangkitkan estetika masa lalu di tengah penggunaan teknologi AI yang mutakhir, Megatruh menunjukkan bahwa meski zaman telah melesat, problematika dasar sistem persekolahan kita masih terjebak dalam pola usang puluhan tahun silam. Budi yang visualnya berasal dari masa lalu, namun dipaksa hidup dalam algoritma masa kini, adalah representasi dari ketidaksiapan sistem dalam menghadapi tuntutan zaman.

IMG 2384.JPG | Joker Digital dan Spect-Actors di karya Megatruh BM : Evolusi Teater Pembebasan di Era Algoritma
Sepulang Sekolah Budi Bercerita Kepada Ibu Bahwa Budi Ingin Sekolah; dok. Festival Minikita 2025

Keputusan untuk menutupi seluruh dinding ruangan dengan kain putih pun tampak menyimpan makna mendalam. Secara visual, balutan kain ini menciptakan kesan sterilitas sekaligus ruang antara—sebuah “kanvas kosong” yang siap menerima proyeksi apa pun. Permukaan putih ini melenyapkan identitas asli ruang Black Box, seolah ingin membawa penonton masuk ke dalam dunia Ibu Budi yang masih berupa kemungkinan-kemungkinan.

Ia menjadi simbol dari ketidakpastian masa depan: sebuah ruang yang luas dan bersih, namun sekaligus mencekam karena belum memiliki garis nasib yang jelas. Selain itu, ia juga berfungsi sebagai layar raksasa yang menangkap bayangan dan proyeksi AI, seakan ingin menegaskan bahwa apa yang kita saksikan hanyalah konstruksi dari data dan memori.

Menuju akhir pertunjukan, sebuah ajakan muncul. Budi mengajak beberapa penonton di Black Box untuk maju dan menggambar pemandangan di sebuah papan tulis kecil. Aksi sederhana ini membawa kita kembali ke memori kolektif masa kecil—tentang sketsa dua gunung, matahari, dan sawah yang menjadi standar “pemandangan indah” di sekolah-sekolah kita dulu.

Namun, di balik nostalgia itu, ada maksud yang lebih besar. Aktivitas menggambar bersama penonton terlihat seperti upaya untuk merebut kembali narasi. Di titik ini audiens diajak kembali ke dasar: imajinasi manusia yang jujur. Ini bisa jadi momen pemulihan, di mana penonton mencoba melukiskan harapan di atas papan tulis kecil yang semula kosong dan tak pasti.

Akhirnya, ini bukan sekadar cerita tentang Budi. Ia adalah laboratorium sosial tentang bagaimana setiap orang menempatkan diri dalam struktur, siapa yang memiliki akses, dan bagaimana teknologi memperkuat dinamika tersebut. Di titik ini, pertunjukan Megatruh berhenti menjadi representasi semata, dan mulai menjadi pengalaman yang disentuh, dihayati, serta dipikirkan—sebuah eksperimen yang menyatukan seni, teknologi, dan kesadaran sosial.

IMG 2381.JPG | Joker Digital dan Spect-Actors di karya Megatruh BM : Evolusi Teater Pembebasan di Era Algoritma
Budi Mengajak penonton bersama-sama “menyempurnakan” lukisan alam di papan tulis. Dok. Festival Minikita 2025
IMG 2380.JPG | Joker Digital dan Spect-Actors di karya Megatruh BM : Evolusi Teater Pembebasan di Era Algoritma
Budi (tengah) di sampaing Megatruh (berseragam guru) bersama para spect-actor. Fok. Festival Minikita 2025

Donasi untuk gelaran.id dan program Adisukma Inisiatif lainnya
Donasi untuk gelaran.id dan program Adisukma Inisiatif lainnya
Angelique Maria Cuaca

Angelique Maria Cuaca

Angelique Maria Cuaca, a.k.a Tjoa Sian Hui. Lahir di Padang-Sumatera Barat. Penulis, peneliti, penggiat seni budaya dan Hak Asasi Manusia