Bagaimana Jika Samsa Menonton Pada Sebuah Pekarangan #2: Gegabah?
Sabtu, 10 Januari 2026, pukul 19.35 WIB di sebuah kafe bernama Tjap Sahabat yang berlokasi di tengah kota Bandung, menjadi kali ketiga saya menyaksikan pertunjukan Teater Samana sejak menetap di Bandung. Pertunjukan ini terasa semakin personal, bukan hanya karena para aktornya adalah teman-teman yang saya kenal, tetapi juga karena posisi saya sebagai penonton yang datang tanpa latar belakang teater. Saya tidak dibekali pengalaman akting, tidak pula pandai menulis puisi sebagaimana beberapa anggota kelompok ini. Namun justru dari posisi awam itulah saya merasa bebas membaca pertunjukan sebagai rangkaian tanda, isyarat, dan pengalaman emosional.
Setiap pertunjukan Teater Samana selalu menghadirkan pengalaman yang melampaui tontonan. Ia bekerja sebagai peristiwa: gabungan antara gerak tubuh, bunyi, tata suara, cahaya, artefak domestik, serta ruang yang tidak sepenuhnya memisahkan aktor dan penonton. Dalam banyak momen, penonton seolah diseret masuk ke dalam situasi yang dipentaskanโbukan sebagai pengamat pasif, melainkan sebagai saksi dari sesuatu yang akrab dan juga yang tidak nyaman.
Bagi saya pribadi, menonton teater sering kali menjadi pemicu imajinasi terhadap adegan-adegan dalam buku fiksi yang saya baca sejak Sekolah Dasar. Saat ini, Metamorfosis karya Franz Kafka menjadi bacaan yang tengah saya dalami, dimana Gregor Samsa yang menjadi aktor utamanya merupakan metafor dari pengalaman hidup Kafka dan kematiannya yang sunyi. Novel tersebut terasa relevan bukan hanya karena temanya tentang perubahan tubuh dan keterasingan, tetapi juga karena cara Kafka menempatkan keluarga sebagai ruang utama konflik. Catatan kaki dalam edisi yang saya baca membantu saya memahami konteks relasi Gregor Samsa dengan orang tuanya, adiknya, serta sistem ekonomi yang menjerat hidupnya. Tanpa saya sadari, kisah Samsa menjadi lensa pembacaan ketika saya menonton pertunjukan Teater Samana.
Pada tanggal 10 Januari 2026, Teater Samana menghadirkan lanjutan pertunjukan berjudul โPada Sebuah Pekarangan #2: Gegabahโ. Pertunjukan ini merupakan sekuel dari โPada Sebuah Pekarangan #1: Dia Yang Tenggelamโ yang dipentaskan pada September 2023. Judulnya sendiri mengisyaratkan kesinambungan narasi: sebuah upaya kembali ke ruang yang samaโpekarangan, rumah, keluargaโuntuk mengulik luka yang belum sembuh. Jika pada pertunjukan pertama terdapat sosok yang โtenggelamโ, maka pertunjukan kedua ini menghadirkan kata โgegabahโ sebagai kunci pembacaan.
Melalui laku gerak dan tata artistik, saya membaca Pada Sebuah Pekarangan sebagai kisah polemik keluarga. Hal ini sudah terasa sejak pertunjukan tahun 2023, ketika dua sosok yang menyerupai bapak dan ibu saling bertatapan dalam ketegangan yang tertahan. Adegan mereka mengangkat dan menarik sebuah meja hingga berayun menjadi metafora yang kuat tentang rumah tangga sebagai ruang tarik-menarik kuasa. Meja, sebagai simbol domestik, berubah menjadi medan konflik. Perselisihan orang tuaโentah soal ekonomi, perbedaan pendapat, cicilan, atau hal- hal sepeleโmenjadi fondasi kekacauan yang diwariskan.


(Sumber: Arsip Teater Samana, 2023)
Setelah 853 hari, Teater Samana seolah kembali ke โrumahโ yang sama. Pertanyaan pun muncul dalam benak saya: apakah sosok yang tenggelam sebelumnya kini muncul dengan keberanian yang gegabah? Ataukah pertunjukan ini justru menegaskan bahwa kekacauan keluarga tidak pernah benar-benar selesai, hanya berganti bentuk?
Dalam Metamorfosis, Gregor Samsa mengalami perubahan drastis: tubuhnya menjelma serangga raksasa, selera makannya berubah, ingatannya kacau, dan suaranya terdengar asing. Kehadirannya menjadi sumber rasa malu dan aib. Manajer kantornya melarikan diri, sementara keluarganya sendiri merasa terancam. Orang tua Samsa, yang bangkrut secara ekonomi, justru menggantungkan harapan hidup keluarga pada Samsa. Ketika Samsa berubah, ia tidak hanya kehilangan tubuh manusianya, tetapi juga posisinya sebagai anak yang โbergunaโ.
Saya datang terlambat ke pertunjukan Pada Sebuah Pekarangan #2. Lampu utama telah dipadamkan, menyisakan cahaya terbatas yang menyoroti lima aktor. Tiga aktor mengenakan pakaian hitam minimalโcelana pendek dan tanktopโsementara dua lainnya tampil rapi dengan kebaya dan kemeja berkerah. Secara visual, pembagian ini langsung membentuk hierarki peran: anak dan orang tua. Tubuh menjadi penanda status dalam keluarga.
Adegan awal memperlihatkan kedua โorang tuaโ berjalan beriringan melewati bingkai kayu merah yang menyerupai pintu besar. Sementara itu, tiga โanakโ sibuk dengan aktivitas masing-masing: menggambar, bermain, dan mengolah artefak domestik. Ketika orang tua melewati pintu, salah satu anak tiba-tiba lari ke ruang gelap. Adegan ini mengingatkan saya pada ketakutan Gregor Samsa adik Samsa masuk ke kamar untuk memberikan makanan sisa untuk Samsa โketika adiknya masih berbaik hati. Perbedaan Samsa dan pemeran anak memiliki sedikit perbedaan secara psikologis. Samsa kabur dari dekat pintu ke balik sofa dikarenakan ia khawatir adiknya akan histeris melihat sosoknya yang menjijikkan, sedangkan pemeran anak dalam panggung Samana kabur karena khawatir akan omelan dari orang tua mereka atas kesalahan kecil yang selalu berhasil mereka temui.

(Sumber: Arsip Aprilia Wibowo, 2026)
Selanjutnya, kedua orang tua duduk berdampingan di kursi plastik. Ibu mengunyah permen karet dan memainkan gelembung dengan santai, sementara ayah meniup balon merah dengan napas terengah. Balon itu mengembang, dikempeskan, ditiup kembali hingga meletus, lalu diganti. Repetisi ini terasa melelahkan dan absurd, seperti siklus masalah rumah tangga yang terus berulang tanpa penyelesaian. Pergantian kostum menjadi daster dan sarung menandai masuknya rutinitas domestik yang tampak banal namun penuh tekanan.

(Sumber: Arsip Aprilia Wibowo, 2026)
Ruang pertunjukan tidak memiliki sekat tegas. Dapur, ruang anak, dan ruang keluarga saling bertumpang tindih, hanya dibedakan oleh pintu plastik berwarna. Ayah menyalakan motor di dalam ruangan, menghadirkan bau knalpot dan cahaya kuning yang menyilaukan. Ibu sibuk memasak. Kekacauan meningkat ketika ayah mencari sesuatu hingga barang-barang berserakan, sementara ibu mencoba membereskan tanpa mematikan kompor.

(Sumber: Arsip Aprilia Wibowo, 2026)
Tiga anak kemudian menceburkan diri ke dalam bak mandi bayi dan kontainer air. Air tumpah, lantai basah, bau sabun menyebar. Anak-anak membasuh tubuh mereka dengan cara yang berbeda- beda: tergesa, hati-hati, atau kosong. Bagi saya, adegan ini merepresentasikan kondisi mental anak-anak dalam keluarga yang kacauโmasing-masing mencoba membersihkan diri dari kekacauan yang bukan mereka ciptakan.

(Sumber: Arsip Aprilia Wibowo, 2026)
Klimaks pertunjukan terjadi ketika kedua orang tua berteriak dan melempar barang-barang, termasuk makanan yang sedang dimasak. Tidak ada dialog yang menenangkan, hanya luapan emosi dan kebingungan. Adegan ini berhenti mendadak ketika anak-anak melempar handuk ke arah orang tua. Lemparan itu membuat kedua orang tua membeku, seolah waktu berhenti.
Setelah itu, anak-anak mengambil alih ruang orang tua. Mereka mengatur posisi tubuh orang tua, membereskan kekacauan, dan mengenakan pakaian dari tumpukan secara sembarangan. Sepanjang adegan ini, mereka melontarkan kalimat yang diawali dengan โSeharusnya ada yangโฆโ. Kalimat-kalimat tersebut terdengar seperti keluhan, tuntutan, sekaligus doa yang tak pernah dijawab. Saya teringat kembali pada Samsa di hari-hari terakhir hidupnya, ketika ia menggerutu dalam kesendirian, mengingat kasih sayang, dan berharap diterima kembali.

(Sumber: Arsip Aprilia Wibowo, 2026)
Akhir pertunjukan menampilkan anak-anak yang berdiri di antara orang tua yang membisu. Seorang laki-laki berpakaian hitam masuk, memotret artefak, keluarga, dan penonton. Kamera analog itu seolah berfungsi sebagai arsip penderitaan domestikโmengabadikan sesuatu yang sebenarnya ingin dilupakan

(Sumber: Arsip Aprilia Wibowo, 2026)
Judul Gegabah terasa menemukan maknanya. Dalam KBBI, gegabah berarti bertindak terburu- buru tanpa pertimbangan matang. Sikap ini tercermin jelas pada perilaku orang tua: keputusan sepihak, emosi yang tak terkelola, dan kekacauan yang diwariskan kepada anak. Saya menonton sambil membayangkan diri sebagai Samsa atau Kafka, menyaksikan kegusaran orang-orang yang gagal mengelola tanggung jawabnya sendiri.
Nasib Samsa dan ketiga anak dalam pertunjukan ini memang berbeda. Anak-anak masih hidup dan berusaha merapikan kekacauan, sementara Samsa mati kelaparan sendirian di kamar gelap. Namun, keduanya sama-sama menjadi korban dari sikap gegabah orang tua. Dan mungkin, di situlah kesedihan terbesar dari pertunjukan ini: bahwa rumah, yang seharusnya menjadi ruang aman, justru menjadi tempat lahirnya luka yang paling sunyi dan paling sulit disembuhkan.

Sudah baca yang ini?:
Distorsi, Realisme dan Surealisme dalam Monolog "Prita Istri Kita" oleh Teater Nasional Medan
Catatan Pasca Pertunjukan "Sarah Wulan" Teater Air SMA N 3 Tuban.
Jazz dan Teater Itu
In Memoriam Masa Remaja: Ziarah Kenangan Andy SW
Untuk Aku, Pertunjukan bukan sekedar "curhat"
Membaca "Tubuh Malang-an dan Tubuh Jawa Timur-an" Dalam Sajian Koreografi Kontemporer.
- Bagaimana Jika Samsa Menonton Pada Sebuah Pekarangan #2: Gegabah? - 31 Januari 2026

