Kamis, April 23, 2026
TeaterARTIKEL & ESAI

Amanat Hari Teater Dunia 2026

International Theatre Insitute (ITI)

Amanat Hari Teater Dunia, 2026 | 27 Maret 2026

oleh Willem Dafoe, Amerika Serikat | Aktor dan Pembuat Teater.

Wilem Dafoe | Amanat Hari Teater Dunia 2026

Tulisan ini diterjemahkan dari teks berbahasa Inggris yang dimuat di laman: https://www.world-theatre-day.org/pdfs/2026/WTD%202026_Message%20by%20Willem%20Dafoe_English.pdf

Saya secara umum dikenal sebagai aktor film. Tetapi akar saya sangatlah dalam di teater. Saya adalah anggota Wooster Group pada 1977-2003 ketika mencipta dan mementaskan karya-karya original di The Performing Garage di New York dan melakukan tur keliling dunia. Saya juga pernah bekerja bersama Richard Foreman, Robert Wilson dan Romeo Castelluci. Kini, saya adalah Direktur Artistik The Venice Theatre Biennale. Di titik ini, peristiwa-peristiwa di dunia, dan hasrat saya untuk kembali pada kerja-kerja teater telah sangat membentuk keyakinan saya akan kekuatan positif yang unik dan pentingnya teater.

Di masa awal saya yang sederhana di The Wooster Group, satu kelompok teater berbasis di New York, kami seringnya mendapat penonton yang sedikit di karya-karya kami. Biasanya ada aturan umum bahwa jika jumlah performer lebih banyak daripada penonton, kami bisa membatalkan pertunjukan. Tetapi kami tidak pernah melakukannya. Kebanyakan anggota kami tidak benar-benar terlatih di teater, tetapi orang-orang dari berbagai disiplin yang berkumpul bersama untuk membuat teaterโ€”sehingga โ€œthe show must go onโ€ bukanlah moto kami, namun demikian kami merasa wajib untuk mempertahankan pertemuan kami dengan publik (penonton).

Kami sering melakukan latihan di siang hari lalu mementaskan pada malam harinya sebagai karya โ€œwork in progressโ€. Kadang kami juga menghabiskan beberapa tahun untuk satu karya pertunjukan sembari bertahan dengan tur karya lama. Bekerja beberapa tahun demi satu karya seringkali terasa membosankan dan latihan terasa melelahkan, tetapi pentas karya work in progress selalu terasa menggairahkan meski jumlah penonton yang sedikit juga menjadi tamparan keras pada apa yang lakukan itu. Ini membuat saya menyadari bahwa tak peduli sesedikit apapun, penonton sebagai saksi telah memberi makna dan denyut hidup bagi teater.

BACA JUGA:  Melawat Kisah Sendu Melalui "Mesin" Waktu; Ulasan Pertunjukan "While You're Away"

Seperti plang tulisan di ruang judi yang berbunyi โ€œYOU MUST BE PRESENT TO WINโ€ (Anda harus datang untuk menang-red). Pengalaman bersama secara real time dari sebuah adegan hasil penciptaan, yang mungkin sudah ditulis dan dirancang tetapi selalu berbeda (setiap pementasan), adalah benar-benar kekuatan nyata dari teater. Secara sosial dan politis, teater tidak pernah menjadi penting dan vital bagi pemahaman diri kita dan dunia.

The Elephant in the room (Gajah di ruangan –masalah besar yang diabaikan) adalah teknologi baru dan jejaring sosial, yang menjanjikan koneksi namun tampaknya telah memecah belah dan mengisolasi orang satu sama lain. Saya menggunakan komputer setiap hari meskipun saya tidak memiliki media sosial, saya bahkan pernah mencari nama saya sendiri di Google, dan juga bertanya pada AI untuk mendapatkan informasi. Tetapi Anda telah dibutakan untuk tidak menyadari bahwa kontak antarmanusia berisiko digantikan oleh hubungan antar perangkat. Sementara beberapa teknologi dapat melayani kita dengan baik, persoalan tidak mengetahui siapa yang ada di ujung lain jalur komunikasi ini berakar sangat dalam dan berkontribusi pada krisis kebenaran dan realitas. Sementara internet dapat menghasilkan banyak pertanyaan, ia sangat jarang menangkap rasa takjub yang diciptakan teater. Rasa takjub yang didasarkan pada perhatian, keterlibatan, dan komunitas spontan dari mereka yang hadir dalam lingkaran aksi dan respons.

Sebagai seorang aktor dan pembuat teater saya masih yakin pada kekuatan teater. Di dunia yang terlihat semakin terpecah-pecah, terkontrol dan penuh kekerasan, tantangan kita sebagai pembuat teater adalah mencegah tergerusnya teater semata-mata sebagai usaha komersil yang dipersembahkan sebagai hiburan dengan cara mendistraksi atau sebagai lembaga pelestari tradisi yang dangkal, namun harus mendorong kekuatan untuk menghubungkan orang-orang, komunitas, budaya dan lebih dari itu untuk mempertanyakan kemana arah perjalanan kita…

BACA JUGA:  Estetika Mata Belekan : Pantomim, Perlombaan, Seni dan Metode

Teater yang hebat adalah tentang menantang bagaimana pemikiran kita dan memberdayakan kita untuk membayangkan apa yang menjadi aspirasi kita. Kita adalah makhluk sosial dan dirancang secara biologis untuk bertaut dengan dunia. Setiap organ inderawi adalah pintu keterhubugan dan melalui pertemuan ini kita mencapai definisi yang lebih baik tentang siapa diri kita. Melalui storytelling, estetika, bahasa, gerak, skenografiโ€”teater sebagai seni yang lengkap dapat membuat kita menyadari apa yang pernah, apa yang sedang dan apa yang akan terjadi di dunia.


Willem Dafoe, Direktur Artistik Departemen Teater La Biennale di Venezia, adalah angota pendiri The Wooster Group. Bermarkas di The Performing Garage, New York (1977-2004) mereka membangun pendekatan yang khas pada teater avant-garde. Ia kemudian berkolaborasi dengan Bob Wilson, Marina Abramovic, Richard Foreman dan Romeo Castelluci. Pada awal 1980an, ia juga memulai bekerja di film dan sejak itu pula mendapat pengakuan internasional untuk keluwesannya baik pada jenis film indie maupun mainstream. Ia telah menerima empat nominasi Academy Award  dan memenangkan penghargaan Copa Volpi sebagai Aktor Terbaik di the Venice Film Festival 2018. Komitmennya di teater terus berlanjut untuk menajamkan visi artistik dan praktik pertunjukannya.


Donasi untuk gelaran.id dan program Adisukma Inisiatif lainnya
Donasi untuk gelaran.id dan program Adisukma Inisiatif lainnya
BACA JUGA:  KAMAFEST 2019: Upaya Penebalan di Titik Berangkat