fbpx

Menghapus Garis Antara “Yang Realis” dan “Yang Mistis” | Catatan Atas Pertunjukan “Kapai-Kapai” Teater Kami Bercerita

[Lugas Ikhtiar Briliandi]. Ketika tirai panggung dibuka, saya akhirnya bisa menyaksikan aktor mulai muncul. Ada tokoh Emak di sana. Pelan-pelan, cahaya jatuh ke beberapa titik dan cerita mulai dibawakan. Ya, ini kali pertama saya duduk di bangku penonton untuk menyaksikan pentas tahunan kelompok teater yang membuat saya bertemu kelahiran kedua. Kali terakhir saya berada di atas panggung adalah ketika kami, Teater Kami Bercerita, mementaskan lakon Sidang Susila pada 2019. Tiga tahun adalah waktu yang cukup, setidaknya bagi saya, untuk bernostalgia.

image001 | Menghapus Garis Antara “Yang Realis” dan “Yang Mistis” | Catatan Atas Pertunjukan “Kapai-Kapai” Teater Kami Bercerita

Teater Kami Bercerita adalah kelompok teater dari program studi Bahasa dan Sastra Indonesia UGM yang hanya pentas setahun sekali. Ritus ini biasanya ditunaikan dalam rangka malam puncak dari acara tahunan Bulan Bahasa. Dari tahun ke tahun, keanggotaannya selalu berubah dan menyesuaikan angkatan. Biasanya, dalam sekali pentas ada empat angkatan yang turut berpartisipasi aktif dalam proses. Meskipun, kadang kala banyak juga Abang-abangan dan Mbak-mbak kami yang turut andil peran dalam setiap proses.

1 Desember 2022, Teater Kami Bercerita kembali pentas dengan format awal. Format awal ini adalah kata lain dari melibatkan aktor yang banyak (sekitar 20 aktor, setelah sebelumnya hanya 5 aktor pada pentas Mega-Mega di 2021) dan juga bisa ditonton secara masal dan komersil. Kali ini, naskah yang dibawakan sutradara Zania Mashuro adalah Kapai-Kapai karya Arifin C Noer.

Naskah Kapai-Kapai ini menceritakan tentang tokoh utama bernama Abu, seorang buruh yang bekerja pada juragan Tionghoa dan memiliki seorang istri yang hendak melahirkan. Titik permasalahan utama ada pada cermin ajaib. Cermin ini konon memiliki kekuatan luar biasa. Melalui cermin ini pula, kemudian batas antara “yang realis” dan “yang mistis” menjadi kabur.

BACA JUGA:  Tumpang Tindih: Tewur

Di atas panggung, garis batas antara “yang realis” dan “yang mistis” sebenarnya sudah digambarkan secara eksplisit. Kita bisa menyaksikan setting yang sederhana tapi penuh dengan simbol. Ada dua bingkai di sisi kanan dan kiri panggung bagian depan yang merepresentasikan surga dan neraka. Di bagian tengah-belakang, ada level yang di-setting sebagai representasi realitas. Keduanya memiliki peran dan signifikansinya masing-masing dan berhasil menyampaikan gagasan sekaligus konsep yang diusung tim pementasan. Meskipun, dalam beberapa detail adegan, ada penempatan adegan yang “melanggar batas” konsep tersebut dan saya anggap sebagai bentuk inkonsistensi. Pada konsep realis, ada beberapa isu menarik yang patut untuk dibicarakan ulang setelah dipentaskan. Ketertarikan saya pada bagian ini menitikberatkan pada persoalan buruh upah murah yang dilakoni oleh Abu. Permasalahan antar-kelas dan antar-etnis menjadi arus utama lakon ini. Secara karakter, sang Majikan di atas panggung amat mirip dengan juragan kos pada film Kung Fu Hustle. Ini membuatnya begitu kontras dengan sosok Abu yang pribumi inkompeten. Abu jelas-jelas mewakili kelas masyarakat yang masih terkungkung dalam logika mistik atau masih mempercayai adanya takhayul. Dari kepercayaan ini lah, kemudian timbul cerita-cerita lain pada bagian “yang mistis”.

image003 | Menghapus Garis Antara “Yang Realis” dan “Yang Mistis” | Catatan Atas Pertunjukan “Kapai-Kapai” Teater Kami Bercerita

Bagian “yang mistis” ini muncul disebabkan oleh satu perkara: manusia yang masih percaya adanya takhayul. Secara konsep, cerita dalam cerita ini tidak memiliki titik tegang dengan cerita utama tentang Abu dan beban pekerjaannya dan beban keluarganya. Cerita dalam cerita, yang kemudian disebut sebagai “yang mistis”, muncul karena dituturkan oleh tokoh Emak melalui kisahnya tentang cermin tipu daya. Adegan-adegan seperti cerita tentang Bulan dan Yang Kelam, perkelahian antara Pangeran dan Raja Jin, serta Kakek dan para pasukannya adalah cerita-cerita yang memiliki fungsi ideologis sebagai penyampai pesan dan fungsi praktis sebagai pengurai ketegangan konflik antara Abu dan Majikan.

BACA JUGA:  Maling (Thieves) Online Story: Sebuah alternatif yang ok

Ada beberapa isu yang menarik pada bagian “yang mistis”. Bagian yang paling menjadi sorotan saya ada pada inner child Abu. Sebagai seorang anak laki-laki dewasa, banyak hasrat dan ekspektasi yang tidak terpenuhi. Kemudian, Emak–kita lazim mengenalnya sebagai Ibu–menjadi tempat berpulang dan merumahkan diri. Dengan cerita, Abu “disentuh” masa kanak-kanaknya yang tanpa beban dan serba menyenangkan. Selain itu, persoalan lain yang tidak kalah pentingnya ada pada segregasi yang jelas antara surga dan neraka. Dualisme ini digambarkan sebagai sesuatu yang putih-hitam dan meniadakan ruang antara. Tidak dijelaskan lebih jauh, terutama melalui tokoh Kakek, bahwa manusia adalah makhluk yang multidimensional.

Selain perkara dua hal di atas, bagian “yang mistis” juga menyisihkan persoalan utopia. Abu, yang di dalam realitas menghadapi hidup yang sengsara, menemukan pencerahan melalui mitos cermin ajaib. Dari sini, banyak sekali delusi yang tercipta setelahnya seperti angan-angan hidup serba kecukupan, rupa yang tampan, serta sejahtera selamanya di surga.

Persoalan-persoalan “yang mistis”, terutama tiga masalah yang disebutkan di atas, tidak muncul secara linier. Ada bridging dalam dunia realitas yang mengantarkannya. Belum terlepas sepenuhnya dari persoalan batas-batas “yang realis” dan “yang mistis” secara artistik, pementasan ini juga bisa dibaca sebagai upaya menghapus garis batas antara “yang realis” dan “yang mistis” secara cerita. Ada resolusi lain yang ingin disampaikan yang kira-kira dan setidaknya bagi saya adalah hidup tidak sepenuhnya logis juga tak kurang-kurang mistis.

image006 | Menghapus Garis Antara “Yang Realis” dan “Yang Mistis” | Catatan Atas Pertunjukan “Kapai-Kapai” Teater Kami Bercerita

Lugas Ikhtiar Briliandi

Lugas Ikhtiar Briliandi lumayan sering melakoni pementasan semasa kuliahnya baik sebagai aktor, tim rewang produksi, maupun sutradara. Bersama Teater Kami Bercerita ia pernah mementaskan Dalam Bayangan Tuhan (2018), Sidang Susila (2019), dan Mega-Mega (2021). Bersama Etnika Fest, ia menyutradarai Dhemit (2022). Dapat ditemukan di instagram sebagai @lugasikh