fbpx
Senin, Maret 4, 2024
BERITA

Riwayat Aksara dan Langkah-Langkah Ibnu Sukodok

[Andy Sri Wahyudi]. Jangan menyia-nyiakan masa mudamu! Begitulah pesan para orang tua agar kita benar-benar memanfaatkan dan mengisi masa muda dengan bercita-cita. Berkegiatan apa saja agar hidup lebih bernilai dan berguna bagi kehidupan di dunia fana ini. Masa muda akan menjadi kenangan yang membanggakan di masa tua nanti.

Semua manusia menempuh jalur hidup yang sama, berbondong-bondong menjadi tua, rambut memutih dan kulit mengeriput dimakan waktu. Tak ada seorang pun yang sanggup melawan waktu. Manusia benar-benar menyadari bahwa waktu menjadi penentu hidup, maka harus mempunyai tujuan dan capaian-capaian dalam hidup.

Pada sebuah titik, manusia mesti meraih kesuksesan untuk penanda atau tonggak keberhasilan hidupnya. Orang-orang akan bekerja, mencari uang dan mengumpulkan harta di masa muda guna menyusun alur cerita menuju hari tua yang bahagia, dan meninggalkan kenangan yang bagus setelah meninggal dunia.

Selain uang dan harta benda, orang-orang menandai kesuksesannya dengan pangkat, jabatan, dan kekuasaan. Kemudian menciptakan kelas-kelas dalam tatanan sosial masyarakat. Maka berbahagialah mereka yang berkelas tinggi dan dihormati.

Lantas bagaimana dengan orang-orang tanpa pangkat, kekuasaan dan kekayaan? Orang yang hidupnya menggelandang tak jelas arah tujuannya, yang kemudian dicap sebagai orang gagal dan telantar, yang jika meninggal pun akan dikubur begitu saja tanpa ada suara tangis dan doa untuk mengiringinya?

Saya rasa tidak semua orang dapat diletakkan dalam ruang hitam dan putih: sukses atau gagal. Ada sebagian kecil orang yang berada di luar sistem atau arus besar yang mengatur hajat hidup orang banyak. Akan tetapi, mereka juga mempunyai penanda dan artefak untuk dikenang, bahkan dibicarakan oleh generasi setelahnya. Mereka mempunyai riwayat yang tercatat dalam sejarah, bahkan menjadi acuan orang-orang di seputarnya. Lewat karya-karyanya, mereka membuat penanda hidup. Karya-karyanya akan dirayakan dari zaman ke zaman dengan terus dibicarakan, didiskusikan dan diperistiwakan hingga namanya abadi.

Seperti saat ini, sedang terjadi sebuah perayaan karya-karya yang diselenggarakan anak-anak muda Surakarta. Anak-anak muda itu tengah merayakan riwayat hidup menjadi peristiwa kesenian. Merayakan perjalanan biografi seorang tokoh yang telah menempuh perjalanan berkesenian lewat teater, musik, puisi maupun lukisan.

Ialah Kodok Ibnu Sukodok, seorang seniman yang tinggal di kota Surakarta. Lelaki dengan nama asli Prawoto Mangun Baskoro itu kini telah berusia kepala tujuh, ia masih suka berjalan sendirian ke mana saja sesukanya. Rambut gondrongnya yang perak, celana panjang jeans belel, kemeja lengan panjang, dan topi yang berganti-ganti menjadi ciri khasnya. Anak-anak muda memanggilnya: Mbah Kodok.

BACA JUGA:  Tubuh Pala dan Luka yang Mirah Punya : Ulasan “Karma Puan Karna Pala” – Secret Invitation Movement di Linimasa #5
Gerak Bersama yang Menyegarkan

“Banyak penonton secara natural menghadiri acara tersebut tanpa ada embel-embel pakewuh, takut dirasani jika tidak datang dan alasan lainnya. Para penonton yang justru dari kalangan muda seakan benar-benar berpesta. Bahkan penonton dari beberapa daerah hadir dengan membawa makanan secara sukarela untuk disantap bersama. Acara pun berjalan guyup dengan semangat khas anak muda yang ingin mengapresiasi karya dan keberadaan mbah Kodok sebagai seorang seniman”.

Begitulah pandangan dari Dody Eskha sebagai penonton yang mengapresiasi peristiwa seni tersebut. Dody merasakan suatu energi anak-anak muda yang terekspresikan dalam peristiwa seni bertajuk Langkahku Aksaraku sebagai wujud penghormatan atas proses kreatif seniman senior.

Anak-anak muda berdatangan dari luar kota untuk merayakan hidup sekaligus proses kreativitas. Tak ada paksaan, mereka beramai-ramai turut serta merayakan peristiwa seni tersebut.

Gustram sebagai ketua panitia acara mengatakan bahwa acara ini sudah lama dipersiapkan, tetapi terhambat lantaran pandemi. Maka di awal tahun ini kami bersepakat untuk segera mewujudkannya. Mumpung mbah Kodok juga masih sehat dan bisa turut serta merayakan bersama anak-anak muda.

Harapan-harapan itu selalu hidup dan menjadi kegelisahan bersama, bagaimana merancang proses kerja mewujudkannya.

Semula hanyalah obrolan ringan yang tak disangka akan menjadi sebuah kerja bersama. Memang tak mudah mengkoordinasi mewujudkan peristiwa seni, sebab tak sekadar membuat acara keramaian saja, tetapi bagaimana membuat konsep acara yang memuat nilai yang berharga dalam kehidupan.

Mbah Kodok memang sosok eksentrik yang telah lama melakoni proses kreatifnya sebagai seorang seniman. Hidup apa saja yang telah dijalaninya, karya-karya seni apa saja yang telah lahir dari dalam dirinya, dari renungan-renungannya, dari benturan-benturan hidupnya, itulah aksara yang terus dibunyikan dan dikumandangkan lewat syair-syair lagu, puisi, irama musik, gambar, teater, dan dialog-dialog panjang saat pertemuan.

Bunyi aksara tersebut yang kemudian menjadi titik keberangkatan acara kesenian dan menjadi peristiwa bersama. Peristiwa yang sederhana namun mengesankan, sarat akan nilai hidup dan gereget jiwa muda.

Konsep visual acara diwujudkan secara akrab dan hangat, menggambarkan bahwa acara Langkahku Aksaraku sejatinya adalah peristiwa keseharian, pergaulan yang tiap hari dijalani. Mula-mula seorang budayawan, Halim HD, membuka acara, memberikan sambutan dengan pandangan-pandangan beliau tentang mbah Kodok. Seorang tokoh yang dulu dikenalnya saat mbah Kodok bergiat di Bengkel Teater Rendra bersama Lawu Warta yang sama-sama dari Surakarta.

BACA JUGA:  Menakar Ludus dalam “Adang : Ludens Body” — Komunitas Kembali

Kesenian telah membentuknya dan menemani hidupnya hingga saat ini, terus menggulirkan karya-karya. Kemudian disusul sebuah acara yang cukup mengharukan yaitu acara potong tumpeng. Memang tak banyak kata-kata, tetapi sejatinya banyak cerita.

Adegan potong tumpeng bukan sekadar memotong tumpeng yang diikuti gemuruh tepuk tangan. Ketika mbah No, tetua seni yang dihormati, memotong tumpeng kemudian diberikan kepada mbah Kodok, ada sebuah kesan percakapan tak terucap antara kedua tokoh tersebut. Nasi tumpeng itu adalah sekumpulan kisah-kisah, pengalaman, kebijaksanaan yang musti dibagi untuk diolah kembali. Setelah menerima tumpeng, mbah Kodok kemudian mencari sosok anak muda yang dipilihnya untuk menerima estafet tumpeng tersebut.

Para penonton berseru-seru menyebut sebuah nama untuk tampil menerima tumpeng. Gustram naik ke atas panggung dengan senyum khasnya, menerima potongan tumpeng dari mbah Kodok. Gemuruh tepuk tangan dan celetukan dari penonton mengiringi upacara pembuka yang gayeng tersebut. Jelas sudah bahwa kisah perjalanan dan karya itu tak akan pernah berhenti lantaran usia. Selalu ada yang menemukan dan membaca kisah dan karya untuk diolah kembali menjadi pengetahuan dan kreativitas baru.

Rupa-rupa Perayaan

Tanggal 13 Januari 2023 di Area Pendapa Wisma Seni, Taman Budaya Jawa Tengah, Langkahku Aksaraku resmi diselenggarakan. Sebuah peristiwa seni yang digerakkan dengan semangat berkarya bersama. Mbah Kodok menjadi pusat inspirasi yang kemudian menurunkan respon-respon karya dari berbagai bidang seni. Mc Muncang perupa muda dari Surakarta, membuat pameran karya lukisnya di seputaran pendapa wisma seni. Pameran juga digelar oleh Agus dengan karya fotografinya yang memunculkan karakter mbah Kodok dari sudut pandang berbeda-beda.

Pameran tersebut juga menampilkan karya gambar dan puisi mbah Kodok. Pameran sebagai pararel event tapi melebur dalam satu acara agar menjadi wacana atau pengetahuan yang dapat diapresiasi. Sementara itu, acara seni pertunjukan diawali oleh mbah Kodok sendiri, perform di sebuah taman kecil belakang pendapa. Di bawah temaram lampu beliau memainkan musik harmonika disertai lantunan syair-syairnya.

Permainan musiknya menumbuhkan kesan hadirnya narasi masa lalu yang panjang dan berliku. Ruang yang begitu romantik itu terkadang “rusak” dengan jeritan panjang bunyi harmonika, juga syair-syair yang terucap seperti racauan-racauan dari dalam jiwanya.

BACA JUGA:  Amanat Hari Teater Sedunia 2022

Usai penampilan mbah Kodok, para musisi muda yang tergabung dalam beberapa grup band segera menyusul. Grup musik yang tampil adalah Cantigi, Manakala, dan Losteposanos. Di pendapa itu terjadi sebuah konser kecil dengan warna-warna musik yang beragam. Mereka membawakan lagu-lagu ciptaan sendiri yang cukup menarik penonton untuk mengapresiasinya. Para musisi muda itu bukan sekadar bermain musik namun menghidupkan suasana menjadi perayaan karya yang menyegarkan.

Di sela-sela konser kecil itu para musisi sedikit bercerita tentang perjumpaan dan pandangan atas mbah Kodok. Sosok yang bohemian tapi cukup menginspirasi generasi muda dalam berproses kesenian. Tak heran jika karya mbah Kodok menjadi objek penelitian skripsi para mahasiswa ISI Surakarta.

Pada akhirnya acara perayaan karya itu tak pernah selesai meskipun Master of Ceremony, Mr Cipto, sudah menutupnya. Anak-anak muda yang semula menjadi penonton, beberapa merangsek ke panggung. Mereka memainkan kembali alat-alat musik lalu bernyanyi bersama, tak ketinggalan mbah Kodok turut serta.

Syair-syair bercampur celotehan mengalir begitu saja. Malam itu adalah malam panjang yang membawa penuh kebahagiaan dan mengabarkan harapan-harapan baru bagi anak-anak muda.

Malam perayaan belum selesai. Dan tak kan pernah selesai, akan terus menggaung dan tersimpan dalam ingatan. Terus bergulir menginspirasi dari generasi ke generasi.

Sukses itu bukan seberapa banyak uang dan kekayaanmu. Sukses itu ketika dunia mengenangmu sepanjang masa. (Bob Marley)

Andy SW

Andy SW

aktor mime, penulis dan sutradara teater, penyair tinggal di Yogyakarta. Andy SW dikenal atas karya-karya teater mime bersama kelompok Bengkel Mime Yogyakarta.