fbpx

Membaca The Bagang, Membaca Orkestra Keseharian Misbah

[Aristofani Fahmi]. Keseharian Misbah dalam konteks aktivitas dan aktivisme seni selalu terkait dengan bunyi: musik dan ekstra musik. Sejak kuliah di jurusan Etnomusikologi ISI Surakarta tahun 2000 Ia mendalami instrumen Shakuhachi dari Jepang, Suling Bambu, dan Puik-Puik dari Makassar. Sebagai musisi, aktif terlibat di berbagai panggung bersama komposer ternama seperti Rahayu Supanggah, I Wayan Sadra, Gondrong Gunarto, dan lainnya. Juga sempat nyantri beberapa bulan di Bengkel Teater Rendra yang kemudian hari disadari berkontribusi signifikan pada ketajaman sense artistiknya.

Awal ketertarikannya pada bunyi ketika mengeksplorasi dangngong di kampus. Dangngong adalah perangkat bebunyian berbahan bambu dan pita yang dibentuk busur dan diletakkan di punggung layang-layang. Bentangan pita itu diterpa angin dan menimbulkan bunyi dengung yang digunakan oleh masyarakat Selayar sebagai petanda pasang surut air laut, dan arah arus bawah laut.

Sebagai karya seni, Dangngong diwujudkan dalam berbagai bentuk. Ada yang dipasang di puncak instalasi bambu dan mengandalkan volume hembusan angin untuk produksi bunyinya. Arena pertunjukannya dominan alam terbuka seperti gunung, sawah, atau sekedar ruang terbuka. Pada momen lain dangngong dipegang dan digerak-gerakkan oleh performer untuk menimbulkan bunyi dengan ritme dan intensitas yang beragam.

Tahun 2018, Misbah mempresentasikan karya Danngong di Instru­ment Builders Project di Kyoto, Jepang. Kyoto Art Center sebagai penyelenggara tertarik karena penyikapan bunyi  yang bukan sekedar relasi instrumen, sumber suara, dan produksi bunyi seperti pengertiannya dalam klasifikasi instrumen musik aerophone. Ia mencurigai ideologi dan narasi dibalik bunyi.

Selain bambu, penggarapan bunyi lainnya bersumber dari gesekan batu giling jagung yang disebut gilingang batara berjudul Tools. Pada masyarakat kepulauan Selayar tiap rumah memiliki batu giling untuk mengolah jagung sebagai bahan makanan pokok, pengganti beras yang tidak terdistribusi secara optimal. Menggiling jagung bagi masyarakat Selayar bukan sekedar aktivitas keseharian, melainkan alat komunikasi sosial. Apabila ada batu giling salah satu rumah tidak berbunyi, maka sesuatu terjadi di sana. Mungkin ke kota, mungkin sakit, atau kemungkinan lain yang lebih buruk. Biasanya warga berinisiatif mencari tau. Karya Tools menarik perhatian kurator Pekan Teater Nasional 2019, dan memintanya untuk menjadi penampil.

Foto 1 Misbahuddin Kreator The Bagang | Membaca The Bagang, Membaca Orkestra Keseharian Misbah
Misbahudin, kreator The Bagang. Foto oleh Hasrul Amri.

Overture: Kontemplasi Satu Malam

Dua bulan lalu, masih dalam kondisi pandemi Covid-19, Misbah mudik dari Klaten tempat domisilinya kini ke Selayar, tanah asalnya. Dalam perjalanan, Ia mengamati bagang atau bangunan semacam rangka rumah panggung dari batang bambu yang ditancapkan di laut. Fungsinya sebagai shelter nelayan untuk mengangkat atau memanen ikan. Bagang tancap menjadi sumber proyek seni terbarunya di Selayar yang diluncurkan pada Jumat 23 April 2021 lalu, menjelang buka puasa Ramadhan.

Pengamatan terhadap bagang di atas sekadar permulaan. Untuk meluaskan pemahaman perlu pengamatan lebih lanjut. Di selatan pulau Selayar, berjarak 150 meter dari pesisir pantai, dengan ijin pemiliknya, Misbah menginap di atas bagang selama satu malam. Saya menduga untuk berkontemplasi. Untuk menangkap segala rupa bunyi di sekitar bagang. Membiarkan fenomena di sekitar bagang menampakkan diri, membina koneksi, dan saling memahami.

Kemudian Ia berefleksi tentang manusia laut. Sepi, jauh dari polusi udara dan signal. Mengamati perubahan warna langit dan laut oleh perputaran matahari, atau perilaku ikan yang cenderung melawan arus. Berinteraksi dengan gesekan tali dan bambu, suhu udara, buih ombak dan sampah yang hinggap di bagang. Seraya mengkritik orang tua jaman sekarang yang segera berteriak menyuruh anggota keluarganya masuk ke rumah, menutup pintu rapat-rapat jika angin kencang datang. Misbah berbisik tentang badai yang tidak melulu soal bencana, kadang-kadang hanya fenomena alam biasa yang menjadi keniscayaan masyarakat laut.

BACA JUGA:  Membaca "Tubuh Malang-an dan Tubuh Jawa Timur-an" Dalam Sajian Koreografi Kontemporer.

Sonata’ 3 Topik

Kontemplasi dan refleksi penting dalam proses kreatif. Bukan untuk berlama-lama, larut dalam pesona eksistensial. Setelahnya adalah menyusun strategi, menuliskan ‘orkestrasi’, dan eksekusi lapangan. Karya The Bagang dibangun berdasarkan tiga topik utama yang saling berkait: “menghadap ke laut”, “membunyikan angin”, dan “menemukan akustik lokal”. Ketiga topik itu menggunakan kata kerja, antara lain menghadap, membunyikan, dan menemukan. Dengan demikian The Bagang mengedepankan kerja atau aksi sebagai etos pembangunan estetikanya: ‘sonata satu-layar’.

“Menghadap ke Laut” sebagai aksi berarti mengalihkan pandangan, pikiran dan energi ditempatkan menjadi topik pertama sebagai ajakan untuk sejenak berpunggung-punggung dengan daratan. Hal itu berdasarkan pengamatan terhadap fenomena masyarakat Selayar yang cenderung latah pada skena urban. Ketika wacana ekonomi kreatif meluas ke seluruh pelosok, generasi muda berbondong berinvestasi membangun kafe. Berkompetisi tentang kualitas kopi, skill barista dan desain kafe. Melupakan laut sebagai identitas anak jati Selayar yang memiliki potensi ekonomi tinggi jika dikelola dengan serius. 

Topik “Menghadap Ke Laut” bukan untuk melihat air laut sebagai material, melainkan untuk menyelam ke dalam cerita tentang pesona biru laut yang terhidang di garis cakrawala. Di sana ada kisah pelaut ulung yang menaklukkan badai di batas kaki langit. Ada cendikia bahari yang memecahkan misteri ikonik di angkasa, yang dituntun oleh kebijaksanaan dan keteguhan hati.

Foto 4 Penari The Bagang dengan kostum berbahan sampah plastik | Membaca The Bagang, Membaca Orkestra Keseharian Misbah
Para Penari “Menghadap ke Laut” menggunakan kostum berhias sampah-sampah plastik. foto oleh Hasrul Amri.

Alam dan leluhur telah mewariskannya. Penerus yang bertanggungjawab akan menyiapkan diri untuk berhadapan dengan pertanyaan atau tuntutan generasi berikutnya. Kita hanya perlu kembali menjadikannya keseharian sebagai manusia pulau.

Topik kedua “Membunyikan Angin” adalah pekerjaan mudah sekaligus sulit. Sejak karya Dangngong dan Tools, Misbah sudah menelisik lebih dalam perihal perkakas kehidupan masyarakat.  Mempertanyakan gagasan disebalik intervensi manusia pada benda alam. Semua itu ibarat teknologi tradisional sebagai solusi praktis keseharian masyarakat.

Kalau karya Dangngong dan Tools, Misbah fokus pada perangkat satu per satu, The Bagang jauh lebih kompleks. Bagang tancap sebagai fokus tidak bisa berdiri sendiri, perlu peran arus, ikan, matahari, dan tentu angin. Tapi mengapa Misbah tetap hendak membunyikan angin yang gerakannya menjadi kepastian kehadiran bunyi? Tanpa angin, Shakuhachi, Suling, dan Puik-puiknya tidak bakal berbunyi. Konsep artistik karya Dangngong sudah mengekspolitasi angin dalam membunyikan pita Dangngong. Karya Tools mempercayakan udara untuk menjadi media rambat gelombang gesekan batu gilingang batara ke indera pendengaran manusia. Saya akan menunda pembacaan terhadap topik ini, dan memberi tanda kurung pada (bunyi-angin) sebagai sebuah tawaran pemikiran.

Untuk memahami topik “Menemukan Akustik Lokal” akan menggunakan wawasan asalnya, fisika. Secara mendasar akustik adalah ilmu yang mempelajari aspek-aspek terkait gelombang suara, meliputi proses pembangkitan, penjalaran, dan persepsi. Selain itu akustik dapat dilihat sebagai variasi tekanan yang berubah terhadap waktu maupun posisi yang bergerak osilatif di dalam medium gas, liquid atau solid.

BACA JUGA:  LABORAN GERAK Pasar Tari 2500

Konsep akustik lokal The Bagang tidak hanya menggunakan udara, angin sebagai medium gas, air dan arus laut untuk medium cair, serta bambu, tali dan kayu sebagai medium solid. Juga melibatkan motivasi manusia untuk menemukan formula akustik yang dimaksud: material dan transendental. Gerak aktif setiap medium, manusia dan alam merupakan metafora bunyi yang dihasilkan dari proses pembangkitan, penjalaran, dan persepsi yang dibangun.

Sederhananya topik ketiga ini dideskripsikan sebagai “ruang bunyi inklusif”. Pelibatan angin dan motivasi manusia sebagai variabel dalam konsep akustik menjadi anomali yang unik. Misbah menggambarkan konsep ini dengan menentukan batas ruang imajiner berukuran 150 meter dari daratan ke pesisir, 150 meter dari laut ke pesisir. Pesisir menjadi titik temu. Apapun atau siapapun yang ada dalam ruang tersebut, adalah entitas yang akan memainkan perannya secara dinamis.

Sekali lagi, rumit! Dan di sinilah peran Misbah sebagai ‘konduktor’ bekerja. Mendudukkan seluruh variabel tersebut pada ‘orkestra’ yang hidup berdasarkan ‘kesehariannya’ masing-masing.

Konduktor Partisipatif

Mulanya Misbah sendirian ke pinggir pantai, membawa 15 batang bambu, menyibukkan diri mengukur, memotong, dan mengikat. Beberapa warga mendekat penasaran dan menanyakan aktivitasnya. “Mau buat apa Pak?”, “Bagang”, kata Misbah menirukan dialognya dengan warga. Kemudian warga itu merespon bahwa caranya membuat bagang belum betul. Misbah minta petunjuk. Dialog berlanjut intens, dapat dipastikan penuh dengan antusiasme, hingga warga tersebut melibatkan diri, berpartisipasi dengan sukarela. Daeng Norman, Daeng Bolong, Daeng Amin, dan Daeng Bonto kemudian melebur ke dalam ‘orkestra’ dan mulai memainkan topik-topik ‘sonata’ The Bagang.

Foto 3 Proses Pembuatan Bagang Tancap | Membaca The Bagang, Membaca Orkestra Keseharian Misbah
Proses pembatan bagan tancap (bagang). Foto oleh Hasrul Amri.

Tentu bukan hal yang berat bagi ‘pemain’ ini. Mereka menguasai. Prima vista dalam mengerjakan konstruksi Bagang. Hanya perlu mengulang kebiasaannya. Namun bukan tanpa persoalan. Waktu berjalan, mereka mengeluhkan kebutuhan ekonomi keluarga. Jika tidak sedang melaut, mereka bekerja sebagai tukang ojek. Maka baton atau tongkat dirigen perlu diarahkan pada calon partisipan lain.

‘Konduktor’ menyasar Pak Lurah. Meminta perannya sebagai pemerintah yang wilayahnya masuk pada ‘ruang akustik lokal’. Misbah menyodorkan ‘partitur’ ekonomi kreatif sebagai tawaran. Temanya menghidupkan ekonomi kerakyatan di pesisir pantai dan Bagang menjadi destinasi wisata baru di kelurahan Benteng Utara. Unit usaha rakyat dapat berdaya di sana atau sebagai venue alternatif untuk karya-karya seni. Pak Lurah Fitrah Affandi, S.Stp setuju, membuka diri untuk berpartisipasi.

Nilai proyek seni ini relatif. Biaya konstruksi The Bagang kurang lebih 20 jutaan. Sementara harus ada jaminan pengganti pemasukan para pekerja. Belum lagi beban produksi untuk para musisi, penari dan kru lainya selama 2 bulan proses. Bersama Pak Lurah, The Bagang menarik minat pihak lain untuk berpartisipasi. “Butuh berapa biaya? tergantung kebutuhan warga Bapak yang ikut bekerja dalam karya ini”, ujar Misbah yang enggan menyebut angka ketika bertemu calon partisipan lainnya.

Untuk merespon The Bagang sebagai karya instalasi bunyi, menampilkan karya tari yang digarap oleh Andi Sarrangmembawa 9 orang penari menggunakan sampah plastik sebagai bahan kostumnya. Tentu ini bentuk kritik kepada siapa saja untuk menjaga kebersihan kepulauan Selayar. Misbah juga mengajak komunitas yang ada di Selayar seperti Pakampong Artistik, Jay Lius yang mengoperasikan Squenser, Andi Fachrul Islam main Gitar, Vokal Annisa, dan Andre Piondjongi yang membaca sajak.

BACA JUGA:  Semesta Sumilah: Teater, Arsip dan Harapan

Dalam mengerjakan The Bagang , sadar atau tidak, Misbah menerapkan gaya kepemimpinan partisipatif. Glints Academy menguraiakan, yang menjadi penting dalam metode kepemimpinan partisipatif adalah kepekaan memilih orang yang tepat, mengedepankan dialog, menumbuhkan kepercayaan, serta penekanan pada moral dan nilai-nilai. Hingga peluncurannya, The Bagang melibatkan tidak hanya puluhan warga, seniman, komunitas, tapi juga pemerintah daerah dan anggota legislatif. Maka secara keseluruhan, The Bagang adalah proyek seni yang meliputi kepekaan ekologis, interaksi simbol, relasi kuasa, serta ekonomi masyarakat.

Foto 2 Sketsa Instalasi The Bagang | Membaca The Bagang, Membaca Orkestra Keseharian Misbah
Sketsa instalasi The Bagang.

Finale: Bunyi Pembuka

Kawasan pesisir kepulauan Selayar tidak lagi menarik minat masyarakatnya. Mereka lebih sibuk dengan motor, fashion, dan barber shop. Penduduknya gelisah terhadap kuota dan signal selular. Generasi yang berjarak dengan gelombang atau enggan mengakrabkan diri pada alam yang sesungguhnya menyimpan pesan dan nilai. Kadang badai dapat dijadikan teman berdialog, atau tempat berguru tentang sebab akibat demi keseimbangan kehidupan. 

The Bagang merupakan kerja awal, bunyi pembuka bagi siapa saja yang mau berkontribusi pada keberlangsungan ekologi laut, destinasi wisata dengan visi ekonomi kreatif untuk kesejahteraan warga. Kepulauan Selayar sudah ditakdirkan memiliki alam yang sangat indah. Terumbu karang dan ragam ikan Takabonerate menjadi atraksi alam yang fenomenal. Keberadaan gong Nekara yang menyimpan jejak kontak dengan kebudayaan Tiongkok juga menyimpan sejarah dan nilai yang tak habis untuk dipelajari. Bahkan nama asali Selayar yang konon berasal dari kata Satu Layar cukup menjadikannya sebagai titik persinggahan penting jalur rempah dunia.

Partisipasi aktif warga, stakeholder, dan alam dalam ekosistem The Bagang adalah “bunyi” dalam arti aksi yang dapat membuka tanda kurung pada pembacaan terhadap pemikiran “bunyi-angin” tadi. Sebagai kreator, Misbah menuntut peran lain dari gerak angin yang tidak sekedar membunyikan material. Angin itu sendiri perlu berbunyi, menjadi ‘panggung‘ untuk performans keseharian masyarakat. Panggung yang memberi kesadaran akan keluasan dan kedalaman manfaat keberadaannya. Di lain sisi, untuk dapat berbunyi, angin menuntut manusia untuk bijaksana dan cermat memahami tanda-tanda geraknya. Keras-lembut, merambat-menderu, berputar atau searah, bahkan ‘angin mati’ masing-masing memiliki makna untuk dipahami. Sebelum menjadi peringatan yang tidak lagi berpihak dan menjadi akhir sejarah manusia. Tersebab gagal membaca coda.

Screenshot 20200826 112028733 1 1 | Membaca The Bagang, Membaca Orkestra Keseharian Misbah
Latest posts by Aristofani Fahmi (see all)

Aristofani Fahmi

Salah satu pendiri Asosiasi Seniman Riau (ASERI) sekaligus menjadi Sekretaris Umum. Selain itu juga seorang musisi dan manager program pada Riau Rhythm, grup musik yang mengeksplorasi musik tradisi Melayu dan Nusantara ke dalam bentuk baru. Pada masa pandemi Covid-19 mengisiniasi Indonesia World Music Series sebagai jaringan komunikasi untuk pemberdayaan kelompok musik tradisi Nusantara. Pengalaman menulisnya bermula sebagai kontributor Majalah Gong semasa kuliah di jurusan Etnomusikologi ISI Surakarta (2000 – 2009). Tahun 2010 menjadi jurnalis di koran Tempo Makassar, dan menulis essai di Riau Pos setelah hijrah ke kota Pekanbaru.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *