fbpx

Dance with the Minotaur: Bertandak Tindak Tanduk yang Tunduk

[Michael HB Raditya]. Sebuah lampu sorot bak mercusuar berdiri tegak menyoroti ruas demi ruas ruang, sementara seonggok tubuh dengan wajah termangu berdiri di sampingnya. Seorang laki-laki dengan rok rumbai sebagai bawahan tengah menari tari Jawa alusan. Pada beberapa menit awal, tiada yang keliru dari gerak demi geraknya. Jujur saja, Ia menari dengan baik. Tampak pada dirinya jika ia menguasai tari tersebut. Namun lama kelamaan terbetik perasaan asing yang tak terhindarkan, perasaan terawasi dari sesuatu yang bukan darinya. Terdapat sesuatu yang terus mengintainya, yang membuat dirinya sadar jika Ia tidak baik-baik saja.

“Dance with the Minotaur” adalah tajuk repertoar dari karya yang saya gambarkan di atas. Karya tersebut diciptakan oleh seorang koreografer muda asal tanah Papua, Darlane Litaay. Karya tersebut dipentaskan pada gelaran virtual UrFear Huhu and Multitude of Peer Gynts dari Teater Garasi. Gelaran tersebut berlangsung selama satu bulan, yakni 31 Oktober hingga 30 November 2020. Sementara itu, karya Darlane yang berdurasi 25 menit dipentaskan pada delapan hari, yakni 31 Oktober, 1, 7, 13, 21, 27, 29, 30 November dengan moda tapping. Lebih lanjut, karya tersebut akan diputar sebagai sebuah tayangan pada waktu yang telah ditentukan.

Pada karya ini, Darlane menampilkan karya tari dengan moda tayangan yang berbeda dengan pertunjukan tari virtual lainnya. Sebagaimana berbeda dengan pertunjukan langsung, konseptor, koreografer, dan penari, Darlane berkolaborasi dengan A. Semali selaku direktur fotografi, kameramen, dan editor video; Andre Nur Latif selaku kameramen; Yennu Ariendra selaku komposer; dan Krispatje selaku operator drone. Bersama mereka, gagasan tajam Darlane diwujudkan secara artikulatif dan eksploratif secara visual. Lantas bagaimana pertunjukan tari virtual karya Darlane? Bagaimana Darlane menegosiasikan gagasannya pada karya virtual? Apakah investigasi Darlane atas kontrol dan pengawasan dari dominasi sosial yang lebih besar berhasil disematkan?

3JakartaPost | Dance with the Minotaur: Bertandak Tindak Tanduk yang Tunduk
Pertunjukan daring Dance with the Minotaur. foto: The Jakarta Post.

Kejengahan Darlane terhadap Ketertundukkan

            Lampu sorot bak mercusuar menyinari setiap sudut cahaya secara bergantian. Sinarnya berputar horizontal yang berkebalikan arah jarum jam. Alhasil selalu ada sudut yang diterangi, tetapi ada sudut lain yang tidak. Sementara itu, Darlane menari tari Jawa alusan sedari awal hingga akhir pertunjukan walau kostum yang digunakan rok rumbai, pakaian dari daerah di mana Ia tinggal dan berasal, Papua. Kontras!

Lantas, apa persoalannya jika seorang dari daerah lain menari tari Jawa? Pun di dalam tari, aktivitas tersebut lazim dilakukan di dalam pembelajaran, di etnomusikologi hal ini dikenal dengan bimusicallity—mempelajari kebudayaan lain dengan melakukan aktivitas keseniannya, bermusik. Maka, melihat penari tersebut tentu tiada masalah, bahkan hal tersebut kerap diartikan sebagai rasa toleransi.

BACA JUGA:  Srawung Tanpa Simbah

Pikiran barusan tentu ada benarnya, tetapi apakah toleransi yang kerap digadang berlaku sebaliknya untuk mereka yang [harus terus] bertoleransi? Dari hal ini, karya ini jelas bukan sebagai presentasi pembelajaran, pun juga bukan parade budaya, melainkan cara ungkap koreografer atas sesuatu yang tidak baik-baik saja.

Pun hal ini terejawantahkan setelah beberapa menit berselang, di mana latar panggung yang berwarna putih berubah menjadi visual dari seseorang yang tengah berlari dengan gusar di tengah hutan. Sedangkan Darlane mulai melangkah ke sudut pijak yang lain. Namun tiada gerak tari alusan yang gemulai, melainkan gerak kaku yang menegang. Gerak halusnya berubah menjadi gerak yang lebih ekspresif—seraya ingin lepas.

Namun gerak demi gerak tidak berubah secara langsung, melainkan berubah secara perlahan. Geraknya seperti orang kejang dengan latar pelarian dalam hutan dan lampu mercusuar yang tak pernah habis mengejar. Lantas apa yang kita imajinasikan dari Darlane yang justru menari salah satu tari yang bukan dari daerahnya dengan mercusuar yang terus mengintai? Apalagi di bagian belakang pertunjukan, Ia menampilkan gerak terasing dengan video mapping seseorang yang berlari karena diburu.

Menurut hemat saya, gagasan Darlane pada karya ini tajam, yakni mengenai keterasingan, ketertundukkan, hingga perburuan dampak dari dominasi sosial tertentu. Tidak hanya tajam, saya merasa pilihan Darlane atas material yang terdapat di dalam karyanya juga berangkat dari sesuatu yang Ia alami. Pilihan-pilihan materialnya eksplisit, mulai dari tari Jawa, rok rumbai pakaian Papua, lampu sorot bak mercusuar, dan dampak yang muncul atasnya. Alhasil saya merasa jika gagasan pada karya ini terasa dekat pada sang koreografer, Darlane.

Mengenai soal keterasingan, 25 menit penampilannya sudah cukup membuat saya merasakan itu semua. Mulai dari gerak yang luwes dan piawai tetapi di saat yang bersamaan muncul perasaan terasing. Ditambah pilihan kostum yang digunakan, yakni rok rumbai, yang tiada korelasi dengan tari yang ia peragakan pada menit-menit awal; serta gestur wajah yang tunduk termangu.

Keterasingan pada diri—yang ditandai dengan hal-hal di atas dan perubahan gerak tari yang signifikan—pun juga tertaut dengan ihwal lainnya, ketertundukkan. Belum lagi lampu sorot bak mercusuar yang seakan mengintainya sekaligus menunjukkan jika dirinya terawasi dan tunduk.

Alih-alih usai, video mapping yang memvisualkan seseorang tengah berlari membuat pernyataan Darlane semakin jelas, yakni ruang yang terus diawasi berubah menjadi sesuatu yang terasing untuk dirinya. Pengawasan dan konstruksi kuasa yang tak berkesudahan membuat dirinya terusir dari apa yang ia tinggali, tunduk bahkan terasing atas dirinya yang semestinya.

BACA JUGA:  Maya Drama: Sebuah project pertunjukan virtual

Namun saya cukup menyayangkan dua hal, pertama, Darlane memosisikan lampu sorot bak mercusuar terlalu dominan; kedua, gradasi gerak tari Jawa alusan ke gerak yang lebih kaku diposisikan bergantian. Dari dua hal tersebut, maka muncul pertanyaan, yakni:jika gerak yang lebih kaku diartikan sebagai counter atau dampak kejengahan dari konstruksi sebelumnya, mengapa kedua motif gerak harus diposisikan bergantian?

Jika mercusuar—sebagai pengawas—dianggap sebagai jawaban, mengapa Darlane tidak menggunakan ruang gelap dari mercusuar sebagai ruang eksplorasinya? Pasalnya, dampak dari dua hal tersebut membuat mercusuar terlalu dominan dan menihilkan tindak tanduk seorang yang tengah dikonstruksi atau terasing. Padahal, bukankah perlawanan tetap bisa dilakukan walau hanya dengan hal yang kecil, semisal gosip—sebagaimana James C. Scott dengan buku Weapons of the Week-nya.

2 | Dance with the Minotaur: Bertandak Tindak Tanduk yang Tunduk
Dance with the Minotaur. foto: Michael HB Raditya

Karya Virtual a la Darlane

            Di luar dari catatan di atas, menurut hemat saya karya ini patut dicatat. Pasalnya sebagai karya tari virtual, Darlane tidak hanya menampilkan karya tarinya begitu saja, melainkan memilih moda berbeda yang menarik untuk pertunjukannya. Moda tersebut adalah enam sudut kamera yang bisa dipilih untuk menyaksikan karyanya. Sebagai ilustrasi, di layar penonton akan terdapat satu gambar utama—dengan ukuran layar yang lebih besar—bersanding dengan enam gambar—tiga di sisi kiri dan tiga di sisi kanan.

Sudut kamera pertama (sisi kiri atas) menampilkan sudut pandang seperti kita menyaksikan pertunjukan pada umumnya. Hal ini dapat dilihat dari jarak antara koreografer dan penonton, serta posisi koreografer yang berada di titik tengah layar. Sudut kamera kedua (sisi kiri tengah) menampilkan bagian wajah Darlane secara dekat. Dari layar tersebut, kita dapat melihat raut wajah hingga bahu Darlane. Sudut kamera ketiga (sisi kiri bawah) laiknya sudut kamera pertama, tetapi diambil dari sisi atas.

Sudut kamera keempat (sisi kanan atas) menampilkan Darlane dari sisi kanan. Dari layar tersebut kita dapat melihat sisi kanan dari Darlane. Sudut kamera kelima (sisi kanan tengah) menampilkan Darlane dengan jarak yang dekat, tetapi berfokus pada lengan hingga rok rumbai yang ia kenakan. Sementara pada sudut kamera terakhir, keenam (sisi kanan bawah) menampilkan Darlane dari jarak yang jauh. Ia merujuk pada sudut kamera satu dan tiga, tetapi yang membedakannya adalah sudut kamera yang diambil dari bagian atas pada belakang panggung.

BACA JUGA:  Butakah Kami? : Catatan dari Pertunjukan "Kami Bu-Ta" APDC

            Dari keenam sudut kamera tersebut, penonton dapat secara bebas memilih sudut kamera yang dikehendaki. Pun pergantian sudut kamera dapat dilakukan ketika pertunjukan berjalan. Namun tidak dapat dipungkiri jika pergantian kamera di saat pertunjukan berlangsung tidak dapat terjadi secara lancar. Pasalnya ketika saya mencobanya, keterlambatan gambar per sekian detik tetap terjadi. Bagi saya, hal tersebut dapat mengganggu bagaimana keterlangsungan sebuah pertunjukan. Lebih parah, penonton akan kehilangan momen dari sebuah gerak tertentu.

            Di luar itu semua, jujur saya memuji pilihan Darlane atas moda pertunjukan pada karya tarinya. Ia tidak menampilkan karya tarinya begitu saja, melainkan mempertimbangkan bagaimana moda pertunjukan pada pertunjukan virtualnya. Dengan enam sudut kamera yang berbeda, ketakutan akan jarak, detail, dan hal-hal subtil lainnya dapat tertanggulangi. Tidak hanya itu, dengan moda tersebut Darlane telah memberikan kebebasan kepada penonton atas sudut kamera yang diinginkan. Kendati demikian, ada beberapa sudut yang terasa redundant, seperti sudut kamera ketiga. Namun kelima sudut kamera lainnya bagi saya cukup memberikan tawaran yang menarik untuk membuat penonton nyaman menyaksikan karyanya secara virtual.

Bertolak dari catatan di atas, bagi saya, seseorang yang mempertimbangkan moda pertunjukan pada pertunjukan virtual adalah orang yang peduli pada karyanya. Pasalnya, persoalan liveness pada pertunjukan virtual niscaya merongrong mereka. Alhasil dengan pilihan moda pertunjukan yang tepat, sang kreator telah menjawab akan bagaimana liveness dan daur keterlangsungan “hadir” di karyanya. Hal yang juga ditekankan oleh seorang teaterawan, Daniel Meyer-Dinkgräfe atas perdebatan liveness antara Peggy Phelan dan Philip Auslander pada karya yang termediasi. Sedangkan pada karya Dance with the Minotaur, saya pikir Darlane telah berhasil mengartikulasikan kegelisahannya dan memilih moda dengan cukup tepat untuk karyanya.[]

1240098 10202275030622629 1340754154 n | Dance with the Minotaur: Bertandak Tindak Tanduk yang Tunduk

Michael HB Raditya

Penulis buku kritik seni pertunjukan yang bertajuk Merangkai Ingatan Mencipta Peristiwa: Sejumlah Tulisan Seni Pertunjukan (2018). Bekerja di Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa, Sekolah Pascasarjana, UGM.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *