fbpx

Teater Ideot dan (katanya) Mini Kata

[Ekwan Wiratno]

Saya tersesat.

Jalan yang saya tuju tidak menuju ke kastil yang saya bayangkan.

Kaki saya menginjak lumpur, sementara di depan saya hanya terpampang rumah biasa.

Begitulah kiranya yang paling pas mendeskripsikan perasaan saya setelah menonton pertunjukan Teater Ideot pada tanggal 11 November 2020. Pentas yang digelar selama tiga hari ini (10-12 November 2020) menyajikan dua naskah “mini kata” karya Moehammad Sinwan. Penulis sekaligus sutradara Teater Ideot ini sudah banyak dikenal sebagai tokoh teater Malang. Lek Bos, panggilannya, menggarap naskah berjudul Ndek Ndek Sur dan Bendera Rubuh yang diklaim sebagai bentuk mini kata.

Ketersesatan saya tentu saja bukan sebuah ungkapan metaforik semata, tapi sekaligus juga bentuk konkrit dari kekecewaan.

Teater Ideot Malang

MINI KATA

Mini kata, bagi sebagian besar pengagum teater, merupakan dua kata sakral yang diciptakan oleh Goenawan Mohamad setelah menonton pertunjukan Bengkel Teater Rendra. Ungkapan itu ditulis panjang lebar di Kompas edisi 28 Juni 1968 sebagai penerjemahan atas bentuk pertunjukan Bib-Bob yang kala itu menghebohkan setelah dipertunjukkan secara langsung dan melalui TVRI.

Istilah mini kata, menurut Goenawan, dipergunakan karena Rendra semata-mata menggunakan pengucapan non-verbal, dalam hal ini mempergunakan kata-kata secara minim sekali. Pertunjukan ini bahkan sebelumnya pernah mendapat label sebagai “teater primitif” oleh Arifin C. Noor, yang merupakan representasi dari konsep Eugene Ionesco. Tetapi, frase kata mini kata lah yang kemudian dipergunakan secara luas dan diterima sebagai label pertunjukan semacam itu [1].

Maka setelah memahami dari berbagai sumber bacaan mengenai Mini Kata, saya sulit sekali menemukannya di pertunjukan Teater Ideot malam ini. Pertunjukan Teater Ideot yang bekerjasama dengan Teater Keong (SMA Negeri 7 Malang) ini tidak cukup mini dialognya untuk disebut sebagai pertunjukan teater mini kata. Dua pertunjukan ini memang relatif banyak dialognya meskipun bukan merupakan pertunjukan yang sangat bertumpu pada teks. Beberapa simbolisasi berusaha ditampilkan, tetapi dialog masih cukup banyak. Belum lagi, teater Mini kata Rendra sangat dominan improvisasi-improvisasi, yang menurut Rendra, merupakan bentuk dari puisi non-verbal yang luput dari teks. Dalam hal ini, kedua judul pertunjukan Teater Ideot sangat jauh dari konsep mini kata.

BACA JUGA:  Feminisme ala Ayu Permatasari dalam "Hah"

penampilan teater Ideot Malang

MEKANIK BELAKA

Sebagai bentuk pertunjukan yang dikembangkan melalui improvisasi, pertunjukan mini kata Bengkel Teater merupakan hasil dari latihan panjang dan melelahkan. Gerak indah ini dihasilkan melalui pelatihan fisik dan batin aktor. Menurut Prof. Yudiaryani, olah fisik dan batin aktor itu dapat diperoleh dengan metode pelatihan alam, yaitu gerak impulsif dan meditasi. Hal ini memungkinkan berkembangnya tubuh keseharian menjadi tubuh artistik [2].

Bentuk improvisasi ini dihasilkan melalui pertemuan kreativitas bersama yang dapat dibagi menjadi tiga tahapan, pertama, setiap individu memunculkan ide masing-masing. Kedua, ide-ide tersebut kemudian digabungkan dalam proses latihan. Tahap ketiga, adalah tahapan pertunjukan. Kolektivitas tersebut sangat jelas pada pertunjukan Bib-Bob. Hal ini diakui sendiri oleh Rendra dan Moortri Poernomo, salah satu aktornya [2].

Kalau melihat pertunjukan Teater Ideot, maka hal ini sama sekali tidak nampak. Pertunjukan ini berjalan secara mekanik saja. Indikasinya adalah aktor berfokus pada upaya membentuk formasi-formasi semata, seperti sebuah pertunjukan baris-berbaris. Semua itu tidak digerakkan oleh kebebasan, tapi oleh instruksi sutradara atau kesepakatan latihan. Akting menjadi semata rutinitas dan menjauh dari kebaruan yang menyegarkan.

Maka dengan berat hati saya harus menyimpulkan bahwa “Mini kata” yang diklaim sebagai judul besar pertunjukan menjadi semata slogan kosong yang dibesar-besarkan.

pementasan Teater Ideot, Malang

KESESATAN BERIKUTNYA

Lepas dari jalan yang saya harapkan untuk menuju kastil mewah yang penuh dengan guratan sejarah, saya justru masuk ke dalam jalan berlumpur yang di kanan-kiri berbaris semak belukar. Kastil yang saya harapkan justru menjelma rumah biasa yang dibangun dari kayu dan batu berkualitas pada umumnya.

Begitulah yang harus saya terima, kesesatan harapan yang menyakitkan. Sebagai salah seorang pengagum Rendra sejak awal, saya sama sekali tidak menemukan kepuasan menonton pertunjukan yang memakai label “mini kata” ini. Saya kecewa sekaligus mengutuk diri saya sendiri karena berharap terlalu besar. Nama besar Teater Ideot dan Lek Bos telah membuat saya berharap terlalu besar.

BACA JUGA:  Catatan untuk Diskusi dan Pertunjukan Dramatic Reading "Orde Tabung" Mengenang karya Heru Kesawa Murti Oleh Teater Gandrik

Padahal, kelompok teater yang didirikan pada tanggal 1 November 1986 yang pada ulang tahunnya yang ke 36 ini mengusung tema besar “Menuju Episentrum Baru.” Tema yang menggelegar inilah yang menarik banyak pihak untuk menonton serangkaian acara Teater Ideot. Entah episentrum baru seperti apa yang hendak dicapai oleh Teater Ideot, tetapi menilik Kembali pada dua pertunjukan yang disajikan malam itu, maka sulit melihat kebaruan. Bahkan cenderung, apa yang disajikan di atas panggung adalah hal biasa dan tidak ada yang special bila melihat perkembangan teater Malang dan Jawa Timur.

Tentu saja, kekecewaan itu diperparah dengan kondisi pertunjukan yang terdapat celah sana-sini. Celah pertama terkait dengan kualitas aktor yang belum matang. Aktor-aktor yang di-pinjam dari Teater Keong ini memang bukan merupakan aktor rendahan, tetapi untuk mencapai standar mini kata diperlukan latihan yang lebih jauh dan intensif. Akting yang disajikan masih terpaku pada instruksi di luar aktor sehingga belum menjadi kesadaran yang lebih utuh. Meski demikian, bekal keaktoran yang dimiliki sudah sangat memadai seperti kekuatan vokal dan gestur.

Celah kedua adalah penguasaan panggung. Panggung yang dibuat di Gedung DPRD Kota Malang ini berbentuk tapal kuda yang menempatkan penonton pada tiga sisi. Bentuk panggung ini tentu sangat menguntungkan karena memberikan kedekatan yang lebih dibandingkan dengan panggung konvensional (proscenium). Tetapi, panggung tapal kuda memerlukan pendekatan berbeda, misalnya bahwa ketiga sisi perlu mendapatkan hak yang sama. Setiap sisi harus mendapatkan visual dan audio yang sama rata. Hal inilah yang tidak diperhatikan oleh Teater Ideot, yaitu lampu dan pola akting aktor masih terpaku pada pola pemanggungan proscenium atau satu sisi. Ini tentu mengabaikan kenyamanan penonton di sisi yang lain. Kegagapan macam ini umumnya terjadi karena kegagapan sutradara dalam memahami karakteristik setiap jenis panggung.

BACA JUGA:  KAMAFEST 2019: Upaya Penebalan di Titik Berangkat

Celah ketiga adalah musikalitas yang tidak sepenuhnya koheren. Musik dalam pertunjukan ini merupakan penggabungan antara musik digital dan live. Hal ini merupakan bentuk adaptasi pertunjukan teater dengan perkembangan teknologi yang pesat sekali di jaman ini. Hanya saja, beberapa musik digital yang digunakan cenderung seadanya sehingga tidak memberikan efek maksimal bagi kekuatan pertunjukan. Musik live merupakan musik yang diandalkan sebab sangat responsif terhadap ritme pertunjukan, tetapi pada pertunjukan ini terjadi delay dalam beberapa adegan sehingga justru malah mengganggu.

Celah keempat, entah saya yang kurang memahami bagaimana karakteristik Teater Ideot, tetapi pembentukan formasi instan dan pola musik sedikit mirip dengan kebiasaan Teater Keong. Semoga saja pendapat saya ini salah, sebab sejatinya ketika saya (dan mungkin banyak penonton lain) tergerak untuk menonton, saya ingin menonton Teater Ideot. Nama Teater Ideot dan sang sutradara yang demikian melegenda merupakan daya tarik sangat kuat bagi penonton, alangkah sangat gembiranya bila kami diberikan kesempatan secara penuh mengenalnya.

teater Ideot

REFERENSI

[1] Goenawan Mohamad. 1968. Tentang Bip-Bob, Mengapa Teater Mini kata. Kompas, 28 Juni 1968 dalam Edi Haryono (ed.). 2005. Menonton Bengkel Teater Rendra. Kepel Press. Yogyakarta.

[2] Yudiaryani. 2015. WS Rendra dan Teater Mini Kata. Galang Pustaka bekerjasama dengan Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Yogyakarta.

Ekwan Wiratno
Latest posts by Ekwan Wiratno (see all)

Ekwan Wiratno

Ekwan Wiratni adalah kritikus teater, penulis naskah, dan sutradara. Saat ini bekerja sebagai dosen di Universiras Brawijaya, Malang. Ekwan adalah pendiri Malang Study-Club for Theatre (MASTER) (IG: master.malang) yang berfokus pada upaya literasi dan pengembangan keilmuan teater secara umum. Kini tinggal di Malang dan membuka peluang komunikasi melalui account Instagram ekwan_wiratno.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *