Pertunjukan Sandbox Bento: Disabilitas Bukan Objek untuk Dikasihani

[Michael HB Raditya]. Pada cahaya teram temaram, seonggok tubuh disabilitas dengan wajah lesu tertunduk menyesali keadaan. Barang bawaannya dirampas oleh pencopet ketika ia tengah melakukan perjalanan. Ia tidak dapat melakukan apa-apa kecuali pasrah, tetapi siapa sangka ia justru menemukan teman-teman disabilitas lainnya yang membantunya di tengah keadaan muram tersebut. Mereka saling bahu-membahu tidak hanya mencari barangnya yang hilang, melainkan saling menyemangati untuk hidup dan menghidupi satu sama lain. Mereka mencari makan dan memakannya secara bersama-sama di atas panggung. Mereka lemah terpisah, tetapi menjadi kuat ketika bersatu. Pertunjukan yang menyentuh, tetapi apakah menyentuh sudah pasti memukau?

Adalah pengalaman pertama bagi saya, melihat tubuh disablitas menari dengan percaya diri di atas panggung. Sandbox Bento, karya tari inspiratif dari kelompok disabilitas asal Jepang bernama Taihen. Taihen merupakan kelompok tari yang beranggotakan disabilitas yang telah berdiri sejak tahun 1983. Pada karya ini, Taihen mengeksplorasi fisik para penampil yang mempunyai disabilitas pada fisik, khususnya tunadaksa. Karya ini merupakan bagian kedua dari trilogi Wandering Love, di mana para pemain seolah-olah menjadi makanan di dalam kotak makan siang, Bento. Persis dengan tajuk karya, Sandbox Bento. Sedangkan jika bicara wacana, pertunjukan ini membicarakan mengenai ruang isolasi laiknya sebuah kotak Bento. Pada kotak isolasi tersebut, mereka merasakan bias perasaan, antara gembira tetapi sedih yang terjalin sekaligus pada satu keadaan.

Karya ini ditulis dan diarahkan langsung oleh direktur artistik mereka, Manri Kim. Alih-alih hanya menulis dan mengarahkan, Manri Kim ikut sebagai bagian dari pertunjukan sepuluh penampil lainnya, yakni: Yusuke Koizumi, Masaya Shimomura, Nozomi Mukai, Ayano Watanabe, Kazumi Ijiri, Yuto Ikeda, Kaori Taoka, Hiryuki Atsuta, dan dua penampil sukarela. Tidak hanya itu, tarian teatrikal tersebut juga didukung oleh kelompok From Cradle to Grave Trio (musik); Tamako Katsufuji (komposisi bunyi); Akira Yoshida (design panggung); dan Asako Miura (tata cahaya).

Dengan durasi 75 menit, karya ini dipentaskan dalam rangka TPAM 2020 dalam program TPAM Exchange. Yukako Ogura—selaku salah satu kurator—memilih kelompok senior, Taihen untuk menampilkan karyanya pada tiga hari berturut-turut, 9 hingga 11 Februari. Saya cukup beruntung, karena tidak hanya menyaksikan pertunjukan pada hari Senin petang (10/2), tetapi saya juga berkesempatan mendengar ceramah umum di pagi harinya dari direktur artistik mereka, Manri Kim. Atas pertunjukan tersebut, para penonton asal Jepang mengapresiasi pertunjukan dengan tangis dan tepuk tangan, walau saya merasa tepuk tangan ceramah umum di pagi hari terasa lebih riuh dari pertunjukannya.

BACA JUGA:  Catatan Seorang Penonton "Sulamin Bibir Saya Dong"

 

Perjalanan Mencari Kebahagiaan

Anda pasti cukup bingung menautkan deskripsi panggung di awal tulisan dengan kotak makan siang. Jujur saya juga merasakan demikian ketika mencoba meraba arah pertunjukan yang dikerjakan oleh Manri Kim. Lantas apa kaitannya pertunjukan dengan kotak makan siang ataupun kebahagiaan? Usut punya usut, karya tersebut terinspirasi dari sebuah kejadian pembunuhan atas 19 orang disabilitas di lembaga panti jompo disablilitas yang terjadi pada tahun 2016 silam. Tidak hanya itu, sang pembunuh juga melukai 26 penyandang disabilitas lainnya. Hal yang lebih mengecewakan, sang pembunuh menyatakan bahwa mereka—para disabilitas—harus diberantas dari masyarakat. Kejadian itu membuat luka tersendiri bagi masyarakat Jepang, khususnya bagi mereka disabilitas. Namun di sisi lain, hal ini mengafirmasi bahwa kenyataannya banyak masyarakat yang belum sepenuhnya menerima keberadaan disabilitas.

Atas dasar itu, Kim menginterpretasikan kejadian itu laiknya sebuah kotak makan siang (baca: Bento). Menurutnya, bento box dapat mewakili lembaga yang terisolasi di masyarakat modern. Masyarakat yang membeli bento dapat menyortir makanan yang disuka di dalam kotak tersebut, dimakan atau dibuang. Dari sinilah Kim menginterpretasi kejadian tersebut. Lalu Ia membuat sebuah cerita lanjutan, di mana salah satu makanan yakni sosis Wiener berbentuk octopus dibuang. Namun makanan tersebut tidak begitu saja terbuang, melainkan terus berjuang dan berjalan mencari kebahagiaannya. Hal ini kiranya serupa dengan para disabilitas yang [kerap] dibuang atau diasingkan bahwa mereka akan terus berjuang dan mencari kebahagiaan. Dari hal ini lah saya paham mengapa beberapa penonton domestik di sekeliling saya meneteskan peluh matanya.

Alhasil di dalam pertunjukannya, Kim menerjemahkan wacana isolasi tersebut pada tiga adegan fiksi, pertama, ketika makanan pada bento dibuang ke tempat sampah; kedua, ketika makanan yang dibuang melakukan perjalanan mencari kebahagiaan; ketiga, ketika sang makanan sisa berjumpa dengan makanan sisa lainnya dan membuat kebahagiaan mereka. Pada adegan pertama, seorang disabilitas memerankan sebagai sosis Wiener tersebut. Ia digambarkan jatuh ke tempat sampah. Alih-alih diam, ia tidak mau teronggok begitu saja dan memutuskan untuk melakukan perjalanan mencari kebahagiaannya. Malang ia terima ketika melakukan perjalanan barang bawaannya justru dirampas makhluk lain. Di dalam adegan pertama, set panggung diubah sedemikian rupa untuk menandakan perjalanan dari sang sosis berbentuk octopus. Namun perjalanan yang digambarkan sangatlah eksplisit sehingga bayangan akan perjalanan seakan terasa membosankan.

BACA JUGA:  The Philosophical Enactment 1&2: Membongkar Tubuh, Mendudukkan Wacana dan Gerak

Pada adegan fiksi kedua, yakni ketika ia melakukan perjalanan dan menemui keapesan, mulai dengan kecopetan hingga kelaparan. Cerita sosis octopus ini menjadi bias, karena perwujudan tanda yang sebelumnya fiksi di adegan pertama, justru menjadi realitas di mana lalu lalang makhluk bahkan kereta mengisi perjalanan dari sosis octopus tersebut. Tidak hanya itu, di dua bagian ini, Kim menyisipkan gerak-gerak jenaka pada para penampil. Pada awalnya saya bersepakat dengan Kim jika tujuan dari pertunjukannya ingin menggambarkan dua mood sekaligus, kelam dan bahagia. Hal ini dapat menerjemahkan perasaan terisolasi yang ingin dikerjakan Kim. Namun gerak dan gimmick jenaka yang ditampilkan justru terasa hambar. Belum lagi live musik yang justru membuat kesan pertunjukan laiknya sirkus. Bagi saya, hal tersebut justru kontra-produktif dengan tujuan mood yang dibangun oleh Kim.

Sedangkan pada adegan terakhir, sang sosis menemukan rekan senasib sepenanggungan dan mereka hidup saling berdampingan satu sama lain. Dalam menunjukkan kebahagiaannya mereka menari satu sama lain. Pertunjukan ditutup dengan semua penampil yang berjumlah 11 makan bersama di atas panggung. Di sini lah rasa tersentuh muncul yakni dengan kebersamaan mereka yang [sengaja] dibuang dapat mencari kebahagiaan mereka sendiri. Hal ini kiranya memberikan clue yang terang bahwa pilihan tetap ada dalam keterbatasan.

Wacana Besar, Pertunjukan Tunggu dulu

Jujur saya terkesima ketika melihat Manri Kim melakukan presentasi di auditorium, Yokohama Port Memorial Hall. Pembicaraannya begitu lantang, kritis, dan gagasannya begitu jelas. Ia bekerja keras dengan karya tarinya untuk melakukan upaya kesetaraan. Dengan tubuh yang terbatas, Manri Kim dan para disabilitas dapat menampilkan repertoar demi repertoar yang berasal dari keresahan teman-teman disabilitas. Tentu kita patut sadari bahwa pelbagai stigma ditautkan kepada mereka. Maka bagi saya, presentasi pada hari Senin pagi (10/2) dari Manri Kim telah menghipnotis saya dan percaya bahwa Taihen adalah corong perubahan untuk teman-teman disabilitas. Bahkan pernyataan terpenting yang saya dengar adalah “disabilitas bukanlah objek untuk dikasihani.”

Tidak hanya itu, Kim dengan kelompoknya percaya bahwa ekspresi fisik para disabilitas adalah keindahan. Melalui kerjanya, Taihen ingin menggulingkan fondasi estetika yang orientasinya berasal dari tubuh non-disabilitas. Taihen ingin menciptakan fondasi estetika pertunjukan alternatif dari tubuh disabilitas. Itu adalah sikap dan mereka tidaklah sedang bermain-main. Kita patut hargai dengan ikut mengubah pola pikir terhadap teman-teman disabilitas agar mereka dapat membebaskan belenggu alienasi ganda dari manusia non-disabilitas di kehidupan ini.

BACA JUGA:  Melawat Kisah Sendu Melalui "Mesin" Waktu; Ulasan Pertunjukan "While You're Away"

Alhasil saya mencobakan pernyataan “Disabilitas bukan objek untuk dikasihani” di kepala saya dalam menyaksikan pertunjukan “Sandbox Bento”. Alih-alih berhasil, saya menjadi tidak nyaman ketika menyaksikan pertunjukan tersebut. Saya lebih banyak gusar ketimbang menikmati pertunjukan. Pasalnya gagasan kesetaraan yang ditekankan justru terasa ambigu. Para penampil berupaya bergerak laiknya estetika penampil non-disabilitas. Di mana tubuh yang terus bergerak menjadi pola, sedangkan para disabilitas punya gerak terbatas. Padahal saya percaya bahwa estetika tidak seragam dan tidak hanya didasarkan pada gerak semata, sedangkan penampil di pertunjukan tersebut justru lebih mengejar menuntaskan cerita. Lantas estetika alternatif apa yang ingin dibangun jika demikian adanya? Kendati demikian, saya tetap percaya bahwa mereka akan—dengan segera—menemukan estetika alternatif yang mereka cari, tetapi tidak di malam itu, belum di repertoar bertajuk “Sandbox Bento”.

Terlepas dari itu semua, saya tetap percaya bahwa Taihen adalah medium para disabilitas dalam bersuara di Osaka, Jepang. Bahkan beberapa kali Taihen sempat berkolaborasi dengan orang disabilitas di beberapa negara lain, salah satunya adalah Malaysia. Maka pilihan Yukako Ogura untuk membawa Taihen pada TPAM 2020 patut diapresiasi, karena kelompok tersebut tidak hanya memberikan pemahaman dan pengalaman pertunjukan, tetapi membuat penontonnya—paling tidak saya—yang mulai mengapresiasi pertunjukan disabilitas dengan tidak terjebak belas kasih semata.[]

Michael HB Raditya

Penulis buku kritik seni pertunjukan yang bertajuk Merangkai Ingatan Mencipta Peristiwa: Sejumlah Tulisan Seni Pertunjukan (2018). Bekerja di Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa, Sekolah Pascasarjana, UGM.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *