fbpx

Mimpi Buruk Teater Setelah Pandemi

“Jika masyarakat lupa bahwa teater diperlukan, itu adalah kematian kita,”

Demikian penjelasan seorang direktur sebuah Gedung pertunjukan di Perancis. Kalimat singkat ini memiliki implikasi besar bagi teater kita hari ini. Sebuah kritik keras bagi seniman teater.

Saya menyebutnya sebagai mimpi buruk. Tentu saja ini hanya sebuah mimpi sekarang, tapi bukan mustahil bahwa mimpi ini akan menjadi nyata bila kita tidak melakukan apa-apa. Mimpi yang terus menghantui setiap malam kita, hanya saja tidak semua menanggapinya sebagai semacam tanda-tanda alam. Sebuah warning.

Lebih dari setahun lalu Virus Covid-19 ditemukan di Wuhan, China, tepatnya pada Desember 2019. Semenjak itu kemudian semua negara menutup diri, bahkan membatasi semua aktivitasnya. Semula perjalanan dibatasi, hingga pada semua aktivitas komunal juga dilarang. Dan saat itulah teater mengalami mati suri. Kini di tahun 2021, nampaknya belum ada titik terang dari pandemi Covid-19 ini. Dan secara otomatis, kegiatan-kegiatan teater juga belum mendapat titik cahaya. Sejak pembatasan sosial diterapkan pada 24 April 2020, maka praktis tidak ada pentas teater di Gedung pertunjukan.

Kegagapan melanda semua orang dalam bulan-bulan awal itu. Beberapa orang memang mencoba menyiasati media untuk tetap beraktivitas, misalnya publikasi dokumentasi-dokumentasi pemenatasan, membuat diskusi virtual, hingga mencoba live streaming. Sebagian besar seniman teater masih suntuk dalam doanya, memohon pada Tuhan untuk segera mengangkat pandemi ini, tanpa melakukan aktivitas kesenian apapun.

Kegairahan mulai nampak setelah pertengahan tahun, mulai digelar begitu banyak pertunjukan teater melalui media internet, apakah itu publikasi dokumentasi pentas lalu, streaming maupun pentas-pentas yang memang didesain dengan kesadaran virtual. Menjelang akhir tahun, kegairahan itu kembali redup, entah karena lelah atau mulai terbuai oleh harapan pada longgarnya pembatasan sosial pada tahun 2021.

BACA JUGA:  Dari Sampakan ke Mantradisi di Parade Teater Yogyakarta

Diskusi-diskusi mengenai bagaimana siasat seniman teater untuk terus produktif telah digelar di berbagai tempat, melalui media Zoom hingga warung kopi. Sementara diskusi mengenai penonton teater rasanya jarang sekali dilakukan. Beruntungnya, diskusi itu digelar oleh Dewan Kesenian Jakarta dengan tema “Siapa Menonton Siapa” pada tanggal 19 Januari 2021. Di sana dipaparkan kecenderungan penonton kita, berbagai kajian disampaikan, termasuk tentang kecenderungan penonton teater yang digelar melalui media internet.

Kembali pada mimpi buruk yang saya singgung di awal, bahwa penonton inilah wujud nyatanya. Penonton teater yang terbiasa menonton secara langsung di Gedung pertunjukan kini dipaksa bergeser ke media layar-layar, sebagian mungkin menurut, tapi sebagian lagi hilang. Tapi beruntungnya, muncul penonton baru yang sangat sadar teknologi internet. Sebuah hukum alam yang sangat lazim terjadi.

Mimpi buruk ini adalah karena kemalasan seniman teater, maka penonton kita menjadi tidak mengenal lagi seni pertunjukan teater. Karena pertunjukan teater secara virtual kalah banyak dengan sajian lain maka penonton kita menjadi beralih ke sana. Maka mimpi buruk yang harus dikhawatirkan adalah setelah pandemi berakhir, mereka menjadi terlalu asyik ke hiburan lain. Hal ini tidak berlebihan karena semakin banyak platform digital yang menyediakan hiburan, berupa konser dan film yang mampu dinikmati bahkan di genggaman.

Di era polusi informasi semacam ini, pihak yang mampu memberikan paparan paling banyak lah yang menang. Maka bila seniman teater sendiri masih banyak yang suntuk berdoa tanpa berkreasi, maka mimpi buruk itu jelas akan terjadi. Teater menjadi barang asing—mungkin juga dianggap kuno karena tidak mampu mendigital—dan kita kehilangan penonton. Sementara penonton adalah energi bagi sebuah pertunjukan teater, maka ketika mereka hilang, kita akan susah payah dan kelelahan. Maka pada saatnya, bukan tidak mungkin kematian itu akan benar-benar tiba.

BACA JUGA:  Open Call : Hibah Seni PSBK 2018

Kita perlu sebanyak mungkin pertunjukan teater untuk disajikan pada penonton. Mungkin pada saat ini kita sisihkan dulu perdebatan soal teater virtual, teater dokumentasi, bukan teater dan berbagai definisi njlimet lainnya. Kita mombardir media dengan pertunjukan teater, sesekali perlu juga membuat teater menjadi viral, baik itu di media Twitter, Instagram, Youtube bahkan Tiktok. [Ekwan Wiratno]

Ekwan Wiratno
Latest posts by Ekwan Wiratno (see all)

Ekwan Wiratno

Ekwan Wiratno adalah Dosen Universitas Brawijaya, Malang yang juga merupakan kritikus teater, penulis naskah, dan sutradara. Selain sebagai kritikus, penulis merupakan pendiri Malang Study-Club for Theatre (MASTER) (IG: master.malang) yang berfokus pada upaya literasi dan pengembangan keilmuan teater secara umum. Kini tinggal di Malang dan membuka peluang komunikasi melalui account Instagram @ekwan_wiratno.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *