fbpx
Senin, Maret 4, 2024
ARTIKEL & ESAIKepenarian dan KoreografiPersona

Bertemu Rianto, Menjelajahi Lengger : Catatan dari Melbourne

[Michael HB Raditya]. Tulisan ini terdiri dari 5.122 kata, dan memakan waktu 15-25 menit untuk membacanya. Tulisan ini saya buat berdasarkan cerita dari pertemuan langsung dengan Rianto di Melbourne, Victoria, Australia yang berlangsung pada rentang tahun 2022 dan 2023. Tulisan ini terbagi atas tiga babak, yakni babak pengarsipan, babak pertunjukan, dan babak latihan. Pembagian babak ini dibuat berdasarkan pada kronologi waktu pertemuan. Dari tiga babak tersebut, Rianto bersetia pada tubuh lenggernya sebagai modal dalam melakukan dokumentasi, kolaborasi, serta eksplorasi. Atas dasar itu, saya menyematkan terma menjelajahi (v. Je.la.jah) sebagai wujud aktif dari koreografer dalam mengarungi semesta tari untuk ketiga tujuan tersebut, dan mengurai Lengger dalam tubuh dan tinubuh dari seorang koreografer bernama Rianto.

*

Setelah Rianto mementaskan karyanya yang bertajuk “Hijra’h” di gelaran Rising Melbourne Festival 2022 selama empat hari, 9 hingga 12 Juni 2022, ia tidak langsung kembali ke tanah air dan tinggal lebih lama di Melbourne. Tepatnya tahun lalu, 25 Juni 2022 saya menjumpai Rianto di Somerset Pl, pada sebuah kedai bernama Cartel Coffee Roasters. Di kedai kopi tersebut, Rianto menceritakan alasan mengapa ia masih berada di Melbourne. Usut punya usut, ia masih terlibat pada sebuah proyek—dapat dikatakan sebagai residensi—pendokumentasian tari lengger. Sontak saya tertegun dan penasaran atas proyek tersebut. Pasalnya pendokumentasian gerak tari bukan hal yang mudah dilakukan. Pada kajian tari, para sarjanawan-wati sudah lebih lama mengenal pendokumentasian gerak melalui notasi. Penotasian pada tari dikenal dengan nama notasi laban. Notasi atau cara pencatatan ini ditemukembangkan oleh Rudolf von Laban pada tahun 1920-an. Notasi ini digunakan sebagai sistem analisis dan perekaman gerak penari. Sarjanawan-wati Barat abad ke-20 acap dan cakap dalam melakukan notasi laban tersebut.

Sementara di Indonesia, nama yang cukup familier dengan notasi tersebut adalah mendiang R. M. Soedarsono. Profesor sejarah tari tersebut bahkan turut mengajarkan pada muridnya—yang mereka adalah pengkaji tari di Indonesia. Namun yang patut diakui, jika tidak banyak lagi yang mewarisi ilmu R. M. Soedarsono tersebut secara utuh. Beberapa alasan melatarinya, seperti notasi laban tidak dapat mencakup semua gerak tari nusantara; bentrokan dengan teknologi perekaman yang membuat penotasian bukan menjadi pilihan tunggal; atau penotasian kurang terlalu dilirik karena proses transmisi tari ke generasi selanjutnya masih berjalan baik. Di sisi lain, notasi laban di Indonesia kerap digunakan pada tari kerajaan, bukan tari rakyat. Hal ini turut membuat bagaimana jarak atas apa yang dimaknai sebagai tari semakin besar, sementara minat penelitian tari rakyat dan di luar tari kerajaan semakin tinggi. Alhasil, hal-hal itu—dan tentu masih ada beberapa faktor lain, seperti arah pewacanaan tari, visi dan misi institusi, serta pemaknaan tari di Indonesia—yang membuat notasi laban tidak lagi dikerjakan di Indonesia.

Maka, yang dikatakan Rianto tentang pendokumentasian tari tentu menyita perhatian saya. Namun yang menarik, bukan dengan notasi laban atau didokumentasikan dengan video rekam, melainkan pendokumentasian dengan menggunakan teknologi bernama motion picture. Bersama Monica Lim seorang sound artist Melbourne—dan juga kandidat doktoral di University of Melbourne—, proyek tersebut dikerjakan. Pun proyek tersebut turut melibatkan komposer dan audiovisual artist tanah air—yang juga doktoral kandidat di University of Melbourne—, Patrick Hartono. Proyek pendokumentasian yang berupa residensi selama dua minggu di TrakLAB VCA (Victorian College of the Arts), University of Melbourne ini merekam gerak demi gerak tari Lengger yang diperagakan oleh Rianto.

Masih terngiang bagaimana Rianto mengartikulasikan prosesnya, di mana ia menggunakan busana dengan banyak sensor detektor gerak yang ditempelkan di sepanjang ia menari. Lantas gerak tari tersebut menjadi data digital dan tergambarkan pada sebuah layar. Hal ini yang kerap digunakan oleh film-film Holywood, semisal Avatar si makhluk biru yang semua geraknya berasal dari motion picture gerak manusia. Alhasil setiap gerak dalam satu karya atau repertoar tertentu akan tercatat secara utuh. Pun pada pelaksanaannya, Rianto menarikannya per bagian dan tentu akan diulang-ulang untuk mendapatkan gerak yang ideal, atau sreg baginya.

Hal yang menarik, sebagaimana pendokumentasian menuntut semua gerak tercatat secara detail, Rianto mengakui jika ada gerak tari yang belum bernama. Konsekuensi logis dari hal tersebut adalah penyematan nama untuk gerak-gerak tak bernama tersebut. Penyematan nama baru ini turut menuntut pemahaman konteks dalam penggunaan bahasa seputar Lengger. Kendati demikian, patut dipahami jika motion picture tetap tidak dapat mengabadikan hal yang abstrak, seperti rasa; ataupun gerak-gerak tertentu, semisal kibasan selendang dari penari—karena sensor detektor gerak hanya mendeteksi tubuh, sementara selendang tidak terdeteksi—, tingkat keluwesan gerak tertentu, dan seterusnya. Tak dapat ditampik, selalu terkandung celah dalam mencari nilai ideal dalam pendokumentasian, karena mau bagaimanapun dokumentasi atau notasi memang bukan diciptakan untuk menandingi yang asli, melainkan menjadi medium pencatatan tertulis yang menjadi opsi dari medium lain bernama ingatan.

image001 | Bertemu Rianto, Menjelajahi Lengger : Catatan dari Melbourne
Sumber: https://www.instagram.com/p/CgifGsrhAoH/?hl=id

Di luar itu semua, sebagaimana sebuah proyek dokumentasi, sudah barang tentu data digital mereka dapat menjadi arsip yang penting, baik untuk pelestarian di masa depan, pembelajaran di pelbagai tingkat pendidikan, atau penggunaan untuk tujuan hiburan. Ihwal pembelajaran, pun saya bersepakat dengan Rianto, jika hal ini berpotensi diakses dan dipelajari oleh mahasiswa dari mana saja dan kapan saja. Berbeda dengan video, motion picture mempunyai kelebihan dalam penggambaran tiga dimensi yang dapat dilihat dari sudut pandang manapun. Alhasil dalam pelaksanaannya, seorang siswa ajar dapat memahami gerak dari pelbagai sisi tubuh. Tentu ini menguntungkan dari sisi pembelajaran, apalagi untuk mereka yang tidak berada di Banyumas dan mereka yang tidak disertai dengan guru tari.

Sementara untuk tujuan hiburan, semisal digunakan untuk video game atau animasi tertentu, hal yang perlu lebih lanjut diperhatikan adalah ihwal hak cipta dan ke mana sebaran data digital digunakan. Apakah sebaran data render gerak tari ini hanya pada institusi pendidikan seni atau tersebar ke sanggar di manapun berada? Bagaimana cara mengaksesnya?, dan seterusnya. Siapa yang kelak memiliki tari Lengger? Tentu kita tidak sabar menantikan bagaimana data render tari Lengger ini digunakan pada konteks dan perspektif yang berbeda. Pasalnya hal ini tentu mendorong perbincangan wacana tubuh pada tari menjadi lebih dinamis, yakni tubuh terwujud dan tubuh nir-wujud. Belum lagi soal tubuh dan artifisial intelegence (AI) yang sama-sama menari. Lantas apakah itu tari, penari, dan menari?

 Lebih lanjut, hal ini sekaligus “mengganggu” bagaimana posisi ketokohan dalam jagat tari di masa depan? Apakah kita masih membutuhkan guru tari? Jika masih membutuhkan, lantas apa yang diharapkan? Barangkali, ihwal rasa. Namun apakah rasa tidak dapat ditemukan secara sendirinya melalui teknologi dan wadah yang digunakan? Apakah muncul rasa atau entitas yang baru dalam tari? Bagaimana ketika dua entitas itu bertemu? Apakah mereka bertarung, berkelindan, atau justru menyangsikan keduanya? Di luar pertanyaan-pertanyaan tersebut, saya mengapresiasi bagaimana kerja dokumentasi tari terus berlipat ganda.

* *

Secangkir kopi Rianto letakkan di atas meja. Pertemuan menyita waktu cukup panjang, mulai dari perbincangan serius hingga senda gurau. Sebelum meninggalkan kedai, Rianto lantas menutup ceritanya dengan kabar gembira atas karya yang dalam waktu dekat akan ditampilkan. Sebuah karya bertajuk “Jagad”, akan dipentaskan selama 5 hari, 3-7 Agustus 2022. Arts House, sebuah tempat pementasan di North Melbourne Town Hall, Queensberry St menjadi lokasi terjanji. Setelah Rianto terangkan, saya berujar tak sabar menantinya. Pasalnya proyek dokumentasi dan pementasan tentu berbeda pangkal, di mana dokumentasi akan merujuk pada satu atau lebih repertoar tari Lengger, sementara pementasan karya kontemporer akan mendorongnya mencipta koreografi baru yang bermuara pada Lengger. Bersamaan dengan cerita itu, hari semakin petang. Kami melangkah keluar kedai dan berpisah jalan. Saya menuju ke arah Coburg sementara Rianto ke arah sebaliknya, Southbank.

            Beberapa hari menuju hari pertunjukan, saya membuka laman di internet yang menjelaskan mengenai pertunjukan. Saya dapati informasi terkait penampil dan deskripsi pertunjukan. Sebagaimana yang Rianto jelaskan kepada saya di kedai, pada karya tersebut, Rianto masih bersama dengan Monica Lim dalam menggarapnya. Pun dari informasi pertunjukan yang saya dapati, karya ini bertitik tolak dari film pendek tari yang digarap oleh sutradara kawakan Garin Nugroho, komposer Monica Lim, dan koreografer Rianto beberapa tahun sebelumnya. Berangkat dari film pendek tari tersebut, “Jagad” menjadi ruang cipta-kembang dan menempatkan karya ini pada bentuk yang berbeda, yakni pertunjukan langsung. Alhasil karya ini bukan karya alih wahana, melainkan karya baru.

Dalam mewujudkan karya tersebut, Arts House dan Monica mendapuk tugas menjadi produser. Selain itu, Monica juga mengemban tugas sebagai pengampu konsep kreatif, penata suara, serta penampil. Sementara pada urusan koreografi, Rianto turut berkolaborasi dengan koreografer Jawa-Australia, Melanie Lane—koreografer yang cakap dalam wacana dan acap menyoal tubuh. Seingat saya, saya pernah menyaksikan karya Melanie yang bertajuk “Wonderwoman” yang kala itu dipentaskan di Indonesian Dance Festival 2018 di Black Box, Komunitas Salihara. Pada karya “Wonderwoman”, saya menggarisbawahi soal bagaimana Melanie bermain-main dengan ketangkasan fisik, konstruksi tubuh, dan bias gender. Maka tidak sulit membayangkan akan bagaimana hasil kolaborasi ini patut dinanti.

BACA JUGA:  Seberapakah Kita Memberi Ruang Pada Ekspresi Tubuh, Gerak, dan Penciptaan Tari?

Koreografi dari Rianto dan Melanie ini lantas akan ditampilkan oleh Lilian Steiner, Surekha Krishnan, Mason Kelly, Samuel Harnett-Welk, dan Damien Meredith. Tak hanya mereka, pun Rianto akan menari bersama mereka. Sebagaimana karya lintas disiplin, karya ini juga mengikutsertakan film pendek—sebagai titik tolak—dan rekaman kamera langsung yang ditembakkan pada sebuah proyektor. Hal ini membuat keterlibatan Sean Healy dan James Wright sebagai penata kamera live; dan Sean Healy dan Emile Zile sebagai operator kamera live. Sementara pada ihwal pengelolaan cahaya, Nick Moloney dipercaya menjadi penatanya; dan Kaite Head bertindak sebagai stage manager. Karya ini didukung oleh Arts House, Creative Victoria, dan Project Eleven.

Dari informasi tersebut, karya ini terinspirasi dari pertanyaan, ada berapa semesta yang kita tinggali? Lebih lanjut, karya ini berangkat dari konsep Jawa tentang semesta, tertulis, inner dan outer universe—yang saya coba tautkan dengan jagad gedhe (makrokosmos) dan jagad alit (mikrokosmos). Kedua jagat ini saling bertaut dan tumpang tindih, dan dari kelindan itu karya ini mencoba untuk bermain-main dengan keduanya, sekaligus mengajak kita untuk menentukan tempat di kelindan tersebut. Tak sabar untuk menantikannya.

Tanggal 3 Agustus 2022 petang, saya bersiap-siap menuju Queensberry St, North Melbourne—tempat di mana Arts House berada. Sebagai warga Brunswick, trem 58 adalah transportasi publik paling nyaman. Di tengah rute, saya berganti ke trem 57 untuk mengantarkan saya tepat ke depan lokasi pertunjukan. Keadaan Melbourne di kala itu tidak terlalu nyaman buat saya, baik cuaca yang dingin dan berangin—apalagi saya orang yang rentan masuk angin—; maupun penggunaan masker yang masih digalakkan—maklum Covid-19 masih menjadi momok. Setelah tiba 20 menit sebelum pentas dimulai, saya memasuki ruang depan untuk bercengkerama. Sepuluh menit sebelum dimulai, para penonton sudah diperbolehkan masuk ke arena pertunjukan. Ruang berlatar hitam dengan sebuah layar putih tergantung di tengah arena. Kami para penonton dapat memilih untuk menyaksikan dari sisi sebelah kiri atau kanan. Untuk memudahkan, ilustrasi panggung saya sertakan.

image003 | Bertemu Rianto, Menjelajahi Lengger : Catatan dari Melbourne

Saya memilih sisi kiri dari arena pertunjukan dan memilih tempat duduk yang memberikan cukup luas sudut dan jarak pandang, yakni bagian tengah di sisi belakang. Sembari menunggu dimulai, sebuah film pendek tari—sebagai pijakan karya—diputar dan ditembakkan pada sebuah layar di tengah arena pertunjukan. Pada film pendek tersebut, terlihat Rianto tengah bersolek, menggunakan satu demi satu riasan di wajahnya. Sementara sudut pandang video tidak hanya merekam aktivitas tersebut, tetapi turut berfokus pada bagian-bagian tertentu dari apa yang ia rias, semisal mata, kening, dan sanggul. Hal ini tentu menarik, di mana penonton diajak saksama untuk menyaksikan lapisan makna dari Rianto sebagai subjek, yakni Rianto sebagai individu maupun penari Lengger yang tengah melakukan aktivitas bersolek (personal) dan juga untuk kepentingan pertunjukan (publik). Sementara pada wujud yang lain, penonton yang sudah melihat Rianto versi yang terekam segera berganti menjadi yang riil, bersamaan dengan mulainya pertunjukan.

Pada pertunjukan tersebut, Rianto tentu menjadi sentral. Beberapa menit di awal, bahkan ia mendominasi arah pertunjukan. Kosa gerak Lengger dan beberapa tari Jawa seperti tari gagahan ia tampilkan. Apalagi ketika ia mengenakan topeng kerbau di kepalanya, di mana geraknya berubah menjadi maskulin. Penguasaan panggung juga Rianto kuasai. Hal ini saya tatap karena panggung terkesan memiliki dua sisi. Penonton yang berada di kiri dan kanan seakan dibatasi layar. Oleh karena itu, Rianto jadi harus terus bergerak—bahkan berlari—untuk mengakomodasi ke dua sisi. Pada awalnya, aktivitas berlarian ke salah satu sisi panggung membuat saya bertanya-tanya, bagaimana pada sisi panggung yang ditinggalkan? Apakah akan dibiarkan kosong? Alih-alih demikian, layar di tengah arena—yang ternyata tidak tebal—membuat kesan bayang dan samar-samar pada setiap sisi yang ditinggalkan. Hal ini membuat Rianto tidak benar-benar meninggalkan sisi panggung lainnya.

image005 | Bertemu Rianto, Menjelajahi Lengger : Catatan dari Melbourne

Alih-alih Rianto terus mengakses kedua sisi di sepanjang pertunjukan, para penari turut terbagi ke kedua sisi sesuai jumlah. Pun mereka juga saling bertukar sisi satu sama lain. Hal ini membuat Rianto dapat memasuki sisi mana pun setelahnya. 

Selain soal pola lantai, koreografi kelima penari lainnya juga tak kalah menarik. Lilian Steiner, Surekha Krishnan, Mason Kelly, Samuel Harnett-Welk, dan Damien Meredith menunjukkan dimensi gerak yang kaya dan beragam. Ada bagian di mana mereka meniru gerak Rianto secara persis, ada kalanya mereka bergerak dengan koreografi di luar Lengger. Untuk peniruan gerak Lengger, di sini tentu tampak perbedaan perbendaharaan tubuh yang spesifik atas kosa gerak Lengger yang ditarikan, apalagi perbedaan kultural penari yang berbeda satu sama lain, semisal tubuh Asia, tubuh India, dan tubuh kaukasian Australia. Alih-alih mengganggu, saya justru melihat pertemuan gerak tari Lengger dengan perbendaharaan tubuh di luar Lengger sebagai keasyikan tersendiri. Kekhusyukan mereka menunjukkan bagaimana memori tubuh setiap penari bernegosiasi secara sendirinya. Sementara untuk gerak di luar Lengger, koreografi yang dibuat justru terasa kuat karena menunjukkan perbendaharaan gerak, tempo, dan pola lantai yang khas. Campur tangan Melanie membuat gerak menjadi tidak terhambur begitu saja dan terasa tepat guna. Kesan akan detail gerak bahkan menjadi semakin kuat apalagi ketika berpadu dengan gerak Lengger ala Rianto.

Di dalam pertunjukan, pun beberapa kesempatan membuat gerak Lengger yang tengah Rianto tarikan bertemu dengan koreografi yang telah seragam diperagakan oleh para penari. Kiranya, ada dua hingga tiga kali pertemuan gerak ini terjadi—yang ditandai ketika Rianto kembali memasuki panggung. Hal yang tidak kalah menarik—dan saya rasa penting untuk pertunjukan ini—adalah pertemuan tubuh riil dengan tubuh yang termediasi, terekam dan terproyeksikan ke layar. Bagi saya, relasi kerja lintas disiplin pada pertunjukan ini berhasil terjalin. Pasalnya, alih-alih mengganggu, layar justru menjadi perwujudan ruang antar dimensi yang dapat eksplisit terlihat.

Bagi saya, terdapat dua fungsi layar di tengah arena, pertama, memproyeksikan sorotan langsung kamera. Hal ini tampak di beberapa momen, seperti ketika Rianto tengah menari mengenakan topeng kerbau dengan sebuah visual mata Rianto dengan riasan—dari film pendek yang diputar sebelum pertunjukan; ketika dua penari tengah bersila di sisi kiri dengan visual dua penari lainnya yang tengah bersila di sisi kanan. Ini sungguh memukau secara visual! Kedua, ketika layar tidak memvisualisasikan gambar apa pun, ketebalan layar yang tak pekat (baca: terawang) membuat bayang dan visual Rianto maupun penari lainnya tampak ketika tengah mengakses salah satu sisi panggung. Seperti yang telah saya ungkap, efek samar-samar ini membuat kesan dramatis. Hal ini menunjukkan satu hal yang penting, membiarkan layar kosong justru membuat jeda dan tidak berlebihan. Laiknya musik, momen diam juga penting, bukan? Atau laiknya seni rupa, tidak semua kanvas harus terisi warna, bukan? Singkat kata, karya ini penting akan bagaimana lintas disiplin seni bertaut.

image007 | Bertemu Rianto, Menjelajahi Lengger : Catatan dari Melbourne
Sumber: https://melanielane.info/collaborations/jagad-monica-lim-and-rianto

Namun, saya justru mengkritisi momen di penghujung akhir karya. Jadi saya membagi pertunjukan ke dua momen, yakni momen di mana Rianto dan para penari tengah mengartikulasikan jagat, di mana terdapat lapisan di antaranya. Hal ini dapat tampak dari interaksi Rianto dan para penari, terkadang saling mengikuti, tetapi juga bergerak secara mandiri. Pun interaksi tersebut dapat ditafsirkan sebagai pertemuan jagat, sekaligus tumpang tindih di antaranya. Sementara momen kedua, momen chaos. Di mana ketika semua layar terangkat dan piano masuk ke dalam arena. Tubuh Rianto dan para penari yang telah berwarna merah. Gerak mereka telah banal, berteriak, menyeringai, menimbulkan kesan chaos. Sampai di situ saya dapat menikmatinya, tetapi saya menyayangkan alasan mengapa Monica tampil di panggung dengan sebongkah piano bermerek Yamaha hitam yang digeret ke sana kemari. Betul, memang timbul kesan chaos, tetapi bagi saya masuknya sebongkah piano justru menambah elemen baru yang antah-berantah pada sebuah chaos yang telah mereka bangun sejak awal. Apalagi ketika piano Yamaha dimainkan secara dramatis oleh Monica dari bagian atas, sementara para penari lainnya mendorongnya berputar arena. Jika Monica dimaksudkan sebagai penonton yang tengah menjawab ajakan untuk menentukan tempat di jagat ini, hal ini justru terasa gamang, apalagi Monica yang justru ikut dan larut dalam pusaran chaos tersebut.

Bertolok dari hal tersebut, karya ini tetap memiliki daya tarik, khususnya pada koreografi dan kerja lintas disiplin. Hal ini dibuktikan dengan nominasi dari Green Room Awards, Melbourne’s Performing Arts Awards untuk karya “Jagad” ini. Dari nominasi yang ada, karya ini mendapat nominasi untuk penampil terbaik dan ensemble terbaik pada kategori tari. Pengumuman untuk siapa yang memenangkan nominasi-nominasi tersebut akan diumumkan pada bulan ini, Mei 2023, informasi lebih lanjut dapat dilihat di sini. Sementara dari kritikus lokal, saya tidak mendapati komen miring dari pertunjukan.

BACA JUGA:  Pertunjukan Sandbox Bento: Disabilitas Bukan Objek untuk Dikasihani

Pasca pertunjukan usai, saya menunggu beberapa saat para penampil keluar. Namun karena tidak kunjung datang, akhirnya saya memutuskan untuk pulang ke rumah, sembari kembali membayangkan bagaimana kerja lintas disiplin tersebut bekerja. Beberapa hari setelah pertunjukan, saya bertukar pesan dengan Rianto melalui ponsel pintar. Saya diminta untuk mereview pertunjukan tersebut, tetapi pada proses penulisan saya justru terpapar Covid-19 yang membuat tulisan itu tak kunjung usai, hingga akhirnya catatan—tentu dengan cara dan gaya kepenulisan yang berbeda—ini saya terbitkan. Pasca pertunjukan, kami hanya bertukar pesan sesekali hingga tahun berganti.

* * *

Pada sebuah siang di akhir bulan Februari tahun 2023, sebuah panggilan telepon masuk ke ponsel pintar saya. Tertulis nama Patrick Hartono di layar gawai saya. Namun karena masih berada di dalam kelas, telepon tersebut tidak dapat saya angkat. Beberapa saat setelahnya, saya mendapatkan pesan suara darinya. Patrick mengatakan jika ia sedang bersama Rianto. Tak lama berselang, Rianto mengambil alih telepon tersebut dan mengajak saya menyaksikan latihan mereka. Saya menyanggupinya, rencana berkunjung segera saya ajukan.

Sebenarnya kabar Rianto kembali ke Melbourne bukan berita baru untuk saya. Beberapa saat sebelumnya, Rianto memang telah memberitahukan saya jika pada tahun 2023 ia akan kembali berpentas untuk karya barunya. Lantas kami bertukar pesan, dan berjanji akan menemuinya pada 26 Februari 2023. Dance Studios, Faculty of Fine Arts and Music, University of Melbourne yang berlokasi di Southbank—45 menit menaiki transportasi publik dari tempat di mana saya tinggal—menjadi lokasi tujuan. Ketika itu saya tiba pada pukul 15.30 waktu setempat. Beberapa menit saya menunggunya di luar, hingga seorang pria kaukasian bernama Dobrin menghampiri saya di luar gedung.

Kami berkenalan satu sama lain, dan segera mendapatkan informasi jika dirinya tengah menempuh studi doktoral di Department Antropologi, UGM, Yogyakarta. Penelitian doktoralnya membahas tentang tari Lengger Banyumasan. Pada karya ini, ia membantu Rianto dan tim dalam hal pelaksanaan. Setelahnya kami bersama menaiki tangga menuju studio di mana Rianto dkk. tengah berlatih. Saya mendapati wajah-wajah yang telah saya kenal, seperti Rianto, Patrick Hartono, Monica Lim, dan juga Tamarra Pertamina—yang sudah saya ketahui sejak tinggal di Yogyakarta; dan tentu berkenalan dengan kawan-kawan baru, seperti, Carol Brown, Sigit Kurniawan, dan Suratno alias Kadhim.

Memasuki ruang studio berlatar putih, latihan telah usai. Tentu saya agak menyesal tidak datang lebih cepat sehingga membuat saya tak dapat melihat latihan mereka. Kendati demikian saya justru dapat melihat aktivitas setelah latihan dilakukan. Terdapat sesuatu yang menyita perhatian saya, yakni beberapa kostum rajutan berwarna putih tergeletak di lantai. Setelahnya sang pembuat kostum, Tamarra merapikannya bersama seorang penari, Sigit. Sementara Kadhim di sisi yang lain tengah mengemas kendangnya. Kesempatan ini saya gunakan untuk bertanya kepada mereka sembari membantu berkemas, khususnya tentang properti yang digunakan, musik yang dibawakan, koreografi, dan seterusnya. Hal ini dilanjutkan pada sesi barbeque—kebiasaan masyarakat Melbourne di kala Summer. Di saat yang sama, saya juga kembali bertanya kepada Rianto terkait jadwal latihan ia ke depan. Pasalnya pentas akan digelar pada 4 dan 5 Maret 2023 di Sydney, New South Wales, Australia. Dari perbincangan itu, saya mendapatkan dua informasi, bahwa durasi latihan Rianto setiap harinya berkisar 6 hingga 8 jam, dan saya mendapatkan kesempatan untuk menyaksikan satu hari dari rehearsal mereka, yakni 1 Maret 2023. Sungguh beruntung!

            Sembari menunggu tanggal terjanji, saya mencari tahu lebih atas pertunjukan yang tengah mereka siapkan. Tajuk dari pertunjukan ini adalah “Queers of Java”. Tentu tajuk pertunjukan ini menyita perhatian lebih, apalagi ia mengemban terma yang masih terus dirundingkan di Indonesia, yakni soal queer. Tak hanya itu, karya ini berpadu dengan terma lainnya, Jawa. Dalam hal ini, Jawa tidak dapat dimaknai tunggal sebagai pulau beserta isinya, tetapi juga ihwal Jawa sebagai budaya. Dengan konotasi yang sama-sama kuat, maka pelbagai pertanyaan muncul terkait tajuk karya ini. Semisal apa itu queers di Jawa? Apakah queers merujuk pada satu bentuk saja? Bagaimana penerapannya pada karya tari? Sejauh mana tarik-ulur queers diartikulasikan? Bagaimana menerjemahkan Lengger sebagai perwujudan queers di Jawa? Oleh karena perjalanan queers yang terlampau panjang, bagaimana Rianto mendekatinya?, dan seterusnya. Kendati demikian, deskripsi dari karya ini sedikit mencoba mengartikulasikan apa yang dimaksud dari tajuk dan arah pertunjukan. Pada deskripsi karya, tertulis:

Queers of Java is a ritual to dispel dichotomies, a prayer for survivance. In this new work, acclaimed Indonesian dancer Rianto sets free the cross-gender Lengger from the binaries that society has constructed to symbolise nature – male or female, day or night, happiness or sadness –  to encapsulate the concept of indang, a spiritual dimension that is neither male nor female. By placing the body once again at the epicentre, Rianto will attempt to reclaim the lengger body that has undergone the long journey from the spiritual, to the material and through to the digital. New possibilities of the lengger body are imagined by an Australian-Indonesian team of dancers, performance artists, sound and video technologists to collapse division between sound and movement, real and unreal, analogue and digital. What is traditional and what is contemporary are indistinguishable. The body becomes a topology through which the Lengger becomes inverted, stretched, deformed, unlimited. | (https://my.sydneydancecompany.com/overview/1514)

Dari deskripsi di atas, beberapa poin kiranya menunjukkan bagaimana karya diarahkan. Alih-alih ingin mendefinisikan apa itu queer di atau dari Jawa, Rianto dkk. ingin mengartikulasikan bagaimana cara meretas batasan konsepsi atas gender yang ada. Atas dasar itu, Lengger menjadi rujukan, pasalnya terdapat konsep indang—sebuah dimensi spiritual yang bukan menunjukkan laki-laki maupun perempuan. Konsep ini jugalah yang merujuk pada berbagai binari oposisi, semisal laki-laki dan perempuan, siang dan malam, kebahagiaan dan kesedihan, dan seterusnya. Melalui tubuh Lengger, karya ini meletakkan tubuh sebagai topologi atau medium perantara yang dapat membolak-balik, merenggang, mengubah bentuk, bahkan melampaui. Bangunan konsep ini yang kiranya dibayangkan dalam menghadirkan karya “Queers of Java”. Kendati masih diliputi banyak pertanyaan, menyaksikan koreografi tetap menjadi cara memahami, bukan?

Dalam mewujudkan karya ini, Rianto dan Monica Lim bertindak sebagai penanggung jawab konsep kreatif. Pun Rianto turut bertanggung jawab pada ihwal koreografi. Tak sendiri, Rianto juga ditemani oleh Carol Brown, selaku dramaturg. Pada ihwal bunyi, Patrick Hartono dan Monica Lim bertugas dalam menyusun interactive sound maupun visual design. Sedangkan pada penataan cahaya, Giobanna Yate Gonzalez bertugas mengelolanya. Sementara soal kostum, rajutan berwarna putih yang telah saya singgung sebelumnya, dibuat oleh Tamarra. Hal yang menarik, rajutan itu terbuat dari tali rafia—yang berarti memakan waktu yang cukup panjang dan dilakukan lebih dari satu orang. Setelah berbicara dengan Tammara, ternyata tali rafia itu memang dikerjakan olehnya bersama teman-teman trans. Luar biasa! Semua unsur tersebut mendukung para penampil, yakni Rianto, Tamarra, Sigit, dan Suratno yang akan pentas di Neilson Studios, Sydney Dance Company, di Hickson Road Dawes Point, New South Wales, Australia. Karya ini diproduksi oleh Project Eleven, Sydney Dance Company yang bekerja sama dengan Sydney WorldPride. Karya yang digelar pada 4 dan 5 Maret 2023 ini dipentaskan tiga putaran, pukul 18.00 dan 20.00 di hari pertama, dan pukul 18.00 diikuti dengan sesi tanya jawab di hari kedua. Oleh karena itu, menyaksikan rehearsal mereka harus saya lakukan, apalagi saya tidak dapat mengunjungi Sydney pada tanggal pementasan mereka.

            Pada tanggal 1 Maret 2023 pada pukul 15.00 saya tiba di Dance Studios, Faculty of Fine Arts and Music, University of Melbourne, gedung yang sama dengan kali pertama saya bertemu mereka, 26 Februari 2023 yang lalu. Oleh karena kegiatan belajar mengajar University of Melbourne telah kembali dimulai, maka mereka berpindah ruang studio. Pada kali ini, mereka berlatih di panggung pementasan. Berlatar gelap dengan bangku penonton, arena pertunjukan, dan fasilitas yang memadai—mengingatkan saya pada black box di Salihara, Jakarta. Ketika itu mereka tengah bersiap-siap untuk rehearsal, sebelum mereka berangkat ke Sydney. Di ruang tersebut, Patrick dan Monica tengah duduk di bangku penonton paling depan sembari menyiapkan musik; Rianto, Suratno, Sigit, dan Tamarra yang berada di panggung; Carol Brown juga telah duduk di bangku penonton bagian depan, sedangkan Giobanna duduk di bagian belakang. Saya memilih untuk duduk di tengah bersama Dobrin dan salah seorang kawan Rianto yang lain. Beberapa menit berselang, mereka bersiap-siap dan pertunjukan dimulai.

BACA JUGA:  (PERCAKAPAN) Kompleksitas Tatapan dan Kesadaran atas Kuasa pada PESONA

            Pertunjukan diawali dengan bunyi calung yang dimainkan oleh seorang laki-laki dengan sanggul di kepalanya dan kostum rafia di tubuhnya, Suratno. Di sisi yang lain, Sigit dengan bawahan rajutan rafia putih mulai berderap dengan tangan mengayun ke atas dan ke bawah selama enam-tujuh menit. Setelahnya Tamarra yang tengah merajut kostum rafia di sisi belakang panggung menghampiri Sigit dan membantunya mengenakan kostum rafia tersebut. Sementara Rianto tengah terbaring di tengah panggung dengan tertimbun kostum rafia berukuran besar. Berikutnya, Tamarra menghampiri Suratno dan duduk di sebelah kendang dengan posisi tubuh laiknya sinden. Mereka bersahut satu sama lain, bersamaan dengan itu Rianto bangkit dari antara rajutan tersebut. Bagian ini menjadi bagian pembuka dari pertunjukan.

            Bagian setelahnya adalah artikulasi dari bagaimana tubuh Lengger menegosiasikan gender, ditandai dengan Rianto yang menari bersama Sigit. Mulai dengan menari dengan gerak Lengger di posisi masing-masing, hingga berinteraksi satu sama lain dan menari berpasangan. Hal yang menarik adalah jelajah panggung dari Rianto dan Sigit dalam mengakomodasi luas panggung. Alih-alih panggung terasa kosong, Rianto dan Sigit berhasil menguasainya. Mulai dari menari di tempat hingga berlari berkejar-kejaran membuat alur putaran di arena pertunjukan.

image009 | Bertemu Rianto, Menjelajahi Lengger : Catatan dari Melbourne
*Warna menentukan jangkauan penampil (Merah – Rianto; Kuning – Suratno ; Hijau – Tamarra; dan Biru – Sigit). Dibuat oleh saya.

Hal yang lebih menyita perhatian lainnya adalah bagian setelah mereka berlarian membentuk putaran, yakni kostum rajutan rafia perlahan terangkat ke udara. Terdapat empat kostum penampil yang tergantung, dengan kostum Rianto yang paling besar. Kostum yang tergantung tinggi tersebut membuat kesan magis, sekaligus berfungsi sebagai instalasi. Bagi saya, empat kostum tergantung ini menjadi bagian pertunjukan yang paling menarik. Karena kostum-kostum yang tergantung itu menunjukkan posisi di antara, tidak di darat tetapi tidak seutuhnya melayang di udara. Ia tertahan tetapi juga bergerak. Rasanya pas dengan apa yang ingin mereka ungkapkan.

            Setelahnya, terdapat beberapa bagian yang disusun, yakni saat Rianto menari secara tunggal di depan kostum; Rianto dan Sigit yang menari secara seragam dengan berhadap-hadapan; Rianto, Sigit, dan Suratno yang berjoget dangdut—ditandai Rianto menyanyi lagu dangdut, “Secawan Madu”; dan Rianto menari di depan kostum tergantung dengan proyektor terpancar padanya. Pada momen ini, menjadi menarik ketika gambar yang dipancarkan sesekali mengenai tubuh Rianto yang menari di depannya. Hal ini membuat Rianto berada di dalam tubuh Rianto. Hal ini seakan menunjukkan ruang di antara pada kostum yang sekaligus pada tubuh manusia, dan sejauh mana pancaran proyektor (sebagai konstruksi) disematkan atasnya. Dapat bekerja sebagaimana mestinya, menjadi besar atau kecil sesuai dengan respons tubuh atasnya. Beberapa saat setelahnya, kostum tersebut perlahan turun, kembali mengubur Rianto. Ia hilang dalam timbunan kostum tersebut. Tersirat makna akan tubuh yang sediakala tenggelam dalam ruang antara, tersurat hasrat akan memosisikan tubuh yang sejatinya di antara.

            Setelah rehearsal usai, mereka berkumpul bersama-sama di tengah arena pertunjukan. Sebelum evaluasi dimulai, Patrick dan Monica menanyai respons saya. Saya mengatakan pada Monica jika saya menyukai formasi keempat penampil dan bagaimana cara mereka mengakses panggung. Namun bagi saya energi penampil belum terkelola dengan baik. Keempat penampil memang memiliki peran dan energinya yang kuat satu sama lain, tetapi entah bagaimana sosok dan energi Tamarra yang besar justru seakan tak tampak. Saya menyarankan agar Tamarra bisa merajut rafia kembali di beberapa titik. Karena bagi saya, aktivitas Tamarra merajut rafia di awal pertunjukan, sungguhlah kuat. Aktivitas itu bahkan bagi saya dapat menjadi benang merah dari apa coba diartikulasikan, queer di Jawa—di mana ia terus dirajut pada bangsa bernama Indonesia. Perbincangan singkat itu lalu usai, dan Monica mempertimbangkannya, dan Monica mengangguk dan mempertimbangkannya.

Kendati demikian, saya sadar jika catatan saya adalah catatan untuk rehearsal mereka, bukan karya final mereka. Pasalnya pertunjukan final di Sydney tidak akan persis sama dengan apa yang saya saksikan. Di mana ada beberapa hal yang memang belum dipentaskan, semisal: potongan foto atau video yang disiarkan melalui proyektor di bagian belakang panggung; pencahayaan yang memang belum diterapkan; sound yang lebih memadai; dan tentu beberapa bagian yang belum dipertunjukkan hari tersebut, semisal, adegan interaksi dengan penonton ketika Rianto menyanyikan “Secawan Madu”, konon mereka akan melakukan joget bersama penonton; kostum mereka yang akan lebih total, di mana ketika rehearsal mereka menggunakan kaos dan celana sebagai dalaman dari kostum sebenarnya, dan lain sebagainya. Hal-hal itu tentu akan mengubah lagi kesan dan makna pertunjukan. Namun setidaknya, rehearsal yang saya lihat dapat memberikan bayangan atas karya yang mereka siapkan.

Sumber: https://www.instagram.com/p/CpYk4Gay0ME/

Beberapa saat berselang, semua yang terlibat pada karya telah berkumpul. Mereka memulai evaluasi dengan memberikan masukan satu sama lain. Carol sebagai dramaturg turut memberikan pujian, pertanyaan, dan juga masukan. Carol mulai menanyai detail gerak pada beberapa bagian. Namun cukup menarik bagaimana Carol memberikan masukan, di mana ia tidak pernah meminta dan memaksa, melainkan menanyakan dan memikirkan bersama. Atas pertanyaan-pertanyaan itu, Rianto mencoba menjelaskan bagaimana cara kerja tubuhnya dan menanggapi pemilihan gerak tertentu. Monica dan Patrick turut menimpali bagaimana pemaknaan gerak hingga mengapa gerak dilakukan. Evaluasi berjalan mengalir, seketika itu juga saya sadar bahwa beberapa perubahan akan dilakukan oleh mereka. Pun saya cukup senang, ketika Monica mengakomodasi masukan saya tentang bagaimana memaksimalkan gerak penampil.

Sayang saya tidak dapat menghadiri pertunjukan mereka di Sydney, tetapi melihat foto-foto pertunjukan pasca tanggal pementasan di Instagram—yang tentu telah dikurasi—, hal-hal yang tidak terjadi di rehearsal, seperti video di belakang layar ketika Rianto menari, interaksi joget dangdut bersama penonton, totalitas penampil dalam berpentas, menjadi highlight dari pertunjukan. Soal bagaimana hasilnya, saya tidak dapat menentukan. Pasalnya rumus saya dalam menulis kritik jelas, di mana kritikus harus hadir dan melihat secara langsung pertunjukan. Hal itu tak bisa diakali dan diingkari. Namun yang saya tahu, dari apa yang saya saksikan sebelumnya, saya melihat bagaimana karya “Queers of Java” terus berkembang, dan eksplorasi terus dilakukan oleh Rianto dan tim hingga beberapa hari sebelum pementasan. Hal ini menunjukkan bagaimana eksplorasi telah dan terus dilakukan, baik pada tari Lengger maupun ihwal gender.

* * * *

Tiga babak di atas adalah cara ukur saya dalam melihat penjelajahan yang Rianto lakukan atas Lengger di dua tahun belakangan. Hasil dari penjelajahan tentu beraneka. Ia bukan bak matematika yang menghasilkan angka pasti, melainkan memunculkan pelbagai kemungkinan atas apa yang telah dirancang, apa yang tidak dihitung, maupun keduanya. Bagi saya, ini tentu secuil dari perjalanan Rianto. Tentu ada banyak hal lain yang Rianto lakukan di Indonesia maupun Jepang—tempatnya tinggal. Namun yang saya jumpai sekaligus Rianto jalani di Melbourne cukup mengartikulasikan bagaimana sikap personalnya atas Lengger, yakni meletakkan Lengger bukan sebagai sesuatu yang kaku, melainkan cair dan dapat ditarik ulur untuk pelbagai tujuan. Soal apakah ketiga tujuan tercapai, bagi saya iya dalam konteks terjadinya dokumentasi, kolaborasi, dan eksplorasi. Namun ada bab lain, seperti: manajemen, komunikasi internal atau eksternal, pewacanaan, dan presentasi karya—sebagai sudut pandang melihat bab eksplorasi—yang mungkin berkata lain, atau dalam bahasa akademis disebut, memerlukan penelitian lebih lanjut. Terlepas dari itu semua, tentu penjelajahan Rianto belum usai dan masih terus berlanjut, terdapat banyak variabel lain yang terus berlipat ganda akan semakin mendukung atau menegasikannya. Dan tentu kesungguhannya pada Lengger yang dapat menunjukkan bagaimana akhir dari penjelajahan.[]

Michael HB Raditya

Michael HB Raditya

Penulis buku kritik seni pertunjukan yang bertajuk Merangkai Ingatan Mencipta Peristiwa: Sejumlah Tulisan Seni Pertunjukan (2018). Bekerja di Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa, Sekolah Pascasarjana, UGM.