fbpx

Mengalami Ruang, Waktu dan Peristiwa Teater di Hal-19 Wajah Pecah Sejarah Indonesia

[Ficky Tri Sanjaya]. Pengumuman promosi poster pertunjukan teater di hari ini sudah melalui sosial media. Tentu saja tidak hanya spesifik pada teater tetapi pula seni lain, atau kerja-kerja di bidang lain. Teater hari ini harus mampu beradaptasi dan menempuh cara baru promosi dengan hadirnya internet dan berbagai platform sosial media hari ini. Tentu berbeda dengan cara-cara ketika internet dan sosial media belum semarak seperti saat ini. Bagaimana berbagai cara ditempuh untuk menghadirkan penonton melalui; undangan, pers rilis media, cetak poster, spanduk, baliho, dll. Belum lagi usaha menempelkannya di tempat-tempat strategis pada kantong-kantong seni atau non seni. Tentu saja, berbagai hal tersebut membuat ongkos produksi menjadi tidak murah. Meski begitu teater masih saja terus berjalan dengan keras kepala. Hingga pada zaman yang ramai akan sosial media, yang lebih memudahkan promosi dan meringankan ongkos produksi hari ini; dengan satu ‘klik’ tombol handphone, berbagai informasi dan konsep dapat sekaligus disampaikan dalam satu kali postingan status.  Teater masih dapat bekerja. Hal tersebut tampak dari salah satu project yang menarik dari pertunjukan Kalanari Theatre Movement yang membawakan judul  “Hal-19 Wajah Pecah Sejarah Indonesia”,  yang di pentaskan di Stage Teater, Jurusan Teater,  ISI Yogyakarta, 17,18, 19 September 2021.

Tampaknya Kalanari masih optimis dalam mempercayai dan memperjuangkan teater. Sementara saat ini, “teater” yang lain lebih menarik perhatian publik: berita politik, kriminal, serta keriuhan berbagai acara pertunjukan yang tumpang tindih pasca pandemi covid-19. Kalanari melalui projet pertunjukannya Hal19: Wajah Pecah Sejarah Indonesia, tampaknya berusaha mencari dan memperjuangkan ruang eksitensinya sebagai produsen simbol. Karya Kalanari terbaca sebagai usaha merebut ruang, melalui ide atau isu pertunjukannya dengan berbagai cara. Yang utama usahanya terasa sebagai pertanyaan dan cara teater beradaptasi kembali dengan dunia ‘nyata’ dan ‘maya’ pasca pandemi.

Bagasi Penonton

Pertunjukan Hal-19 mengaktivasi pertanyaan dalam bagasi penonton, teater itu apa bagi para pelaku dan penontonya kini? Masihkah para pelaku dan penonton mempercayai teater sebagai ruang pertunjukan dan pertemuan di tengah berbagai keriuhan ‘teater’ lain di luarnya? Dan pertanyaan akan berlanjut. Pertunjukan dan pertemuan semacam apa yang dapat dicapai dari teater hari ini? Melalui pertunjukan Hal-19: Wajah Pecah Sejarah Indonesia, teater dengan kekuatan dramaturginya, menjadi seolah menemukan cara komunikasi di dalam hadirnya media online dan offline yang riuh. Misalnya ketika sejak awal Kalanari mencoba menyampaikan berbagai konsep dan promosi tentang aturan menonton pertunjukannya melalui akun instagram mereka. Sekilas tampak seolah rutinitas publikasi pada umumnya, mengundang penonton. Tetapi upaya Kalanari dengan melakukan pembatasan penonton, terbaca sebagai usaha mencari dan menemukan dramaturgi akan relasi ‘sakralitas’ baru dari teater dengan penontonnya. Tatanan informasi dan seperangkat aturan disertai konsep yang jelas yang mereka unggah dalam status sosial medianya, memantik penasaran netizen. Kalanari berusaha membujuk bahkan merebut ‘penonton teater’nya, untuk menoleh dari keriuhan rutinitas informasi lain. Apakah mungkin? Ya mungkin saja. Tinggal bagaimana cara teater membaca dan menawarkan komunikasinya, bukan?    

BACA JUGA:  Rembesan "Mili" Mbah Mantri: Transformasi Tradisi dalam Ekspresi Kontemporer "Kala-Kili"

Unggahan media sosial yang berisi informasi tata cara menonton pertunjukan Halaman 19 itu memang unik dan menimbulkan pertanyan, dan ketertarikan. Menciptakan kerumitan pada para penonton yang hadir sebagai salah satu pilihan dramaturgi komunikasi pertunjukannya. Seperti contoh: tidak boleh datang terlambat lebih dari pukul 19.19, penonton yang hadir diminta membawa buku bacaan favorit, serta penonton dibatasi hanya berjumlah 19 orang. Mungkin saja durasi pertunjukan tersebut juga hanya 19 menit, dalam dua babak pertunjukannya. Informasi yang terakhir tidak disebutkan dalam promosi pentasnya. Ketika pementasan berlangsung, dan juga setelahnya, berbagai tawaran dan aturan dalam menonton pertunjukan H-19 itu terasa sebagai ‘sakralitas’ baru dan daya tarik penonton menikmati dan memahami teater, dari segala keriuhan aktivitas rutin manusia saat ini.

Tawaran Pertunjukan

            “Dalam setiap pengkaryaan teater Kalanari (sependek yang saya alami), teks menjadi segala sesuatu yang “potensial” dijadikan rujukan atau sumber nilai penciptaan karya. Bisa berupa kenyataan objektif di luar hidup si pencipta (sutradara, aktor, penata artistik, bahkan perangkat pertunjukan lainnya seperti penonton) atau kenyataan subjektif dalam diri si pencipta itu sendiri. Jadi, tidak melulu teks dialami sebagai tulisan atau tuturan yang mengandung kata-kata yang “beramanat”. “Di” Kalanari teks bukan sekadar form tapi juga concept; teks adalah apa pun. Antara teks yang saya alami sebelumnya dengan teks “di” Kalanari terlihat ada “ketegangan”—meski keduanya memiliki “kesesuaian”, yakni teks sebagai sebuah jaringan (intertekstual), yang saling kutip-mengutip, hingga sebuah teks menjadi pabrik kutipan atas teka-teks lain. Masing-masing teks saling berpaut untuk kemudian merancang teks yang lain (baru). Ketegangan yang sengaja saya kesampingkan guna menikmati pengalaman teks Kalanari.”[1]

Tentang tawaran pertunjukan Kalanari hari ini dapat kita tengok di salah satu media online resminya di www.kalanari.org atau pada instragramnya @kalanariteatermovement. Media-media ini sepertinya menjadi salah satu bagian penting untuk membaca tawaran pertunjukan Kalanari. Misalnya; bagaimana caranya berpromosi adalah bagian yang tidak terpisah dari jalan memahami pertunjukannya itu sediri. Akun media sosialnya secara jelas, diatur dan dikonsep secara apik untuk tujuan informasi dan aktivasi pada penonton. Informasi tersebut berisi seperangkat aturan untuk mengalami pertunjukanya melalui media baru meski pertunjukannya kemudian bukan daring. Di bawah terlampir screenshot postingan Instagram Kalanari yang berisi materi publikasi Hal-19, secara berurutan.          

Tampaknya pertunjukan Hal-19 telah dimulai dari sosial media melalui materi promosinya yang bertujuan tidak hanya sebagai sumber informasi tempat dan waktu pementasan berlangsung, tetapi juga aktivasi pada penontonya. Kesadaran Aktivasi pada para penontonnya melalui informasi yang diberikan secara jelas dan rinci pada para follower dalam IGnya. Publikasi itu tidak saja menjelaskan asal-usul judul Hal-19, tetapi juga menjelaskan ketentuan-ketentuan yang harus disetujui dan dilakukan oleh siapa saja yang bersedia menjadi penonton. Inilah bentuk aktivasi penonton yang ditawarkan oleh Kalanari melalui promonya. Artinya seperangkat aktivasi di sini menjadi bagian dari seluruh rangkaian gelaran pertunjukan yang berkesinambungan, dan memiliki ikatan dengan yang berada di panggung. Contohnya adalah pertunjukan Hal-19 ini hanya memberikan kuota 19 orang penonton yang dapat hadir. Ini menjadi salah satu poin aktivasi penting dan berharga untuk dipahami siapapun yang ingin menonton.

BACA JUGA:  Catatan dari Next Generation Producing Program dan Menonton TPAM 2017

Penonton pun diwajibkan sudah berada di area pertunjukan pada pukul 19.19, tidak boleh terlambat dan diwajibkan membawa buku bacaan ketika masuk dalam ruangan teater dan mengambil kertas gulungan semacam arisan, yang telah disiapkan dalam kotak berisi tulisan. Pemilihan lokasi panggung Stage Teater Jurusan ISI juga tampaknya sebuah pilihan dramaturgi yang disadari untuk menggiring penonton membaca “teater” ini. Awalnya tentu penonton digiring atau diperangkap dalam satu konsep menonton teater di panggung proscenium sebagaimana dikenal secara konvensional. 

Namun di sana ada aturan lain yang mengontrol penonton, seperangkat aturan menonton pertunjukan teater Hal-19 yang ternyata tidak konvensional. Penonton disambut oleh kehadiran Ibed Surgana Yuga (sutradara) sebagai penerima tamu di atas panggung dan meminta penonton bergabung mendekat. Ia memberi pengantar mengenai seperangkat aturan atau tata cara dalam menikmati pertunjukan Hal-19 yang dibagi dalam dua babak. Yang pertama penonton dibatasi ruang geraknya dengan hanya duduk membelakangi area permainan dan menonton melalui pecahan cermin yang telah digantung melingkari panggung, di depannya kursi tempat duduk. Penonton boleh menggoyang-goyangkan kaca untuk mengakses sudut tontonan dan bahkan boleh memfoto. Yang kedua, setelah pertunjukan babak pertama selesai, penonton akan mendapat gulungan kertas kedua berisi cara menonton babak kedua, dimana salah satu penonton akan maju berdiri membacakan halaman 19 dari buku yang dibawanya sendiri. Sementara yang lain akan mendapat intruksi lain yang berbeda.  

KEINTIMAN BERSAMA PENONTON

            Paska pertunjukan selesai, Ibed kemudian menutup pertunjukan dengan memperkenalkan seluruh personil yang terlibat dalam pertunjukannya. Setelahnya Ibed memberikan tawaran lagi pada penonton yang masih bersedia bertahan untuk berdialog dan mendapat cerapan dari para hadirin penonton yang datang. Hal tersebut menarik, karena diskusi semacam ini biasanya dilakukan untuk pertunjukan-pertunjukan yanng bersifat work in progress dan kadang terasa tampak tidak intim. Hal tersebut berbeda untuk kasus pertunjukan Kalanari malam tersebut. Diskusi penutup pertunjukan terasa sangat akrab dan menyenangkan. Ruang diskusi setelah menonton pertunjukan yang tidak konvensional, terasa seperti pengembalian ruang kuasa yang tadinya milik pelaku teater, saat itu terasa menjadi milik penonton. Interaksi berdialog mengenai ‘dapur’ dari proses pembuatan karya yang telah disaksikannya menemukan konsep yang pas dari keseluruhan rangkain dramaturgi yang dibangunnya. Keintiman bersama antara penampil dan penonton menjadi terasa karena penonton diberi ruang untuk berinteraksi secara langsung dengan pengkarya yang berlandaskan pengalamannya dalam menonton karya yang aneh dan non konvensional ini.

            Ruang interaksi dan dialog yang intim ini menjadi momen penting dan efektif untuk membincangkan Jarak yang menjadi salah satu tawaran wacana dalam seperangkat dramaturgi yang disusun dalam membaca panggung/stage tempat presentasi dilakukan. Di mana penonton dan penampil berada dalam satu ruang yang sama di atas panggung bersama penampil. Interaksi ini membuat pertunjukan malam tersebut menjadi sangat dekat dan intim. Menjadi semacam cara mengaktivasi ruang dan aktivasi demokrasi kepenontonan dalam keseluruhan pertunjukan. Tawaran terhadap keasadaran ruang tersebut menjadi penting, dan menjadi menarik sebagai pijakan akhir dari pertunjukan yang bertujuan interaktif bersama penontonnya.   

BACA JUGA:  BEASTLY : Ruang, Isu, Tema dan Dramaturgi

            Ketika ada salah satu penonton yang menayakan goal dari pertunjukan malam tersebut, Ibed menjawab belum tahu kedepannya akan bagaimana dan akhir dari pertunjukan ini akan seperti apa. Tetapi yang menarik dari pertunjukan ini justru tampaknya sesuatu yang tidak selesai dan yang misteri dalam project yang bernama “Hal-19 Wajah Pecah Sejarah Indonesia” itu. Ternyata pertunjukan ini adalah bagian dari salah satu seri panjang yang sudah dimuai sebelumnya dengan judul pertunjukan yang berbeda dan pernah dipertunjukan di Jakarta dan bali. Tampaknya Hal-19 ini, adalah  bagian dari Projet besar mengenai pembacaan  “Bayangan tentang Indonesia” hari ini melalui berbagai pertunjukan Kalanari.  

“Hal-19 merupakan sebuah teater yang mencoba memeristiwakan halaman 19 dari lima buku tentang Indonesia: Kepulauan Nusantara karya Alfred Russel Wallace, Krakatoa karya Simon Winchester, Sejarah Indonesia Modern karya M.C. Ricklefs, Negara Teater karya Clifford Geertz, dan Melacak Jejak Perkembangan Seni di Indonesia karya Claire Holt. Kelima buku ini dirangkai dengan buku 1000 Tafsir Mimpi, buku panduan mengonversi mimpi menjadi angka-angka, “kitab suci” para penjudi togel. Hal-19 menawarkan pendekatan dramaturgi judi yang berangkat dari pemahaman bahwa teater dan judi adalah sama; keduanya merupakan ekspresi yang diciptakan manusia untuk memenuhi hasratnya sebagai insan bermain (homo ludens). Melalui “judi interaktif” dengan penonton, Hal-19 ingin menebak-nebak berbagai dimensi narasi yang melingkupi kehidupan kita di sebuah bayangan besar bernama Indonesia, melalui logika tafsir teks ala buku 1000 Tafsir Mimpi.” [2]

Project Pertunjukan “Hal-19 Wajah Pecah Sejarah Indonesia”  malam tersebut secara dramaturgi tampaknya mampu mengusik, memberikan satu sajian, membaca kajian, dan tawaran yang secara dramaturgi pertunjukan terbaca seolah  ditujukan sebagai rangkaian peristiwa, intervensi pertunjukan, terhadap teks yang berada dalam kepala dan ruang penonton selama ini. Tampaknya usaha intervensi tersebut diarahkan ke para penonton untuk terlibat dalam membincangkan mengenai pembayangan Indonesia hari ini.  

Foto-foto yang diambil menggunakan handphone.


[1] https://www.kalanari.org/2016/02/pengalaman-akan-teks.html?m=1 (di akses 20 September 2022)

[2] https://www.kalanari.org/2021/09/hal-19-work-in-progress.html (diakses 20 September 2022)

32819507 10211050077398714 5336000328405876736 o | Mengalami Ruang, Waktu dan Peristiwa Teater di Hal-19 Wajah Pecah Sejarah Indonesia

Ficky Tri Sanjaya

Penulis dan Aktor mime teater. Aktif bersama Bengkel Mime Theatre Yogyakarta.