Menyimak Pembacaan Naskah GIRLX & RADIO TAKSI di IDRF 2019

Wisnu Yudha W. 

IDRF (Indonesia Dramatic Reading Festival) 2019 hadir dengan bentuk yang agak berbeda dari biasanya. Pada kali ini, acara ini berkoaborasi dengan Asian Playwrights Meeting 2019 dan menghadirkan penulis-penulis Asia dan Indonesia. Di tahun ini gagasan kuratorial yang ditawarkan adalah perihal “krisis” yang dimaknai sebagai situasi sulit atau berbahaya dan berkaitan erat dengan konflik. Secara lebih khusus, pilihan naskah-naskah IDRF 2019 ingin menampilkan gambaran perubahan-perubahan besar di asia dalam satu dekade ini, baik di wilayah teknologi maupun transisi politik, yang seringkali diawali atau diakhiri dengan krisis. Tidak hanya soal huru-hara dan trauma, tetapi juga perihal harapan, nilai-nilai, serta penemuan pemahaman-pemahan baru yang didapat.

IDRF 2019 seperti ingin mengingatkan kita, bahwa krisis dan konflik juga memberikan cara pandang alternatif untuk menemukan pemahaman baru pada cara kita memaknai dunia yang kita hadapi. Krisis dan konflik juga bisa mendorong kita untuk tumbuh menjadi manusia, masyarakat, dan negara yang semakin dewasa. Seperti halnya dalam drama, krisis dan konflik adalah elemen utama untuk membangun cerita beserta dinamika subjek-subjek didalamnya.

GIRL X, medium baru interaksi manusia dan cerita tentang alienasi di sekitar kita

Girl X adalah naskah karya Suguru Yamamoto (Jepang), dibacakan di IDRF 2019 oleh Ace House Collective, pada hari kedua beberapa menit sebelum pukul 20.00 WIB, molor hampir satu jam dari jadwal. Secara umum, naskah ini bercerita tentang, proses manusia yang tumbuh dan menua, alienasi, dan pencarian mereka pada cinta serta kebahagiaan hidup. Cerita ini berlatar kehidupan kota metropolitan di Jepang masa sekarang.

Sejak dua atau tiga tahun terakhir, IDRF tidak hanya menyajikan pembacaan dramatik dengan pembaca yang memiliki latar belakang seni pertunjukan. Ace House Collective adalah salah satunya, kelompok ini adalah kelompok yang bergerak di seni rupa. Hal yang menarik dari pemilihan pembaca ini adalah kemampuannya untuk menunjukkan satu gejala transformasi pemaknaan Dramatic Reading sebagai medium baru seni pertunjukan.

Pada generasi sebelumnya, Dramatic Reading secara dominan dimaknai menjadi salah satu metode dalam proses penciptaan pertunjukan teater. Sesekali, pembacaan dramatik akan dipentaskan sebagai satu work in progress penciptaan teater, bisa sebagai penggalangan dana ataupun semacam soft launching produksi pertunjukan. Sementara itu, pembacaan oleh pembaca non-aktor panggung IDRF ini bisa menunjukkan jika dramatic reading telah bergerak perlahan untuk menjadi ekspresi artistik yang mandiri. Agung Kurniawan, seorang perupa yang banyak melakukan proyek lintas disiplin, menyatakan bahwa dramatic reading ini mirip dengan sketsa dan drawing yang pelan-pelan menyempal dan kemudian diakui sebagai medium mandiri, dengan teknik, aturan, dan kode artistik yang berbeda dari arus utamanya.

BACA JUGA:  Tradisi “Dibuang” Kemana? : Kegelisahan Yang Dibawa Penari Ke Atas Panggung
Ace House Collective membacakan Girl X. sumber foto : arsip IDRF 2019, @idrf2019

Kembali pada pembacaan naskah Girl X, pembukaan kalimat awal sangat impresif sekaligus menunjukkan unsur komedi satir yang sangat kuat.

Di luar
sedang hujan
Aku tak mau keluar sebenarnya
Aku belum cukup siap
Untuk menahan hujan ini

Ibu,
Jangan lahirkan aku dulu
Aku belum cukup siap
Untuk menahyan hujan ini

Pukuli perutmu
Pukuli perutmu
Kalau aku tetap lahir juga
Banting aku ke lantai

Dan
Jangan peluk aku
Jangan beri aku ASI
Jangan beri aku nama

oh
Aku sudah keluar
Aku sudah lahir
Ayo cepat, banting aku ke lantai
Jangan peluk aku
Jangan beri aku ASI
Jangan beri aku nama

Dan saat aku mengatakan ini
Kenapa kau memelukku?
Kenapa tidak kau banting saja aku ke lantai

Sialan
Sekarang aku cuma bisa
Menangis, menangis, menangis, menangis, menangis, menangis, menangis,

Kelindan dialog, monolog, dan peristiwa yang tidak sepenuhnya linier, baik dalam hal waktu maupun tempat, membuat saya kesulitan mengikuti pembacaan naskah ini. Ketika saya menangkap bahwa dialog dari salah satu tokoh sesungguhnya dihadirkan melalui teks atau simbol yang diproyeksikan (tidak hadir dalam peristiwa secara langsung), bagian-bagian yang disusun atas dasar sudut pandang tokoh terhadap peristiwa tertentu, yang kadang diulang dengan sudut pandang tokoh lain, dan poin-poin alienasi yang dialami tokoh, saya mulai mampu membangun imajinasi peristiwa, mulai menangkap rangkaian cerita, dan terutama melihat cara tokoh satu memaknai relasinya dengan tokoh lain.

Imajinasi pertama, ketika menyadari perihal dialog seorang tokoh yang sesungguhnya disampaikan berupa teks atau simbol diproyeksikan, adalah praktik penggunaan aplikasi chat dalam komunikasi keseharian kita dan pentingnya posisi telepon pintar dalam praktik kebudayaan kontemporer kita sekarang. Di satu sisi teknologi itu bisa menjadi media interaksi untuk mengatasi jarak, namun di sisi lain mediasi itu memunculkan ruang-ruang distorsi komunikasi yang bisa dimainkan setiap orang untuk kepentingan tertentu.

Distorsi itu juga memberi peluang munculnya ruang kosong tempat seseorang mengambil jarak atau justru malah media inilah yang menciptakan jarak itu sendiri. Jarak yang memungkinkan seseorang menduga-duga yang sebenarnya terjadi, atau bermain-main untuk menciptakan simbol-simbol baru dalam komunikasi, atau menciptakan sikap dan cara basa-basi yang baru. Dalam pembacaan, ruang kosong itu ditunjukkan melalui monolog-monolog yang sifatnya ngrasani, dan bahkan berkhayal atau malah membayangkan masa lalu, sebelum seseorang terlibat kembali dalam interaksi. Satu hal yan menarik, lucu, tapi sekaligus menjadi satir yang getir adalah ketika salah satu tokoh lebih sibuk dengan pikirannya sendiri, alih-alih dia terlibat secara utuh dalam interaksi, dan justru memasuki ruang itu sebagai ruang alienasi bagi dirinya sendiri. Sepi, ruang bicara dari hati ke hati hanya tersisa dengan diri sendiri dan air mata.

BACA JUGA:  Puisiku Berjalan Menuju Naskah Teater
Suguru Yamamoto (tengah, berdiri). Sumber foto: dok. IDRF, @idrf2019

Ketika dalam diskusi selepas pembacaan, Suguru menyatakan jika ia membuat naskah ini dengan inspirasi persoalan yang terkait kegagalan memahami orang lain dalam pergaulan keseharian di Jepang, saya mendapatkan konteks beberapa peristiwa dalam naskah. Konteks modernisasi dengan ruang hidup di apartemen bertingkat, mungkin ada ribuan orang hidup dalam satu gedung, berinteraksi tapi tidak saling kenal. Konteks lain yang kemudian juga terasa kuat adalah relasi dan cinta dalam keluarga, nilai tradisional vs nilai baru, persoalan kecemburuan sosial, ketimpangan ekonomi, ekspresi seksualitas yang sarkas, alienasi yang dirasakan setiap tokoh, rasa putus asa, serta yang terpenting adalah perjuangan mereka untuk nrima dan mencari sedikit kebahagiaan.

Radio Taksi; Imaji mendengar radio dan cerita-cerita tentang kota

Radio Taksi, karya Nophand Boonyai (Thailand), dibacakan di IDRF 2019 pada hari ketiga, pukul 19.00 WIB. Pembacaan dilakukan oleh Erytrhina Baskoro dan kawan-kawan. Semua pembaca adalah aktor sekaligus penyiar radio, bahkan dua diantaranya adalah legenda hidup penyiar radio di Yogyakarta. Bukan tanpa alasan, Taksi Radio adalah cerita tentang kota Bangkok melalui lima orang tanpa nama yang terhubung oleh siaran radio yang mereka dengar, ada lagu-lagu nostalgia, cerita hantu, berita cuaca, hingga peristiwa politik.

Latar sebagai penyiar membuat para pembaca dengan mudah memainkan peristiwa dan membangun imaji tentang “mendengarkan radio’ pada penonton. Mendengarkan siaran radio, saat ini di kota Yogyakarta memang bukan lagi menjadi satu kebiasaan yang umum. Generasi muda lebih familiar dengan media sosial dan aplikasi di gadget mereka, misal youtube, aplikasi penyedia musik, atau yang paling dekat dengan radio adalah podcast. Sementara itu, sebagian masyarakat lain juga lebih akrab dengan televisi.

5 Pembaca Radio Taksi, kelompok Erytrhina Baskoro dan kawan-kawan. sumber foto: dok. IDRF, @idrf2019

Namun demikian, kesulitan bagi sebagaian penonton untuk related  dengan pengalaman mendengar radio menjadi penghalang sangat tidak terasa. Penonton justru tampak hanyut dalam imaji yang dibangun aktor-aktor yang juga penyiar itu beserta sensasi mendengarkan radio. Bakan lebih jauh lagi, bagi penonton yang memiliki pengalaman mendengar radio, aktor-aktor itu juga mengajak penonton untuk melihat cara-cara penyiar memberi energi dan proyeksi pada kekuatan suaranya. Satu hal yang pada dasarnya sudah sangat menarik sejak awal.

Pembacaan Taksi Radio. Foto: dok. IDRF, @idrf2019

Cerita bergerak dari kenangan-kenangan tentang kota dan kehidupan malam kota Bangkok, baik dari dunia orang hidup maupun dunia arwah. Cerita bergerak melompat-lompat dari satu isu ke isu lain, dari satu tokoh ke tokoh lain, dari satu peristiwa ke peristiwa lain, seringan kita memindah dari satu gelombang radio ke gelombang yang lain. Diawali nostalgia seorang sopir taksi dan pengalamannya menyusuri jalanan kehidupan malam kota Bangok, lewat lagu nostalgia, cerita melompat-lompat dengan ringan ke persoalan-persoalan lain seperti kemacetan, keruwetan tata kota, hunian yang padat, dan trauma-trauma dari bencana alam maupun peristiwa politik besar di tahun 2013.

BACA JUGA:  Sayembara Naskah Kethoprak TBY 2017

Hampir mirip dengan Girl X, Radio Taksi ini juga tak semata mengajak kita mengutuk kesulitan hidup di kota Bangkok dalam sumpah serapah tetapi justru mengajak kita untuk menertawakannya dalam satir yang getir. Kemacetan yang membuat banyak orang Bangkok harus menahan rasa kebelet buang air yang sangat menyiksa, pembangunan kota yang tanpa henti dan justru menjadi sumber dari keruwetan alih-alih mencapai tujuan pembangunan agar kehidupan menjadi lebih mudah, kematian yang sekonyong-konyong karena peluru nyasar dari perkelahian orang atau kekacauan dalam demonstrasi, atau imaji tentang birokrasi rumit yang bahkan berlaku di dunia orang mati, adalah beberapa hal yang menjadi satir dalam cerita.

Sekilas kita menertawakannya tapi kita bisa langsung merenungkannya  pula sebagai tragedi-tragedi dalam kehidupan kita. Dari itu semua, satu pesan yang tertangkap dari cerita ini bagi saya, bahwa keadaan mungkin tidak berubah dan kita mungkin tetap harus menerima setiap nasib buruk dari keruwetan persoalan percintaan yang gagal, pemerintahan yang represif, kriminalitas yang tinggi, tetapi bukan berarti kita harus selalu meratap dan mengutuk. Pada satu titik kita bisa menerimanya, menertawakannya, dan merenunginya untuk menjadi lebih dewasa dan legawa. Kebahagaiaan tidak hanya datang dari berakhirnya persoalan, tapi juga bisa datang dari cara kita memaknai nasib buruk dan penderitaan.

Satu catatan penting, disampaikan penulis naskah dalam diskusi, adalah pertunjukan ini berbasis pada persoalan auditif. Dalam jabarannya, aktor berdiri atau duduk di panggung dengan microphone dan sepanjang pertunjukan ada musik yang mengalun dan menjadi elemen penting pertunjukan. Suasana pertunjukan lebih seperti “mendengarkan” konser teater. Hal ini adalah satu pendekatan yang sangat unik dan bisa menjadi sangat menantang untuk dilakukan. Kehadiran musik tidak dilakukan dalam pembacaan dramatik, hanya disampaikan bahwa lagu-lagu tertentu sedang mengalun. Hal ini menurut penulis naskah memberikan satu pengalaman yang sedikit berbeda dari pertunjukan yang pernah dibuatnya, tetapi bisa memberikan imaji tentang siaran radio dengan lebih kuat.

Wisnu Yudha Wardana

Pekerja seni pertunjukan. Alumni Teater Gadjah Mada dan pernah bekerja di Padepokan Seni Bagong Kussudiardja, Bantul, DIY.

Wisnu Yudha Wardana

Pekerja seni pertunjukan. Alumni Teater Gadjah Mada dan pernah bekerja di Padepokan Seni Bagong Kussudiardja, Bantul, DIY.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *