fbpx
Senin, Maret 4, 2024
ULASANPanggung Teater

Itu Perputaran Siklus, Bukan Rotasi : Catatan atas “Tatengghun Nemor” — Kamateatra di BWCF ke-12

[Wahyu Kris]. Bahasa, tubuh, dan perkakas adalah ornamen penting yang menggerakkan pementasan teater. Ketiganya saling berjejalin dalam alur cerita sebagai perantara sekaligus pesan. Lalu, pesan semacam apakah yang hendak disampaikan ketika bahasa, tubuh, dan perkakas berputaran menyesaki pementasan teater?

Panggung hanya menyuarakan gesekan gilis (perkakas tradisional penggiling jagung) ketika saya memasuki ruang Sasana Budaya Universitas Negeri Malang. Dua puluh empat gilis berdiam beku tersebar menyerupai formasi lingkaran. Sosok Ibu di tengah panggung terus memutar gilis meski area penonton sudah penuh. Pada Minggu malam 26 November 2023 itu Anwari bersama Kamateatra mementaskan teater bertajuk Tatengghun Nemor dalam rangkaian The 12th Borobudur Writers and Cultural Festival (BWCF).

Seluruh dimensi putaran gilis begitu kuat meninggalkan jejak. Bahkan menjadi tanda yang menggerakkan perputaran tanda berikutnya. Noktah awalnya adalah gesekan antara batang dan alas yang mengonstruksi bangunan bunyi berulang. Bunyi berputar terus-menerus. Beriringan dengan suara panjang dari pengucapan bahasa. Bahasa yang terucap-dengar juga berputaran. Pun, tubuh-tubuh yang kemudian masuk panggung.

Pementasan teater yang ditulis Elyda K. Rara itu menjelma perputaran sublim antara bahasa, tubuh, dan perkakas. Bebunyian dan layar belakang menjadikannya lebih benderang terbaca. Perputaran bahasa merasuki tubuh. Tubuh-tubuh mengitari panggung. Putaran bunyi mengiringinya dari awal hingga akhir. Namun, perputaran itu sejatinya hanyalah potongan mozaik. Bentuk utuhnya adalah pesan yang tersemat dalam kalimat:  Untukmu, dari bapakmu, rebuslah, makanlah. Ibu menanam cinta, bukan semen. Agar kau tumbuh jadi manusia.

Hanya tiga kalimat pendek. Tak ada anak kalimat bertumpuk-tumpuk. Segala macam bunga-bunga bahasa ditinggalkan. Negasi digunakan seperlunya. Namun, bisa menjalankan perannya merekatkan pecahan mozaik bahasa, tubuh, dan perkakas yang saling mengiringi.

Perputaran Bahasa

Pemakaian bahasa Madura, Indonesia, dan Inggris dalam satu pementasan teater membutuhkan strategi agar tak terjebak pada pembunuhan waktu. Durasi pementasan sekitar 60 menit bisa habis hanya untuk memberikan terjemahan. Hipotesa ini keliru. Sepanjang pementasan banyak pengulangan kalimat antar bahasa yang sejatinya justru menguatkan pesan.

BACA JUGA:  Absurditas “Amanat Galunggung” dalam Pertunjukan “Leu Low”

Pengulangan kalimat utuh adalah bentuk penegasan betapa pesan yang hendak disampaikan sungguh penting. Lewat tubuh gadis milenial terucap kalimat yang terus berulang: I don’t like corn rice, Mom.  Tubuhnya memutari panggung sekali, tapi mulutnya mengulangi kalimat puluhan kali. Intonasinya dalam lantaran memendam konflik batin di antara kecanggihan teknologi dan kebajikan lokal yang mesti diuri-uri.

Pada pementasan ini, Anwari berani menggunakan bahasa di antara saling-silang simbol kebudayaan. Perputaran bahasa adalah perputaran kebudayaan. Bahasa Madura melambangkan budaya asali dengan segala kebajikan lokal di dalamnya.  Bahasa Inggris melambangkan modernitas dengan segala ceruk salah kaprahnya. Bahasa Indonesia dihadirkan sebagai sumbu perputaran bahasa antar(a) keduanya.

IMG 1237 | Itu Perputaran Siklus, Bukan Rotasi : Catatan atas “Tatengghun Nemor” — Kamateatra di BWCF ke-12

Perputaran Tubuh

Anwari menawarkan pemaknaan lain atas tubuh sebagai elemen pembangun cerita. Tubuh dihadirkan dalam bentuknya yang paling jujur. Natur tubuh adalah bergerak, maka tubuh-tubuh dalam panggung terus bergerak. Memutari seluruh area panggung satu putaran penuh.

Di atas panggung, tubuh menjadi pembawa pesan sekaligus pesan. Tubuh gadis milenial membawa pesan tentang tubuh kaum milenial yang anti makanan tradisional. Diikuti tubuh dua lelaki: satu di atas kursi roda dan satunya lagi mendorong tertatih-tatih. Sepasang kaki terbungkus perban. Sepasang kaki lainnya kekeuh bergerak. Kedua tubuh itu berjatuhan dan bergulingan. Tangan-tangan perkasa memukulkan kayu pada karung berisi bebiji jagung. Berat tapi memilih tetap bergerak.  

Perputaran Perkakas

Tubuh berikutnya berputaran bersama traktor mengitari panggung di antara dua puluh empat gilis. Traktor memamerkan kuasa lewat raungan mesinnya. Gilis-gilis berdiam. Namun, diam itu menyimpan entropi, yakni sebentuk energi yang niscaya tercipta tapi mustahil dihilangkan. Entropi hanya bisa berubah menjadi energi lain.

Entropi itulah yang diperam Anwari ketika mengajak penonton menggerakkan gilis. Anwari menyebut angka dua puluh empat, tidak lebih tidak kurang. Namun, penonton yang maju ke panggung lebih dari dua puluh empat. Energi gerak gilis menggerakkan suara dalam tubuh Anwari. Lalu mengajak penonton menggerakkan gilis.  Terbuktilah pesan kekekalan energi yang selalu terjadi dalam perputaran.

BACA JUGA:  Realitas versus Panggung: Ulasan Pertunjukan "Para Pensiunan 2049"

Kontras tiga perkakas-traktor, kursi roda, dan gilis- dihadirkan sebagai kutub-kutub polaritas. Traktor di kutub urban dengan segala iming-iming kecepatan dan kemajuan. Gilis di kutub pribumi dengan seperangkat cara hidup perlahan yang kerap dikerdilkan menjadi kemunduran. Padahal, perlahan adalah pilihan untuk melambat, bukan terlambat. Setiap kehidupan punya jalur dan lajunya masing-masing. Kursi roda menempati kutub dimana manusia kehilangan kewarasan ketika mengambil keputusan. Konsekuensi logis tak bisa dihindari, hanya bisa disesali.

Perputaran bahasa, tubuh, dan perkakas di sepanjang pementasan adalah perputaran serupa siklus, bukan rotasi. Sebiji dadu berputaran di pinggir piring adalah rotasi. Air menjadi awan lalu turun menjadi hujan adalah siklus. Siklus dan rotasi sama-sama berangkat dari dan kembali ke titik awal. Ada beberapa titik yang mesti dilewati. Bedanya, rotasi tak mengenal perubahan bentuk. Sementara perubahan bentuk dalam siklus adalah mutlak.

Nah, perubahan bentuk energi itulah yang digarap dengan baik oleh Anwari. Entropi tersembunyi dalam bahasa, tubuh, dan perkakas diubah sekaligus diberdayakan. Panggung teater yang dipilih berbentuk lingkaran. Penonton dibiarkan mengitari tubuh dan perkakas agar lebih dekat pada pengucapan bahasa-bahasa. Bahasa diteriakkan berulang di antara tubuh dan perkakas sebagai energi yang meluap-luap dari konflik batin. Ada kalanya perkakas dibiarkan merasa perkasa sementara bahasa memilih diam di dalam tubuh-tubuh. Semoga ini bukan satir tentang manusia yang cenderung terseret perkakas serba cepat ketimbang merawat apa yang melekat.

IMG 1248 | Itu Perputaran Siklus, Bukan Rotasi : Catatan atas “Tatengghun Nemor” — Kamateatra di BWCF ke-12

Pementasan Tatengghun Nemor merefleksikan pertunjukan musim kemarau. Mengapa kemarau mesti dan perlu dipertunjukkan? Bukankah kemarau akan menjadi penghujan dan kembali lagi menjadi kemarau dalam perputaran musim?  Perputaran mesti dirawat. Abai terhadap salah satu berarti merusak semua. Sebagaimana gambar bergerak tentang musim kemarau yang ditayangkan di layar belakang. Petani bersusah payah melawan kemarau. Orang-orang menari memohon hujan. Sapi-sapi berkaki kelu malas mengitari sawah tandus. Gilis-gilis dibiarkan teronggok usang di berbagai sudut.

BACA JUGA:  Untuk Aku, Pertunjukan bukan sekedar "curhat"

Menarik, layar belakang tumbuh menjadi ruang pementasan. Kain putih itu tak dibentangkan datar begitu saja. Garis lipatan layar mempertegas kontur persawahan. Paralel dengan lipatan kulit wajah orang-orang penuh pergulatan.  Kecuali mengarahkan fokus pada tubuh aktor di panggung, layar itu menyajikan laporan riset mendalam. Visual tentang bebiji jagung, tradisi, perkakas, dan perputaran musim hadir melengkapi narasi yang dikisahkan orang-orang.

Rupanya, pementasan Anwari selalu dilambari siklus kerja di mana riset menjadi bahan sekaligus jalan. Yang-awal sekaligus yang-antara, tidak ada yang-akhir. 


Saweria 1 | Itu Perputaran Siklus, Bukan Rotasi : Catatan atas “Tatengghun Nemor” — Kamateatra di BWCF ke-12

Dukung kami dengan donasi sukarela. Scan QR di samping atau klik tautan berikut :

https://saweria.co/Adisukmainisiatif


Wahyu Kris

Wahyu Kris

Guru yang sedang dan senang belajar menulis. Menyukai tema pendidikan dan seni budaya. Menulis buku Mendidik Generasi Z dan A (2018) dan Secangkir Kopi Inspirasi (2020).