fbpx

Mbakyu Aku Nyuwun Suntik : Butet Mengenang WS Rendra

Tulisan ini dibuat pada 2009 setelah kematian WS Rendra dan dimuat oleh Jawa Pos. Diposting kembali ke akun Facebook Butet Kertaredjasa untuk mengenang 11 tahun geblak (hari kematian) Rendra. Direpost oleh gelaran.id atas seijin penulis.


[Butet Kertaredjasa]. Di tengah kerumunan pelayat di Desa Citayam, Bogor, Jumat siang (7/8-2009), sejumlah repor­ter muda yang kerap dilabeli ”wartawan” infotainment -saya tidak tahu apakah mereka bisa dikategorikan jurnalis atau sekadar pengulur mikrofon- tiba-tiba bertanya, ”Apa sih arti pen­ting seorang Rendra, kok orang-orang ngasih peng­hormatan luar biasa seperti ini?”

Saya terhenyak. Jika kekerasan dibenarkan, ra­sanya ingin menapuk cangkem lancang itu. Pertanyaan itu sekadar pancingan atau memang muncul dari kedunguan industri pertelevisian? Spontan saya menjawab, ”Hanya orang yang ge­gar otak atau tidak waras yang menganggap Rendra tidak penting!”

Saya seperti ingin marah mendengar panci­ngan bernada pelecehan tersebut. Meski bukan murid Rendra yang bertumbuh di komunitas Bengkel Teater, saya tak rela mendengar martabat, jasa, dan peran ”guru besar” teater Indonesia itu direndahkan.

Ribuan orang yang mengalir menjadi petakziah di rumah putrinya, Clara Sinta, di Pesona Khayangan, Depok, pada malam sebelumnya atau di markas Bengkel Teater Citayam siangnya jelas membuktikan bahwa Rendra adalah tokoh besar.

Dia adalah Budayawan dengan ”B” besar. Sebuah derajat yang posisinya bertakhta jauh di atas, jauh lebih tinggi dari sekadar seorang pe­kerja seni. Di dalam derajat yang mulia itulah tersimpan watak kebudayawanan yang men­jadikannya bukan manusia pendendam. Tapi, manusia yang arif dengan jiwa yang sumeleh, penuh kebijaksanaan, dan menghormati setiap pertumbuhan.

Meski ruang pengabdiannya sebagai sutradara maupun aktor kerap diartikan hanya sebatas wilayah kesenian, pikiran-pikiran Rendra yang se­lalu dilandasi ketakjuban pada kejayaan dan kebesaran sejarah bangsanya tak berhenti ha­nya dalam perkara artistik dan rumusan-rumusan estetis. Pemikiran dan gagasannya melampaui dunia seni itu sendiri.

WS Rendra muda
Sketsa wajah Rendra semasa muda

Melaksanakan Kata-Kata

Ditambah luasnya pengetahuan dan bekal li­teratur yang disantap dari waktu ke waktu, pre­dikat ”seniman” terlalu kecil untuk disematkan ke dalam dirinya.

Dengan fasih Rendra bisa bertutur keunggul­an budaya maritim yang di suatu masa pernah membikin bangsa ini sangat terhormat dan di­segani bangsa-bangsa lain di dunia, tentang im­perialisme ekonomi yang selalu cerdik bergan­ti rupa dan mengakali negara dunia ketiga, tentang ketamakan kekuasaan yang bikin para pemimpin hidupnya keblinger, tentang ke­cemasannya pada generasi yang manja dan ce­ngeng, tentang feodalisme bertopeng demo­krasi yang terbentuk oleh masyarakat yang ge­mar jadi penjilat, dan sebangsanya.

BACA JUGA:  Mampir Ngombe di Larantuka : Oleh-oleh Seniman Mengajar

Karena itulah, Rendra itu mahapenting. Penyair-aktor-sutradara-pemikir-deklamator ke­lahiran Solo tujuh puluh empat tahun lalu ter­sebut adalah manusia berkualitas empu yang se­tiap percikan pemikiran dan tindakan kebuda­yaannya memantik inspirasi bagi manusia-ma­nusia lainnya.

Saya menyebutnya Rendra salah satu genius yang pernah dilahirkan di bumi Indonesia. Ma­nusia yang dikaruniai aneka bakat dan -istime­wanya- semua bakat itu bersinergi serta men­jel­­ma menjadi tindakan yang kemudian dilakoni dengan konsisten sepanjang hayatnya. Dia me­laksanakan kata-kata dan pemikirannya.

Sebagai aktor panggung, siapa sih yang masih me­ragukan keunggulannya? Sebagai penyair, apa masih ada yang membantah kecermatannya me­milih kata-kata dan meragukan perannya dalam perkembangan sastra modern Indonesia? Sebagai sutradara teater, saya tak yakin jika masih ada seniman maupun pengamat yang me­nafikan sumbangan kreatifnya bagi kebuda­yaan Indonesia.

Nyuwun Suntik

Saya mengenal Rendra ketika saya masih duduk di bangku SD. Awalnya, saya cuma me­ngenalnya sebagai lelaki gondrong salah seorang sahabat ayah saya (Bagong Kussudiar­dja) yang kebetulan juga ayah teman sepermain­an saya di SD Pangudi Luhur, Jogja.

Tiga anak Rendra dari Sunarti Soewandi -Te­di, Andreas, dan Daniel- bersekolah di sekolah yang sama. Kampung kami juga bertetangga. Om Rendra, begitu dulu saya memanggil, yang tinggal di Ketanggungan Wetan kerap tiba-tiba nongol di suatu malam, di rumah kami, di Kam­pung Singosaren Lor, Jogjakarta.

Setiap Om Gondrong itu datang, pasti nanti terdengar canda cekakakan para seniman. Kemudian akan terdengar satu permintaan yang rasanya masih terngiang di kuping, ”Mbakyu… aku nyuwun suntik!”

Yang disebut ”mbakyu” itu adalah ibu saya yang memang seorang bidan. Sebagai tenaga me­dis, tentu saja di rumah selalu ready-stock vitamin, jarum suntik, dan aneka obat-obatan. Pada 70-an ketika sistem pelayanan kesehatan belum selengkap sekarang, wajarlah jika rumah kami selalu jadi jujugan para seniman yang pu­nya problem kesehatan.

Saya tak tahu persis apa yang kemudian di­sun­tikkan. Yang pasti, setiap Om Gondrong yang rambutnya sepundak itu datang mengetuk pintu, ayah saya selalu menyambut dengan can­da riang yang berujung soal suntik-menyuntik. ”Arep njaluk suntik maneh ya?” Lalu terde­ngar tawa dua seniman itu berderai memecah malam.

BACA JUGA:  Hubungan dan Kedekatan Kritikus - Praktisi Seni: Pengalaman dari Singapura

Belakangan hari, setelah kerap mencuri-curi ba­caan di perpustakaan ayah dan ikut nimbrung mem­baca majalah Basis, perkenalan dalam ima­jinasi terhadap Om Gondrong itu semakin intens. Melalui majalah Basis, juga majalah Tempo yang pernah menjadikan Rendra cover story pada 1970-an, laksana melakukan mediasi antara saya dan Rendra. Esai, puisi, liputan kegiatan Bengkel Teater yang kala itu me­nyelenggarakan Perkemahan Kaum Urakan di pesisir Parangtritis semakin men­dekatkan sa­ya dengan sema­ngat dan pikiran-pikiran Rendra.

Apalagi ketika kemudian saya kerap digandeng ayah saya menonton mas-mas gondrong dan dekil berlatih teater di Bengkel Teater, Ketanggungan Wetan. Bahkan, ketika saya masih bercelana pendek berkesempatan nonton Rendra memerankan Hamlet di Teater Tertutup, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, rasanya saya semakin mengenal.

Sihir Keaktoran

Hampir empat jam saya melongo, terpesona oleh keaktoran lelaki bertubuh atletis, berambut se­bahu warna perak, yang dengan artikulatif me­merankan Hamlet. Penonton mbludag. Saya yang masih kanak-kanak adalah sebuah anonim di antara aktor-aktor tangguh Bengkel Teater. Rasanya susah banget menjangkau mereka, apa­lagi untuk mengenal dan bergaul memasuki dunia mereka.

Saya hanya mematri nama-nama mereka dalam ingatan, yang dalam perjalanan waktu akhir­nya mereka saya kenal sebagai sahabat-sahabat yang penuh kehangatan: Adi Kurdi, Edy Haryono, Fadjar Suharno, Iskandar Wawo­runtu, Iwan Burnani, Dahlan Rebo Paing, Udinsyah, Sitoresmi, Yati Angkoro, Udin Mandarin, Untung Basuki, Wawan Prahara, dan lain-lain.

Tapi, Rendra tetap bintangnya. Mungkin ka­rena auranya yang karismatis yang memancar. Itulah sihir keaktoran. Vokal yang khas dan bertenaga, dengan akting yang kadang mengundang tawa lantaran dimain-mainkan secara jenaka, menyisakan kekaguman dan gerutu dalam hati: ”Tunggu saja. Suatu saat nanti aku juga akan berdiri di atas panggung yang sama. Menjadi aktor.”

Impian pada masa kanak-kanak pada 70-an itulah agaknya menjadi magma yang mendidihkan semangat menempuh jalan keaktoran saya. Mas Willy, begitu kemudian saya ikutan menyapa Om Gondrong yang kini menjadi se­sama aktor teater, diam-diam telah saya daulat menjadi ”guru” tanpa dia pernah tahu.

BACA JUGA:  BERGURU PADA ALAM: Dari Silek Minang ke Gumarang Sakti dan Tari Kontemporer Indonesia
Butet bersama Rendra
Butet Kertaredjasa dalam suatu kesempatan bersama WS Rendra

Saya memang tak pernah tercatat jadi murid yang takzim ngangsu kawruh di Bengkel Teater. Tapi, buku Rendra, Tentang Bermain Drama menjadi pedoman menerjuni sebuah du­nia impian, dunia seni peran, yang untungnya -setelah larangan pentas Rendra dicabut- saya selalu bisa mengonfirmasi bacaan itu melalui sejumlah lakon yang dipertunjukkan di kemudian hari: Sekda, Perjuangan Suku Naga, Lysistrata, Hamlet, Oedipus, dan lain-lain.

Karena itu, ketika 11 Mei lalu Mas Willy bersilaturahmi ke rumah saya lantaran tak bisa hadir pada malam pernikahan anak saya, muncullah gagasan menjelmakan buku yang banyak dijadikan pedoman aktor teater tersebut menjadi sebuah tindakan kebudayaan. Rendra ingin masuk kampus-kampus perguruan tinggi, bikin workshop, melatih, dan berbagi pengalaman tentang seni peran.
”Kapan Mas?”
”Oktober wae, setelah Lebaran. Kowe sing go­lek sponsor ya!

Tapi, meski dikenal sangat bernyali melawan setiap bentuk penindasan dan selalu mendobrak ke­macetan yang merendahkan martabat ke­manu­siaan, Rendra tetap tak mampu melawan waktu. Rendra yang perkasa tetap manusia biasa. Keinginannya memuliakan kehidupan de­ngan berbagi pengetahuan didahului kehen­dak Yang Kuasa, setelah sebelumnya Mbah Su­rip, kawan karibnya yang lain, mendahului me­ngetuk pintu surga. Sekarang, surga telah men­jadi milik mereka. *** [jawapos]

Latest posts by Butet Kertaredjasa (see all)

Butet Kertaredjasa

Butet Kertaredjasa, lahir 21 November 1961. Menggeluti seni teater dan seni rupa sejak usia muda. Butet dikenal sebagai raja monolog, juga aktor baik itu untuk panggung teater, televisi maupun film layar lebar. Butet hingga kini aktif di Teater Gandrik, Komunitas Kua Etnika dan masih aktif di panggung dalam program pertunjukan Indonesia Kita di Jakarta yang ia gagas bersama Agus Noor.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *