Melawat Kisah Sendu Melalui “Mesin” Waktu; Ulasan Pertunjukan “While You’re Away”

: Michael H.B. Raditya.

Seorang laki-laki menekan tombol di sebuah mesin pemutar musik, tetapi bukan musik yang didapat, melainkan sebuah ilustrasi akan kisah dari salah satu seniman bernama Iyok Suntari. Bersamaan dengan itu, tersiar visualisasi dalam bentuk bayangan—dengan metode kelir dan cahaya laiknya pewayangan—pada selembar layar yang menceritakan perjumpaan, kebahagiaan, perpisahan, hingga kehilangan sang pujaan hati. Metode visual dengan bayangan seakan membawa penonton pada “dimensi” yang berbeda. Tidak hanya itu, media visual lainnya yang digunakan, seperti video mapping daninstalasi turut membawa penonton laiknya tengah berjelajah ke masa lalu.

Permainan bayangan dalam “While You’re Away”. Foto oleh Rangga Yudhistira

Adalah While You’re Away, sebuah karya dari Studio Batu yang menampilkan sebuah pertunjukan lintas disiplin atau—mereka lebih nyaman menyebutnya sebagai—pementasan visual. Pementasan visual yang digelar di IFI Yogyakarta pada Jumat (5/4) dengan dua jadwal tayang ini berkisah tentang seorang seniman era 90-an—Iyok Suntari. Ia kehilangan orang terkasihnya karena sebuah kecelakaan pesawat terbang menuju ke Medan, Sumatera Utara. Di saat yang sama, Iyok tengah membuat tiga buah mesin instalasi yang akan dipresentasikannya di depan sang pujaan hati. Sayang, hal tersebut tidak pernah terjadi, tetapi keterpukulan Iyok justru meneguhkan hatinya untuk menyelesaikan karya tersebut. Namun di saat pembuatan karya, asam lambung Iyok menyergap, hingga akhirnya ia juga meregang nyawa.

Berbekal empati, 20 tahun kemudian Studio Batu melanjutkan cita-cita Iyok untuk mempresentasikan karya tersebut di depan khalayak. Instalasi tiga mesin yang sudah teronggok kembali dikerjakan. Dengan berbekal buku catatan, sketsa, dan video yang ia buat selama proses pembuatan, Studio Batu menyempurnakannya. Karya pun selesai, tapi tidak hanya dipamerkan semata, Studio Batu juga menyisipkan cerita berdurasi 45 menit pada instalasinya. Wulang Sunu selaku director bekerja sama dengan Marcellina Dwi Kencana Putri, Yohanes Yodi, Garuda Palaka menerjemahkannya menjadi pertunjukan teater boneka. Dengan bantuan, Ratno Hermanto (aktor di dalam video mapping), Henricus Pria (Poetry), Banjar Triandara (lighting director), Philipus Enggar dan Gregorius Ragil (music director), karya ini terwujud dan layak disaksikan.

Alih-alih menampilkan dengan satu moda seni, karya While You’re Away ditampilkan dengan beragam media, seperti: shadow puppet, video mapping, instalasi, dan juga akting. Belum lagi kesan filmis yang menjadi tawaran visual pada setiap adegan. Bertolak dari keberagaman disiplin seni yang berkelindan, pertunjukan ini tidak hanya perlu dicatat dari segi instalasi atau cerita, tetapi juga perlu dicatat akan bagaimana pertunjukan dihadirkan; dan apakah hal tersebut berhasil?

BACA JUGA:  Itu Madura! : Catatan untuk Pertunjukan "Tatengghun" karya Sutradara Anwari
While You’re Away. Foto oleh Rangga Yudhistira
Pertunjukan Multimedia pada Teater Boneka

Pada samar-samar cahaya, tampak tiga instalasi terletak di atas panggung. Warna pucat pasi membuat kesan instalasi terlihat lawas. Dua di antaranya—terletak di kiri dan kanan panggung—menyerupai mesin pemutar musik dengan masing-masing layar di atasnya. Satu instalasi tersisa—terletak di tengah panggung—berupa dua buah speaker dengan dua televisi di atasnya, dengan sebuah layar putih di antaranya. Tentu tiga instalasi ini menjadi menarik, terlebih kiprah Studio Batu lebih dikenal dalam ranah film atau seni rupa.

Pasca kata pengantar dari keempat penampil, Wulang, Marcellina, Yodi, dan Garuda, segera Wulang dan Garuda mengawali pertunjukan dengan menyalakan sebuah pemutar musik—instalasi pertama di sisi kiri panggung jika dilihat dari penonton. Alih-alih hanya musik didengar, dari mesin tersebut tersiar bayangan demi bayangan tentang sebuah kisah yang muncul persis dari atas pemutar musik tersebut. Sekejap mata, penonton dibawa dalam dimensi yang berbeda untuk merasakan apa yang dialami Iyok.

Konon, Iyok bertemu pujaan hati di sebuah pertunjukan orkestra. Adalah Vita, salah seorang pemain biola yang berhasil menyita perhatiannya. Alih-alih Iyok langsung mendapatkan Vita, Studio Batu memilih untuk mengartikulasikan bagaimana Iyok mendekati hingga menjalin kasih dengan pujaannya. Hal yang menarik, segala sesuatu yang divisualkan teater boneka ini menggunakan teknik bayangan. Namun berbeda dengan wayang, teater boneka yang mereka mainkan berasal dari cahaya senter. Oleh karena setiap pemain mempunyai senternya masing-masing, maka pencahayaan pada layar atau kelir menjadikan pertunjukan lebih kaya dan variatif dalam visual. Pun dengan boneka dua dimensi yang mereka ciptakan sendiri.

Sementara itu, instalasi ber-video mapping di bagian tengah panggung seakan merespons. Tersiar visual sesosok lelaki pada selembar layar yang tegak berdiri di tengah panggung. Visual laki-laki yang tengah asyik merokok tersebut seakan ikut menyaksikan layar di mana pertunjukan bayangan berlangsung. Pada awalnya, saya mengira pilihan Wulang dkk. untuk menampilkan visual Iyok Suntari guna menghadirkannya di dalam pertunjukan, tetapi lama-kelamaan saya justru terganggu dengan video mapping Iyok—terlebih ia muncul dari awal hingga cerita usai. Alhasil terbesit di kepala saya, mengapa visual Iyok harus terus menerus dimunculkan ketika kisah sendu Iyok sudah dihadirkan oleh penampil? Alhasil, apakah tujuan pertunjukan dibuat, penonton diminta menyaksikan kisah sendu Iyok atau menonton Iyok menonton kisahnya sendiri? Belum lagi, Iyok cenderung menatap tanpa ekspresi.

BACA JUGA:  Diary Monsoon Ayu Permata Sari

Tidak hanya berlangsung di satu instalasi, para penampil berpindah ke instalasi yang berada di sisi kanan panggung. Perpindahan instalasi juga menandakan perpindahan cerita, di mana instalasi di sisi kiri panggung berisikan perkenalan dan percintaan, sedangkan instalasi di sisi kanan panggung berupa percintaan dan kehilangan. Cerita perpisahan antara Iyok dan Vita mulai dibangun. Diceritakan bahwa Vita harus terbang ke Medan untuk sebuah orkestra. Namun naas di perjalanan, pesawat yang ia gunakan mengalami kecelakaan. Di dalam perwujudannya, Studio Batu tetap menggunakan metode bayangan, tetapi yang membedakan adalah kemunculan penampil di dalam set pertunjukan. Marcellina keluar dari belakang instalasi dan menerbangkan sebuah replika pesawat. Dengan wajah murung ia mulai menerbangkannya. Berbeda dengan video mapping, dua moda pertunjukan ini kiranya terjalin lebih menyatu dan menambah kesan semakin mendalam.

While You're Away - Studio Batu
Marcellina muncul menerbangkan pesawat. Foto oleh Rangga Yudhistira

Di akhir pertunjukan, pertunjukan berpindah ke instalasi di tengah panggung dengan dua televisi menyala. Televisi tersebut menggambarkan aktivitas Iyok pasca kematian Vita. Pada bagian ini, Studio Batu ingin mewujudkan fase terakhir, di mana Iyok merawat kenangan akan Vita hingga akhir hayatnya. Walau Iyok juga meregang nyawa dengan cepat karena asam lambung yang ia derita. Berbeda dengan dua bagian sebelumnya. Fokus akhir pertunjukan berada pada dua buah televisi dan video mapping yang berada di tengah panggung. Bersamaan dengan kematian Iyok, pertunjukan usai.

Dari bagian-bagian yang menarik di atas, pun terdapat catatan di mana visual yang filmis lebih dominan ketimbang pendalaman karakter dari tokoh Iyok ataupun Vita. Alhasil ada beberapa bagian di mana emosi yang seharusnya dikedepankan justru terasa hambar. Beberapa dugaan muncul, seperti cerita yang kurang mendalam—terlebih jika pertunjukan berangkat dari kisah nyata dari seorang yang telah tiada—, dramaturgi yang belum tergarap, atau fokus media yang ‘berat’ sebelah. Namun di luar itu semua, kita perlu apresiasi karya teater boneka atau pementasan visual perdana milik Studio Batu. Pasalnya untuk sebuah kelompok teater boneka yang terbilang ‘baru’, karya While You’re Away menunjukkan keseriusannya, baik pada tawaran artistik, cerita, ataupun moda pertunjukan.

Inovasi Untuk Teater Boneka

Bukan Studio Batu jika tidak kreatif, pemuda-pemudi asal Yogyakarta ini memberikan tawaran pertunjukan yang menarik. Selain instalasi yang mereka buat sendiri dengan menggunakan benda-benda bekas, eksperimentasi mereka dengan medium yang beragam adalah sebuah keberanian, sekaligus tawaran. Di dalam While You’re Away, kita ditontonkan shadow puppet, instalasi, video mapping, dan akting yang saling berinteraksi. Multimedia ini saling “bahu-membahu” untuk menyampaikan cerita. Bagi Wulang, “kombinasi itulah yang justru menjadi ending yang dapat membungkus semua cerita ini.”

BACA JUGA:  Pooh Pooh Somatic : Rasa Yang Pernah Ada
permainan wayang (shadow puppet) dalam karya Studio Batu. foto oleh Rangga Yudhistira

Namun kemultimediaan karya ini juga disinyalir dari latar belakang personel kelompok yang beragam. Singkat kata, mereka tidak terburu-buru dan bertendensi untuk mendaku bahwa mereka adalah kelompok teater boneka. Hal ini jugalah yang membuat mereka justru terbuka dengan kemungkinan-kemungkinan artistik baru. Kendati demikian, Studio Batu bukan satu-satunya teater boneka yang menggunakan multimedia.

Kelompok yang lebih senior, seperti Papermoon Puppet Theatre telah melakukannya. Pun jika ditelusuri, beberapa ide dalam karya While You’re Away juga dapat dirunut berangkat dari kreativitas kelompok Pappermoon, semisal cerita sedih nan reflektif. Namun selalu menyenangkan memberi perhatian pada kelompok baru yang kreatif. Hal yang menarik, Studio Batu berupaya mencari bahasa tuturnya sendiri. Hal ini terbukti dari karya While You’re Away yang terus mengalami eksperimen—bongkar-pasang—dalam jangka waktu yang tidak sebentar.

Usut punya usut, karya tersebut telah diciptakan pada bulan September, setahun silam, untuk kebutuhan Pentas Boneka 2018. Sebenarnya mereka bisa sangat mudah untuk puas dan usai, tetapi nyatanya Wulang dkk. terus membangun karyanya. Diawali pada bulan Desember, Wulang dkk. telah melakukan pengolahan cerita hingga pembuatan instalasi. Sedangkan pada bulan Februari, pembuatan set, video, wayang, dan latihan mereka lakukan dengan rutin. Pada akhirnya, Jakarta, Bali, dan Yogyakarta telah menjadi saksi atas pertunjukan mereka.

Bertolak dari hal tersebut, eksplorasi dan penggodokan karya telah dilakukan. Maka kita perlu terus menunggu pilihan media, moda pertunjukan, serta gaya tampilan yang khas dari Studio Batu. Agar kiranya kelompok teater boneka di Indonesia semakin kaya dan beragam dalam mengekspresikan kegelisahannya. Alhasil, mari kita tunggu karya Studio Batu selanjutnya![]

Michael HB Raditya

Penulis buku kritik seni pertunjukan yang bertajuk Merangkai Ingatan Mencipta Peristiwa: Sejumlah Tulisan Seni Pertunjukan (2018). Bekerja di Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa, Sekolah Pascasarjana, UGM.

Michael HB Raditya

Penulis buku kritik seni pertunjukan yang bertajuk Merangkai Ingatan Mencipta Peristiwa: Sejumlah Tulisan Seni Pertunjukan (2018). Bekerja di Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa, Sekolah Pascasarjana, UGM.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *