fbpx

PTSK, TRAUMA, STRESS DAN TERAPI

[Ekwan Wiratno]. Setelah “berpuasa” selama lebih dari setahun, akhirnya kita “berlebaran.” Pertunjukan teater secara offline Kembali di gelar, bahkan oleh enam komunitas sekaligus. Tulisan singkat ini adalah usaha untuk mencatat beristiwa penting ini, baik dalam lingkup Kota Malang, maupun pada level yang jauh lebih luas.

TRAUMA DAN STRESS

Setiap manusia pasti memiliki momen stress bahkan trauma. Stress bisa disebabkan oleh berbagai hal, baik itu kecil maupun besar. Stress merupakan suatu perasaan akibat tekanan emosional atau fisik. Stress dapat timbul dalam berbagai kondisi yang menyebabkan perasaan frustasi, marah atau gugup.

Setahun terakhir ini stress yang paling umum melanda manusia di seluruh penjuru dunia diakibatkan oleh Pandemi Covid-19. Sebuah survey yang melibatkan 2.364 responden menunjukkan bahwa sebesar 69% masyarakat Indonesia mengalami permasalahan psikologis akibat Covid-19. Mereka yang mengalami depresi juga mencapai 67%, sedangkan yang trauma mencapai 77% (Kaligis dkk., 2020). Hal ini merupakan fenomena yang penting untuk dicermati.

Penutupan berbagai tempat kerja merupakan salah satu factor yang menyebabkan stress tersebut. Selain itu, sebagai makhluk sosial, pembatasan mobilitas dan interaksi menyebabkan peningkatan eskalasi stress. Hal ini diperparah dengan dilarangnya kerumunan, acara hiburan/seni dan pariwisata sehingga stress yang terjadi tidak mendapatkan pengurangan. Stress inilah yang harus diatasi sehingga tidak menciptakan trauma jangka Panjang yang sifatnya destruktif. Padahal menurut data World Health Organization (WHO), trauma telah menjangkiti sepertiga masyarakat dunia (IntegratedListening, 2020).

Sementara bagi seniman, Pandemi Covid-19 mengakibatkan berhentinya proses pertunjukan. Hal ini juga mengakibatkan berhentinya Sebagian besar proses kreatif teater. Penghilangan proses kreatif dan aktivitas yang melingkupinya inilah yang menyebabkan berbagai stress dan trauma muncul.

PARADE TEATER SALING KUNJUNG

PTSK atau Parade Teater Saling Kunjung digelar selama tanggal 1-8 April 2021 di Gedung Dewan Kesenian Malang. Parade teater yang mengusung tajuk “Udara Segar” ini sungguh memberikan udara segar bagi seniman teater dan penontonnya. Setelah setahun lebih “berpuasa” kini pertunjukan Kembali digelar secara langsung atau offline. Memang, selama Pandemi Covid-19 telah digelar berbagai pertunjukan teater dalam medium digital melalui berbagai plarform berbagi video seperti Youtube atau media sosial lain. Tetapi, sensasi menggelar pertunjukan dan menonton teater secara langsung tetap tidak tergantikan. Hal inilah yang mendorong penyelenggaraan Parade teater ini.

Parade Teater Saling Kunjung ini menyajikan berbagai komunitas teater di Kota Malang, yaitu Teater Wayang Tuhan (WATU), Kamateatra Art Project, Malang Studi-Club for Theatre (MASTER), Sagaloka, Teater Komunitas dan Teater Osteo. Rangkaian parade ini dibuka dengan sajian tari tradisi dari anak-anak.

Selain sebagai semacam “lebaran,” Parade Teater Saling Kunjung ini juga memberikan ruang berdiskusi yang sangat besar. Pertunjukan-pertunjukan digelar pada pukul 19.00 WIB dan diikuti oleh diskusi yang dipantik oleh seorang pengamat. Pengamat di sini berfungsi sebagai pembaca pertunjukan dan memberikan perspektif bagi peserta diskusi. Maka diskusi digelar setelahnya dengan pendekatan yang lebih substantif dan membuang “budaya” basa-basi yang memuakkan.

Diskusi teater, hampir di semua tempat, didominasi oleh ucapan selamat formalitas dan kedangkalan obrolan. Pertanyaan-pertanyaan yang dilontarnya sebatas persoalan teknis yang remeh dan membosankan. Maka diskusi pasca pertunjukan di Parade Teater Saling Kunjung ini berusaha menepis hal itu. Kehadiran pengamat adalah sebuah kemajuan pertama, berikutnya adalah dengan aktifnya moderator yang mampu mengarahkan topil diskusi pada substansi dan wacana seni pertunjukan. Hal ini rasanya menjadi contoh yang bagus bagi proses literasi teater. Meskipun, ternyata tidak semua pengamat mampu dengan lancar melakukannya. Beberapa pengamat masih terjebak pada wacana yang kadaluarsa sehingga tidak mampu mengamati pertunjukan kini dan fenomena yang sedang terjadi di seluruh penjuru dunia kini.

BACA JUGA:  Jarak Sebagai Medium dalam "Cerita Anak" Pappermoon - Polygot

Sebagai sebuah titik mula, Parade Teater Saling Kunjung tentu saja berhasil menjadi ruang temu antara seniman teater dan penontonnya. Pertemuan ini kemudian dilengkapi dengan ruang-ruang diskusi yang mendalam, bahkan hingga tengah malam. Parade Teater Saling Kunjung ini menjadi udara segar sekaligus pemantik kreativitas seniman teater di Kota Malang.

WAYANG TUHAN

Sebagai pertunjukan teater pembuka Parade Teater Saling Kunjung, pertunjukan Kahanan tidak memberikan impresi yang menarik. Pertunjukan yang menyajikan dua orang tokoh ini sepertinya ingin menceritakan tentang keterkekangan tokoh utamanya pada situasi yang dimaksud. Mengapa saya menggunakan kata “sepertinya”? Tentu saja karena Teater Wayang Tuhan tidak menyampaikan pertunjukan secara jelas. Penggunaan symbol yang tidak universal dan lemahnya kemampuan fisik actor menyebabkan informasi yang ingin disampaikan menjadi lemah pula. Belum lagi adegan-adegan yang tidak disusun secara sistematis untuk menunjukkan suatu struktur yang menantang sehingga pertunjukan sekedar pameran produk dalam etalase, atau dalam Bahasa yang lebih kasar: perca-perca.

KAMATEATRA ART PROJECT

Sajian Obelisk dan Perempuan dari Musim Hujan digelar oleh Kamateatra Art Project dalam dua tahapan pertunjukan. Judul pertama (Obelick) digelar dalam ruangan dan menyajikan upaya pencarian diri dan tokoh panutan. Angka dan kata digelar di setiap sisi ruang, menjadi semacam puzzle-puzzle yang pada beberapa saat terhubung, sementara pada saat yang lain hanya menjadi kebisingan-kebisingan.

DSC 9561 | PTSK, TRAUMA, STRESS DAN TERAPI
Pertunjukan Obelish oleh Kamateatra Art Project. Foto oleh Ekwan Wiratno
DSC 9607 | PTSK, TRAUMA, STRESS DAN TERAPI
Pertunjukan Perempuan dari Musim Hujan oleh Kamateatra Art Project. Foto oleh Ekwan Wiratno

Pertunjukan Perempuan dari Musim Hujan disajikan secara outdoor dan melibatkan beberapa perempuan. Para perempuan ini sepanjang pertunjukan menjadikan stereotype-stereotype perempuan seperti juru masak, juru Tarik perhatian, juru hibur, sekaligus menyajikan trauma-trauma perempuan akibat stereotype itu. Pertunjukan ini bahkan melibatkan penonton dalam adegan nyanyi dangdut. Upaya pelibatan penonton ini tentu saja merupakan usaha sutradara untuk menyampaikan ide-idenya. Hanya saja, sebagai penonton, hingga akhir pertunjukan saya masih belum menemukan korelasinya “musim hujan.”

MALANG STUDY-CLUB FOR THEATRE

Kelompok yang berfokus pada usaha kajian-kajian teater ini menyajikan pertunjukan 1944 atau Lubang Gelap yang Menelan Segalanya. Pertunjukan yang digelar selama 20 menit ini secara padat menggambarkan trauma-trauma perang dan mereka yang terjebak di dalamnya. Mereka inilah, yang tertelan dalam “lubang gelap” yang menyaksikan dan mengalami berbagai kekejaman perang: istri prajurit yang menanti suaminya pulang, prajurit yang dari medan perang, wanita korban pemerkosaan serta hantu-hantu perang yang terus meneror mereka yang masih hidup.

Pertunjukan singkat ini menggunakan panggung traves atau Lorong yang memungkinkan penyampaian informasi secara lebih efektif pada penonton. Selain itu, juga disajikan Teknik penyampaian dengan pamflet-pamflet yang merupakan pengembangan teori teater Bertolt Brecht dan Augusto Boal.

SAGALOKA

Sagaloka mementaskan naskah Kolase Keluarga Bahagia yang memotret konflik keluarga. Sebuah ironi dari judulnya yang “Bahagia,” pertunjukan ini memberikan gambaran kepahitan-kepahitan keluarga dalam berbagai bentuknya. Pertunjukan yang melibatkan cukup banyak actor ini menyajikan pose-pose artistic yang didukung pula oleh permainan formasi dan music yang sangat mudah diterima oleh penonton. Acrobat-akroat artistic semacam ini umumnya digemari oleh penonton remaja yang gandrung pada bentuk-bentuk, tapi seringkali tidak memberikan motive gerak yang cukup. Semacam foto shoot saja.

BACA JUGA:  Jam Tua Pak Yohan di Dinding Keempat dalam "D>S/S>D : Invisible Costs".
TEATER KOMUNITAS

Pertunjukan dibuka dengan masuknya sepeda motor lengkap dengan 3 orang penumpangnya. Ketiganya lalu membangun sebuah peristiwanya masing-masing. Tragedi-tragedi kerusuhan ditampilkan di salah satu sudut, dan menggerakkan konflik antar actor. Maka adegan-adegan lalu digelar, ada kekejaman, bahkan ada teriakan. Teater Komunitas hendak menunjukkan suasana chaotic yang diakibatkan oleh peristiwa-peristiwa kekerasan di sekitar kita.

IMG 20210407 191433 | PTSK, TRAUMA, STRESS DAN TERAPI
Pertunjukan Podcrash oleh Teater Komunitas. Foto oleh Ekwan Wiratno.

Pertunjukan Podcrash digelar sebagian dengan dorongan spontanitas actor. Upaya-upaya improvisasi sangat jelas terus diusahakan oleh seluruh actor selama pertunjukan. Hanya saja, terkadang usaha ini terasa berlebihan atau terlalu lama sehingga sedikit membosankan.

TEATER OSTEO

Teater Osteo menggelar pertunjukan bertajuk Herstory yang mencoba mengajak lebih dalam masuk ke dalam persoalan perempuan, khususnya body shaming. Aktor utama mencoba menyampaikan trauma perempuan dengan semacam story telling atau bentuk paling sederhana dari Lecture Performance. Berbagai kisah traumatic dibagikan oleh actor kepada penonton secara interaktif: beberapa kali penonton dimintai pendapat atau respon. Bentuk partisipasi tersebut kemudian diganjar oleh souvenir.

IMG 20210408 190004 | PTSK, TRAUMA, STRESS DAN TERAPI
Pertunjukan Herstory oleh Teater Osteo. Foto oleh Ekwan Wiratno.

Sementara di sudut panggung lain, terdapat seorang actor yang sedang membuat kue cubit dan membagikannya pada penonton. Actor perempuan ini secara khusuk melakukan aktivitas memasaknya sepanjang pertunjukan. Hal ini tentu saja sangat unik mengingat susahnya berakting secara natural, seakan sedang melakukan aktivitas sehari-hari.

Model pertunjukan Teater Osteo ini sangat unik karena disajikan dalam wujud perbincangan yang hangat. Tentu saja memiliki alur, tapi obrolan digelar secara mengalir. Hanya saja, pertunjukan ini menjadi kehilangan momentumnya karena belum disusun dengan lebih baik. Tensi pertunjukan cenderung flat dan akan berpotensi menurunkan ketertarikan penonton dalam durasi pertunjukan yang lebih Panjang. Tapi sebagai bentuk lain, pertunjukkan Teater Osteo ini mampu memberikan pilihan pertunjukan yang lain.

Pada tanggal 8 April 2021 juga digelar sebuah talkshow dengan tema Mau Kemana Teater Malang yang menghadirkan 4 narasumber, yaitu dari kalangan akademik, praktisi dan pengamat seni pertunjukan. Mereka adalah Rene Sari Wulan, Mustofa Kamal (Universitas Negeri Malang), Muh. Fatoni Rohman (Universitas Brawijaya) dan penulis sendiri. Dalam diskusi itu dipaparkan masa lalu teater Malang dan kondisi terkini serta gambaran Langkah-langkah ke depan yang dapat dilakukan. Secara umum, diskusi ini memberikan optimisme pada masa depan teater Malang, terutama bila dilihat dari Para Teater Saling Kunjung yang telah mampu menghadirkan suasana baru bagi Teater Malang.

TEATER SEBAGAI TERAPI

Teater, sebagai salah satu media tentu saja bisa memiliki peran yang beragam. Peran yang paling umum adalah hiburan, tapi sejatinya teater memiliki peran yang lebih dalam dan luas.

Dalam kondisi stress, teater bisa menjadi sarana hiburan yang mampu mengendorkan urat-urat, sehingga memberikan ketenangan. Sementara di sini yang lain, teater telah terbukti mampu memberikan terapi bagi stress dan trauma yang dialami oleh manusia.

Terapi seni, termasuk teater terbukti mampu menurunkan depresi dan trauma terkait, seperti kesulitan mengidentifikasi atau mengungkapkan emosi, penyendiri, kegelisahan, mimpiburuk dan permasalahan tidur yang lain (Foa dkk, 2008). Terapi teater terbukti mampu meningkatkan kepedulian pada diri sendiri, kemampuan mengekspresikan diri, hubungan dengan orang lain dan kemampuan sosial lainnya (Chang dkk., 2019). Semua penelitian ini menunjukkan fungsi teater sebagai terapi, bukan hanya bagi penonton tapi juga bagi penyajinya.

BACA JUGA:  Mimpi Buruk Teater Setelah Pandemi

Sebuah Gerakan Theater of War for Frontline Medical yang merupakan hasil Kerjasama Theater of War Productions dan Johns Hopkins University Program in Arts, Humanities, and Health, and the Berman Institute of Bioethics, Amerika Serikat digelar untuk para tenaga medis di garis depan penanganan Pandemi Covid-19. Para tenaga medis ini mengalami berbagai tekanan psikologis yang mengkhawatirkan. Maka Theater of War for Frontline Medical digagas untuk memberikan terapi dengan melakukan dramatic reading naskah-naskah tragedy Yunani karya Sophocles berjudul Philoctetes dan Women of Trachis. Usaha yang digelar melalui platform Zoom ini terbukti mampu memberikan bantuan dalam menurunkan stress dan meningkatkan hubungan sosial (Rushton dkk., 2020).

Fungsi teater sebagai terapi dalam kondisi krisis seperti pandemic Covid-19 seperti sekarang ini sangat diperlukan. Sayangnya, hal ini belum mendapatkan perhatian serius dari para pemangku kepentingan. Pelarangan digelarnya pertunjukan teater di Sebagian besar kota di Indonesia hingga saat ini menunjukkan bahwa persepsi fungsi teater sebagai terapi tidak masuk ke ruang-ruang kerja pemimpin daerah.

Maka ke depan, rasanya sangat perlu mengusakan sebuah pertunjukan teater untuk mengurangi afek stress yang diakibatkan Pandemi Covid-19. Dan Kota Malang telah memulainya dengan Parade Teater Saling Kunjung.

REFERENSI

IntegratedListening. 2020. What is Trauma? https://integratedlistening.com/what-is-trauma/#:~:text=Trauma%20is%20the%20response%20to,is%20pervasive%20throughout%20the%20world.

Fransiska Kaligis, Madhyra Tri Indraswari, dan Raden Irawati Ismail. 2020. “Stress during COVID-19 pandemic: mental health condition in Indonesia”. Medical Journal of Indonesia. https://doi.org/10.13181/mji.bc.204640.

Edna B. Foa, Terence M. Keane, Matthew J. Friedman, dan Judith A. Cohen. 2008) Effective treatments for PTSD: Practice guidelines from the International Society for Traumatic Stress Studies (2nd ed.). New York, NY: Guilford.

Wen-Lung Chang, Yu-Shiuan Liu dan Cheng-Fu Yang. 2019. “Drama Therapy Counseling as Mental Health Care of College Students”. International Journal of Environmental Research and Public Health 16, 3560; https://doi:10.3390/ijerph16193560.

Cynda H Rushton, Bryan Doerries, Jeremy Greene, dan Gail Geller. 2020. The art of medicine: Dramatic interventions in the tragedy of the COVID-19 pandemic. www.thelancet.com Vol 396 August 1.

Ekwan Wiratno
Latest posts by Ekwan Wiratno (see all)

Ekwan Wiratno

Ekwan Wiratno adalah Dosen Universitas Brawijaya, Malang yang juga merupakan kritikus teater, penulis naskah, dan sutradara. Selain sebagai kritikus, penulis merupakan pendiri Malang Study-Club for Theatre (MASTER) (IG: master.malang) yang berfokus pada upaya literasi dan pengembangan keilmuan teater secara umum. Kini tinggal di Malang dan membuka peluang komunikasi melalui account Instagram @ekwan_wiratno.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *