fbpx

The Philosophical Enactment 1&2: Membongkar Tubuh, Mendudukkan Wacana dan Gerak

[Michael HB Raditya]. Hanya butuh seorang saja untuk membuat penonton “gusar” selama pertunjukan. Padahal ia tidak banyak memamerkan vokabulari tubuh, pun tidak bercurah gerakan akrobatik, ia juga tidak menunjukkan gerakan yang memanjakan mata, bahkan ia juga tidak banyak mengeksplorasi pola lantai. Perempuan itu hanya berdiri, bergerak dengan kosa gerak yang sederhana dan minim. Alih-alih musik yang berderap menemani setiap geraknya, perempuan tersebut hanya diiringi musik minimalis dan “ditemani” dengan monolog yang membicarakan soal tubuh dan wacana. “Dancer, Writer, …who speaks? Who Writes?”, salah satu nukilan dari ucapnya.

Perempuan itu adalah Padmini Chettur, seorang koreografer tari kontemporer asal Chennai, India. Ia menciptakan dan menampilkan karyanya yang bertajuk Philosophical Enactment 1&2. Gabungan karya antara Philosophical Enactment 1 dan Philosophical Enactment 2 ini merupakan penyempurnaan atas kontemplasi tubuh dari Padmini. Di mana pada Philosophical Enactment 1 lebih mempercakapkan tubuh, sementara pada Philosophical Enactment 2 yang mendekonstruksi tubuh berserta vokabularinya. Alih-alih tidak terkait satu sama lain—terlebih Philosophical Enactment 1 bukan pertama kalinya dipentaskan, sedangkan Philosophical Enactment 2 merupakan pentas perdana dunia—, karya ini justru menjadi padanan yang sinergis dalam mengkritisi tubuh sekaligus pemikiran.

Di dalam karyanya, Padmini didukung oleh Maarten Visser pada musik; Emese Csornai pada tata lampu; serta Aveek Sen (PE1) dan Sreenath Nair (PE2) pada teks dan suara. Ditampilkan pada pergelaran TPAM Yokohama, karya ini masuk ke dalam kategori TPAM Direction—atau saya bisa menyebutnya sebagai salah satu pertunjukan utama—melalui arahan dari kurator tari Indonesia, Helly Minarti. Karya ini ditampilkan tiga kali pada dua hari pertunjukan, 10 dan 11 Februari 2020 di Middle Studio, KAAT Kanagawa Arts Theatre, Yokohama Jepang. Sementara itu, saya menyaksikan pertunjukan tersebut di jadwal pentas pertama mereka, yakni hari Senin (10/2) pada pukul 18.00 waktu Yokohama, Jepang. Kendati terasa “mencekam”, pertunjukan berdurasi 60 menit ini membuat saya percaya bahwa tari tidak hanya sebatas pemuas hasrat visual atau eksotik semata, melainkan juga menjadi ruang dialog atas pemikiran yang mendalam.

BACA JUGA:  BERGURU PADA ALAM: Dari Silek Minang ke Gumarang Sakti dan Tari Kontemporer Indonesia

 

Mendialogkan Perdebatan Tubuh dan Pikiran

Di tengah panggung dengan pencahayaan yang teram-temaram, Padmini diam terpaku. Hanya terdengar monolog yang membahas mengenai tubuh tari dan pikiran. Begini singkatnya, “Penari, Penulis, bisakah bersatu, atau memang terpisah?” Sementara itu, Padmini mulai merespons monolog tersebut dengan gerak yang sederhana, hanya berupaya memutar tubuhnya ke arah kiri dengan posisi kaki yang tetap—laiknya gerak pemanasan. Lebih lanjut perutnya menjadi poros atau pusat dari gerakan, sedangkan punggung dan tangannya melakukan upaya rotasi ke arah kiri dari tubuhnya. Sebagai ilustrasi, gerak yang dilakukan Padmini menyerupai patung-patung Eropa klasik. Alih-alih berubah, Padmini hanya melakukan repetisi dari gerak tersebut, tidak banyak yang berbeda.

Tak lama berselang, ia mengubah sudut gerak dan melangkah ke arah kanan panggung—jika dilihat dari bangku penonton. Selanjutnya, Padmini tetap menggunakan gerak-gerak yang sederhana. Prinsip poros dan rotasi menjadi dominan di dalam gerak tersebut. Pada awalnya saya cukup kaget dengan apa yang dihadirkan pada panggung TPAM tersebut, pasalnya gerak yang ia koreografikan tidak lah terlalu rumit. Namun ketika saya melihat intensitas yang dilakukan Padmini, dalam sekejap saya berubah pikiran. Konsentrasi dan intensitas Padmini membuat tubuhnya bekerja keras pada kosa gerak yang sama. Ia menekan batas maksimal gerak tubuh yang ia punya dan melihat kemungkinan-kemungkinan yang lain.

Di saat yang bersamaan, terlintas tulisan pengantar karya dari Helly Minarti pada selebaran yang dibagikan petugas ketika penonton memasuki arena pertunjukan. Saya mengingat beberapa kata kunci yang bisa direfleksikan dari “Philosophical Enactment 1” yakni soal tubuh, spiral, dan keberlanjutan. Atas dasar itulah konsistensi gerak, gerak yang repetitif, dan soal rotasi tubuh menjadi perhatian utama saya dalam menyisir tubuh yang sedang didialogkan. Kemudian setelah meraba perlahan tarian tersebut, saya kembali mengingat tulisan pengantar Helly Minarti soal Philosophical Enactment 2 yang dilakukan guna mendekonstruksi bahasa tubuh dengan “menabrakkan” pertunjukan India kuno dan wacana pertunjukan kontemporer Eropa. Hal ini juga lah yang menjelaskan mengapa Padmini hanya mengambil gerak memutarkan tubuh ke arah belakang laiknya patung klasik Eropa. Usut punya usut, Padmini memang menyengaja memimesis pose tersebut sebagai ruang dekonstruksi tubuh tari yang ia punya.

BACA JUGA:  Feminisme ala Ayu Permatasari dalam "Hah"

Kendati pada awalnya saya mempertanyakan mengapa bukan tubuh tari India yang ia hadirkan. Terlebih tubuh tari tradisi India mempunyai kosa gerak yang kaya, mempunyai kelenturan, dan keluwesan tersendiri. Namun hal yang menarik justru saya peroleh, di mana Padmini melakukan dekonstruksi pada tubuhnya dengan meminjam kosa gerak yang jauh dari dirinya. Oleh karena kosa gerak yang digunakan tidak berangkat dari tubuhnya, maka terbentuk ruang dialog antara tubuh dan pikirannya yang meraba gerak, meraba pikiran, dan sekaligus meraba keduanya. Namun jujur tidak mudah menonton pertunjukan ini. Cukup beruntung di dalam pertunjukan terdapat monolog yang sangat membantu penonton untuk meraba poin di dalam karya, tetapi di saat bersamaan, saya juga tertarik akan bagaimana jadinya jika pertunjukan tersebut berlangsung tanpa monolog? Apakah tubuh Padmini tetap berhasil menjadi ruang dialog akan perdebatan antara tubuh dan pikiran dalam dunia tari? Atau sederhananya, apakah tubuh dapat mewujudkan perkelindanan antara tubuh dan pikiran yang terus diperdebatkan?

Bertolak dari itu semua, tidak dapat dibantah jika saya merasa “terteror” sepanjang 60 menit berlangsungnya pertunjukan. Keadaan panggung, mulai dari lampu yang teram-temaram, musik yang minimalis, monolog yang membuat gusar untuk berpikir, dan kosa gerak yang terbatas, membuat saya harus terus terjaga dan serius untuk dapat memasuki dialog yang Padmini lakukan. Dampaknya, terus terang saja saya merasa kelelahan setelah menyaksikannya. Banyak dari penonton di sekeliling saya justru terlelap begitu saja. Beruntung sebelum tiba ke tempat pertunjukan, saya sudah memakan tiga buah onigiri untuk membuat tetap fokus pada karya Padmini. Jika tidak, mungkin saya sudah bergabung dengan penonton lainnya untuk terlelap.

Lantas, apakah dengan adanya penonton yang tertidur dapat menurunkan kualitas pertunjukan? Karya The Philosophical Enactment 1&2 sudah membayar tuntas tugasnya sebagai karya tari kontemporer, yakni membuat penontonnya tidak sebatas terlena akan gerak yang menghibur, melainkan membawa penontonnya untuk berpikir dan berefleksi. Terlebih persoalan yang diangkat Padmini seakan terasa “dekat” dengan iklim tari di Indonesia. Apakah perdebatan serupa sudah usai di Indonesia? Ataukah memang dibiarkan begitu saja?[]

BACA JUGA:  LABORAN GERAK Pasar Tari 2500

 

Donasi untuk gelaran.id

Michael HB Raditya

Penulis buku kritik seni pertunjukan yang bertajuk Merangkai Ingatan Mencipta Peristiwa: Sejumlah Tulisan Seni Pertunjukan (2018). Bekerja di Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa, Sekolah Pascasarjana, UGM.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *