Realitas versus Panggung: Ulasan Pertunjukan “Para Pensiunan 2049”

Ficky Tri Sanjaya.
Realitas Versus Panggung

Realitas adalah kenyataan. Hidup adalah masih terus ada atau belum mati. Realitas hidup adalah kenyataan yang ada dan sedang berlangsung. Sementara pertunjukan di atas panggung adalah potret kecil hidup versus realitas yang maha luas. Istilah realitas panggung adalah kenyataan di atas panggung yang berada di antara atau di tengah kehidupan. Peristiwa panggung versus realitas adalah keringat idealisme yang lahir dari pertentangan gagasan mengenai keduanya.  Sebagai langkah kecil, peristiwa panggung adalah semacam potret kecil kehidupan bersumber dari realitas yang beragam dengan berbagai tema. Realitas tersebut terindra mata seperti celah lensa kehidupan yang tidak bisa kita saksikan semua seketika. Mata kita hanya mampu menangkap moment sebagaimana kamera bekerja untuk mengabadikan peristiwa melalui sebuah potret. Potret sendiri memiliki mekanisme kerja untuk menyimpan, mengabadikan, serta mampu membangkitkan kenangan dari sebuah moment. Moment panggung tersebut akan lahir menjadi peristiwa dialog apabila mampu menemukan kedududukan pertentangannya dengan realitas kehidupan.   

Peristiwa panggung adalah beberapa potret akan kehidupan yang tengah berlangsung. Sekecil apapun peristiwa tersebut jika mampu disublimasi dalam peristiwa dramatik ataupun epik, akan memiliki nilai katarsis yang mampu menggugah penikmatnya. Hal tersebutlah yang menyusun sebuah pertunjukan teater yang kontekstual, di mana penonton diberikan ruang dan relasi keterlibatan dirinya dalam suatu peristiwa ritual atau upacara bersama. Keterlibatan penonton tersebut bisa bersifat subyektif maupun obyektif. Di sanalah letak strategi ruang dilekatkan dalam sebuah moment. Moment tersebut tergambar dalam peristiwa pertunjukan teater Gandrik berjudul Para Pensiunan: 2049, yang dipentaskan 8-9 April 2019 di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta.

Teater Gandrik dalam Para Pensiunan 2049. Foto : Giras Basuwondo
 Strategi Ruang dan Relasi Kuasa

Di sebalik pertunjukan teater Gandrik tersebut ada beberapa jejak yang menarik untuk dikenali dan ditelaah, terutama jejak strategi ruang dan relasi kuasa antara penampil dan penontonnya, sebab Gandrik bukanlah teater kemaren sore. Gadrik telah  memulai menggelar peritiwa ritual dan upacara pertunjukan bersama penontonya sejak 1980-an. Menonton Gandrik bagi penonton pemula atau baru, bisa jadi penonton lamapun memiliki ekpektasi yang sama; adanya nilai tonton seperti mengapresiasi barang antik atau foto “lawasan” (klangenan).  Bentuk lain seperti mengenal Indonesia melalui gambar kartu pos yang secara iconik hampir selalu bergambar ruang pariwisata yang paling terkenal dan familiar. Barang atau gambar tersebut selain cantik, ada pula nilai historis penting, melekat di dalamnya yang menampakan keeksotisannya. Bukan persoalan apresiasi ini benilai baik atau buruk tetapi yang tidak mudah adalah memanfaatkan nilai yang melekat tersebut sebagai potensi dan strategi olah baca, serta ruang pancing relasi penampil dengan penontonya.  

Sebagaimana dikenal publik atau penonton, teater Gandrik adalah icon teater sampakan yang mengusung katarsis dari tema parodi politik. Dari bagaimana Gandrik menggelar upacara dan ritual bersama penonton munculah cara komunikasi dan strategi ruang baik produksi maupun pemanggungan. Jika tidak ada daya pantik dan usaha untuk selalu berstrategi memperbaharui citra pertunjukannya bagi penonton, Teater ini akan berakhir melapuk atau berjamur sebagaimana foto lawasan, atau barang antik yang tidak pernah dirawat pada sebuah gudang. Icon parodi politik Gandrik tersebutlah yang membentuk konteks komunikasi dan strategi Gandrik untuk dapat memuaskan ekpektasi penonton. Yang tampak dibangun dan dijaga Gandrik adalah harapan-harapan para penonton akan realitas sosial yang ideal. Ideal yang dimaksud adalah sikap atau pernyataan tentang kebebasan menyatakan pendapat di ruang publik sebagaimana aktor-aktor Gandrik di atas panggung. Sebab adanya relasi kuasa dan  norma kehidupan telah mengikat kebebasan penonton dalam realitas kehidupan sehingga penuh keterbatasan. Dari atas panggunglah seolah sebuah kebebasan dapat diwujudkan, sebagai kaca bagi penonton bahwa orang yang berada di panggung adalah dirinya yang diharapkan dalam kenyataan. Di sanalah letak keberhasilan Gandrik menjaga perayaan upacara dan ritual melalui gaya pertunjukanya yang khas.

BACA JUGA:  Latihan Melakukan Perubahan : Forum Theatre di BTF 2017
Kematian menjadi lebih menakutkan bagi para pelanggar hukum. Foto : Giras Basuwondo

Relasi pernampil dan penonton yang nyata adalah relasi kebutuhan. Seperti relasi keseharian pembeli dan pedagang dipasar yang sama-sama membutuhkan dan saling berharap untuk dapat memenuhi kebutuhan pokok dan keuntungan. Strategi ruang dalam pemanggungan Gandrik melalui narasi teks pada temanya kali ini mencoba meletakakan startegi ruang melalui karakter tokoh, dialog, dan kata yang terdapat dalam naskah Para Pensiunan: 2049, letak kreativitas artistiknya adalah pencarian dan penemuan konteks realitas historis yang mewujud melalui relasi kuasa penampil dan penonton. Contoh kata melalui Nama-nama tokoh seperti kerkof, stroke, jacko, aleman, Baut, Onderdil, hernia, dll. Nama-nama tersebut menggiring konteks secara historis pada ingatan akan hal-hal yang berbau kolonial. Bahwa isinya tidak mengenai cerita kolonial, itu lain soal, tetapi meletakan strategi ruang panggung pada realitas kehidupan yang pas pada benak penoton menjadi pijakan penting dalam membangun relasi dialog pada penonton.  

Secara kontekstual Gandrik mencoba menawarkan teropong kecil kehidupan dengan persandingan gagasan. Bisa jadi pula mencampur adukkan realitas waktu dan sifat dasar dari sistem politik dan kekuasan, bahwa yang terjadi hari ini dan masa mendatang tidak berbeda dengan masa lalu seperti halnya sistem kekuasaan di jaman kolonial. Jikapun ada perubahan pada sistem kekuasaanya, tetap ada pula sifat-sifat dasar manusia dan kekuasaan yang stagnan. Muncullah semangat perlawanan melalui tema, teks, tokoh, dialog, yang menjadi segar untuk diparodikan melalui model Guyon Parikena. Pada titik-titik tertentu strategi ruang dan relasi kuasa antara penonton dan penampilnya dapat dilihat dari adanya jarak tertentu ruang dan relasi kuasa yang berbeda antara penampil dan penonton. Penampil memiliki ruang untuk berkuasa, berkompromi, ataupun menguasai topik tertentu melalui aksi-aksi panggungnya. Sementara penonton memiliki ruang kuasa untuk menerima, menolak ataupun mengkritisi peristiwa tersebut sebagai sarana merayakan hak kemanusiaannya.

Para pensiunan dalam gerakan mengawal kematian. Foto: Giras Basuwondo

Ruang dan relasi kuasa antara penampil dan penonton dalam pertunjukan teater Gandrik Para Pensiunan: 2049 terletak pada kontekstual tema pertunjukan yang sedang dilangsungkan, mengenai pentingnya menjaga kewarasan/akal sehat manusia atas praktik-praktik kotor elit politik yang merasa seolah-olah dialah satu-satunya atau sekawanan orang yang paling berkuasa atas negri ini. Dalam strategi ruang mengenai penggambaran sebuah dunia realitas dan kekuasan dalam pemanggungan teater Gandrik nampak seperti mewujudkan istilah Julius Caesar yang mengatakan, “Berilah rakyatmu roti dan sirkus niscaya semua baik-baik saja”.  Mungkin seperti itulah kekuasaan hari ini dicerminkan dalam pemanggungannya. Gandrik sangat mengerti bagaimana sebuah tema atau topik, isu, kontekstual diolah dan diperlakukan sebagaiman roti dari penampil yang sangat diminati para penontonnya. Sementara sirkus tak ubahnnya bagaimana dramaturgi pertunjukan tersebut disusun agar penonton mampu terbius melalui keseluruhan susunan alurnya melalui dialog humor, koregrafi gerak, artistik, musik dan tari.  Realitas versus panggung dan strategi ruang serta relasi kuasa pada pementasn Para Pensiunan: 2049, kemudian menyadarkan penonton akan sebuah potret relasi dan sifat kekuasaan atas dirinya.

BACA JUGA:  Setelah Thanksgiving Ada Apa?
Yang Istimewa

Yang istimewa dari teater Gandrik melalui strategi ruang dan relasi kuasanya adalah    munculnya kejutan-kejutan humor yang aktual dan spontan di atas panggung melalui para penampil. Bagaimana terkadang strategi ruang dan relasi antara penampil dan penonton kemudian lebur dalam satu moment perjumpaan di luar teks. Meski tidak pada semua moment, namun cukup sering muncul keisengan, kenakalan, keliaran, kejenakaan yang meningkahi teks dan membuat pemain dan penonton keluar dari bius dramatik maupun epik dari stuktur pemanggungan yang tegang. Ketika moment tersebut terwujud penampil dan penonton dalam saat bersamaan berada pada posisi sejajar, seperti merayakan moment kesadaran akan perjumpaan dengan peristiwa katarsis. Tentu saja moment itu menjadi penting sebagai sebuah peristiwa yang membekas dan berharga yang tidak dapat terlupakan maupun diulang kembali.

Parodi Kematian dan Kehidupan  

            Jujur, Kubur !!!

Adalah teriakan terakhir dari para reuni pensiunan yang telah berkomplot dan bersiasat bersama untuk menguburkan orang yang taat dan jujur terhadap peraturan negara.  Selama kurang lebih 120 menit penonton disuguhi menu jalinan alur dramatik dan epik para pensiunan yang berusaha agar tetap memiliki pengaruh dan kekuasan di sisa-sisa kehidupannya : Tuan Vonis (Broto Wijayanto), Stroke (Feri Ludiyanto), Raine Aleman (Citra Pratiwi)  Hernia (Jamiatut Tarwiah).  Adalah tokoh Kerkop (Susilo Nugroho) seorang kepala penjaga makam bersama para Asistennya,  Schroef (M. Yusuf ’Peci Miring) dan Baut (Kusen Ali) penggali makam, serta tukang doa : Slepen (Gunawan Maryanto) yang berusaha keras jujur dan tertib melaksankan aturan penguburan seorang pensiunan pejabat negara yang sebelum pemakamannya wajib memiliki Surat Keterangan Kematian Baik-Baik (SKKB) dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

            Sungguh mencemaskan

            Para pensiunan

            Tak lagi bisa tenang

            Sungguh mencemaskan

            Para Pensiunan

            Hanya ingin hidup tenang


      (Bait lagu para pensiunan dalam adegan reuni pensiunan)

      

Butet Kertaredjasa, sebagai seorang mantan Jenderal Besar yang dimakamkan tanpa SKKB. Foto: Giras Basuwondo

Kematian dan kehidupan menjadi nyawa parodi dalam pementasan Para Pensiunan: 2049, Teater Gadrik. Di masa mendatang pada 2049 lahan pekuburan akan mulai habis.  Infrastruktur yang telah dibangun di mana-mana menyebabkan harga tanah menjadi semakin tinggi, sehingga tidak semua orang dapat dimakamkan. Para pensiunan yang antre mati, menjadi khawatir dengan adanya undang-undang pelaku korupsi (pelakor), yang mewajibkan kepemilikan SKKB bagi para jenasah agar bisa dimakamkan secara layak. Peraturan tersebut membuat gerah para pensiunan. Musababnya adalah seorang mantan Jendral Besar Doorstoot (Butet Kartaredjasa) menjadi arwah gentanyangan karena tidak ber-SKKB dan mencari keadilan terhadap nasibnya.    

BACA JUGA:  Menyimak Pembacaan Naskah GIRLX & RADIO TAKSI di IDRF 2019

Jika jenazah yang meninggal diketahui tidak memiliki SKKB meski berjasa pada negara, maka tetap tidak akan dapat dimakamkan. Jenazah tersebut pasti semasa hidupnya pernah melakukan tindakan korupsi. Oleh karenanya aturan negara mempermudah jenasah tersebut yaitu tidak perlu menggunakan prosedur penguburan. Cukup diletakkan di pinggir jalan sebagai mana sampah dan nantinya akan dibuat pupuk agar berguna bagi masyarakat. Dalam rangka menghindari aturan tersebut, Para Pensiunan kemudian bersiasat mati-matian mengerahkan segala tipu daya dan dalih kriminalisasi pensiunan, penistaan, agar mereka dapat terbebas dari aturan dan hidup tenang dalam mengantre mati.

            Dari Debu menjadi debu

            Yang tiada kembali tiada

            Kebahagiaan hanya sementara

            Kesedihan ditinggalkannya

Petikan bait syair tersebut adalah sebagai pembuka dan penutup pertunjukan parodi kehidupan dan kematian yang menjadi landskap benang merah pertunjukan. Lagu tersebut menjadi bagian adegan penguburan Jenazah di awal dan akhir pertunjukan. Bedanya, di awal jenazah yang akan dikubur adalah Dorstoot akan tetapi karena tidak dapat dimakamkan jadilah Kerkop sebagai kepala penjaga makam yang akhirnya dikuburkan. Lagu tersebut seolah menandaskan bahwa kehidupan dan kematian adalah fana dan permainan belaka. Lagu sendu tersebut diiringi musik Marching Bell, senar dan bass seakan menjadi penanda perayaan akan rapuhnya kuasa manusia akan takdirnya.

Latar visual memainkan paduan warna melalui komposisi lampu dan setting yang sederhana. Simbol tembok berbentuk trapesium dan pohon kamboja dibelakangya tampak seperti parodi horor. Secara visual latarnya seperti mengingatkan akan simbol gambar bulan purnama dan anjing melolong, yang menjadi penanda muramnya malam dalam komik-komik. Sutradara (Djaduk Ferianto) tampak menjaga irama permainan dengan ketat, memasukan banyak adegan yang mengandung musikalitas, humor, dan adegan horor dalam beberapa repetisi. Adegan musikal yang dimaksud adalah adegan menari dan menyanyi secara bersama. Sementara suasana horor dibentuk oleh tuan Onderdil (Jujuk Prabowo) yang selalu melintas dengan membawa sebuah mayat tanpa mengeluarkan dialog. Naskah yang ditulis oleh Agus Noor dan Susilo Nugroho secara dinamis seakan sedang  mencari cara, ruang,  dan strategi dramaturgi baru pemanggungan “sampakan”  ala teater Gandrik, bersama pergulatan dinamika penampil dan para pemain mudanya.         

Ficky Tri Sanjaya

Penulis dan Aktor mime teater. Aktif bersama Bengkel Mime Theatre Yogyakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *