Rembesan “Mili” Mbah Mantri: Transformasi Tradisi dalam Ekspresi Kontemporer “Kala-Kili”

Renee Sari Wulan. 

“Rembesan ilmu orang tradisi ke anak-anak muda berbagai disiplin”. Ini informasi yang saya dapat dari media sosial, berkaitan dengan topik diskusi dalam rangkaian acara peringatan satu tahun wafatnya bapak Sumantri, atau biasa dipanggil mbah Mantri. Informasi tersebut semakin membuat saya berkeinginan kuat menghadiri acara yang digelar pada 17-18 Agustus 2019 di sekitar kediaman dan makam almarhum.

Poster publikasi acara peringatan satu tahun mBah Mantri

Mbah Mantri sendiri merupakan figur yang istimewa bagi saya karena beliau merupakan seniman musik karawitan yang khusus memberi perhatian besar pada karawitan khas Malang-an. Beliau mempelajari, melakukan penggalian, mencatat, dan menghidupkannya (memainkan rutin bersama kelompok karawitannya, dan mengajarkan karawitan pada masyarakat). Perhelatan peringatan satu tahun wafat beliau menjadi menarik bagi saya karena bukan acara seremonial yang hadir, melainkan sebuah pembacaan atas sosok Mbah Mantri yang melahirkan temuan penting untuk diinternalisasi dalam ekspresi seni pertunjukan dan didialogkan lebih lanjut di antara para pendukung maupun dengan para undangan yang hadir. Hal menarik lainnya adalah para pendukung didominasi anak-anak muda (SMP), sekitar dua puluh orang. Hal ini bersambung dengan topik diskusi yang telah saya singgung di bagian awal tulisan ini.

Topik tersebut memicu pengembangan pemikiran di benak saya dalam wujud pertanyaan: “rembesan mili tradisi ke tubuh sejarah selanjutnya, apa yang terjadi di sana?”. Saya membayangkan ilmu atau pengetahuan yang diproses selama puluhan bahkan mungkin ratusan tahun jika ditarik lagi ke garis sejarah sebelumnya, sampai terakhir ada di genggaman mbah Mantri, itu mengalir (mili dalam bahasa Jawa) dari satu tubuh ke tubuh yang lain, berjalan melintas jaman, menandakan kehidupannya karena ia bergerak. Dalam konteks ini, pengetahuan/ilmu/tradisi menjadi hidup karena ia dihidupkan oleh pelakunya sepanjang jaman. Pengetahuan dan tradisi ditransfer ke dalam tubuh para pelaku-pembelajar di jaman selanjutnya laksana air yang diserap/terserap (merembes). Konsep ini menarik, di sini pelaku-pembelajar tak menyadari bahwa pengetahuan dan tradisi itu telah memasuki tubuhnya secara perlahan. Fase menyerap (mengenal, mempelajari, memahami) adalah fase awal dari proses penubuhan pengetahuan-tradisi ke dalam diri individu. Sesuatu yang telah terserap itu memerlukan perawatan, pengolahan dan pembacaan terus-menerus. Tiga kata kerja tersebut menunjukkan upaya menghidupkan pengetahuan dan tradisi dalam konteks yang lain, yaitu proses pematangan di ranah  individual. Di sinilah peluang perbedaan terjadi, karena individu yang melakoninya berada di situasi jaman yang berbeda, bergantung kompleksitas dan dinamika yang terjadi pada masing-masing jaman. Ketika tiga kata kerja tersebut benar-benar dilakukan, maka penguatan penubuhan pengetahuan dan tradisi telah terjadi. Sebenarnya ada satu tahapan lagi yang bisa terjadi usai proses penubuhan tersebut, yaitu fase Tubuh yang Kritis (meminjam istilah penulis dan sastrawan Heru Joni Putra). Tubuh yang kritis adalah proses mempertanyakan segala yang terserap itu, bahkan kemudian menguji, dikaitkan dengan kondisi jaman yang sedang dialami; atau juga terseret dalam fase pembuktian berkaitan dengan pemikiran-pemikiran tubuh yang telah dilakukan sebelumnya. Sejauh yang saya amati, hanya segelintir orang yang melanjutkan prosesnya pada fase Tubuh yang Kritis.

Salah satu tarian dalam acara peringatan Satu Tahun Mbah Mantri.
Salah satu tarian dalam acara peringatan Satu Tahun Mbah Mantri. Foto : Renee Sari Wulan.

Kembali kepada mbah Mantri, saya mencoba menelusuri kira-kira pentransferan apa saja yang bisa terjadi dari sosok beliau. Yang paling menonjol tentunya materi tentang musik karawitan Malang-an yang beliau geluti dan kuasai. Mempelajari musik dalam konteks ini yang pasti tak hanya menemui organologi, nada, artikulasi, cengkok, gaya (style), maupun konsep harmonisasi  (instrumen maupun ensemble). Di sana ada pula syair/lirik yang mengungkap sejarah secara lebih gamblang. Ada konteks, nilai, dan cerita sejarah itu sendiri.

Hal lain yang bisa terserap dari mbah Mantri, terutama ketika beliau telah tiada, adalah sosoknya sebagai manusia. Ketekunan, keteguhan, konsistensi, disiplin, cinta, komitmen, maupun gerak seni sebagai bagian dari gerak hidup, dll, adalah hal-hal yang terungkap, yang menyempurnakan gambaran beliau sebagai seniman tradisi Malang.

Keseluruhan itu pada hari ini dan selanjutnya berhadapan dengan generasi milenial dan pasca milenial. Kondisi inilah yang membangkitkan keingintahuan saya, seperti apakah perjumpaan itu terjadi? Sekaligus menarik langkah saya semakin cepat untuk menghadiri acara haul tersebut. Pertama tentu saja yang ingin saya ketahui pertunjukan macam apa yang tersuguhkan di sana, kemudian peristiwa apa saja yang terjadi, hal apa yang didiskusikan, dan yang terpenting bagi saya apakah saya akan mendapat jawaban dari pertanyaan-pertanyaan terpendam saya; paling tidak saya menjumpai keterhubungan antara apa yag saya pikirkan dan fakta di lokasi.

Sungguh, hal pertama yang membuat acara ini seksi adalah lokasinya. Ini adalah kali kedua saya berkunjung ke sanggar almarhum. Yang pertama adalah peringatan 100 hari wafat beliau. Kedatangan saya yang pertama di waktu malam usai Isya, sehingga saya tidak mengetahui bahwa di belakang sanggar tersebut terhampar areal pepohonan yang masih sangat luas, yang menyuguhkan kerimbunan dan misteri yang indah sekali. Di salah satu bagian area tersebut terdapat makam keluarga, dan di sanalah mbah Mantri diistirahatkan jasadnya. Bagi saya hal itu adalah padanan yang sangat cantik, ketika jasad manusia diserahkan kembali pada alam, menyatu kembali dengan keheningan alam; di sisi lain ia masih ada di lingkaran aktivitas yang ia lakoni di sebagian besar hidupnya, berkesenian. Sempurna.

Pembacaan Geguritan di awal acara Rembesan mili mbah Mantri
Mas Sutak membaca geguritan di awal acara. Foto : Renee Sari Wulan.

Kedua adalah mas Sutak Wardiono sebagai penggagas acara sekaligus kreator dan pelaku pertunjukan. Saya mengenal mas Sutak ketika saya kelas satu SMA, sekitar 30 tahun lampau. Beliau saya kenal sebagai seniman tari, dan saya memang belajar tari dari beliau ketika kami bertemu di aula sekolah saya. Perkenalan dengan mas Sutak membuat saya menangkap-memahami bahwa beliau “bukan orang biasa”. Sebagai seorang guru tari, mas Sutak tidak memberi kami nomor tari yang sudah jadi (yang sudah ada sebelumnya), ia memberi kami karya tari ciptaannya sendiri. Ini memang berkaitan dengan undangan pihak sekolah kami yang meminta beliau membuat karya tari, untuk kami bawakan dalam rangkaian lomba karya tari tradisi antar SMA, mulai dari tingkat Kotamadya sampai Propinsi. Namun bagi saya, lebih dari sekedar ikut lomba dan menang, proses yang diciptakan mas Sutak untuk kami terlibat di dalamnya, sungguh suatu hal yang sangat berharga yang memberi nilai lebih dalam perjalanan berkesenian saya. Melalui mas Sutak saya mengenal tubuh tari Malang-an dengan pengetahuan karakter yang lebih kuat.

BACA JUGA:  “Jejak-旅 Tabi Exchange: Wandering Asian Contemporary Performance” Yogyakarta 2018

Hal penting yang ingin saya katakan di sini adalah proses yang disuguhkan mas Sutak pada kami adalah proses yang menghantar kami pada pendalaman karakter dan internalisasi karya (teks dan konteks) pada tubuh. Kami digeber dengan isi, isi inilah yang mengantar kami menampilkan performa fisik karya. Kami dituntut menampilkan nyawa gerak, disesuaikan dengan pembawaan tubuh kami masing-masing. Kami  berlatih seperti orang teater: olah nafas, konsentrasi, fokus, kami harus mencari tubuh yang rileks, tubuh yang tajam/tegas, seberapa tajam, seberapa tegas, seberapa cepat/lambat, pandangan, imajinasi, dll. Mas Sutak mendorong kepekaan kami terhadap irama dan ruang dari lingkungan sekitar kami. Ini adalah proses yang istimewa, dan saya beruntung pernah terlibat di dalamnya. Di usia SMA kami sudah diajak untuk mengucapkan selamat tinggal pada tari hafalan dan teknik yang kering. Tentu saja ini menjadi bekal saya yang ampuh ketika saya melanjutkan studi ke Jurusan Tari IKJ, haaahahaaaa ……..

Pada perjalanan selanjutnya mas Sutak tak lagi bergerak di tari, ia bergeser ke teater. Diawali dengan menceburkan diri ke teater tradisi Jawa Timur, ludruk, kemudian berkolaborasi dengan seniman-seniman teater modern dari beberapa kampus di Malang, walau masih dalam bingkai ruang dan ekspresi ludruk. Koalisi Kendo Kenceng, nama dari kelompok kolaborasi ini. Di dalamnya tak hanya terdiri dari kelompok teater kampus, melainkan juga kelompok Jaran Kepang (Kuda Lumping khas Jawa Timur), juga komunitas film dan kelompok macapat dan karawitan. Filosofi mereka adalah kuwali (tempat makanan, bagian dari perlengkapan memasak dalam bahasa Jawa). Mereka memaknai ini sebagai wadah kosong yang bisa diisi apapun, sesuai latar belakang masing-masing kelompok. Proses yang dilakukan sebelumnya bukan landasan proses berikutnya. Sebisa mungkin siapapun yang terlibat dalam koalisi ini harus merasa nyaman dan menciptakan kenyamanan. Ada yang “dimasak” dalam koalisi ini.

 Alhasil, wajah ludruk yang hadir adalah ludruk ala mas Sutak. Sesungguhnya ia tak benar-benar meninggalkan tari, karena bagaimanapun adalah sebuah keuntungan tersendiri ketika bahasa gerak memperkaya ekspresi suatu seni pertunjukan. Sampai di sini, mas Sutak menjadi semakin asyik dalam pandangan saya. Ia memiliki kemerdekaan dan kepercayaan diri dibalut kesungguhan untuk bersikap yang jelas dan bertanggungjawab, sehingga laku kesenian menjadi sangat luas dan kokoh sekaligus. Dengan spirit ini mas Sutak diberi kepercayaan sebuah SMP untuk membina ekstra kurikuler teater di sekolah itu. Beberapa kali mas Sutak membawa murid-muridnya terlibat dalam pentas seni pertunjukan di beberapa even. Demikian pula kali ini, mereka terlibat dalam acara haul mbah Mantri.

Maka semakin kencanglah niat saya untuk hadir di acara ini guna menyerap lebih jauh apa dan bagaimana proses penubuhan yang diberikan mas Sutak pada para pendukung pentas ini dalam konteks mbah Mantri.

Semesta bergerak cepat merespon niat saya dengan mempertemukan langsung saya dengan mas Sutak di lokasi acara, begitu saya datang. Beruntung belum ada undangan lain yang hadir, sehingga kami bisa leluasa ngobrol terlebih dahulu. Kami berbincang di dekat anak-anak SMP yang sedang bersiap menjelang pementasan. Obrolan pun akhirnya didominasi seputar kehadiran mereka dalam fenomena seni pertunjukan hari ini. Antusiasme dan militansi mereka adalah berita bahagia yang patut disyukuri. Anak-anak SMP itu menyediakan dirinya untuk mengikuti proses mas Sutak, dibarengi dengan dukungan finansial yang mereka usahakan sendiri. Tak ada dukungan lembaga, termasuk sekolah. Tentu kita bisa melihatnya sebagai fenomena yang absurd; di satu sisi sekolah membuka ruang berekspresi kesenian, di sisi lain tak sepenuhnya memberi dukungan terhadap gerakan ekspresi tersebut.

Dalam konteks proses kreatif, mas Sutak membiarkan mereka menjadi diri sendiri: yang kepingin dandan silahkan, yang kepingin cuek apa adanya juga monggooo …. Dalam konteks mbah Mantri, hal yang ditransfer mas Sutak kepada mereka adalah sosok mbah Mantri sebagai manusia. Kapasitas mas Sutak sebagai pihak yang banyak bekerja bersama dan mengikuti perjalanan mbah Mantri dalam perjuangan beliau menggali musik karawitan Malang-an sebagai pengetahuan, lebih mendorong mas Sutak mentransfer penyerapan dan pengalamannya tersebut. Hal ini memang lebih pas apalagi jika dikaitkan dengan gerak berkesenian mas Sutak sendiri. Sebagaimana telah saya singgung, kemerdekaan bergerak dengan kesungguhan masih saya jumpai pada diri mas Sutak hari ini. Kemerdekaan untuk tidak selalu tunduk pada arus utama, justru lebih banyak menyodorkan tawaran-tawaran perihal sesuatu yang penting, atas dasar kejelian yang tak banyak dilihat/dipedulikan orang kebanyakan. Salah satu pihak yang berbahagia dengan hal itu adalah saya. Lebih berbahagia lagi karena dengan keistimewaan itu mas Sutak diberi ruang di tengah generasi tumpuan sejarah yang akan datang. Mereka yang akan melanjutkan perjalanan sejarah. Kuat keyakinan saya bahwa pertunjukan siang itu adalah satu bentuk tafsir yang merdeka, yang menjanjikan kekayaan warna pandangan (angle). Berdasar pada nilai-nilai kemanusiaan mbah Mantri, mas Sutak memiliki keleluasaan untuk menampilkannya dalam bentuk ekspresi apapun. Ia memiliki otoritas penuh dan kebebasan berbicara apa saja. Sebagai generasi hari ini, saya menganggap itu modal penting yang perlu ditanamkan pada anak-anak tersebut.

Dalam perbincangan kami, satu hal yang menarik perhatian saya adalah penekanan yang disampaikan mas Sutak pada anak-anak itu. Ia mengajak anak-anak menikmati proses berekspresi dengan dasar keteladanan mbah Mantri dan penghormatan terhadap beliau. Mas Sutak mendorong anak-anak untuk membebaskan diri mereka dari hasrat ingin ditonton; yang diutamakan adalah menumbuhkan cinta pada setiap laku/gerak dalam rangkaian proses tersebut, sebagaimana mbah Mantri menumbuhkan cinta pada setiap laku hidup dan berkesenian yang beliau jalani. Bagaimana menikmati proses tubuh berikut tantangan yang menyertainya, menemukan peluang, belajar keras meraih sebanyak mungkin pengetahuan, diikuti berlatih keras menuju ekspresi yang bernas dan kuat. Tentang cinta, mas Sutak menyatakannya kembali  dalam pengantar menuju prosesi pertunjukan: bahwa kehadiran kita semua di sini adalah dalam upaya “menguatkan energi berlaku (baca: bertindak dengan/memberi) cinta”.

BACA JUGA:  Itu Madura! : Catatan untuk Pertunjukan "Tatengghun" karya Sutradara Anwari

Prosesi para pendukung berjalan melewati gapura menuju makam, diikuti para undangan. Istri mendiang mbah Mantri menjadi figur utama dalam prosesi ini, ia didudukkan di kursi tak jauh dari pendopo makam. Beberapa  pendukung mendekatinya, berlaku seolah memberi penghormatan sekaligus mohon ijin. Anak-anak mengambil posisi mengitari makam. Selanjutnya adalah berdoa bersama diikuti tabur bunga. Lalu pertunjukan dimulai. Mas Sutak mengawali pertunjukan dengan membacakan-melantunkan geguritan berikut:

Godhong garing kesampar angin,
mbaka siji kembange gogrok,
alum kelangan arum,
tiba nok lemah-lemah sing nela.

koyok lagek wingi,
blencong disumet, wayange ditata,
giro ditabuh muni umbal,
ngiseni ati-atising suwung iki.

Kendhangmu ngaplak,
nyimpen sewu tangis sing ndelik nok
waliking suara-suara ika,
suarane dalang pelungan,
nyritakna nutfahsing keli dadi urip, dadi urup.

Tutuk kendhang iki, rika melok nggelar lakon,
lakumu sing noktembang-tembang iku.
Tembang sing ngrengga koyok endahing kembang,
donga sing pena renggabarek suwara.

Pakdhe,
Aku gak kate ngundhat-undhat kodrat,
opo maneh nangisi mangsi sing nulis pesthi.
Yo mek nok kene,
saiki aku rumangsa sepi,
kendang lan suwara-suwara kae,
bisu ditinggal bapakne.
Kidung-kidung dadi minir, pepes atine getir.
Budaya koyok kelangan srati.

Serang pathet pungkasan,
pena kalungan semboja,
ngidung pangkur rika wis mungkur,
mlaku alon, nyangking lelakon,
ditutna gandakusuma, gendhing senenganmu wingi,
lerem nok kotak kayu cendana.
Gemak-gemak pada melung,
mbok rara kasatan tangis…

Geguritan ini berjudul Sintrun, karya Wejoseno Yuli Nugroho, mengawali pertunjuan siang hari itu. Secara keseluruhan saya memahaminya sebagai ungkapan kesedihan atas kepergian sang maestro karawitan Malang, mbah Mantri. Saya kutip beberapa syair:

“Gending ditabuh mengisi hati yang kosong. Suara kendang menyimpan seribu tangis yang sembunyi di balik suara. Suara dalang menceritakan nutfah yang terseret arus air menjadi hidup dan menjadi cahaya (menyala/bersinar). Dari kendang ini engkau memulai cerita, perjalananmu di tembang-tembang itu. Tembang yang ‘ngrengga’ seperti indahnya bunga, doa yang kau’rengga’ dengan suara. Aku tak bermaksud mempersoalkan takdir, apalagi menangisi Sang Penulis suratan, hanya saja di sini aku merasa sepi, kendang dan suara-suara itu bisu ditinggal bapak.”

Di bait tiga dan empat saya merasa mendapat “keterhubungan” dengan pemikiran saya tentang hidup dan kehidupan, serta syair geguritan yang telah saya singgung di bagian awal tulisan ini. Bait tiga menyebut tentang nutfah yang terseret arus air menjadi hidup dan menyala. Nutfah yang saya temukan artinya di Google translate adalah substansi pembawa sifat keturunan. Jika saya kembalikan pada konteks di bait tiga, maka saya memahaminya sebagai warisan hidup (yang bisa melekat pada apapun) yang sedang melakukan perjalanannya untuk kemudian menjadi hidup dan bersinar. Bait empat mengutarakan tentang tembang yang diposisikan di “tahta yang kokoh dan elok seperti bunga” (rengga). Tembang adalah doa yang dialirkan dengan suara.

Di awal saya menyinggung tentang sesuatu yang dilanjutkan perjalanannya (dihidupkan-dialirkan) dengan beragam cara, di antaranya seperti rembesan air. Sesuatu itu bisa berupa nutfah. Kemudian dalam karawitan hal lain yang dialirkan adalah syair/lirik dalam tembang yang menyimpan cerita, perjalanan, pengalaman, nilai, sejarah, dan rentetan hal berharga lainnya. Hal itu ditebalkan oleh teks di bait empat: “Dari kendang ini engkau memulai cerita, perjalananmu di tembang-tembang itu.”

Ya, secara keseluruhan, ini semua berbicara tentang mbah Mantri. Geguritan itu menguraikan dengan cantik bentuk penyatuan mbah Mantri dengan musik, sebagaimana penyatuan manusia dengan kehidupan, manusia dengan hidupnya. Karenanya, perpisahan yang dialami kesatuan itu pun terasa menyedihkan.

Secara lengkap, inilah terjemahan geguritan tersebut:

Daun kering tertiup angin,
satu demi satu bunga itu berguguran,
layu dan menjadi sayu, terjatuh di antara tanah yang kering

seperti baru kemarin,
blencong (lampu untuk dalang) dihidupkan,
wayang disiapkan,
gending Giro yang ditabuh bersama,
mengisi hati yang kosong.

Pukulan kendangmu yang ngaplak,
Menyimpan seribu tangis yang bersembunyi di balik suara-suara itu,
suara dalang pelungan (nyanyian dalang dalam gending Gandakusuma)
menceritakan perjalanan yang hanyut menjadi kehidupan, kehidupan yang bermakna.

Dari kendang ini,
kau ikut menceritakan lakon,
lakon kehidupanmu di antara tembang-tembang.
Tembang yang indah bagaikan bunga,
doa yang kau hasilkan dari suara.

Pakdhe
Aku tidak akan mencaci kodrat,
Apalagi menangisi  pena yang menulis wiradat.
Ya, hanya di sini,
dan sekarang merasa sepi,
kendang dan suara-suara itu,
bisu ditinggal tuannya.
Kidung-kidung menjadi minor, hati menjadi getir.
Budaya seperti kehilangan kemudi.

Serang pathet yang terakhir,
pena berkalung semboja,
tembang pangkurmu sudah mundur,
berjalan pelan, membawa cerita,
diikuti Gandakusuma,
gending kesukaanmu kemarin,
terdiam di dalam kotak kayu cendana.

Burung Gemak berteriak,
Mbok Rara kekeringan air mata… 

Adegan pembuka acara peringatan wafat mbah Mantri. Foto : REnee Sari Wulan

Di sebuah hamparan nun di tengah ruang yang dikelilingi rimbun aneka daun, saya melihat tiga tubuh (dua laki-laki, satu perempuan) tergeletak di tanah dengan sikap-ekspresi tubuh yang ‘tak biasa’. ‘Tak biasa’ dalam pengertian: ini bukan ekspresi tradisi. Saya langsung bisa membaca ada warna gerak individu yang diberi ruang untuk (harus) hadir. Usai  mas Sutak mengekspresikan geguritan, ketiga tubuh itu bergerak. Disambung dengan kehadiran anak-anak SMP yang juga berekspresi dengan tubuh dan suara-vokalnya. Saya jadi bahagia karena ekspresi yang dimunculkan tak melulu ungkapan bahasa teater. Saya bersyukur mas Sutak sebagai kreator pertunjukan ini “menghadirkan dirinya” sepenuhnya dengan ragam kesenian yang ia miiki. Tubuh tradisi Malang-an pun ada di sana, mengingatkan saya dengan proses yang pernah saya dapat dari mas Sutak 30 tahun lampau. Jika saya harus melihatnya dengan kacamata ‘tari” atau “gerak tubuh yang berekspresi kuat”, maka saya akan menyarankan adanya workshop khusus olah tubuh dan teknik tari untuk menguatkan tubuh sebagai “subjek ekspresi”.

BACA JUGA:  Catatan Pasca Pertunjukan "Sarah Wulan" Teater Air SMA N 3 Tuban.

Nadhira Dyasti (Dhira) satu-satunya perempuan dewasa yang turut berperan dalam pertunjukan tersebut. Ia membacakan puisi karyanya yang terinspirasi geguritan karya neneknya.

Pangumbaran

Yangkah iki aja kok rendeti
Nganggo tangis-tangis ngrerujit ati
Mundhak ringkihing watu-watu padhas
Anjejuwing dlamakan

Mung dongamu dak antu-antu Kekasih
Njurungake gancaring andon laku
Ngupaya boga, ngupaya usada

Yangkah wingi sepi djroning karameyan
Anane mung nggresah ngadepi impen lan kanyatan
Antinen tekaku Kekasih
Suk dina kang mawa tengara
Umbul pangarep-arep mbarengi
thronthonging bhagaskara

Wiyati Sutrisno
1 Juli 1979

Manunggal Bersama Lagumu

Sekali lagi
Di suatu pagi di balik jendela kamarku yang
besar aku menatap langit yang lapang dan sedang
berhujan

Irama dan aroma yang menyelinap lewat celah
tralis-tralis besi jadi musik pengiring lagu
perpisahan yang baru saja kau nyanyikan
Sekali lagi

aku menghafalnya dengan baik
Kemudian menuliskannya kembali,
kali ini kutulis dengan jarum jangka

Aku tidak kemana-mana
Aku masih suka lagumu
Kusimpan di urat nadiku

Nadhira Dyasti
25 Maret 2018

Kedua teks tersebut beririsan dengan konteks dua tokoh utama dalam pertunjukan ini, Kilirana dan Kalanjana. Puisi Dhira merujuk pada domain pemikiran Kilirana. Di sini ada ruang kebebasan berpikir dan tafsir, bahwa dalam hidup bisa tawar-menawar dengan alam. Jika ingin umur panjang, maka tubuh harus sehat. Supaya sehat harus ada asupan gizi vitamin, dsb. Geguritan sang nenek merujuk pada Kalanjana (tentang keberterimaan hidup). Semar/Jarodeh/Kalanjana adalah rahasia hidup dan penyaksi bahwa hidup bukanlah seperti yang dipikirkan. Ghaib itu ada, metafisik itu nyata. Setiap rupa, rasa, warna, cipta, bahkan cinta terukur pada wadah/bentuk/wujud yang dipilih: binatang, tumbuhan, manusia.

Kalanjana adalah nama rumput, representasi dari wilayah/golongan akar rumput, yang membumi dan natural. Kilirana, ada “kili” di dalamnya yang berasal dari “mili” (mengalir), “keli” (hanyut, terbawa arus, mengikuti aliran). “Rana/mrana” (ke sana) menuju yang tidak tahu batasnya.

Lahirnya tokoh Kalanjana dan Kilirana terinspirasi dari tokoh-tokoh pengasuh/punakawan (“orang kecil”/ orang-orang yang tak diperhitungkan) dalam Wayang Purwa (Semar dan Bagong)maupun Wayang Topeng (Jarodeh, Prasonto, Potrojoyo). Para punakawan ini memiliki kemampuan berbicara tentang kearifan dan hal-hal yang besar/penting dalam hidup, namun mereka kurang cukup diberi ruang oleh penguasa kolonial.

Kalanjana dan Kilirana hadir di bagian tengah-akhir pertunjukan. Kilirana mewakili pemikiran tentang perubahan-perubahan dan prediksi masa depan yang sangat gamblang dibaca-dianalisa dari perspektif akademik. Ia mendapat tugas dari Kalanjana mencari sumber air bening yang akan berguna untuk melestarikan padepokan mereka. Namun Kilirana mengatakan bahwa bumi telah rusak, sumber air bening tiada lagi.

Kilirana (kiri bersarung hitam) dan Kalanjana (bersarung putih). Foto : Renee Sari Wulan

Dalam pertunjukan Kala Kili selalu ada dialog Kilirana:

Man Kalanjana, sing rika gembol, sing rika sidhem age-age ndang omongna, iku ya dibutuhna wong akeh. Ndang critoa Man, aja nganti nyiksa raga rika, emanen raga rika Man.”

Arti:

“Paman Kalanjana, yang kau bawa itu segeralah kau katakan, itu juga dibutuhkan orang banyak. Segera berceritalah Paman, jangan sampai menyiksa ragamu, jagalah ragamu Paman.”

Dialog ini saya asosiasikan dengan kualitas keilmuan punakawan yang menjadi sumber inspirasi mas Sutak bagi cerita ini. Kalanjana diminta berbagi pengetahuannya tentang rahasia hidup, kearifan hidup, makna, pelajaran, dengan sudut pandang yang jernih.

Pertunjukan diakhiri dengan berlarinya Kilirana mengikuti Kalanjana yang berjalan ke arah makam mbah Mantri.

Sumber air bening adalah mbah Mantri. Atau bisa juga dibaca mbah Mantri sebagai figur yang selalu berupaya bertitik tolak pada sumber air bening itu.

Melalui seluruh rangkaian acara ini saya menangkap bahwa mas Sutak membaca mbah Mantri dalam alur penjelajahan makna kesejatian. Di sini dibuka-diwadahi keinginan untuk mengkritisi, juga terbuka terhadap eksplorasi dan pandangan-pandangan yang dinamis.

Antusiasme, ekspresi dan semangat kegembiraan anak-anak SMP sangat terasa dalam mengikuti seluruh rangkaian acara ini. Setelah pertunjukan mereka menanam biji tanaman sawo kecik di beberapa titik di lahan rimbun. Semangat itu masih terasa, terutama dalam diri beberapa anak, ketika mereka mengikuti forum diskusi. Salah satu dari mereka menanyakan apakah wafatnya mbah Mantri membuat kita kehilangan, atau apa yang sebenarnya kita inginkan: mbah Mantri tetap hidup atau sebaliknya? Ini pertanyaan menarik dan terkait dengan poin-poin yang telah digelar. Mas Sutak pun menjawab bahwa justru karena begitu banyak hal penting dan niai keteladanan dalam diri mbah Mantri, membuat kita tak ingin beiau wafat.

Para siswa SMP yang serius menyimak pada sesi Sarasehan bersama Anthony Wibowo. Foto : Renee Sari Wulan.

Maka, wafatnya mbah Mantri membuahkan spirit untuk terus menggerakkan hidup, dan menjadikan segala warisan beliau sebagai bagian yang harus digerakkan. Saya pun menyaksikan langsung dampak dari proses kreatif ini pada generasi milenial di sekitar saya saat itu, yang menebalkannya dengan pertanyaan: kapan kita pentas di sini lagi? Pertanyaan ini adalah ujung dari “proses kesungguhan/komitmen” mereka selama mengikuti proses pertunjukan ini yang tidak mendapat dukungan sepeserpun dari sekolah. Mereka dengan riang gembira mengusahakan sendiri mengumpulkan uang demi menjalankan niat mereka berproses kesenian tersebut. Sampai di sini saya lalu bertanya: apakah mereka anak-anak? Mereka seakan mempertanyakan kembali kesungguhan kita yang telah memulai proses berkesenian jauh lebih dahulu daripada mereka.

Lantas kita sebut apakah transformasi semacam ini? Mas Sutak mengajak kita menajamkan kembali: apa yang harus ditransformasikan pada sejarah yang terus bergerak, dan bagaimana hal itu dilakukan? Dengan apa yang telah dilakukan mas Sutak pada anak-anak SMP itu, tradisi menjadi sesuatu yang ringan dan menyenangkan, sesuatu yang dekat dan menjadi bagian dari kita. Ia melekat. Ia bukan sesuatu yang jauh, besar, tak terjangkau … apalagi jika transformasi/penanaman tradisi itu dilakukan dengan membebaskan dahulu diri kita dari imitasi dan hafalan.

Banyak ragam cara dalam menyerap tradisi dan menggerakkannya. Keragaman dan gerak, itulah hidup.

Renee Sari Wulan

Renee Sari Wulan lahir di Malang, Jawa Timur, tahun 1973. Menari sejak usia 6 tahun. Lulus dari Institut Kesenian Jakarta program studi Antropologi Tari. Menjadi anggota Dewan Kesenian Jakarta (2006-2012) di Komite Tari. Memiliki ketertarikan pada riset dan penulisan tari, terutama kajian tubuh tari Indonesia. Tahun 2017-2018 terlibat sebagai editor buku tari Ikat Kait Impulsif Sarira yang ditulis oleh Eko Supriyanto. Kemudian ia diminta terlibat sebagai dramaturg dalam proses kerja koreografi dari tiga koreografer Indonesia, yaitu Hartati ("Wajah #2" 2017), Tulus ("Pasir" 2018 - sekarang masih berproses), dan Eko Supriyanto ("Ibu Ibu Belu Body of Border" 2019 sedang berproses).

Renee Sari Wulan

Renee Sari Wulan lahir di Malang, Jawa Timur, tahun 1973. Menari sejak usia 6 tahun. Lulus dari Institut Kesenian Jakarta program studi Antropologi Tari. Menjadi anggota Dewan Kesenian Jakarta (2006-2012) di Komite Tari. Memiliki ketertarikan pada riset dan penulisan tari, terutama kajian tubuh tari Indonesia. Tahun 2017-2018 terlibat sebagai editor buku tari Ikat Kait Impulsif Sarira yang ditulis oleh Eko Supriyanto. Kemudian ia diminta terlibat sebagai dramaturg dalam proses kerja koreografi dari tiga koreografer Indonesia, yaitu Hartati ("Wajah #2" 2017), Tulus ("Pasir" 2018 - sekarang masih berproses), dan Eko Supriyanto ("Ibu Ibu Belu Body of Border" 2019 sedang berproses).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *