fbpx
Selasa, April 23, 2024
ULASANPanggung Teater

Sang Prabu dan Songsong Emas Belok ke “Kiri” : Catatan atas Pertunjukan “Prabu Cakrabaskoro” — Kethoprak Srawung Bersama

[Indra Agusta]. Sebuah payung emas tergantung di langit-langit. Payung ini tidak seperti payung hitam di aksi kamisan, melainkan payung seorang raja dengan bentuk tertentu yang menurut orang Jawa dinamai songsong. Berlatar kain merah dengan ujung payung yang melirik ke arah kiri, seolah sedang memberi isyarat tentang sesuatu yang sangat penting.

Pada zaman kerajaan Mataram Islam, payung emas kerap menjadi simbol kekuasaan, Jika payung itu sepenuhnya berwujud emas tentu hanya milik sang raja, pemimpin paling tertinggi dari suatu wilayah. Semiotik di panggung pada pementasan kali ini cukup memberikan sebuah tanda tanya, mungkin juga wujur metafora. 

image001 1 | Sang Prabu dan Songsong Emas Belok ke “Kiri” : Catatan atas Pertunjukan “Prabu Cakrabaskoro” — Kethoprak Srawung Bersama
Payung Emas. Foto : Indra Agusta

Kekuasaan ada diatas sana tinggi diatas awan, sulit dijangkau para kawula, bahkan mungkin hanya mirip mitos. Kita hanya bisa menerka-nerka, “Apa yang terjadi di dalam kekuasaan?”

Sedangkan “kiri” atau left-wing punya akar ideologis yang merujuk sejak masa revolusi sosial yang terjadi di Perancis. Kemenangan partai sayap kiri pada revolusi kemudian berdengung di seluruh dunia, masuk melalui ideologi partai hingga jangkep mengakar ke dalam pergerakan mahasiswa.

Di Hindia Belanda hingga Indonesia sesuatu yang “kiri” pernah sangat mengemuka. Gerakannya masif, partainya besar, dan memenangi pemilu di beberapa tempat. Tetapi, kebesaran itu juga menuai oposisi pada sebuah bangsa yang sedang mengalami krisis turbulensi politik. Kiri kemudian dilenyapkan, namun hantunya selalu diciptakan untuk menakut-nakuti, juga untuk sentimen politik tertentu.

Setelah G30S 1965, partai-partai kiri dilarang, anggotanya ditangkap dan diberangus oleh militer, segala eksponennya mesti diberantas sampai habis. Ironisnya, orang-orang yang tidak bersalah ikut menanggung kehilangan hidupnya, hancur nasibnya di dunia, hingga dianggap seperti iblis yang harus diburu.

Ketidakadilan itu dipertahankan, banyak anak cucu korban menanggung sesuatu yang sebenarnya tidak begitu mereka mengerti. Kekuasaan yang sangat represif membuat tidak ada yang berani mengingatkan kejadian biadab tersebut. Keadaan itu berlangsung sampai presiden Suharto lengser keprabon pada 20 Mei 1998.

Pembunuhan massal itu terjadi dengan korban setidaknya lima ratus ribu orang. Kengerian yang teramat dalam. Luka bangsa ini harus selalu diwaspadai, diingat dan jangan sampai terjadi lagi.

Pasca reformasi data-data kejahatan tahun 1965 seperti dibuka krannya. Orang-orang baru mulai terang-terangan membicarakan kebenaran genosida yang terjadi pada pemerintahan presiden Soeharto. Banyak peneliti dari luar negeri maupun di dalam negeri mulai mengkaji kasus ’65.

Rabu Pahing, 11 Januari 2023 kemarin melalui pengumuman Sekretariat Negara, Presiden Jokowi mewakili negara akhirnya mengakui ada dua belas pelanggaran HAM berat yang pernah dilakukan oleh negara. Termasuk kejadian 1965-1966.

“Saya dan pemerintah berusaha untuk memulihkan hak-hak para korban secara adil dan bijaksana, tanpa menegasikan penyelesaian yudisial,” kata presiden Jokowi waktu itu.

BACA JUGA:  Upaya Kreatif Tak Berpadu Konsep : Dua ujian akhir Teater SMK 12 Surabaya

Kekuasaan kini melirik ke “kiri”, bukan berarti untuk membangkitkan komunisme yang partainya sudah dibubarkan sejak lama. Lirikan ke “kiri” ini dibaca sebagai pengakuan, rasa bersalah, tawaran tanggung jawab yang telah diberikan oleh negara. Pemberian tersebut dilakukan dengan proses bertahap pada mereka yang dituduh komunis dan menjadi korban kebiadaban turbulensi politik kala itu.

image003 | Sang Prabu dan Songsong Emas Belok ke “Kiri” : Catatan atas Pertunjukan “Prabu Cakrabaskoro” — Kethoprak Srawung Bersama

Songsong emas itumau memberi atensi pada pejuang korban ’65, juga para korban pelanggaran HAM lainnya. Sinyal ini tentu saja harus dijaga pendar nyalanya, maka, pengawalan terhadap proses pencarian keadilan ini harus terus didengungkan.

Malam ini di Teater Arena TBJT Surakarta, usaha mengawal itu mewujud. Sebuah pementasan ketoprak dalam lima babak bertajuk “Prabu Cakrabaskoro” digelar. Para pemainnya menjuluki wadah mereka berkumpul sebagai K.S.B (Ketoprak Srawung Bersama), tentu ini tak hanya isapan jempol belaka.

Pementasan malam ini terjadi karena banyak pihak yang melakukan srawung. Mulai dari Sekretariat Bersama ’65, LPSK, Indonesia for humanity, Voice global, Komunitas Gamelan Mutihan dan tentu saja Taman Budaya semua turut serta, dan, tentu saja penonton yang melimpah ruah malam ini memberikan energi panggung yang tak kalah luar biasa.

Fragmen 1

Adegan silat Jawa menghentak penonton yang sebelumnya riuh. Volumenya menurun, berbisik-bisik lalu diam menikmati pertarungan yang digelar. Kelincahan, keluwesan hingga kesengajaan menampilkan humor dengan adegan yang gobras-gabrus, selalu membuat saya benar-benar yakin bahwa ini beneran ketoprak.. 

Surakarta tentu berbeda dengan Yogyakarta yang ketopraknya lebih menekankan pada dialog. Disini ketoprak dapat membuat “ger’’ penonton melalui rangkaian adegan-adegan yang berbahaya, mencuri pandang lewat eksperimen pertarungan, juga olah tubuh para pemain yang dihasilkannya.

Setelah dirasa cukup lalu layar berubah menjadi redup. Saya terus bertanya sebenarnya apa yang ingin disampaikan pada fragmen pertama. Perang, pertarungan, kekacauan, drama-komedi. Jawaban ini tidak saya temui karena memang tidak ada dialog yang menjelaskan ini siapa yang bertarung, karena apa? Apakah ini metafora pergolakan mereka yang berseteru di kanan, kiri dan tengah pada 1965?

Fragmen 2

Dua orang lelaki sepuh menari-nari di ruangan keraton yang sepi. Prabu Cakrabaskoro terus bertanya-tanya apa salah dirinya, kenapa tidak ada yang mempercayainya, dan apa yang sebenarnya ditinggalkan ayahandanya (sang raja sebelumnya) sehingga masyarakat menaruh rasa muak kepadanya. Lelaki sepuh itu terus menari-nari seperti hantu yang sekelebat selalu hadir di sekeliling raja.

Jikalau ada yang buruk di masa lalu apakah tidak bisa dihapus, apa yang sebenarnya ada di masa lalu? Kedua lelaki sepuh itu terus menari dan melafalkan kalimat “tidak mudah menyelesaikan masa lalu”. Sambil merangkulkan tangan pada kedua belah pundak, para “hantu”ini dengan mengepalkan tangan kiri ke atas dan mengacungkan jari telunjuknya ke sang raja.

BACA JUGA:  Catatan Seorang Penonton "Sulamin Bibir Saya Dong"
Fragmen 3

Seperti pertunjukan wayang kulit yang memberi porsi dagelan untuk memecah kejenuhan. Pada fragmen ini terdapat tiga orang lelaki tampil membuncahkan guyon-guyonannya. Kelucuan ini meski porsinya menurut saya terlalu berlebihan, mampu menahan penonton untuk tetap tinggal pada kursi mereka. Para penonton yang kebanyakan berisi anak-anak generasi Y atau Z butuh sarana untuk meregangkan pikirannya.

Jalan kreatif lewat dagelan ini menarik, karena anak-anak milenial serta gen-Z sama sekali tidak mengalami kengerian peristiwa 1965-1966, atau bagaimana rezim totaliter Soeharto telah berkuasa selama 32 tahun lamanya. Mereka tidak punya ingatan sama sekali akan hari-hari gelap tersebut.

Tetapi lewat jalan kebudayaan seperti ketoprak, saya merasa seperti yang dikatakan Mas Hasto: ada transfer of knowledge. Kita mengingatkan kembali bukan untuk berkutat menimang masa lalu, luka-luka itu bahkan harus segera sembuh. Mengingatkan kembali peristiwa 1965 adalah sarana memberikan khazanah pengetahuan, serta pagar, jangan sampai di masa depan ada kejadian serupa lagi.

Belum perlu diskusi ndakik-ndakik cukup nikmati saja pementasan. Semoga suatu hari beberapa dari ratusan anak gen-Z yang datang ini timbul empati-nya pada kemanusiaan, dan mencegah dirinya sendiri agar tak perlu mencederai harkat kehidupan itu sendiri.

Fragmen 4

Istri dari raja menuju ke panggung dengan mendendangkan sebuah tembang macapat Maskumambang. Melagukan kesedihan tentang kehilangan sekaligus kemarahan. Anaknya menuntut kebenaran dari apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu, dan sang ibu menceritakan apa yang terjadi di masa itu. Rentetan konflik kekuasaan yang berujung pembunuhan. Fragmen ini menurutku penting, ia menceritakan kejadian ’65 dengan metafora kekacauan yang disebabkan sang Prabu.

Ibunda sang raja menutup dengan dialog; “Bau amis dari pantai selatan masih tercium, hingga sepekan”.

Ingatan saya langsung belok ke laporan Soe Hok Gie yang berjudul ‘Di sekitar pembunuhan massal di Bali’. Laporan Gie ini menunjukkan bahwa pembunuhan itu terjadi sekitar Desember 1965-Januari 1966. Dialog diatas membuat saya merinding bila mengingat jumlah korban yang berjatuhan.

Fragmen 5-6

Dua lelaki sepuh itu kembali, kali ini kedatangan mereka ditemani oleh seseorang. Mereka bertiga saling rerasan (berperasangka)tentang keputusan sang Prabu untuk mengakui adanya kejadian buruk di masa lalu. Kadang dengan lugas kedua lelaki ini langsung menyinggung tentang “Inpres” dan “Keppres” yang semakin membuat saya yakin, bahwa tokoh utama prabu yang galau itu jangan-jangan adalah bapak presiden kita hari ini.

BACA JUGA:  BEASTLY : Ruang, Isu, Tema dan Dramaturgi

Perspektif kawula ditunjukkan pada fragmen kelima. Bagaimana respon korban yang kebanyakan rakyat biasa dan tidak tahu banyak tentang politik.

Dialog pesimis melawan optimis saling bergeliat. Salah satu tokoh merasa ia telah tercerabut hakikatnya sebagai manusia, tapi tokoh lain berargumen punya harapan tentang “songsong yang belok ke kiri” itu.

Fragmen kelima menjadi interaktif ketika mengajak ketua LPSK maju ke arena ketoprak. Berpindah sebentar penonton diajak memahami keputusan penting presiden Jokowi 11 Januari lalu. Dalam fragmen terakhir,  Sang Prabu dan dua punggawa, salah satunya bernama Tumenggung Reksonegoro berdebat sengit tentang bagaimana kelanjutan dari keputusan penting ini. Dialog kemudian memuncak, lalu digong’i dengan baik, bahwa yang terjadi hari ini sudah terjadi, dan esok harus diperjuangkan lagi.

Pentas ini meski ada beberapa bolong di sana-sini, secara sajian cukup menarik. Terutama metafora dan simbol-simbol yang dimunculkan.

Pemilihan kostum pakaian yang dipakai para pemangku kuasa, dari jarik hingga warna surjan yang dipakai. Serta baju kawula biasa yang serba hitam – mengingatkan kita pada gerakan Saminisme di Blora sebagai simbol perlawanan juga kejuangan.

Lalu juga penata musik yang sangat bagus. Gamelan Mutihan yang main asik dalam kegelapan ketika transisi fragmen terjadi. Ketukan demi ketukannya utuh, dan tak pernah meleset.

Dua jam lebih, cukup membuat saya merasa terharu. Sebagai penonton yang juga mempelajari sejarah ‘65 simbol yang dimunculkan bisa memantik para pembaca seperti saya, atau mungkin mewariskan simbol-simbol itu pada generasi yang lebih muda dari saya.

Terakhir, Saya sebenarnya menunggu, mau diapakan itu payung (songsong) emas di akhir pertunjukan, sayangnya hal itu tidak terjadi apa-apa. Tabik untuk KSB!.

Indra Agusta

Indra Agusta

Indra Agusta, tinggal di Surakarta, Jawa Tengah. Penggiat di komunitas kesusasteraan Jawa Kuna Sraddhasala. Pencinta sastra, musik, film dan teater.