Sawung Dance Festival 2019: Identitas Tubuh Yang Dibicarakan Di Ruang Sunyi

(Renee Sari Wulan).

Dunia tari kontempoer Indonesia kembali disemarakkan dengan kehadiran sebuah festival di Surabaya yang sempat jeda satu tahun, Sawung Dance Festival, 11-12 September 2019. Dihelat pertama kali tahun 2015 oleh sepasang suami-istri penari koreografer Mohamad Hariyanto (dikenal dengan Hari Ghulur) dan Sekar Alit (Alit). Mereka memberanikan diri membuat festival tari kontemporer demi ingin “membasahi” bumi Jawa Timur (Jatim) dengan menciptakan ruang untuk memicu-mendorong gairah pergerakan tari kontemporer di Jatim.

Menginjakkan kaki di Gedung Kesenian Cak Durasim dalam kompleks Taman Budaya Jawa Timur, membawa saya pada jejak 26 tahun lalu, ketika saya masih semester V di Jurusan Tari Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Saya menjadi penari dalam karya teman, Cut Aja Rizka, yang terlibat di ajang Tari Kontemporer, Festival Cak Durasim, tahun 1993. Saya ingat di Surabaya saja saat itu ada dua festival kesenian nasional: Festival Cak Durasim, Festival WR. Supratman yang kemudian menjadi Festival Seni Surabaya. Di Jakarta ada Indonesian Dance Festival (IDF), Festival Gedung Kesenan Jakarta, Art Summit dan program-program nasional-internasional yang diprakarsai Dewan Kesenian Jakarta (DKJ). Di Solo ada Temu Koreografer Wanita dan Solo Dance Festival. Kemudian ada perhelatan untuk karya-karya tari kontemporer di Palu dan Bandung. Kampus-kampus kesenian juga secara berkala mengadakan even tari kontemporer, antara lain di Institut Seni Indonesia (ISI)Yogyakarta, Sekolah Tinggi Seni Indonesia (sekarang ISI) di Solo dan Padang Panjang.

Saat ini, di Jakarta ada IDF, program-program DKJ (antara lain Jakarta Dance Meet Up), Komunitas Salihara (Hela Tari, Hela Teater, Festival Salihara), Postfest dan Choreo Jam di Institut Kesenian Jakarta (IKJ), Jakarta Dance Carnival, Ruang Kreatif Galeri Indonesia Kaya. Di Solo ada Solo 24 jam Menari, Tidak Sekedar Tari, On Stage, dan Solo International of Performing Arts (SIPA). Sasikirana KoreoLab and Dance Camp di Bandung, yang kemudian tahun ini diadakan di Tanjung Pinang. Di Yogya ada ArtJog, Asia Tri, Bedog Arts Festival, Jogja International Street Performance , Sepatu Menari (ISI), Paradance, Asia 3. Di Kalimantan ada Lanjong Arts Festival dan South Borneo Art Festival. Di Padang ada KABA Festival dan Festival Nan Jombang Tanggal 3.  

Selain itu, sejak 2015 mulai marak terjadi festival budaya di kampung-kampung dan desa, sebagai upaya mandiri warga setempat menciptakan ruang ekspresi kesenian mereka. Di ruang-ruang inilah (walau tidak semua) ekspresi seni tradisi dan seni kontemporer bertemu.

Melihat kesemarakan itu, kehadiran Sawung Dance Festival (SDF) memang laksana oase di “kekeringan” ruang ekspresi tari kontemporer di Jawa Timur. “Kekeringan”  itu pun masih terasa dari sisi penopang kehadiran sebuah festival, walau ia berada di ruang kedua terbesar negeri ini, Surabaya. Seberapa pun tebal dinding kebuntuan itu, tetap harus ditembus dengan mencoba sejuta cara. Peluang hadir bersama tantangan, tak ada alasan berhenti.

Dari sisi materi pertunjukan ada upaya serius dalam mempersiapkannya ketika SDF menggelar workshop enam bulan  sebelum perhelatan tahun ini. Mereka mengundang perupa Hanafi dan sastrawan Afrizal Malna dari Jakarta untuk melihat dua karya yang akan ditampilkan di SDF tahun ini. Tindak lanjutnya adalah diskusi intensif pendampingan karya untuk penguatan dan pematangan. Dua karya yang mengikuti program ini adalah White Stone (Mohamad Hariyanto – Surabaya) dan Seblang Lulian (Ragiel Alfan – Banyuwangi).

White Stone, karya Hari Gulur (Mohamad Hariyanto), Surabaya.

Ruang semacam SDF adalah upaya menghadirkan karya-karya terkini dari para seniman tari kontemporer. Ajang saling melihat perkembangan antar koreografer, berdiskusi, berkaca, dan membuka-menautkan diri dengan jaringan tari kontemporer yang lebih luas, baik di level nasional maupun internasional. Maka sungguh betapa pentingnya ajang semacam ini. Sebuah kepentingan yang berada di ruang kesunyian. Surutnya dua ajang festival yang pernah terjadi sebelumnya, membuat Surabaya menjadi ‘dingin’ kembali terhadap gerak pentas tari kontemporer. Kemunculan SDF laksana sepasang pedang yang harus membabat hutan kembali guna menciptakan ruang ekspresi tari kontemporer. Apakah yang harus dibabat? Di antaranya adalah mental dan kesempitan pandangan para birokrat. Kemudian institusi akademik yang enggan beranjak dari rutinitas yang buntu bagi pertumbuhan kesenian yang sesungguhnya. Dan tentu saja para penyandang dana, yang entah memerlukan waktu berapa lama untuk meyakinkan mereka bahwa mereka patut mendukung dan menjadi bagian dari gerak ekspresi teman-teman tari kontemporer. Ini lagu lama sebetulnya, dan anehnya Surabaya masih menyimpan kebekuan itu. Atau ada “lubang hitam” yang belum bisa terjembatani? Entahlah. Pihak-pihak yang seharusnya terlibat sebagai partner, belum terjadi, sehingga festival masih terasa ‘dingin’ dan sunyi.

Pada pergelarannya tahun ini SDF mengangkat identitas tubuh sebagai tema besar. Hal ini berangkat dari pengamatan Alit dan Hari terhadap karya-karya tari kontemporer koreografer muda di Jatim, terutama mahasiswa (pendidikan?) seni, yang rata-rata memiliki karakter garapan dan bentuk karya yang sama. Mereka kurang melihat karya-karya yang hadir dengan identitas yang kuat. SDF merasa perlu mengangkat tema ini, dengan menghadirkan koreografer seperti Rianto dan Hari Ghulur, sebagai performer maupun pemateri workshop. Upaya ini untuk memunculkan kesadaran mereka bahwa tubuh memiliki perjalanan dan sejarahnya sendiri, lalu bagaimana hal ini diungkap dengan gaya dan karakter masing-masing. Mendorong mereka agar lebih banyak lagi mengeksplorasi tubuhnya.

BACA JUGA:  EVERYTHING YOU WANT IS PROCESS : Catatan atas pertunjukan Sally Dance Masstricht di Yogya 2017

Tubuh dan identitas memang bisa menjadi perbincangan yang khusus dan menarik. Ini pun sebenarnya relatif lebih mudah dipahami, teman-teman tari seolah berbicara tentang perjalanannya sendiri. Namun bisa menjadi tidak mudah jika pengetahuan dan kejelian akan tubuh dan riwayatnya tak dipandang sebagai sesuatu yang khusus. Kekhususan ini yang harus dicari, yang membedakan dengan tubuh-tubuh yang lain.

Ada lima penampil di SDF 2019, saya akan membacanya satu-satu.

Ragel Alfan bisa disebut sebagai pendatang baru. Karyanya berjudul Seblang Lulian. Kental dengan kultur Banyuwangi, maka ia pun mengusung bagian dari kultur itu, yaitu tari Seblang. Ia tertarik dengan tarian ini karena merasakan unsur spiritual yang kuat di dalamnya. Ia mengatakan bahwa tari ini berhubungan dengan dunia/alam gaib. Ia terpesona akan fenomena ini di tengah dunia modern yang ia alami juga. Melihat karyanya, saya disuguhi pemandangan kostum warna cerah dan para penari dengan rias wajah cantik. Ditimpali musik Banyuwangi yang khas, dan sajian pola lantai dengan garis-garis yang tegas (yang mengingatkan saya pada sajian tari massal maupun perhelatan tari dalam konteks pariwisata). Di beberapa bagian saya menangkap gerak-gerak yang khas. Ini menjanjikan. Semoga Ragel menangkap itu dan menjadikannya titik tolak untuk gerak selanjutnya.

Seblang Lulian karya Ragel Alfan, Banyuwangi.

Secara keseluruhan saya menangkap karya ini masih terperangkap pada sikap pemujaan terhadap kultur sendiri. Belum ada pembicaraan lebih jauh tentang bagaimana tubuh individu Ragel mengalami itu dan mendapatkan hal-hal yang khusus, berkaitan dengan ketubuhannya yang sarat dengan pengaruh-pengaruh lain yang menghampiri sejarah(tubuh)nya. Bagaimana tubuh Ragel mengalami gaib dan Seblang? Dalam konteks apa saja itu terjadi? Saya tidak mendapatkan itu. Ragel masih membicarakan Seblang sebagai identitas komunal, itu pun di permukaan.

Penampil berikutnya yang saya soroti adalah Puri Senja. Ia juga pendatang baru. Saya beberapa kali menjumpai Puri di aneka kegiatan workshop tari dan sebagai penari Sawung Dance Studio. Geraknya di beberapa even tari untuk membuka wawasan dan menambah pengetahuan, bagi saya cukup militan. Dan kali ini saya berkesempatan melihat karya perdananya yang belum final (work in progress). Karya ini berjudul Other Half. Membaca judul ini saya menangkap Puri sedang membicarakan separuh bagian tubuhnya. Jika benar, ada apa di sana, seperti apakah itu, adalah pertanyaan-pertanyaan yang mejadi bekal saya menonton pertunjukannya. Ternyata Puri sedang membicarakan maskulinitas. Ia merasakan unsur itu mendominasi tubuhnya. Upaya dia untuk menelusuri jejak maskulinitas dalam tubuhnya, untuk mengkonfirmasi kesimpulan dia atas dominasi itu, menarik. Melihat karyanya, saya mendapatkan bahwa penelusuran itu belum usai. Saya belum melihat ada penemuan yang berarti. Belum ada pemaknaan utuh yang memberi penjelasan tertentu. Gerak yang ia hadirkan juga belum mengarah pada karakter yang kuat. Puri masih harus melanjutkan penelusurannya, melakukan pembongkaran-pembongkaran, menguji, mencari jawab atas pertanyaan-pertanyaannya sendiri. Ini momen menarik untuk banyak berdialog intens dengan tubuh.

Puri Senja dengan karya “Other Half”.

SDF kali ini mendapat tamu peserta dari luar negeri, yaitu Yamato Dance Unit, dari Tokyo, Jepang. Sayangnya pada waktu pementasan para penarinya berhalangan karena ada agenda lain sehingga mereka harus kembali ke Jepang. Sebelumnya mereka pentas di sebuah festival kebudayaan masyarakat Banyumas, Kendalisada. Yang tersisa hanya dua orang saja, Yamato dan seorang penarinya, Kakinohana. Sehari sebelum pementasan mereka memberi materi pada program workshop yang diadakan SDF. Dari program workshop itulah mereka melakukan pementasan beserta beberapa peserta workshop. Yamato memiliki dasar tari Balet, Modern Dance, dan Pop Culture. Dasar-dasar tari tersebut mempertemukannya dengan para peserta workshop, sehingga tidak terlalu sulit baginya membuat koreografi pendek dari hasil workshop tersebut. Di pentas, para penari tidak kehilangan dirinya sendiri karena materi gerak yang digunakan adalah juga gerak yang biasa mereka lakukan, yang telah menjadi bagian dari diri mereka. Saya menangkap pementasan mereka sebagai performa gairah dan kegembiraan bergerak. Tuntutan gerak mereka penuhi dengan baik.

Karya kolaborasi para peserta SDF 2019 yang digarap Yamato dari Jepang.

Berikutnya adalah White Stone(WS) karya Mohamad Hariyanto (Hari Ghulur). Ini adalah kali kedua saya melihat karya tersebut. Saya pertama kali melihat WS di acara Remo Teater, Pamekasan, tahun 2018. Pada momen itu WS terangkai dengan acara yang mengangkat isu tanah sebagai fokus perbincangan. Saya pun tercurah perhatiannya untuk melihat WS dalam kerangka isu tersebut. Sebagaimana seniman lain yang diundang pada acara itu, Hari dianggap sebagai diaspora Madura, yaitu orang yang berasal dari Madura, namun kemudian merantau dan tinggal di derah di luar Madura. Di Remo Teater mereka diundang ke Madura untuk mempresentasikan karyanya atas dasar ide pembacaan mereka terkini tentang Madura, terutama dalam perspektif tanah. Waktu itu WS dipentaskan di panggung yang bukan permanen, di sebuah ruangan semacam aula/auditorium. Jarak panggung dengan penonton sekitar dua meter. Kedekatan itu membuat saya mampu merasakan energi WS. Segalanya mampu saya serap dengan utuh, sampai pada detil gerak dan dinamikanya. Intensitasnya begitu kuat, nyaris sempurna.

Ketika saya melihat kembali karya ini di Gedung Cak Durasim pada perhelatan SDF, saya kehilangan banyak hal. Selain jarak yang cukup jauh dengan panggung prosenium, penataan cahaya juga lemah, sehingga detil dan energi gerak tak sampai. Namun di sisi lain saya mendapatkan bahwa karya ini menyimpan banyak irama yang bisa dijadikan perbincangan khusus. Melihat WS di sini saya memperoleh kesan yang sama sekali berbeda dengan ketika saya melihatnya di Remo Teater.

BACA JUGA:  Kontemplasi dalam Isolasi dan Emosi di Paradance ke-19

Didukung enam penari (empat perempuan, dua laki-laki) memakai kostum hitam dengan potongan berbeda. Sesuai judulnya, White Stone (Batu Putih), Hari ingin berungkap tentang manusia Madura yang ia bayangkan laksana batu putih, keras namun mudah dibentuk. Batu putih adalah hasil sumber daya alam di Madura, yaitu bukit kapur. Biasa digunakan masyarakat di Madura untuk mendirikan rumah atau bangunan lainnya. Selebihnya karya ini merupakan implementasi kegairahan Hari menerapkan kerja studio: bergerak dengan emosi, impulsif, praktek teknik Gaga, dan pengembangan gerak dari pencak silat Pamur (salah satu gaya pencak silat Madura dari Pamekasan yang ia pelajari waktu SD). Adapun teknik Gaga adalah sebuah teknik yang mendorong tubuh melakukan pencapaian maksimal atas gerak, dengan cara menghidupkan engine (energi, daya kekuatan/power, rasa/feel) tubuh.

WS yang saya lihat kali ini adalah karya yang memiliki energi dan irama dalam beragam karakter. Sangat disayangkan jika dilewatkan begitu saja, tanpa ada kesadaran penuh atas hal itu.Yang ingin saya katakan pada Hari adalah agar ia melihat lagi karya ini, dan menyusunnya kembali menjadi sebuah puisi. Energi, irama, dan karakter yang saya tangkap di karya ini malam itu, menuntut Hari untuk menghadirkannya sebagai puisi. Maka pelajarilah, apa itu puisi, bagaimana irama-energi-karakter di dalamnya.

Karya terakhir yang akan saya bahas adalah Medium (Rianto). Ini juga kali kedua saya melihatnya, setelah pertama kali saya melihat tahun 2016 di Indonesian Dance Festival, Jakarta. Pada waktu itu saya sama sekali tidak terkesan. Tubuh yang hadir bergerak saja, namun tidak memunculkan kekuatan apa-apa, bagi saya. Di panggung Cak Durasim, tubuh yang hadir sudah sangat jauh berbeda, ia “mencengkeram” saya dari awal hingga akhir.

Rianto menari tunggal, hanya ditemani pemusik Cahwati yang duduk bersila di bagian kanan panggung (dilihat dari arah penonton), menghadap ke Rian. Tubuh Rian hadir di bagian tengah belakang panggung. Lampu hanya menyoroti bagian-bagian tertentu saja dari tubuh itu, namun kesan tubuh yang feminin hadir kuat di sana.  Ada bunyi “ck, ck, ck, ck, ….” dari mulut Rian. Kemudian terdengar syair yang dilantunkan Cahwati dengan bening:

Sintren uren …
Sintrene widadari
Nemu kembang yona yoni
Kembange si jaya endra
Widadari temuruna

Kemudian ada mantra Lengger yang diucapkan Rian:

Leng leng pandulu
Leng pandulu rasa
Ya rasaku, ya rasamu, ya rasaku
Teka welas, teka welas teka asih
Kabeh nyawang, nyawang aku iki

Lalu di bagian lain terdengar bunyi dari mulut Rian, semacam kata-kata namun tak jelas. Rian menyebutnya “nggrenyem”, sebuah repetisi pengharapan.

Demikian, tubuh feminin dan maskulin hadir bergantian, sebagai lintasan-lintasan, diselingi memori-memori tubuh yang hadir melalui suara, dan tembang yang  dilantunkan Cahwati maupun Rian. Karya ini didukung beberapa instrumen musik yang dimainkan Cahwati yaitu rebab, klunthung kayu, rebana, bende, kemanak, genta kecil.

“tretek … tet tet tet …” Ini adalah bunyi yang keluar dari memori tubuh Rian tentang makhluk gaib.

Turun-turun sintren
Sintrene widadari
Nemu kembang yun ayunan
Kembange siti mahendra

Di bagian tengah menjelang akhir, Rian dan Cahwati bertemu di tengah panggung, melantunkan syair berikut:

Leng leng bulenge somakaton
Gelang-gelang nglayoni nglayoni putri ya ngungkung
Jeg ijeg raga bali raga katon kamilagan
Reg regan rog rogan
Reg regan rog rogan
Lanang yo lanang
Wadon yo wadon
Lanang dadi wadon
Wadon dadi lanang

Selanjutnya Cahwati melantunkan tembang yang ia sebut pengajian:

Pangucapku njaluk rasa
Pangambu aku  njaluk kuasa
Paningal aku njaluk sakti
Paningal, pangambu, panties, rasa

Tembang terakhir dari karya ini:

Rambang-rambang nyah dadung
Nyah kambang
Nggo nyancang keboku lanang
Ana dewa nggendong suksma
Widadari temuruna

Cahwati menyebut tembang ini ‘pengajian’ karena ia merasakan kental sekali suasana ‘mengajinya’, dan sebagai upaya agar tubuh tidak kehilangan kesadaran/kendalinya pada saat menari maupun trance. Kesadaran tentang hubungan manusia dengan penciptanya.

Di Mediumkali ini saya melihat identitas yang terus bergerak. Ini semua adalah hasil dari riset yang dilakukan Rian terus-menerus. Ia ingin mendorong tubuhnya berekspresi dengan jujur. Karena itu ia terus menggali memori tubuhnya, dan ia ekspresikan sesuai kebutuhan, kehendak, dan kapasitas tubuh. Suara-suara yang muncul adalah bagian dari memori tubuh. Cicak yang menemani masa kecil dan pertumbuhannya, suara makhluk gaib, mantra, tembang, adalah pengiring proses hidup dan perjalanan tubuhnya memasuki dunia Lengger Lanang Banyumas. Perjalanan menggali yang ia lakukan dalam proses Medium ini ia sebut sebagai “tubuh yang kembali ke rumah”. Oleh dramaturgnya, Garin Nugroho, ia didorong untuk “mengungkapkan tubuh desa”. Desa sebagai asal tubuh Rian hidup dan berproses tumbuh. Cari hal-hal sederhana di sana. Bukan mencari bentuk karena bentuk sudah ada. Bentuk tercipta dari kesederhanaan. Gerak-gerak yang muncul dan terkumpul, harus dicari lagi esensinya. Rian sendiri mengakui tak mudah menangkap kesederhanaan dalam realita.

Medium, karya terkini Riyanto, Banyumas.

Medium adalah interaksi antara tubuh dengan musik, tubuh dengan penonton, tubuh dengan spirit. Kerja dramaturginya dengan Garin menjadikan karya sebagai proses yang memiliki beragam karakter simbol, yang mampu terbaca atau tidak oleh penonton. Medium yang hadir di SDF adalah sepanjang 40 menit. Ini merupakan kelanjutan proses karya sebelumnya, Body Without Brain.

Tubuh Rian tak hanya membawa tubuh lengger. Ia belajar tari secara akademik di Sekolah Menengah Karawitan Indonesia (SMKI) Banyumas, Institut Seni Indonesia (ISI) Solo. Kemudian ia berkesempatan mengikuti residensi di Atakalari Moving Art, Banggha, India. Di luar studio ia mempelajari bahasa tubuh masyarakat India. Ia mengamati gerak yang muncul berada dalam ruang kesadaran maupun ketidaksadaran. Hasil dari residensi ini adalah presentasi Body Without Brain. Di sini ia mengeksplorasi  gerakan elektrik; tubuh hasil setrum, tubuh sebagai listrik, getaran yang muncul tanpa disadari. Tahun 2015 ia residensi di Damstart Jerman untuk riset dan kerja kreatif Body Without Brain. Di sini ia mulai berproses mencari dan menggali suara-suara tubuh dikombinasi kendang Banyumasan. Ia bekerja bersama sound designer Norwegia, Gisle Moyer. Dari sini ia sempat pentas Lengger di Banyumas. Kemudian ia lanjutkan lagi residensinya di de Singel Theater Antwerp, Belgia. Masih melanjutkan proses tubuh dengan kendang.  Body Without Brain berganti judul Medium. Proses selanjutnya Rian meminta Garin Nugroho sebagai dramaturgnya karena Rian tertarik dengan “kenakalan”, ide kreatif, dan pengetahuan ke-Jawa-an Garin. Selain juga menjadikan tantangan bersama bagaimana Garin mendramaturgi gerak. Tahun 2016 Rian bertemu Akram Kahn, koreografer asal India yang bermukim di Inggris. Rian dipilih untuk terlibat dalam karya Akram Until The Line, sebuah karya tentang Dewi Amba yang diambil dari epos Mahabharata. Rian mendapat peran sebagai Bhisma, menggantikan Akram yang cedera. Mengikuti proses kreatif  Akram, Rian mendapatkan materi yang berharga tentang aksen-aksen gerak, repetisi gerak, dan gerak gaya India ala Akram Kahn.

BACA JUGA:  Diary Monsoon Ayu Permata Sari

Medium dilanjutkan dengan pengembangan pada karya berikutnya, Hijrah. Sebagaimana proses sebelumnya, Hijrahjuga didahului dengan perjalanan Rian melakukan riset di beberapa daerah di dalam dan luar negeri. Di antaranya adalah komunitas Bissu (pendeta transgender) di Sulawesi Selatan dan masyarakat Hijrah di Pakistan (laki-laki berdandan perempuan yang hidup berpindah-pindah). Ia pun melakukan residensi di Dance House, Melbourne, Australia, selama lima hari pada Agustus 2019 yang lalu untuk proses Hijrah. Di sini dilakukan eksplorasi gerak, musik, dan lampu.

Saya melihat Medium sebagai “bahasa baru”, ia berungkap tentang perjalanan ketubuhan Rianto; ada konteks baru; didukung oleh memori-memori tubuh. Sejarah menjadi bagian, bukan tokoh utama yang diusung tubuh. Saya sengaja tidak menterjemahkan teks tembang karena saya menangkap keindahan ketika tembang itu hadir sebagai bunyi yang terkait dengan performa tubuh Rian, tak lagi terikat dengan konteks tradisi dan sejarah.

Kembali kepada tubuh dan identitas sebagai tema besar SDF tahun ini; dari Medium saya disadarkan kembali bahwa identitas bukan sesuatu yang berhenti (final). Ia bisa bergerak terus, mencari, dan berhenti sebagai jeda. Dalam dunia penciptaan tari, bagi saya, identitas terutama adalah segala hal yang berpengaruh, menyelinap, merembes, dan tersimpan dalam memori tubuh, yang siap dibicarakan setiap saat melalui bahasa koreografi. Yang menjadi bingkai adalah kesadaran dan daya ingat yang terbatas, untuk membuat kesimpulan sementara.

Jika saya hubungkan dengan kegelisahan Alit dan Hari sebagai penyelenggara SDF, tentang kegagapan kreator muda tari kontemporer di Jawa Timur (Jatim) ketika harus menemukan bahasa ungkap tubuh yang unik/spesifik, maka dari Medium bisa dipelajari bahwa pengalaman hidup yang spesifik bisa membantu tubuh menemukan bahasanya yang spesifik. Selain, tentu saja, kedisiplinan kreator menyediakan waktu panjang untuk dirinya bereksplorasi  dan memperkaya tubuhnya dengan pengalaman gerak dan teknik yang beragam. Karena itu saya selalu membayangkan bahwa kerja tubuh adalah sebuah kerja laboratorium. Ada uji coba, penggalian, eksperimen, berlatih, berdialog, kontemplasi, membaca, menonton, mendengar, dll.

Bagaimana dengan White Stone (WS)? Di sini Hari membicarakan Madura yang terserap di tubuhnya melalui Silat Pamur. Karakter Madura yang telah ada di tubuhnya ia padukan dengan karakter Silat Pamur, dan karakter dari teknik Gaga yang ia temukan ketika mengikuti residensi di American Dance Festival. Yang masih belum jelas adalah bagaimana Hari menempatkan identitas dalam proses ketubuhannya? Apakah sebagai sesuatu yang berubah-ubah/berganti-ganti, sesuatu yang masih berserakan, sesuatu yang sedang bergerak menuju keutuhannya, sesuatu yang masih samar-samar, atau apa? 

Berikutnya Puri dan Ragel saya lihat memiliki keserupaan dalam perbincangan identitas ini: mereka masih dalam proses penyadaran dan pencarian. Bedanya, tubuh Puri lebih bebas dari bentuk, sedangkan Ragel masih terikat dengan tradisi, budaya, dan sejarah komunalnya. Ragel masih memerlukan waktu untuk membebaskan tubuhnya dari ikatan komunal, membuat jarak, kemudian menelusuri jejak tubuh individunya. Puri masih membutuhkan waktu panjang untuk menemukan apa yang ia cari, untuk menjawab pertanyaan-pertanyaannya sendiri.

Yamato cukup jeli menangkap keserupaan yang menjadi bagian dari identitasnya dan para peserta workshop. Balet dan pop culture menjadi pilihan yang menyatukan mereka untuk berungkap bersama dalam sebuah koreografi.

Secara keseluruhan saya melihat SDF telah memiliki ruang-ruang yang memadai untuk menampung kerja kreatif para kreator tari kontemporer Jatim, sekaligus menumbuhkannya. Di sana telah ada ruang proses menuju festival, workshop, pertunjukan, pameran, diskusi, dan penulisan. Hanya saja memang masih diperlukan daya yang jauh lebih besar. Hal ini selain terkait dengan suntikan dana dan fasilitas, juga jalinan kerjasama dengan sebanyak mungkin pihak, dan tim manajemen yang kokoh. Harus dipikirkan dengan keras bagaimana agar pada penyelenggaraan yang akan datang tak perlu lagi terseok-seok, dan semakin tegak, semakin tegak terus ke depannya.

Renee Sari Wulan

Renee Sari Wulan lahir di Malang, Jawa Timur, tahun 1973. Menari sejak usia 6 tahun. Lulus dari Institut Kesenian Jakarta program studi Antropologi Tari. Menjadi anggota Dewan Kesenian Jakarta (2006-2012) di Komite Tari. Memiliki ketertarikan pada riset dan penulisan tari, terutama kajian tubuh tari Indonesia. Tahun 2017-2018 terlibat sebagai editor buku tari Ikat Kait Impulsif Sarira yang ditulis oleh Eko Supriyanto. Kemudian ia diminta terlibat sebagai dramaturg dalam proses kerja koreografi dari tiga koreografer Indonesia, yaitu Hartati ("Wajah #2" 2017), Tulus ("Pasir" 2018 - sekarang masih berproses), dan Eko Supriyanto ("Ibu Ibu Belu Body of Border" 2019 sedang berproses).

Renee Sari Wulan

Renee Sari Wulan lahir di Malang, Jawa Timur, tahun 1973. Menari sejak usia 6 tahun. Lulus dari Institut Kesenian Jakarta program studi Antropologi Tari. Menjadi anggota Dewan Kesenian Jakarta (2006-2012) di Komite Tari. Memiliki ketertarikan pada riset dan penulisan tari, terutama kajian tubuh tari Indonesia. Tahun 2017-2018 terlibat sebagai editor buku tari Ikat Kait Impulsif Sarira yang ditulis oleh Eko Supriyanto. Kemudian ia diminta terlibat sebagai dramaturg dalam proses kerja koreografi dari tiga koreografer Indonesia, yaitu Hartati ("Wajah #2" 2017), Tulus ("Pasir" 2018 - sekarang masih berproses), dan Eko Supriyanto ("Ibu Ibu Belu Body of Border" 2019 sedang berproses).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *