fbpx

Bunyi dari Benda Domestik: Kekeosan dan Harmonisasi : Catatan atas Pertunjukan “Miss-Uo”- Bupala

[Raihan Robby]. Barangkali, kita tak begitu peka akan telinga yang kita punya dalam mendengar bebunyian yang tumbuh pelan-pelan dalam keseharian, seperti mengaduk minuman, menuang air ke gelas, menghidupkan kompor, hingga mendengar uap dari air yang dijerang. Bebunyian itu lantas berlalu begitu saja, menjadi noise, lebih lanjut ia menjadi unwanted sound. Sebab telinga kita hanya berfungsi sebagai “alat untuk mendengar” saja, tidak lebih dalam dari itu.

Pada pertunjukan Bupala (Sidoarjo) yang digelar dalam program Rubik, Festival Gugus Bagong 2022, Rabu (9/11) di Gedung Diponegoro, Padepokan Seni Bagong Kussudiardja. Mereka menghadirkan benda-benda domestik, benda-benda yang berfungsi untuk menghadirkan bunyi yang sangat domestik pula. Pada awalnya dua orang aktor telah berada di panggung, mereka bukanlah aktor yang memiliki peranan dan kepribadian layaknya aktor berkarakter dalam pertunjukan konvensional, hadirnya mereka lebih sebagai perlambangan ide atau gagasan dengan tujuan menciptakan pengalaman bunyi, yang di sisi lain, menjadi sesuatu “di balik bunyi” yang dirasakan penonton.

Dalam pertunjukan Bupala, “Miss-Uo”, garapan Ndimas Narko dan Zalfa Robby, menawarkan kemungkinan atas dimensi audio, visual, dan audio-visual. Telinga kita dituntut untuk lebih peka dan adaptif mendengar dan menangkap bebunyian yang sebenarnya telah akrab dengan diri kita, menggunakan teknik Foley seperti di dalam film, benda-benda domestik seperti gelas, kendi air, batu es, kompor, pisau dapur, penggorengan, dll itu pun berbunyi menjadi lebih detail dan jernih. Inilah bagian pertama: pertemuan, dialog bunyi antara aktor laki-laki dan Juminten (diperankan oleh laki-laki straight) sebagai representasi perempuan berbasis tradisi ludruk (sehingga memungkinkan ia untuk tampil sebagai perempuan, sebab tradisi sejarah tubuhnya yang lekat dengan Ludruk).

Hal ini setidaknya, menimbulkan tegangan identitas; antara yang tradisi dan kini. Sang aktor laki-laki sebagai peracik minuman, mengatur tensi dan warna bunyi dengan decit dan denting gelas dalam medium air yang penuh, sedang hingga sedikit. Terkadang pola mengaduknya menjadi sangat cepat, terkadang melambat hingga menggeretkan jari dalam gelas yang menimbulkan kesan kesat.

Air sebagai medium pun dapat “berbunyi” melalui jalinannya dengan oral, si aktor pria berkali-kali melakukan kumur-kumur dengan air, permainan yang di satu sisi menjijikkan, namun sering kita lakukan (dalam hal gosok gigi semisal), yang dilakukan Bupala adalah mereka tidak membunyikan benda-benda itu selayaknya unwanted sound, mereka lebih liar lagi: mengacaukan benda-benda hingga menempuh titik bising dari benda domestik itu.

BACA JUGA:  Mengalami Ruang dan Bunyi: Laporan dari Menonton YesNoKlub #35
Gambar2 | Bunyi dari Benda Domestik: Kekeosan dan Harmonisasi : Catatan atas Pertunjukan “Miss-Uo”- Bupala
(“Miss-Uo” oleh Bupala. Dok. Sito Adhi Anom/Media PSBK)

Sedangkan Juminten pada bagian pertemuan, sedari awal pertunjukan telah duduk dan menjadi bagian dari table manner dengan wine, gelas anggurdan meja yang putih, namun ada kekontrasan, tempat duduknya menggunakan bangku kayu yang biasa ditemukan dalam warung soto atau angkringan, kehadiran Juminten dengan sanggul, kebaya, kain lurik dan selendang, persis layaknya perempuan Jawa, ia pergi ke dapur, mengasah pisau yang membuat bunyi traumatik, dan ornamen bunyi dapur lainnya bersusulan.

Ia memasak telur, kentang, wortel dan sayuran hijau lainnya. Visual dapur dengan api di sana sini, menimbulkan kesan bahwa dapur memanglah tempat produksi bunyi utama di dalam rumah. Namun, ada yang tak tersentuh, yang ditawarkan oleh Bupala adalah pengalaman bunyi dan visual, hingga bunyi-visual, padahal adegan dapur ini dapat dimanfaatkan dengan menghadirkan sense penciuman, indera penonton dapat didistorsi hingga titik tidak mengenakan, sebab sedari awal mereka melakukan “kekeosan bunyi dan visual”, mengapa tak sekalian mengeoskan seluruh indera penonton, misalnya?

Gambar3 | Bunyi dari Benda Domestik: Kekeosan dan Harmonisasi : Catatan atas Pertunjukan “Miss-Uo”- Bupala
(“Miss-Uo” oleh Bupala. Dok. Sito Adhi Anom/Media PSBK)

Mungkin apa yang didengar dan tampak chaos sebenar-benarnya tak menjadikan ia chaos, pada bagian kedua: perenungan, misalnya. Aktor laki-laki kembali ke atas panggung dengan jaket disko ala 90an dengan leser hijau memancar lurus dari kacamatanya, sementara bias leser hijau yang lain pecah di belakang kepala membentuk bintik-bintik melebar, ia menggigit sebuah kertas dan berjalan menuju mesin ketik tua, di sana ia menjelajahi sudut-sudut dan kemungkinan yang ditimbulkan dalam kertas, ia mengepal, menggeretkan kertas itu, diselingi dengan asap dan bunyi dari vape menimbulkan kesan “perenungan masa kini”, pada bagian kedua ini, kesan visual lebih menonjol daripada kesan auditif, barangkali perenungan dalam konsepsi Bupala, masihlah berupa “keheningan yang dalam”, sebab aktor laki-laki itu sedang “mencari” sesuatu di luar dirinya.

Saya merasa bagian dua ini tak begitu maksimal, selain “mengganggu penonton” dengan laser yang ditembakkan, dan ketanggungan ekspresi, hal klise lainnya adalah kertas tesebut pada akhirnya dirobek (setelah sebelumnya dibasahi dengan lidah, sehingga meredam suara robekan) dan dibentuk sebuah pesawat kertas lantas diterbangkan begitu saja. Pada bagian ini saya menganggap Bupala sedang memburu citra visual, yang mungkin terlihat estetis, namun sebenarnya tidak.

BACA JUGA:  Itu Madura! : Catatan untuk Pertunjukan "Tatengghun" karya Sutradara Anwari

Justru pada bagian ketiga: percumbuan, inilah bentuk tegangan yang lebih terasa intens dengan dialog bunyi yang dibangun lebih kompleks, sebab visual para aktor “diselimuti” oleh kain putih, dan kedua aktor itu hadir sebagai bayang-bayang dengan kaki yang masih dapat terlihat, Juminten dengan gemerincing gelang kaki dan tariannya yang mengalir, sedang si aktor laki-laki dengan tubuh kaku dan kerasnya berkali-kali membenturkan diri.

Di dalam kelir setidaknya kita melihat gradasi bayang Juminten dan aktor laki-laki yang dapat membesar pun mengecil, permainan ruang ini pun disadari oleh Bupala, mereka menghadirkan dua karung goni yang digantung dengan tong di bawahnya, juga karung goni yang menjadi bagian tubuh dan eksplorasi si aktor laki-laki, di lantai terdapat seng putih sebagai wadah aktor laki-laki menjatuhkan dirinya, menimbulkan kesan “sakitnya pembangunan”.

Posisi dua karung goni itu pun telah berada di dua sudut lain, karung goni yang digantung itu meredam bunyi, ia dipukul dengan palu, dibacok dengan golok, tetap menampilkan kesan “menetralkan bunyi”, pun karung goni yang ditidurkan di atas meja, ia mendapat bunyi melalui tepukan dari raket kasur yang jelas terdengar keras saat Juminten memukulnya. Pada bagian ketiga ini, apa yang diintenskan adalah posisi tradisi dan masa kini yang sebenarnya saling membaur dan memberikan harmonisasi dalam kekeosan tegangan itu.

Lantas apakah warna dan ornamen bunyi yang sedari awal disusun tadi merasuk dan hilang menjadi unwanted sound atau bunyi-bunyi itu membekas di benak penonton/pendengar? Jika Bupala tak menghadirkan bagian keempat: peradaban. Mungkin, bunyi-bunyi yang telah dikomposisi sedari awal tadi akan berlalu, bertemu dengan bunyi domestik, dan noise lainnya, tetapi Bupala ingin menunjukan bahwa bunyi-bunyi tersebut meski berasal dari kekeosan, ia menciptakan harmonisasi, ia lebih jauh tak hanya merengkuh pengalaman bunyi, melainkan telah sampai pada titik di balik bunyi, ruang personal dalam diri penonton. Di bagian keempat ini, kita akan memandang sebuah telur atau mungkin batu, sebagai awal mula peradaban, yang menarik adalah Bupala justru menghadirkan bagian peradaban ini di akhir, dengan latar bunyi yang ternyata adalah produksi bunyi pada bagian satu hingga tiga, dengan proses mixing pengaturan ritme, bunyi yang semula keos itu menjadi harmoni.

BACA JUGA:  Jazz dan Teater Itu
Gambar4 | Bunyi dari Benda Domestik: Kekeosan dan Harmonisasi : Catatan atas Pertunjukan “Miss-Uo”- Bupala
(“Miss-Uo” oleh Bupala. Dok. Sito Adhi Anom/Media PSBK)

Saya lebih fokus mendengar latar bunyi ketimbang melihat sebutir batu/telur yang seakan-akan merepresentasikan awal dan akhir itu, ingatan saya kembali mengolah bunyi yang telah disusun dengan komposisi yang tidak linear, saya kembali menebak, di mana bunyi itu hadir sebelumnya, apa yang pertama kali saya ingat ketika mendengar bunyi itu. Namun, ingatan saya mengalami keretakan, ia justru bocor dan keluar dari bunyi yang ditawarkan Bupala, sebab bunyi itu traumatik, ingatan saya justru dibanjiri oleh bunyi-bunyi khas kota, bunyi domestik luka dari tempat asal saya di Jakarta.

Raihan Robby

Raihan Robby

Raihan Robby, lahir dan besar di Jakarta, kini ia sedang menyelesaikan studinya di Sastra Indonesia UNY, ia menjadi alumni kelas penulisan Naskah Lakon Komunitas Salihara 2022, dan tengah mengikuti Lokakarya Penulisan Naskah Teater Remaja DKJ 2022. Dapat ditemui di IG @raihanrby.