Semesta Sumilah: Teater, Arsip dan Harapan

 “Kami telah melawan sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya”, ucap bu Nik di atas kursi rodanya kepada satu kerumunan anak muda menuju kerumunan lainnya yang hadir malam itu.

Di meja bagian tengah kalimat itu meluncur berulang kali, lesap bersama renyahnya kunyahan makanan ringan yang ditawarkan kepada siapa saja yang tak sungkan untuk mendengar ucapannya. Ucapan dari seorang penyanyi keroncong yang pernah menjadi penyanyi keroncong di zaman Demokrasi Terpimpin. Asap rokok Djarum Super sesekali menyela pengucapan kalimat yang disitir dari Bumi Manusia-nya Pram sebagai tanda kecil bahwa pementasan tengah berlangsung.

Sedang “Ajal untuk kami, kehormatan untuk anda tuan Pangemanann” berdenggung sayup dan berulang bersama usaha penggantungan, pencacahan, dan penusukan daging kambing di tiga meja yang berbeda. Bu Kuatini, Bu Aminem, dan Bu Mungsi silih berganti saling berucap melalui mulut yang berias kumis di atasnya dan kain batik di kepala yang berperan sebagai Minke, Minke si Monyet Kecil. Makanan ringan tetap ditawarkan, kata-kata tetap diwartakan, dan kerumunan bertaut saling-silang dalam ruang pementasan yang bertampuk pada meja pembakaran daging.

Perjamuan bagi setiap yang hadir tentu belum siap sepenuhnya. Namun, asap dan aroma telah mengepul di ujung ruang sebagimana daging-daging yang hampir tunai di meja pembakaran dan kuali. Sate olahan Bu Erlin dan Bu Svetlana, berikut juga tongseng kambing racikan mbak Arum barangkali menjadi santapan lezat bagi setiap generasi muda yang mendengar kisah-kisah yang bersemayam di antara Rumah Kaca dan ingatan kolektif dari ibu-ibu penyintas tragedi 1965. Tetapi, tidak bagi orang-orang tua yang sungkan untuk menggedor-gedor tensi sejarah Orde Baru yang terlanjur tinggi dan pekat pada tengkuk yang bangka.

***

Pada awal November yang mulai disibukkan dengan persiapan pementasan, saya mendaras Keeping Hope in Marginalized World –Testimonies of Former Political Prisoners in Yogyakarta tulisan Romo Baskara T. Wardaya. Sebuah tawaran narasi yang bergerak di antara rezim yang struktural dengan kehidupan sehari-hari yang aktual. Bahwa ada yang seringkali luput dari upaya-upaya pemahaman seputar belenggu Orde Baru, yaitu ruang kecil sebagai usaha melangsungkan harapan untuk tetap hidup dalam marjinalisasi. Ruang yang barangkali tak pernah sama sekali diperhatikan negara hingga saat ini.

Sedari bertumpu dan berharap pada keimanan dan relijiusitas masing-masing, mengelola lembaga swadaya masyarakat dan pendidikan anak, dan menghadirkan ruang kolektif bagi sesama mantan tahanan politik. Selain juga upaya menuliskan lagu dan puisi sebagai perwujudan keluh kesah dan kritik yang personal. Ruang kecil bagi setiap orang yang bersikeras untuk menggedor sejarah dan takdirnya yang terjal untuk dilalui diantara dua hal: keyakinan dan harapan.

Pada usaha untuk membuka ruang kecil itulah lagu-lagu berirama lenso, irama dan tarian yang ditunjuk Soekarno sebagai “jati diri” Indonesia sesungguhnya, dikumandangkan kembali pada Jumat malam 30 November 2018. Beberapa nomer lagu seperti Sayonara dan Kambing Hitam (yang merupakan gubahan dari Anak Kambing Saya) menjadi tanda dilangsungkannya pementasan yang berpintal bersama barisan ibu-ibu penyintas tragedi 1965 yang tergabung dalam Kiprah Perempuan (KIPPER) dan Teater Tamara (Tidak Mudah Menyerah).

Suasana Selamatan Anak Cucu Sumilah. Sumber foto: Hartmantyo Utomo.

Ruang itu bernama Selamatan Anak Cucu Sumilah (SACS). Sebuah peringatan kecil bagi almarhum Bu Sumilah yang adalah juga anggota dari KIPPER dan baru saja wafat pada awal Maret di tahun yang sama. SACS menggunakan struktur dramatik yang mengacu pada keriuhan dan keramaian pasar sebagai ruang utama untuk diadopsi pada Selasar Barat FISIPOL UGM kampus Bulaksumur. Pasar adalah ruang bagi almarhum Bu Sumilah dalam upaya melangsungkan harapannya untuk hidup dan bertahan dari stigma kolot negara dengan berjualan sate dan tongseng kambing. Berikut segala riuh rendah yang senantiasa memenuhi setiap ruang Pasar Prambanan.

BACA JUGA:  Bagaimana Pertunjukan Progresif Dihasilkan?

Tak ada rekayasa dramatikal tentang kekerasan, tetapi tak juga abai terhadap kuasa dan represi dari masa ketika Orde Baru dilahirkan. Dari padanyalah Irfannudien Ghozali meracik keseluruhan struktur dramatik bagi relevansi dan kontekstualisasi dari tragedi 1965 untuk masa sekarang. Ingatan tentang kekerasan tak lagi melulu disepuh dengan menampilkannya kembali. Namun, dengan membangkitkan dan merongrong kembali semangat ibu-ibu penyintas yang pernah redup puluhan tahun yang lalu melalui dua fragmen keintiman.

Pertama adalah keintiman yang tersebar ketika pertunjukan difokuskan pada empat meja dengan cerita dan kisahnya masing-masing. Penonton dengan begitu lebur dan masuk pada struktur dramatik melalui partisipasinya ketika turut mencacah daging, menusuk daging, menggantungkan daging, hingga membakar tusukan daging. Kedua adalah keintiman yang terpusat di meja tengah ketika paduan suara memimpin lagu Kambing Hitam. Bertaut dengan tari dari bu Hartiti, tembang Sumilah, hingga pembacaan biografi bu Sumilah. Penonton mau tak mau tetap lebur dalam keintiman yang, meminjam celoteh seorang penonton, “kaya begini teater? Berasa nonton kesaksian di IPT 65!” ujarnya sayup di tengah seruan gugatan yang dibacakan oleh Ulya N. E. Jameson di akhir pertunjukan.

SACS dengannya menunjukan simpul peleburuan praktik kesenian dengan partisipasi warga yang tak berada di dalam pakem sebagai seorang seniman. Meminjam konsep Engin F. Isin, SACS adalah juga praktik dari Performative Citizenship melalui lima tesis yang mendasarinya. Pertama adalah fokus utama yang mengarah pada isu-isu perjuangan dan perlawanan yang dibasiskan pada upaya menggugat kejahatan tragedi kemanusiaan 1965. Kedua fokus dari keseluruhan struktur dramatik sebagai upaya memperjuangkan hak dan partisipasi baik dari warga negara dan yang dianggap bukan melalui usaha melenturkan batasan antara pemain dan penonton.

Ketiga terdapat perjuangan untuk merengkuh pengakuan sebuah hak yang pernah lesap di balik jeruji Bulu, Semarang dan tanah Plantungan sebagai inti dari performativitas. Keempat, terdapat cakupan dari upaya merengkuh pengakuan secara konvensional, antara yang partikular dengan yang universal, antara setiap anggota KIPPER dan Teater Tamara dengan keseluruhan korban tragedi kejahatan 1965. Kelima, munculnya prinsip solidaritas, kesetaraan, dan keadilan yang menjadi dasar perjuangan untuk melampaui kebutuhan antara hak pribadi maupun bersama yang digaungkan dalam upaya mengenang kembali semangat hidup Bu Sumilah. Secara keseluruhan, gerak kolektif dari SACS adalah gerak ketidakpatuhan pada kuasa stigma buruk negara yang melekat di publik selama puluhan tahun.

BACA JUGA:  Catatan Seorang Penonton "Sulamin Bibir Saya Dong"

Yogyakarta sebagai ruang kesenian memang akrab dengan praktik teater yang melibatkan partisipasi warga di luar lingkaran seniman. Salah satu tulisan dalam Unjuk Rasa; Seni-Performativitas-Aktivisme menuliskan Kisah Manusia Seribu Tangan yang merupakan hasil penciptaan bersama antara serikat pekerja rumah tangga di Yogyakarta dengan program Teater Pemberdayaan dari Yayasan Kelola pada tahun 2011. Berikut juga kolaborasi penciptaan antara kelompok Distra Budaya (Disabel Netra Budaya) dengan Teater Gardanalla di tahun 2013, 2015, dan 2016 berjudul Margi Wuta yang ditulis oleh Joned Suryatmoko dalam salah satu bagian Ideologi Teater; Gagasan dan Hasrat Teater Yogyakarta Hari Ini. Ketiga, sekaligus juga penciptaan dari KIPPER dan Teater Tamara di tahun 2017 adalah Gejolak Makam Keramat.

SACS. foto: Hartmantyo Utomo

Penciptaan secara kolaboratif melalui praktik partisipasi mampu meluaskan lanskap tragedi kejahatan 1965 dalam semesta perbincangan SACS. Visi penciptaan yang tak melulu menyoal gugatan bagi generasi tua yang lapuk dihabisi sejarah Orde Baru. Melainkan juga upaya untuk melampaui kesenjangan generasi antara yang tua dengan yang muda, antara yang terlanjur dilahap dengan yang jauh dari sejarah. Oleh karenanya, nalar kolektif tegak berdiri dalam sokongan generasi muda yang saling bertaut dari Teater Selasar Fisipol UGM, Teater Gadjah Mada, Studio Malya, hingga berbagai kalangan mahasiswa. Upaya partisipasi yang hendak mewujudkan kedekatan cara pandang sejarah bagi setiap generasi sekaligus memberikan relevansi dan kontekstualisasi hari ini bagi pembahasan tragedi kejahatan 1965 agar tak melulu berkutat seputar sejarah yang lampau dan struktur politik yang transenden.

Pada situasi dan dinamika politik pasca berlangsungnya tragedi, posisi vital justru diemban pada generasi muda. Generasi muda setidaknya mengemban tiga harapan: upaya rekonsiliasi dan perdamaian, reproduksi pengetahuan, hingga pembentukan ulang identitas. Ketiga harapan yang hadir dikarenakan potensi posisi tawar generasi muda yang terletak di ambang antara masa kanak-kanak dan dewasa. Oleh karenanya, SACS menjadi relevan bagi kondisi pasca tragedi kejahatan 1965 saat ini ketika berupaya untuk memposisikan ulang generasi muda sebagai subjek yang mampu merespon secara kritis gejolak kekuasaan hari ini.

***

Secarik kertas tua yang merupakan robekan dari alkitab berisi nama-nama tahanan politik yang dieksekusi di Wonosobo pernah memandu bu Sri Murhayati untuk menemukan kubur sang ayah. Proses pembongkaran liang lahat yang memakan waktu berhari-hari beserta segala macam kendala penolakan dikenang dalam dokumenter berjudul Mass Grave Indonesia. Tak pelak, secarik kertas tersebut tak saja menjadi penanda bagi nama-nama yang bersemayam tanpa keluarga, tetapi juga menegaskan kehadiran satu hal yang terkandung didalamnya: harapan.

Secarik kertas tua dan satu kisah dari bu Sri Murhayati di antara kisah ibu-ibu lainnyalah yang pada akhrinya menjadi gagasan dasar dari pameran arsip Pada Buku Doa Kami (PBDK). Sebuah pameran yang dikonsepkan untuk larut sebagai instalasi dari keseluruhan pertunjukan SACS. Kelindan keduanya hadir ketika arsip menggubah teatrikalisasi menjadi aktual, sebaliknya, pertunjukan merongrong arsip untuk berbicara melampaui jamannya. Sehingga, keduanya mampu berangkat dan pulang dari tempat yang sama; harapan. Sekali lagi, harapan yang pernah lesap di tanah Plantungan dan diselamatkan pada secarik kertas dalam sebuah buku doa.

Brosur pameran arsip. Foto: Hartmantyo Utomo

Konsep mnemohistory Astrid Erll adalah perkakas yang tepat bagi merengkuh keseluruhan posisi arsip yang dipamerkan. Mnemohistory berupaya untuk menghadirkan refleksi diri atas ingatan dalam praktik-praktik kultural yang bertujuan untuk menginterpretasi peristiwa masa lalu secara kontekstual. Kehadiran refleksi diri mengacu pada fokus dari mnemohistory pada isu seputar ingatan traumatik yang berpijak pada tragedi kemanusiaan Holocaust di Eropa.

BACA JUGA:  Toleransi di Antara Decit Kosong : Catatan untuk "Marka" karya APDC

Melalui mnemohistory, setiap situs ingatan yang diarsipkan dan dihadirkan dalam PBDK bertujuan untuk memantik hadirnya refleksivitas bagi siapa saja yang hadir untuk memahaminya, terutama sekali generasi muda. Ragam arsip yang dihadirkan sedari foto semasa dalam penahanan di Plantungan, surat cinta yang diselundupkan, dokumen penangkapan, dan daftar nama-nama mahasiswa yang dikeluarkan dari UGM secara sepihak. Hingga video wawancara dengan beberapa ibu-ibu KIPPER yang membincangkan sedari gejolak seputar tahun 1965, kenangan di dalam tahanan, hingga usaha bertahan dan menjaga semangat untuk tetap hidup dalam stigma buruk yang dilekatkan pada masing-masing dirinya.

Kontekstualisasi dari formasi beberapa arsip secara langsung menuju pada UGM sebagai institusi yang turut andil dalam tragedi kejahatan kemanusiaan 1965. Sedari pihak rektorat yang menandatangani kesepakatan untuk meminggirkan intelektual kampus hingga penangkapan mahasiswa/i yang dianggap berpartisipasi dalam gerakan-gerakan kiri. Posisi arsip dengannya relevan sebagai fakta ingatan yang berperan untuk menggugat ketertutupan dan penyembunyian peran universitas pada sekitaran tahun 1965 yang dilakukan pihak UGM hari-hari ini.

***

Harapan yang dihadirkan dalam SACS dan PBDK tidak berhenti pada perbincangan harapan hidup dari ibu-ibu penyintas. Lebih jauh, sebagai usaha untuk menjadi jembatan antar generasi. Tidak lain disebabkan jauhnya jarak generasi saat ini terhadap sejarah tragedi kemanusiaan 1965 yang senyatanya masih terpapar begitu saja oleh versi resmi Orde Baru. Oleh karenanya, harapan yang ingin dicapai melalui pementasan dan pameran arsip tersebut adalah pantikan usaha rekonsiliasi dengan lanskap generasi yang lebih luas dan mendalam.

Hartmantyo Pradigto Utomo

Aktif di Studio Malya. Sedang menempuh pendidikan Pasca Sarjana Sosiologi FISIPOL UGM.

Latest posts by Hartmantyo Pradigto Utomo (see all)

Hartmantyo Pradigto Utomo

Aktif di Studio Malya. Sedang menempuh pendidikan Pasca Sarjana Sosiologi FISIPOL UGM.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *