fbpx
Senin, Maret 4, 2024
ULASANPanggung Teater

Menonton Senyap: Mewarisi Tubuh Pantomim Marcel Marceau — Catatan untuk “Urun Tumurun” Laboratorium Obah

In mime, a man can be put in extreme situations of tragedy or comedy.
It depends on the inspiration of the mime. If it is not conveyed in a powerful form, it can be awful. But the great emotions, joy and sorrow, life and death, can be strikingly communicated in mime

– Marcel Marceau

[Raihan Robby]. NAMA-nama tokoh pantomimer dunia bagai sebentuk hipogram acak, yang hendak dipilih untuk dipelajari tentang ide, gagasan filosofis, hingga bentuk artistiknya. Nama-nama itu, seolah menarik diri Asita Kaladewa, Ghani FM, Pupuh Romansa, dan Tiaswening Maharsi untuk kembali menilik ulang seni pantomim dalam diri mereka. Seni pantomim pun menjadi jalinan pengetahuan yang memiliki hubungan turun-temurun. Para pantomimer itu seolah mencari akar telusur dalam tubuh mereka, mencari sumber mata air yang lain, hingga mencuatlah nama Marcel Marceau yang mereka pilih.

Sekilas tentang Marcel Marceau
Gambar1 | Menonton Senyap: Mewarisi Tubuh Pantomim Marcel Marceau — Catatan untuk “Urun Tumurun” Laboratorium Obah
Publicity photo of Marcel Marceau for appearance in Seattle, Washington. 1974.
Sumber foto: https://en.m.wikipedia.org/wiki/File:Marcel_Marceau_-_1974.jpg

SEORANG bocah laki-laki tinggal dan tumbuh di Strasbourg, suatu daerah yang menjadi perbatasan antara Prancis dan Jerman. Sejak kecil, ia sering didatangi anak-anak tetangga yang mengerubungi rumah si bocah, berteriak memintanya untuk melakukan suatu pertunjukan. Si bocah lantas meniru gerak burung, kupu-kupu, singa dan macan, yang membuat mereka tertawa. Kesukaan si bocah pada ‘seni senyap’ bermula dari budaya tontonan yang diajarkan ayah dan ibunya yang mengajak ia menonton film Charlie Chaplin, The Gold Rush.

Melalui film senyap Chaplin, ia melihat bagaimana karakter “Little Tramp” dapat membuat penonton tertawa atau menangis, tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Dari sana, ia bercita-cita untuk menjadi pantomimer. Namun, film Chaplin yang ia tonton saat umur lima tahun itu, adalah impresi terakhir yang mungkin tak ia dapatkan lagi dalam menonton film, sebab film suara The Jazz Singer mendapat perhatian lebih dari penonton, yang menyukai revolusi film dengan cara sinkronisasi antara suara dan gambar. Film senyap pun perlahan ditinggalkan, tapi tidak dalam benak si bocah itu.

Perang mengubah segalanya, memaksa ia menjadi lebih cepat dewasa. Si bocah yang semula bernama Marcel Mangel, harus mengubah identitasnya menjadi Marcel Marceau. Dalam suatu momen, George—sepupu dari Marceau yang juga pemimpin dari French Resistance (La Resistance) sebuah organisasi yang melawan kekejaman Nazi atas kaum Yahudi di Prancis—meminta Marceau untuk memimpin grup yang berisikan anak-anak Yahudi untuk menyelamatkan mereka menuju perbatasan Swiss, dengan menyamar menjadi pemimpin grup pramuka, Marceau berkali-kali menyelamatkan anak-anak Yahudi itu keluar dari kecamuk perang di Prancis.

Tak sampai di situ ia menderita, tentara Jerman menahan ayah Marceau dan mendeportasinya ke kamp konsentrasi Auschwitz. Marceau pun dipindahkan ke tempat aman di luar Paris. Ia bahkan mendapat nama samaran sebagai Kanguru. Di tempat penampungan itu, ia tak berhenti melakukan seni pantomim untuk menghibur para anak-anak Yahudi yang bernasib nahas sepertinya.

Pada tahun 1944, saat Paris telah terbebas dari Nazi, Marceau muda bergabung ke dalam tentara pembebasan Prancis. Tiga tahun sebelum karakter “Bip” muncul, benih-benih itu telah tumbuh saat ia menghibur 3000 tentara Sekutu di Jerman, di tengah kondisi peperangan. Namun, ia mempunyai mimpi yang besar untuk menjadi seorang pantomimer, ia pergi ke Paris, mendaftar sebagai murid di sekolah drama Charles Dullin di Teater Sarah Bernhardt. Di sana ia diajarkan langsung oleh Etienne Decroux, yang menjadi gurunya dalam belajar seni pantomim.

Di Paris pula ia bergabung dalam perusahaan teater milik Jean-Louis Barrault, Marceau bermain sebagai pantomimer yang sesekali bersinggungan dengan teater lisan dalam pementasan Baptiste yang diinterpretasikan Barrault dari film Les Enfants du Paradis (Anak-anak Surga), Barrault memainkan peran sebagai Pierrot, dan meminta Marceau untuk berperan sebagai Harlequin. Hingga pada tahun 1947, ia menciptakan “Bip the Clown” yang pertama kali dipentaskan di Théâtre de Poche (Pocket Theatre), Paris. Pertunjukan ini menandakan ‘terpisah’-nya pantomim dari teater lisan; berdiri sendiri sebagai suatu bentuk pertunjukkan senyap.

Pada kemunculan pertamanya itu, ia mengenakan kaus panjang belang bercelana pelaut lusuh dengan topi opera dari bahan sutra, sebuah bunga juga terselip di antara topi dan kepalanya, menandakan kerapuhan hidup. Karakter “Bip” menjadi alter-ego dari Marcel Marceau, persis seperti “Little Tramp” yang juga menjadi alter-ego Charlie Chaplin.

Diakui oleh Marceau, dalam wawancaranya dengan Herman Wong, 5 Februari 1988, dalam koran Los Angeles Times yang bertajuk Quiet: Marceau Is Talking of Clowns: Tour Must Go On for Mime. Dalam karya-karyanya, Marceau sangat terinspirasi oleh Charlie Chaplin dan Buster Keaton. Pandangan para kritikus yang melihat pertunjukan Marceau saat itu, menggambarkan bahwa adanya keterhubungan antara “keanggunan puitis dan kesedihan ala Chaplin, serta surealisme Keaton yang menantang gravitasi dan menggetarkan nasib”.

Khusus untuk karakter “Bip” yang membuat nama Marceau melambung tinggi, tak lain berdasar “jalan simpati”-nya untuk melihat kembali karakter ‘Pierrot’ yang dibawakan oleh rombongan pemain commedia dell’arte dari Italia pada akhir abad ketujuh belas yang tampil di Paris. Karakter Pierrot pun terus mengalami pemaknaan berulang kali: Gerakan Dekaden pada akhir abad ke-19 mengubah karakter itu menjadi ‘musuh idealisme yang kecewa’, kaum Simbolis melihatnya sebagai seorang ‘kawan kesepian yang menderita’, para Modernis menjadikannya sebagai ‘seorang pengamat diam dan terasing terhadap misteri kondisi dari hidup manusia’, dan di era Postmodern, Pierrot kembali dipandang sebagai ‘badut sedih’. Nama dari karakter Bip sendiri diadaptasi oleh Marceau yang mengingat masa kecilnya ketika ia menemukan karakter dari Pip, sosok klasik yang penuh pengharapan dalam Great Expectations yang ditulis oleh Charles Dickens. Bip lantas dipandang sebagai gambaran manusia modern kini: sosok figur yang satu kakinya berpijak pada alam mimpi, dan lainnya berpijak pada realitas, itulah yang membuat Bip memiliki jiwa yang bebas. Seperti yang Marceau tuliskan dalam bukunya The Story of Bip (1976): Bip adalah karakter yang terkadang bisa menang, tapi lebih sering dikalahkan… Bip adalah pahlawan romantis dan olok-olok di zaman kita. Pandangannya tak hanya tegak lurus ke surga, namun juga ke tiap hati manusia. Perpaduan karakter dari ‘Little Tramp’, ‘Pip’, hingga ‘Pierrot’ melahirkan gaya pantomim “Bip” ala Marcel Marceau.

BACA JUGA:  Mengalami Ruang, Waktu dan Peristiwa Teater di Hal-19 Wajah Pecah Sejarah Indonesia
Gambar2 | Menonton Senyap: Mewarisi Tubuh Pantomim Marcel Marceau — Catatan untuk “Urun Tumurun” Laboratorium Obah
Pierrot Laughing. Sumber foto: https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Pierrot_Laughing_MET_DT1166.jpg

Yang menarik adalah, ketika berada di atas panggung, Marceau memang tak mengeluarkan sepatah kata pun: ia menjadi pantomimer. Tapi ketika ia berada di balik panggung, ia adalah seorang pemikir pantomim yang tak sungkan menjelaskan keterpengaruhan dan pemikirannya atas karya Chaplin, Keaton, gaya pertunjukan teater klasik Jepang “Kabuki”, keformalitasan teoretis yang diajarkan Etienne Decroux hingga kesenangan membaca karya sastra klasik, seperti Nikolai Gogol, hingga Charles Dickens. Ia mengolah inspirasi-inspirasi itu dalam bentuk pantomim yang kuat, yang diakuinya—dalam sebuah wawancara dengan William Fifield, berjudul The Mime Speaks: Marcel Marceau (The Kenyon Review, Vol. 30, No. 2: 1968 )—sebagai the poetic of physical. Sehingga tiap manusia yang melihat pertunjukan pantomimnya akan merasakan bagaimana posisi tubuhnya menghadirkan ekspresi yang kuat.

Yang Simpatik-Mimetik dalam Laboratorium Obah: Urun-Tumurun

APA yang membuat gaya pantomim dari Marceau menjadi sangat menyentuh? Ia piawai memainkan komedi dan tragedi, tapi tak sampai di situ, ia juga menyampaikan gagasan filosofisnya tersendiri, tentang manusia, kisah penciptaan dunia, hingga kematian. Barangkali bukan hanya karena ide, ekspresi dan medium tubuhnya. Melainkan cara ia memimesiskan sesuatu. Marceau tak sebatas melakukan ‘tiruan’ atas apa yang ia lihat, ia menggunakan rasa simpati untuk menjadi yang lain.

Hal yang sama juga digunakan dalam Laboratorium Obah: Urun-Tumurun dari Sanggar Seni Asrita yang mencoba ‘menghadirkan’ kembali Marcel Marceau dengan cara simpatik memimesiskan karya-karyanya. Kita perlu menggarisbawahi kata ‘laboratorium’ di sini, laboratorium berarti menyadari bahwa kita diajak masuk ke dalam dapur eksperimentasi yang tujuan utamanya bukanlah hasil akhir, melainkan proses dari penjelajahan dan pembelajaran artistik Marcel Marceau.

Dengan menggunakan medium film pertunjukan Marcel Marceau yang diproduksi oleh Encyclopedia Britannica Educational Corporation, disutradarai oleh John Barnes pada tahun 1975, yang berjudul The Art of Silence, film pertunjukan iniberisi 12 episode pertunjukan Marcel Marceau. Kedua belas episode itu antara lain: Bip As a Skater, Bip As a Soldier, Bip at a Society Party, Bip Hunts Butterflies, The Cage, Creation of the World, The Dream, The Hands, The Maskmaker, The Painter, The Sideshow, dan Youth, Maturity, Old Age and Death. Juga adasatu video Pantomime: Language of the Heart yang berisikan pandangan Marceau atas karya-karyanya, karier, hingga nilai pantomim yang dipercayainya. Melalui film pertunjukan ini, para pantomimer itu mencoba memimesiskan empat nomor karya dari Marceau.

Maka muncul pertanyaan: Apakah mungkin menumpas bentangan lapisan yang berjarak dan tebal itu untuk sedekat mungkin ‘meniru’ dan ‘menjadi yang lain’, dalam hal ini menjadi Marceau? Lapisan jarak itu tak lain berupa medium, mata para pantomimer menonton sekaligus menubuhkan karya Marceau melalui medium film, yang di dalam film itu Marceau tengah memimesiskan sesuatu yang lain, yang dirasa dan ditangkap oleh matanya. Belum lagi lapisan ketebalan dimensi dan memori tubuh Marceau, yang jangkung dan memiliki tubuh besar; yang mengalami situasi Perang Dunia II hingga kehilangan ayahnya dalam tragedi Holokaus.

Sekilas tampak tak mungkin jika benar-benar ‘menjadi’ Marceau, apalagi hanya bertumpuan dengan cara ‘meniru’. Cara yang paling mungkin adalah dengan proses simpatik, seperti yang telah dikatakan dan diterapkan oleh Marceau. Dalam wawancara yang masih sama dengan Herman Wong, Marceau mengakui ia belum pernah bertemu dengan Keaton, dan ia baru bertemu Chaplin, idola yang menginspirasinya itu, secara tak sengaja di bandara Paris, saat itu Chaplin telah berumur 78 tahun. Marceau berbincang dengannya dan melakukan sedikit pantomim “Little Tramp” kepunyaan Chaplin.

Marceau meniru dengan simpatik cara Chaplin juga Keaton berpantomim. Ia menonton maestro pantomim itu melalui medium film. Maka, ketika Laboratorium Obah: Urun-Tumurun ini juga menggunakan film pertunjukan pantomim Marceau, jarak yang seolah tampak membentang itu pun dapat dipangkas. Pada tahap ini, cara-cara untuk menubuhkan Marceau lebih sebagai persoalan teknis: seperti apa ia berjalan menentang angin, bagaimana alur
tubuhnya menciptakan ruang, hingga ekspresi yang ditampilkan.

Namun, masih tersisa lapisan ketebalan, dimensi tubuh para pantomimer itu berbeda jauh dengan tubuh Marceau, pun memori tubuhnya. Di sinilah pendekatan simpatik dilakukan, para pantomimer itu mendekatkan karya-karya Marceau berdasar pada dimensi dan memori tubuh mereka masing-masing. Seperti sedari awal mereka menonton film pertunjukan pantomim Marceau, mereka memilih karya-karya yang hendak ditampilkan berdasarkan kesukaan, hingga tantangan. Peran dramaturg Ari ‘Inyong’ Dwianto dalam memantik para pantomimer untuk mempertebal tubuh pantomim mereka sendiri, dan menyusun alur pertunjukan berdasar energi masing-masing, menjadi sangat penting. Inilah proses ‘urun’, dengan mempertemukan tubuh para pantomimer dan tubuh Marceau.

BACA JUGA:  Tubuh dan Relasi dalam Paradance 28
Kekikukan Badut dalam Pesta Sosialita

Maka, ketika menyaksikan Ghani FM membuka serangkaian pertunjukan pada 22-23 September 2023 lalu dengan menampilkan Bip At A Society Party, kita melihat bagaimana Ghani mempertebal karakter Bip yang bersusah-payah menghadapi orang-orang, lingkungan sosial, dan keramahtamahan dalam pesta. Bip dalam tubuh Ghani tak hanya menampilkan unsur komedi ala Eropa: yang suka bertentangan dengan dunia dan menciptakan tawa melalui air mata, tapi ia juga membawa karakter ini lebih dekat dengan kita.

Ada guyonan ala Srimulat yang dibawakan oleh Ghani, saat Bip menyalami satu-persatu para hadirin di pesta: mata dan tangannya seolah menjabat sosok yang sangat tinggi, maupun sangat mungil. Suatu adegan yang tak akan kita temukan dalam pertunjukan Marceau. Komedi ala Srimulat yang jelas lebih terasa itu adalah ketika Bip sedang mabuk berat, dan ia berkali-kali hendak mengisap cerutunya, Ghani berkali-kali mengarahkan cerutu itu ke mulutnya, tapi cerutu itu justru mendarat di pipi, hingga seolah tertancap di matanya. Bahkan, wajah kemabukan Ghani tampak lebih ekspresif, daripada wajah mabuk Marceau yang datar sekali.

Kita dapat dengan mudah mengakrabi karakter Bip, seperti kata Marceau, sebab bahasa pantomim berbicara menggunakan hati, bukan kata-kata. Lebih lanjut kata Marceau, karena tawa dan tangis tak mengenal identitas bahasa bangsa-bangsa, jauh di lubuk hati kita itu, kita merasakan tawa dan tangis yang sama.

Pemberontakan dalam Kurungan

Jika Bip dalam pertunjukan Marceau ditampilkan sebagai karakter. Maka, kita akan melihat tiga nomor pertunjukan yang lain sebagai gaya (style) pantomim dari Marceau. Pertunjukan selanjutnya menampilkan Pupuh Romansa dengan gaya pantomim Marceau yang penuh kekontrasan dan paradoksal, The Cage.

Dalam tubuh Pupuh, alur geraknya menciptakan kurungan yang mencekam, ia mencari jalan untuk keluar, namun tak kunjung dapat. Situasi menegangkan perlahan dibangun oleh Pupuh melalui raut wajahnya, melalui tubuhnya yang menekan, hingga ia menemukan celah kecil dari kurungan itu, ia menghancurkan dan membuka paksa tembok tak terlihat itu untuk melarikan diri.

Ketika pertama kali tangannya berhasil keluar dari kurungan itu, ada angin segar seperti kebebasan yang menerpa tubuhnya, ia nikmati kebebasan sesaatnya itu. Lantas membuka dengan paksa celah yang telah dijebolnya tadi untuk mengeluarkan seluruh tubuhnya. Tubuh yang menginginkan kebebasan itu pun berhasil keluar dari kurungan besar, tapi ada kekontrasan, ada paradoksal yang menyeluruh dalam ruang itu. Ia jatuh terjebak ke dalam kurungan yang lebih kecil, yang lebih sempit, lebih mencekik. Pupuh pun mengulang kembali alur geraknya dalam ruang yang lebih mencengkeram, alur cahaya berwarna merah menjadi satu padu dengan intensi ketegangan yang semakin bertambah. Ia pun kembali menemukan celah untuk meloloskan diri dengan cara berkali-kali memukulnya, dalam tiap hentakan tangannya itu tersimpan rasa pemberontakan yang kuat, yang ingin bebas dan tak mau dikekang. Maka, setiap kali pukulan dilayangkan pada tembok tak kasat mata itu, ekspresi wajah Pupuh mengeras dan mengeluarkan suara desis. Desis yang timbul berdasar dari efek memori tubuhnya.

Jika dalam film pertunjukan pantomim Marceau, kita akan mendengar musik latar yang telah diramu dengan sinematografi. Maka, dalam empat nomor pertunjukan Laboratorium Obah: Urun-Tumurun ini kita tak akan mendengar musik latar. Bebunyian hadir melalui efek desis, hingga decitan sepatu yang timbul dari memori dan gerak tubuh para pantomimer. Jibna Settong seolah mengganti suara dengan cahaya melalui bangunan efek dramatis tata cahayanya yang semakin menguatkan pertunjukan para pantomimer. Sehingga mata para penonton selalu berfokus menonton pertunjukan di rumah Asrita yang intim dan dekat itu.

Siklus Hidup dalam Tubuh Perempuan

Kedekatan dan keintiman itu dirasakan bukan karena mata penonton dan pertunjukan hanya berjarak sekitar satu setengah meter, tapi juga karena setelah menyaksikan dua nomor pertunjukan di awal, penonton dapat menikmati jeda dengan cemilan dan minuman hangat. Setelah jeda usai, penonton bersiap untuk menyaksikan Tiaswening Maharsi menampilkan Youth, Maturity, Old Age, and Death. Panggung kembali gelap, tapi samar-samar kita dapat melihat Tiaswening tengah meringkuk berpangku tangan di sana, seolah ada senyum di raut wajahnya. Ia lantas berdiri perlahan, kakinya pun mulai berjalan di tempat, seperti mengayuh. Alur gerak kaki itu perlahan mulai meningkat temponya, semacam ada gelora muda yang keluar dari tubuh Tiaswening, Tangannya pun mulai membuka perlahan, gestur tubuhnya kini menegak, pandangannya tajam ke depan. Kita menangkap pula suara itu, decit sepatu yang semula menekan, dan perlahan berirama. Menjadi harmoni tersendiri.

Gaya pantomim Marceau yang penuh simbolik itu, Tiaswening hadirkan ke dalam tubuh perempuannya. Jika dalam pertunjukan Marceau, siklus kehidupan ini tergambar dalam empat menit dengan aliran waktu yang seolah terus menaik. Maka, dalam tubuh perempuan Tiaswening, kita akan menemukan siklus kehidupan itu sebagai aliran waktu yang melingkar, yang tak putus. Ketika ia meringkuk dalam gelap, sebersit senyum di raut wajahnya itu menandakan bagaimana bayi merasa aman dan nyaman di dalam tubuh ibunya, berlanjut ke gelora masa muda, kedewasaan. Hingga ketika memasuki fase usia tua, kita dapat menangkap kerentanan yang digambarkan Tiaswening, kita dapat merasakan kejompoan itu, yang ia ciptakan melalui gerak lamban alur tubuhnya. Ia menutup pertunjukan dengan kembali meringkuk, kali ini menggambarkan simbolisasi akan kematian. Namun, akhir dari siklus kehidupan itu ditutup Tiaswening dengan sebersit senyuman, menandakan bahwa kematian bukanlah akhir.

BACA JUGA:  Rasa Dalam Karya Koreografi Pasca Pandemi : Catatan atas Paradance #28

Di titik ini, dimensi dan memori tubuh Tiaswening menggambarkan sekaligus memberikan makna dalam prosesi hidup manusia, kita dapat melihat secercah harapan ketika manusia terlahir, semangat masa muda, masa tua yang menyakitkan, dan kematian yang menjadi awal kehidupan yang lain. Melalui tubuh perempuannya, Tiaswening berhasil menggambarkan apa itu “Keabadian Waktu”, yang diucapkan oleh Marceau dalam pengantar video pertunjukannya ini.

Perempuan dalam pantomim pernah diperbincangkan oleh Marceau, dalam sebuah wawancara dengan majalah The Unesco Courier, pada bulan Mei 1998. Ia merasa pada saat itu banyak perempuan yang telah terjun ke dunia pantomim. Berbeda sekali saat perempuan dihadirkan pada pertunjukan pantomim abad kesembilan belas, di mana posisi perempuan ditampilkan sebagai mahluk yang sembrono, penggoda, atau istri yang tak setia. Perempuan seolah dianggap menjadi penghalang bagi karakter laki-laki di atas panggung. Maka, ketika mantan istri Marceau, Anne Sicco, memainkan pertunjukan La mémoire des femmes, ia memberi perempuan lebih banyak peran penting daripada apa yang telah dilakukan Marceau dalam produksi pertunjukannya.

Dunia yang Tercipta Melalui Senyap

Kita kembali melihat Genesis dalam tubuh Asita Kaladewa, saat ia mementaskan La Création du Monde. Cahaya putih telah menyinari bagian tubuh belakangnya, namun dalam setengah gelap itu mata kita melihat ia yang tengah bersimpuh sembari menyilangkan kedua tangannya ke bawah, raut wajahnya seolah tanpa ekspresi, menyimpan ketenangan sendiri. Masih dalam bentuk tangan yang sama, ia perlahan berdiri. Kakinya telah bersilang, dan seketika tangannya pun membuka lebar.

Ia seolah menciptakan alur ombak melalui tubuhnya, atau barangkali siklus angin di udara. Langkah kaki ala Marceau yang berjalan secara puitis itu pun seolah ia lakukan dengan mudah. Kelihaian tangannya menggambarkan akar yang menjalar, pohon yang menjulang. Membentuk semacam suasana imaji akan surga. Melalui tubuh Asita, kita seolah melihat lukisan yang bergerak.

Ritus penciptaan dunia itu pun tergambar secara simbolik lewat lekuk tubuhnya, kepiawaian tangannya. Kita dapat menangkap simbol itu, saat tangannya menggambarkan burung yang beterbangan, kegembiraan sepasang kekasih pertama di surga: Adam dan Eve. Lalu, kita melihat iblis itu melalui liuk gemetar tangan Asita yang menggambarkan kelincahan ular. Dari tangan itu pula kita dapat menangkap simbolisasi rayuan ular kepada Eve untuk memakan apel terlarang. Eve pun memakannya, raut wajah Asita kini menegang, namun kita juga seolah melihat keromantisan Adam yang memeluk-tutupi tubuh Eve saat benang-benang mulai meninggalkan tubuhnya.

Tragedi pertama dalam ritus penciptaan dunia itu pun digambarkan dengan ritmis melalui tubuh Asita. Kita seolah melihat bahasa paradoksal yang lain, tragedi yang disampaikan melalui harmoni. Adam dalam tubuh Asita seolah tak berhenti memeluk Eve, bahkan saat gambaran malaikat hadir untuk mengusir mereka berdua dari surga. Dalam tubuh Asita, Adam dan Eve seolah turun dari surga dengan cara menari, dan tragedi itu pun berakhir dengan pembalikan posisi wajah Asita yang terselimuti kedua tangannya, matanya pun perlahan terpejam. Lampu perlahan padam.

Laboratorium Obah: Urun-Tumurun tak hanya mempelajari dan menubuhkan seni pantomim Marcel Marceau, tetapi juga mengajak kita melihat kembali tubuh, menjelajahi kemungkinan-kemungkinan “gaya” dari para tokoh pantomimer dunia. Keberangkatan penjelajahan artistik itu rupanya dapat dilakukan dengan cara menonton senyap. Di tengah sejarah panjang pantomim di Indonesia yang seolah berlubang, barangkali laboratorium ini seturut memberikan sumbangsih akar telusur dalam melihat ulang “seni pantomim” pada tubuh para pantomimer. Melalui laboratorium ini pula kita seolah disadarkan betapa pentingnya kehadiran perempuan dalam seni pantomim Indonesia. Terakhir,  coba kita bayangkan, jika para pantomimer ini kelak dapat mementaskan pertunjukan berdasar dari pencarian ‘sejarah pantomim’ di Indonesia, persinggungan dan pertemuan apa yang akan muncul? Karakter seperti apa yang akan hadir? Mengingat Marcel Marceau pun melakukan pelacakan sejarah dalam menghadirkan karakter “Bip”, dan menghadirkan “gaya” pantomim yang merespons karya sastra hingga film. Suatu cara mimesis yang tak hanya bergantung pada alam.

Raihan Robby

Raihan Robby

Raihan Robby, lahir dan besar di Jakarta, kini ia sedang menyelesaikan studinya di Sastra Indonesia UNY, ia menjadi alumni kelas penulisan Naskah Lakon Komunitas Salihara 2022, dan tengah mengikuti Lokakarya Penulisan Naskah Teater Remaja DKJ 2022. Dapat ditemui di IG @raihanrby.