fbpx
Selasa, April 16, 2024
ULASANPanggung Teater

Berani Tua Setelah Menonton Pertunjukan Teater Lansia

[Eka Besse Wulandari]. Siapa bilang teater hanya milik mereka yang muda? Melalui Pertunjukan Teater Lansia berjudul “Waktu yang Tua”, Kala Teater telah membuktikan bahwa teater bisa dinikmati dan menghibur segala usia, termasuk kalangan lanjut usia. Pertunjukan ini diselenggarakan di tiga panti jompo yang ada di Sulawesi Selatan. Saya beruntung bisa menonton salah satunya di Sentra Gau Mabaji, Gowa pada Senin, 30 Januari 2023 lalu.

Teater Lansia | Berani Tua Setelah Menonton Pertunjukan Teater Lansia

Sebenarnya ini kali pertama saya menginjakkan kaki di sebuah panti jompo yang kini memiliki beberapa nama pengganti. Pergantian nama tersebut dilakukan demi menghindari stigma buruk, seperti Panti Lansia atau Pusat Pelayanan Sosial Lanjut Usia.

Sejak September 2022, Balai Rehabilitasi Sosial Lanjut Usia Gau Mabaji ini memang telah berubah nama menjadi Sentra Gau Mabaji dengan multi layanan. Tak hanya lansia, mereka juga mengurusi difabel dan mantan ODGJ. Meskipun mantan ODGJ telah dinyatakan sembuh, namun mereka butuh persiapan sebelum kembali ke masyarakat atau menunggu keluarganya ditemukan.

Sebelumnya saya bahkan tidak tahu bahwa di Sulawesi Selatan sudah ada panti jompo. Sebagai seorang yang dibesarkan di lingkungan keluarga Bugis dan Islami yang cukup kental, saya termasuk anak yang termakan stigma bahwa pilihan menitipkan orang tua ke panti jompo adalah pilihan yang buruk. Keluarga besar saya percaya bahwa orang tua harus dirawat oleh anaknya sendiri. Akan tetapi stigma tersebut segera runtuh, ketika saya berkunjung dan menonton Pertunjukan Teater Lansia yang disutradarai oleh Wawan Aprilianto ini mengubah cara pandangku.

Dikarenakan mesti menunggu kehadiran penonton, pertunjukan yang mestinya dimulai pukul 9 pagi mesti tertunda. Hal tersebut dikarenakan pertunjukan tersebut dihadiri para penonton yang terdiri dari para lansia, difabel, serta mantan ODGJ, sehingga membutuhkan waktu sedikit lebih lama untuk bisa tiba ke aula ruang pertunjukan dari asrama masing-masing. Bahkan butuh waktu sekitar 30 menit hingga penonton siap di tempat duduk masing-masing.

Aktor Luna Vidya dan Dewi Ritayana telah lebih dulu masuk, sambil berkaraoke menyanyikan lagu “Jangan Salah Menilai” karya Wenceslaus Maria yang dipopulerkan oleh Tagor Pangaribuan. Saat itu juga saya tidak bisa menahan air mata haru melihat para penonton bersukacita menonton pertunjukan teater lansia ini. Setelah itu aktor Goenawan Monoharto muncul dan ketiganya pun mulai memainkan naskah yang ditulis oleh Shinta Febriany.

Pertunjukan ini memiliki kisah yang sederhana mengenai seorang pria tua yang mengingat masa indah ketika ia jatuh cinta, bahkan masih menyimpan surat cintanya di masa muda. Dua teman perempuan sebayanya berusaha menghiburnya dengan mengatakan bahwa, tak apa jika ingin menangis mengenang masa lalu, sebab laki-laki juga bisa menangis. Namun gagasan “menangis itu baik” justru bisa menyesatkan sebab tangisan yang mengiringi lamunan akan menciptakan rasa merana yang berkepanjangan. Mungkin karena itulah, pertunjukan ini ditutup dengan mengajak para penonton mengucapkan “Saya Mau Berbahagia” sebanyak tiga kali, dilanjutkan dengan bernyanyi bersama lewat lagu Tetty Kadi berjudul “Sepanjang Jalan Kenangan”. Semua orang bersuka cita menyanyikan lagu yang hingga kini masih sering terdengar sejak beredar pertama kali tahun 1966. Empat penonton bahkan ikut berjoget bersama para aktor yang turun dari panggung.

BACA JUGA:  Rasa Dalam Karya Koreografi Pasca Pandemi : Catatan atas Paradance #28
Teater Lansia 1 | Berani Tua Setelah Menonton Pertunjukan Teater Lansia

Kisahnya memang sederhana namun saya benar-benar larut dalam pertunjukan ini. Larut dalam kenangan yang disajikan dan menggugah emosi. Tentang surat, perasaan jatuh cinta, kerinduan akan orang terkasih, dan bernyanyi sebagai pelipur lara adalah hal mendasar yang universal. Sebab otak kita memang memiliki dua sistem ingatan, satu untuk kejadian-kejadian biasa dan satu untuk kejadian-kejadian yang penuh muatan emosi seperti yang diangkat dalam pertunjukan ini.

Setelah lagu berakhir, saya yang diminta memandu diskusi pertunjukan segera mengambil mic. Lalu mengundang Wawan Aprilianto sebagai sutradara yang menceritakan rangkaian proses Pertunjukan Teater Lansia mulai dari riset hingga persiapan. Kemudian Syahruni Junaid, M.Pd selaku dosen UIN Alauddin dan Dr. Subhan Kadir, M.Si, Kepala Sentra Gau Mabaji memberikan pandangannya terhadap program pertunjukan teater lansia. Ternyata pertunjukan semacam ini baru pertama kali dilaksanakan di Sentra Gau Mabaji, bahkan di Sulawesi Selatan. Dan mereka sepakat bahwa kegiatan seperti ini bisa menjadi sarana untuk berbahagia.

Setelah diskusi santai saya tutup dengan foto bersama, beberapa penonton masih ingin melanjutkan karaoke dan memesan lagu-lagu favorit mereka untuk dinyanyikan bersama. Dua diantaranya adalah adalah Ibu Kalsum seorang mantan ODGJ berusia 42 tahun yang mantap menyanyikan lagu “Tua-Tua Keladi” milik Anggun C. Sasmi. Lalu ada seorang kakek yang mengenakan topi terbalik menyanyikan lagu “Serigala Berbulu Domba” ciptaan Rhoma Irama. Keduanya, menurut staf di sana, memang terkenal sering memanfaatkan fasilitas karaoke di Sentra. Masih ada beberapa lagu lainnya yang dinyanyikan bersama, hingga waktu istirahat tiba dan mereka kembali ke asrama masing-masing dengan senyum yang terukir.

Pertunjukan ini meski tidak berlangsung lama, namun berhasil membuat semua yang hadir merasakan suasana hati yang bahagia. Seperti yang dikatakan Daniel Goleman, suasana hati yang bahagia, ketika berlangsung, dapat memperkuat kemampuan untuk berpikir fleksibel dan dengan lebih kompleks, sehingga memudahkan menemukan pemecahan masalah, baik persoalan intelektual atau antarpribadi. Siapa pun yang saat itu memiliki masalah, sepertinya menemukan pemecahan masalah yang lebih tepat setelah menonton Pertunjukan Teater Lansia ini.

BACA JUGA:  Jarak Sebagai Medium dalam "Cerita Anak" Pappermoon - Polygot
Panti Jompo Bukan Pilihan Buruk

Suasana Sentra Gau Mabaji ini sangat sejuk dan tenang. Setelah berkeliling dan mengetahui bahwa tempat ini telah dilengkapi dengan UGD 24 jam, serta banyak staf yang bertanggung jawab. Saya berpikir tinggal di panti jompo bukan pilihan yang buruk. Saat ini ternyata banyak panti jompo yang menawarkan kehangatan dan kenyamanan bagi para lansia.

Hanya saja masih banyak yang beranggapan bahwa menitipkan orang tua di panti jompo adalah perbuatan durhaka. Terutama dalam keluarga Islam yang mewajibkan setiap anak untuk berbakti kepada kedua orang tuanya. Orang tua juga banyak yang merasa risih karena mendapat stigma bahwa mereka adalah orang tua yang ditelantarkan oleh anaknya untuk hidup dalam pengasingan.

Namun itu adalah konsekuensi dari kehidupan modern yang kita jalani saat ini, terutama di kota Makassar. Ada banyak nilai yang kini mengalami pergeseran. Sebab ada banyak alasan mengapa membawa orang tua ke panti jompo adalah sebuah pilihan realistis, jika diperlukan.

Tekanan ekonomi membuat banyak anak yang sibuk bekerja dan tidak punya waktu untuk mengurusi orang tua mereka yang lanjut usia, apalagi yang kondisi kesehatannya butuh perawatan khusus. Menyewa perawat pribadi tentu menelan biaya yang tidak sedikit, belum lagi jika ia juga memiliki anak yang harus diurus.

Padahal panti jompo tidak lain adalah rumah masa tua dimana terdapat fasilitas yang komplit. Para lansia bisa memperoleh pelayanan dan perawatan kesehatan yang mereka butuhkan demi mendukung kesehatan fisik mereka. Perawat di panti jompo bisa membantu lansia yang kesulitan berpakaian dan mandi sendiri. Bahkan yang terpenting, bisa membantu orangtua terhindar dari rasa bosan dan kesepian.

Apalagi Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Selatan, menyebutkan bahwa nilai proporsi lansia Sulawesi Selatan lebih tinggi dari angka nasional di tahun 2020. Dalam data tersebut menunjukan sebesar 10,20 persen atau 0,92 juta jiwa dan di tahun 2021 meningkat menjadi 11,24 persen. 

BACA JUGA:  Teater Tanpa Pagar: Imaji-intelektual, Keterjajahan Mental

Sedangkan dalam buku berjudul “Memanusiakan Lanjut Usia: Penuaan Penduduk dan Pembangunan” yang diterbitkan INSISTPress, disebutkan bahwa sampai tahun 2030 jumlah penduduk lanjut usia di Indonesia diperkirakan akan menembus angka 40 juta jiwa. Hal tersebut melampaui jumlah penduduk usia di bawah 15 tahun pada masa yang sama. Sehingga jumlah penduduk lansia yang besar memerlukan kebutuhan dan perlakuan yang khusus.

Menariknya, beberapa penghuni Sentra Mabaji Gau ini bahkan ada yang datang secara sukarela. Hal tersebut dikarenakan mereka tidak ingin merepotkan keluarga dan mengaku lebih senang tinggal di sini.

Meningkatkan layanan panti jompo adalah salah satu langkah yang tepat. Serta aktivitas seperti pertunjukan teater lansia yang diinisiasi Kala Teater ini juga bisa menjadi medium penguatan jiwa, sekaligus hiburan di tengah aktivitas mereka. Semoga kegiatan seperti ini bisa terus berlanjut sebab seni teater adalah salah satu dari sekian banyak pilihan terapi yang baik.

Jika fasilitas Sentra Mabaji Gau terjaga seperti saat ini dengan staf yang ramah atau bahkan semakin meningkat, saya sendiri tidak masalah menjadikannya sebagai pilihan untuk hidup tenang dan nyaman di masa tua jika kelak tidak ada keluarga yang siap merawat.

Eka Besse Wulandari
Latest posts by Eka Besse Wulandari (see all)

Eka Besse Wulandari

Eka Besse Wulandari lahir di Wajo, Sulawesi Selatan. Menyelesaikan studi di Fakultas Ilmu Budaya, Unhas tahun 2014. Saat ini bekerja sebagai penulis skrip, artisan sabun, dan relawan di beberapa komunitas salah satunya Perpustakaan Katakerja. Pernah mengikuti lokakarya menulis fiksi di House of the Unsilenced, 2018. Membuat karya bertajuk “Tragedi Meja Makan” di Makassar Biennale 2021: Sekapur Sirih. Baru-baru ini mengikuti Lokakarya Penulisan Cerpen Ekofeminisme dan Kota yang diadakan oleh Jakarta International Literary Festival dan Katakerja yang menghasilkan buku antologi cerpen "Makassar yang hilang : Perempuan, Kota, Cerita.