Menengok Kembali IDF 2018: Membaca Tari Kontemporer di Ruang Demokrasi Hari Ini

Renee Sari Wulan. 

Indonesian Dance Festival (IDF), sebuah perhelatan tari kontemporer international di Indonesia yang sudah digelar mulai 1992. Sejak 1996, Puncak pergelaran IDF diselenggarakan dua tahun sekali setiap tahun genap, namun biasanya rangkaian pra festival meliputi workshop dan penjaringan koreografer muda Indonesia sudah dimulai di tahun sebelumnya. Itu berarti 2019 ini IDF sudah akan memulai beberapa kegiatan untuk menuju IDF 2020. Berikut adalah refleksi Renee Sari Wulan atas gelaran IDF 2018 yang bisa jadi bahan catatan reflektif sembari menantikan rangkaian IDF 2020.

“Kehidupan tari yang sehat tentu membutuhkan ajang-ajang seperti festival ini. Selain sebagai sebuah cara mengkomunikasikan dirinya dengan masyarakat, festival ini pun menjadi ajang pergaulan antara sesama insan tari; baik nasional maupun internasional.” (Hilmar Farid, Direktur Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI)

“Harapan kami, IDF akan terus memberikan kontribusi positif dalam usaha memajukan seni budaya di Jakarta. Karena cara terbaik dalam melestarikan sebuah kebudayaan adalah dengan terus menerus mengembangkannya. Melalui IDF 2018, kita letakkan pula harapan untuk terjalin eratnya persahabatan antara Jakarta dengan berbagai kota dan daerah lain di Indonesia dan di dunia. Saat bertukar dan berbagi seni kebudayaan, sejatinya kita sedang bertukar hati, menjalin ikatan jiwa di antara suku bangsa.” (Anies Baswedan, Gubernur DKI Jakarta)

“Dari sebuah proyek kampus untuk menampung dan mengembangkan bakat muda, Indonesian Dance Festival  (IDF) kini mencapai posisi gelanggang legitimasi bertaraf internasional. Maka dalam tahapnya sekarang, apakah IDF masih tetap memberi perhatian untuk membuat aspek pendidikan kesenian, yang menjadi asal-usul IDF, selalu berdaya? Dan juga, apakah IDF tetap bermanfaat untuk mengembangkan pemikiran kritis atas kesenian itu sendiri? Bila bersepakat bahwa, proses berkesenian, sebagai bagian dari proses budaya, memang merupakan proses pembelajaran bersama, segenap dukungan bagi IDF layak mendapat penghargaan terbaik pula.” (Seno Gumira Ajidarma, Rektor Institut Kesenian Jakarta)

“Indonesian Dance Festival (IDF) digagas oleh para pengajar Program Studi Seni Tari Fakultas Seni Pertunjukan Institut Kesenian Jakarta (Prodi Tari – FSP IKJ) atas rasa kehilangan pada Pekan Penata Tari Muda yang diadakan oleh Dewan Kesenian Jakarta di era sebelumnya. Menilik sejarah dan semangat yang demikian, pada tahun ini kami memperluas dan memperkuat komitmen di bidang pendidikan. Kami pun berusaha  untuk lebih menyapa masyarakat di perhelatan kali ini. Upaya membuka ruang gerak IDF pun semakin kami perkuat.” (Para Direktur IDF 2018: Maria Darmaningsih, Nungki Kusumastuti, Ina Suryadewi)

“Melalui IDF 2018, nuansa-nuansa nilai luhur kemanusiaan dalam kehidupan akan tersirat dalam karya cipta seniman lokal, regional, maupun global sesuai latar belakang budaya yang mereka miliki. Dengan demikian, pertunjukan yang ditampilkan akan turut meyakinkan dunia tentang dasar berpikir rakyat Indonesia yang meyakini pengertian bahwa “Perbedaan Itu Indah”. IDF dikelola oleh seniman Indonesia yang memiliki semangat kekeluargaan, “Unity In Diversity”. Perbedaan budaya antar bangsa telah menyadarkan warga dunia bahwa di dalam perbedaan itu masing-masing bangsa harus mampu menghargai bahwa sebuah eksistensi pasti memiliki kelebihan sekaligus kekurangannya.” (Slamet Rahardjo Djarot, Ketua Yayasan Seni Budaya Jakarta)

Demo/cratic Body How Soon Is Now? adalah tema yang diusung perhelatan Indonesian Dance Festival (IDF) 2018. Pertama saya menggaris bawahi adanya kandungan “demokrasi” pada tema tersebut. Spirit demokrasi ini yang saya pegang sebagai bekal pengamatan saya mengalami IDF 2018 ini. Dari tanggapan para stakeholder maupun pihak IDF sendiri sebagaimana yang saya kutip di atas, saya menemukan pembacaan atas komunikasi, interaksi, kebersamaan, keragaman, keterbukaan, pengembangan, yang saya kira itu semua merupakan nyawa dari suatu ruang demokrasi. Kedua, saya menangkap adanya penebalan komitmen dan sejarah IDF sebagai bagian dari ruang pendidikan kesenian, terutama tari. Kesungguhan ini menjadi nilai plus dalam pandangan saya karena festival menjadi lebih bermakna dari sekedar perayaan belaka. IDF akhirnya bisa menjadi ruang pengembangan pendidikan di luar kampus yang memberikan ruang-ruang pengalaman dan praktik-praktik, yang tidak tersedia di dalam kampus kesenian. Berdirinya Akademi IDF dan semakin dibukanya ruang-ruang kerjasama dengan berbagai pihak menunjukkan hal itu.

Program Pre IDF sengaja dijalankan oleh Prodi Tari FSP – IKJ yang juga melibatkan komunitas-komunitas tari di Jakarta. Hal ini dianggap penting karena memberi pengalaman dan pembelajaran pada mahasiswa bagaimana penyelenggaraan ajang tari bertaraf internasional. Selain itu juga memberi kesempatan pada mereka bersentuhan dan berinteraksi dengan geliat tari di luar dunia pendidikan tari yang formal. Kemudian program Post IDF Special Projects adalah sebuah program yang mengundang  komunitas Yoga Gembira yang dimaksudkan untuk memperkenalkan sisi lain tari; ia indah dan berperan bagi kesehatan fisik dan jiwa. Selain itu juga mempertemukan kelompok ini dengan Mariana Arteaga Vazquez (Meksiko) dalam kolaborasi koreografi berjudul Maravatio, di Taman Surapati Jakarta Pusat. Pementasan ini tentang pertanyaan yang muncul dari dampak gempa pada 19 September 2017 yang meninggalkan kesan khas pada setiap warga kota Meksiko. Pertanyaan “Apakah kehendak perjumpaan kolektif dan kepedulian hanya terjadi dalam peristiwa-peristiwa darurat?”. Ide ini penting dan berharga karena memberi pengalaman bagi dunia tari kita tentang peran tari dalam penyuaraan politik.

Bentuk kerjasama IDF selain dengan Gedung Kesenian Jakarta (GKJ), Goethe Haus dan Komunitas Salihara, dikembangkan dan diperluas dengan mengadakan pementasan utama di salah satu ruang Perpustakaan Nasional, yaitu pementasan Varnam karya Padmini Chettur (India). Rangkaian dari pementasan ini adalah pameran Padmini Chettur di Empu Sendok Arts Station (ESAS).

Akademi IDF baru diluncurkan pada 2016. Ia berfungsi sebagai sayap pendidikan IDF, suatu upaya kongkrit mewujudkan komitmen IDF untuk beperan dalam wilayah pendidikan kesenian (tari), melanjutkan akarnya, IKJ. Ia diharapkan dapat menjadi ruang berkembangnya pemikiran kritis atas tari dan koreografi dan tempat bagi bakat-bakat baru mendapat akses sumber daya kreatif yang mendukung proses mereka. Pada perhelatannya tahun ini, Akademi IDF  menyediakan tiga program, yaitu Lokakarya Penulisan Tari, KAMPANA, dan KMP.   

Lokakarya Penulisan Tari

Lokakarya Penulisan Tari dijalankan dengan tujuan memperkuat ekosistem seni tari di Indonesia. Diharapkan upaya ini mampu membantu meningkatkan kualitas tulisan sekaligus proses regenerasi penulis, pemerhati, dan kritikus tari di Indonesia. Lokakarya tahun ini menitikberatkan pada praktik penulisan secara langsung. Peserta bersama mentor menonton beberapa pertunjukan, lalu membuat tulisan ulasan maupun kritik tentang pertunjukan tersebut. Tulisan ini didiskusikan dengan para mentor untuk dilakukan perbaikan dan penyempurnaan.

Saya menangkap lokakarya ini memang diarahkan untuk menghasilkan tulisan-tulisan ulasan tari dan kritik tari di media massa. Walaupun dalam perjalanan yang saya alami saya temukan bahwa tulisan tari bisa bermacam ragam dan kebutuhannya, namun sebagai prioritas, menurut saya IDF tidak keliru meletakkan tulisan ulasan/kritik sebagai prioritas utama. Pada tahapan ini, peserta digembleng untuk mampu memiliki struktur logika yang benar. Bagi saya hal ini sangat tepat, karena modal untuk menjadi penulis yang baik adalah memiliki struktur logika, cara berpikir dan berbahasa yang benar, tidak kacau balau. Di sini pula tempatnya mereka dilatih untuk mampu mengartikulasikan pikiran-pikiran ke dalam tulisan.

BACA JUGA:  Amanat Hari Tari Sedunia (World Dance Day) 2018 Asia Pasifik

Yang menjadi pertanyaan saya adalah apakah lokakarya ini hanya ditempatkan sebagai ruang temporer saja, atau ke depannya akan dikembangkan menjadi semacam ruang pendidikan penulisan tari yang berkelanjutan? Jika ruang keberlanjutan itu bisa dilakukan, maka harapan akan lahirnya tulisan-tulisan tari yang baik dan bertebaran di penjuru tanah air kita, atau bahkan di dunia internasional, menjadi masuk akal. Para penulis itu tak hanya mengenal tari sebatas panggung IDF saja. Saya membayangkan Akademi  IDF bisa bekerjasama dengan kelompok-kelompok tari di dalam negeri maupun mancanegara untuk menyebarkan para penulis tari kita, dalam sebuah program residensi/magang. Di sana mereka mendapat kesempatan yang cukup untuk menyerap proses seniman dan menuliskannya. Mereka menjadi mengetahui beragam proses kreatif berikut metode maupun teknik pendekatan dari beragam seniman tari. Di Indonesia mereka bisa mempelajari proses para empu/maestro tradisi atau kelompok tradisi yang kuat, menyerap atmosfer dalam ruang gerak seniman itu, ikut mengalami proses ketubuhannya, sampai mampu menangkap karakter dan keistimewaan mereka, yang tak akan tertangkap secara utuh jika hanya dilihat dari kursi penonton di panggung IDF. Demikian pula ketika mereka diterjunkan ke kelompok-kelompok tari di Asia maupun Eropa, misalnya, mereka diberi ruang untuk menyelam jauh ke dalam proses dan perjalanan kreatif kelompok-kelompok tersebut. Bagi saya, upaya-upaya tersebut sangat penting, untuk memperkuat “kacamata tari” para penulis itu.

KAMPANA dan KMP

KAMPANA adalah platform baru yang dimunculkan Akademi IDF sebagai wujud pengembangan program Showcase yang telah ada sebelumnya. Intinya saya menangkap bahwa ini adalah wujud upaya pendampingan koreografer terpilih yang dilakukan lebih tersusun dan intens. Ada diskusi untuk penguatan gagasan, dimunculkan pertanyaan-pertanyaan untuk menggali berbagai kemungkinan, mempertemukan kreator dengan hal-hal lain di luar tari yang selama ini belum mereka kenal/ketahui, apakah itu wilayah artistik disiplin seni lain, maupun ruang-ruang sosial-budaya. Saya melihat itu sebagai tawaran-tawaran bagi koreografer untuk bahan pertimbangan artistik dan gagasannya. Selanjutnya tentu saja kembali pada respon koreografer, apa yang kemudian ia perbuat di proses kreatifnya, dan apa tanggapan penonton dan kritikus/pengamat atas itu semua. Tawaran-tawaran itu akan mengarahkan kita pada sikap koreografer. Bagi saya ‘gangguan-gangguan’ itu adalah hal yang penting juga dalam proses pertumbuhan koreografer. Yang penting ruang keleluasaan koreografer tetap terjaga, karena nantinya karya itu adalah sepenuhnya menjadi milik dan tanggungjawabnya sendiri.

KMP merupakan bagian dari ruang pendidikan Akademi IDF dalam bentuk yang berbeda. Di sini peserta hasil open call itu benar-benar diposisikan sebagai pengunjung dan penonton. Namun sajian atas kunjungan dan tontonan yang mereka serap adalah hal-hal yang bergizi. Sejatinya sebagai pengunjung mereka tidak melulu mengamati, namun perlu lebih didorong untuk berbincang, bertanya, dan berdiskusi. Upaya stimulasi atau dorongan itu telah tampak dilakukan oleh Akademi IDF, namun bagaimana mengukur/mengetahui seberapa upaya itu berdampak pada peserta? Menurut saya Akademi IDF perlu memiliki catatan sebagai bahan evaluasi. Catatan itu didapat dari semacam hasil interview kepada seluruh peserta KMP. Catatan itu akan menunjukkan apakah terjadi semacam perubahan dalam diri mereka terkait dengan cara pandang, pengalaman-perasaan baru, pertanyaan atau kebingungan baru, kegelisahan baru, dll. Apakah muncul semacam bentuk penguatan terhadap apa yang selama ini telah mereka rintis dalam perjalanan berkesenian atau perjalanan tari mereka. Apakah itu cukup berdampak terhadap pandangan-pemahaman mereka tentang tari? Bagaimana itu semua berpengaruh pada rencana proses mereka selanjutnya? Lalu, apa rencana mereka selanjutnya?  Dan lain sebagainya.  

Kembali pada tema besar IDF 2018, ada suara Demokrasi di sana. Yang segera muncul di benak saya adalah bagaimana Indonesia–dengan prinsip Demokrasi Pancasila–sebagai ruang imajinasi bagi seniman tari kontemporer kita. Demokrasi melahirkan sikap yang layak atau penghormatan terhadap kemanusiaan dan kebangsaan, menggelorakan inspirasi dan gairah kemajuan. Bagaimana tari kontemporer kita melakukan reidentifikasi terus-menerus, dalam konteks ke-Indonesia-an. Ada perjalanan ulang-alik tubuh yaitu : sebagai bagian dari Bangsa, dan tubuh Independen yang mengerucut ke dalam inti dan berproses di ruang masing-masing. Demo/cratic Body : tubuh di ruang demokrasi —tubuh yang memiliki keleluasaan untuk bergerak dan berkembang, dalam koridor penghormatan terhadap komitmen kebangsaan dan kemanusiaan. Penghapusan sejarah hanya menghasilkan potongan-potongan tubuh, tanpa mampu sedikitpun menghilangkan jejak sejarah budaya nusantara di sana. Di tengah tantangan pemaksaan ideologi dan identitas baru, bagaimana IDF menjawab pertanyaan tentang identitas dan eksistensi kebangsaan saat ini dan yang akan datang.

Menarik bagi saya ketika menangkap dua pijakan kurator IDF dalam perbincangan Demokrasi ini, yaitu 2018 sebagai momen 20 tahun reformasi dan 50 tahun Taman Ismail Marzuki (TIM). Dua puluh tahun reformasi mengingatkan kita tentang reformasi 1998 sebagai tanda gerakan kemerdekaan baru. Lima puluh tahun TIM adalah berdirinya TIM sekaligus pengingat kita tentang dimulainya gerakan tari kontemporer tahun 1968 di TIM, sebagai tanda penebalan dan pencanangan gairah panjang perjalanan tari kontemporer Indonesia hingga kini. Kurator mengerucutkan ke dalam pertanyaan dan pernyataan yang menarik sebagai catatan saya : bagaimana menjadi/memaknai tari di ruang demokrasi sekarang? Bagaimana kita menarikan demokrasi kita di lingkup tari maupun dunia luas? Bagaimana menanggapi gerakan-gerakan dalam masyarakat kita? Koreografi dan tubuh yang mempertanyakan realitas kita saat ini. Koreografi sebagai upaya menubuhkan gagasan-gagasan radikal, mentransformasikannya sebagai pengetahuan bersama.

Di buku program IDF saya menjumpai ruang khusus untuk Arco Renz, yang menulis tentang tari kontemporer Indonesia hasil pengalaman dan pengamatannya selama berinteraksi di ruang tari kontemporer kita : “Di masa penciptaannya, tari tradisional adalah tari kontemporer. Lalu bisa jadi, tari kontemporer hari ini mungkin di masa depan akan disebut ‘tradisional’, atau ‘tarian awal abad 21’, atau …” “Mereka menelisik dan memperbaharui hubungan dengan masa leluhur lampau untuk menyelesaikan kerumitan dunia hari ini dan membangun visi masa depan …” “Tari kontemporer, tari tradisional, tarian bagus, tarian jelek … Nama berubah, tetapi tarian tetap; gerakan berubah, tetapi gerakan dari gerakan tak bertukar. Dan tentu, sudut pandang dan narasi berganti, tetapi, sihir kekinian kekal.” “Kita tak bisa menemukannya di masa lampau, atau dalam gawai, bahkan kita tidak bisa mendapatnya dalam proyeksi kita atas masa depan: getaran tubuh yang mengajak kita untuk terlibat dalam hubungan hidup dengan dunia kita dan diri kita. Sekarang. Satu-satunya waktu tatkala kita harus ada, bertindak, menari, berdiskusi dan berubah adalah, Sekarang.”

Maka panggung IDF kali ini memberi ruang pada pembacaan seniman tari kontemporer atas Demokrasi.

Eun – Me Ahn (Korsel) dengan karya Let Me Change Your Name
Let Me Change Your Name karya Eun Me Ahn. Foto oleh : @dibalranuhphotography

Korea Selatan adalah sebuah bangsa yang juga memiliki budaya dan tradisi peninggalan leluhur. Tubuh tradisi itu dihadirkan oleh koreografer di panggung kontemporernya. Di panggung itu saya menyaksikan Korea membaca tubuhnya. Ada kelindan lokal-global, dan selalu ada episode-episode yang tak pernah sama. Hal itu bagi saya menunjukkan penjelajahan tubuh yang tak pernah usai. Sejarah/tradisi menjadi tambahan energi untuk identitas–gerak–perjalanan baru, yang menjelajah, berkolaborasi dengan tubuh-tubuh lain, membentuk ruang baru. Tiap kali ada identitas yang muncul, ia lalu ditinggalkan, atau menyatu dengan sesuatu yang lain. Sejarah akan terus melekat walau “tak berguna”. Tubuh pun bergerak leluasa melanjutkan sejarah. Sejarah bergerak tanpa kendali. Keriangan dan kegelapan dapat mengambil panggung silih berganti, dan mereka memiliki waktu dan iramanya sendiri.

BACA JUGA:  Kami Bu-Ta, Karya Terbaru APDC 2017
Otniel Tasman (Indonesia) dengan karya Nosheheorit
Nosheheorit karya Otniel Tasman. Foto oleh Widhi Wicaksono

Koreografer berangkat dari filosofi “nyawiji” dalam kesenian tradisi Banyumas, Lengger Lanang. Saya mencoba menangkap arti filosofi itu sebagai penyatuan dari segala sesuatu. Yang kemudian saya lihat di panggung adalah tubuh-tubuh yang no bodies, tubuh-tubuh yang tak teridentifikasi jika kita bertanya: siapa? Tubuh yang tak perlu penyebutan, dibiarkan hadir sebagaimana ia ingin hadir. Di sana ada memori, feminitas, maskulinitas, ekspresi pengalaman, emosi, kesadaran-ketaksadaran, semua berkelindan. Tubuh yang hadir adalah saling-silang perjalanan / gerak itu semua. Saya menyaksikan penafsiran dan negosiasi tubuh penari terhadap konsep “nyawiji”. Motif / bentuk gerak dan irama lengger menemukan (hadir di) konteks baru.

Darlane Litaay (Indonesia) dengan karya Morning Star Dark Valey 

Di pentas yang terlihat adalah tubuh dan kostum. Tubuh dari empat penari, dua perempuan dan dua laki-laki,  bergerak, menari, menyanyi, memainkan alat musik, berganti kostum berkali-kali secara terbuka di pentas itu juga. Ini pun bicara tentang identitas. Berdasarkan pengalaman yang ia jalani sebagai orang Papua ketika bertemu dengan orang lain yang bukan Papua, Darlane sangat akrab dengan pandangan aneh ketika ia dilihat oleh mereka. Pandangan aneh itu yang ia jadikan sumber ide; ia mainkan di panggung koreografinya ”bagaimana menjadi tubuh dalam pandangan orang lain”. Permainan ini bisa menjadi sesuatu yang satir, bisa juga tidak. Yang menarik, ia mengatakan bahwa hal yang sama pun bisa ia lakukan pada orang lain: melihat mereka dengan pandangan aneh. Pada kenyataannya, orang Papua terus bergerak menuju harapan. Tentang Indonesia? Kami (bisa) lebih Indonesia dari orang Indonesia lainnya, kata Jefry, salah satu penarinya.

Padmini Chettur (India) dengan karya Varnam

Mengalami pertunjukan ini saya merasakan kelembutan energi. Ia konsisten bergerak membangun perjalanan dalam durasi satu jam. Ada teks yang dibacakan, ada nyanyian, senandung. Ada spirit yang dicerna dan diolah oleh tubuh enam penari perempuan. Pertunjukan ini membawa saya bergerak. Saya merasakan energi, irama, ruang, garis. Itu semua tak menghambat/membatasi memori tubuh. Ada hal menarik ketika saya sampai pada bagian melihat tiga penari berpose dalam garis ke belakang di hadapan saya; pose itu memberi saya lukisan di mana saya bisa melihat (bagian) tubuh dua penari dari celah tubuh penari lain yang berada paling dekat dengan saya. Teks membawa gerak menyaji suatu lukisan. Berenergi dan lembut.

Claudia Bosse (Jerman) dengan karya The Making of The Last IDEAL PARADISE

Demokrasi bisa diawali dengan pertanyaan: apakah demokrasi menurut Anda? Dan bisa berujung pada pertanyaan pula: apakah surga? Melalui perkuliahan yang diformat dalam ruang pertunjukan, Claudia memberi perspektif pada saya bahwa demokrasi adalah ruang yang sesak dengan pertanyaan. Ia meneropong dunia dan surga. Ia menyodorkan surga sebagai konsep politik, di mana Tuhan menjadi “diktator” di sana, satu-satunya yang menguasai dan menentukan. Sementara, di dunia, manusia sibuk mencari surga ideal. Sebagian melakukannya dengan absurd: menebar teror, kekerasan, dan ketakutan. Sebagian menciptakan keterhubungan dalam keberagaman, kombinasi elemen-elemen yang berbeda, praktek bersama tentang kepekaan dan kesadaran, mengumpulkan perspektif dan upaya pencarian dengan beragam latar belakang keyakinan. Mengamati konfrontasi tubuh dengan item lain.

Demokrasi memberi gambaran interaksi, negosiasi, dan adaptasi. Terwujud kombinasi elemen-elemen yang berbeda. Ada ruang industri yang berinteraksi dengan situasi politik dan kemunculan teritori. Dalam proyeknya, Claudia menyoroti pula tubuh, suara, dan ruang. Juga keterhubungan antara kedalaman tubuh. Ada resonansi, teknik, dan interrelasi. Ada tubuh yang berubah-ubah dan surga yang cair. Ada tubuh yang bergerak bersama dan berdialog. Pada akhirnya surga ideal adalah sebuah paradoks yang lengkap. Yang ideal tak pernah hadir.  

Ari Dwianto (Indonesia) dengan karya A Brief History of Dance

Bagi saya ini adalah satu bentuk ekspresi Seni Pertunjukan tentang tubuh. Saya tidak melihat tari di sana. Sehingga, menurut saya, judul yang tepat adalah : A Brief History of Body. Lagi, saya menjumpai identitas dan sejarah.

Melanie Lane (Australia) dengan karya Wonderwomen

Mengalami pertunjukan ini saya disuguhi sajian energi yang konsisten, yang berbeda dengan karya Padmini. Apa yang tersaji saya rasakan lebih dari kerangka “wonderwomen” itu sendiri. Melanie menyajikan kekuatan (daya, power) dalam irama yang halus dan terjaga. Beragam kekuatan muncul, seakan mendisplay temuan-temuan kekuatan feminitas, yang jarang terungkap sebelumnya. Karya ini lantang bicara tentang kedirian dan ketubuhan.

Tujuh karya tampil pada panggung utama IDF. Dari tampilan itu persoalan identitas, sejarah, dan kedirian mendominasi ruang besar Demokrasi yang diajukan IDF. Diikuti dengan perbincangan tentang demokrasi itu sendiri dan bagaimana unsur-unsur tari membantu tubuh mengolah ekspresinya (ruang, energi, irama). Saya mencoba memahami bahwa kita semua mungkin saat ini tengah berada pada fase atau masa di mana kita merasa terdesak untuk membicarakan ulang tubuh, diri, sejarah dan identitas kita, di ruang bersama yang kita sepakati, dan kita menyebutnya Demokrasi. Ada keleluasaan yang disediakan Demokrasi, yang mendorong kita untuk menelusuri SIAPA kita, BAGAIMANA kita berinteraksi dan bergerak bersama, dalam beragam keadaan yang bergerak di luar kendali kita. Namun, apakah kata koreografer muda?

Karya-karya KAMPANA
Karya Densiel Lebang. Foto: dok. IDF

Enam koreografer yang mendapat kesempatan mengikuti program KAMPANA, menggulirkan gagasan yang hampir serupa. Mereka berbicara seputar kedirian dan tubuh. Alisa Soelaeman berhasil memaparkan pergulatan tubuhnya dalam keterjalinan emosi dan dampak dari pengalaman-pengalaman luar. Ia lolos dari jebakan stagnasi dan tampilan monoton. Semua terasa bernas. Bagi saya ia hanya kehilangan bagian penutup (ending). Riyo Tulus Pernando banyak catatan di struktur. Struktur yang lemah membuat karyanya kehilangan daya pikat walau pesannya jelas. Densiel Prismayanti Lebang tampil kuat. Intensitas dan kekuatan energi terjaga penuh dari awal hingga akhir. Tubuh yang beradu kekuatan dengan besi, silih berganti antara yang dominan dan sub ordinat, beberapa kali memunculkan rasa semacam teror. Ayu Permata Sari berhasil menghadirkan tubuh penonton dangdut berdasarkan karakter narasumber risetnya. I Putu Bagus Bang Sada Graha Saputra dan Natasha Tontey berbagi pengalaman uji coba mereka memproses gagasan kematian. Yang menarik bagi saya adalah mereka menciptakan beberapa proses ujicoba. Proses yang mereka tampilkan di IDF ini adalah salah satu saja dari beberapa proses ujicoba itu. Saya katakan pada Gusbang bahwa bagi saya bagian yang paling kabur (kurang jelas) dari proses itu adalah bagian awal ketika Gusbang bergerak.  Pat Toh dari Nucleous Dance Singapore berbagi pengalaman tentang bagaimana tubuh memperbincangkan ukuran/jarak. Dalam presentasinya tubuh dipandu oleh teks. Kata, gerak, nafas, suara, sentakan, silih berganti hadir. Ada garis, ada jiwa.

BACA JUGA:  Distorsi, Realisme dan Surealisme dalam Monolog "Prita Istri Kita" oleh Teater Nasional Medan
Alisa Soelaeman. Foto : @bapakdjajus

 Karya-karya yang hadir di KAMPANA saya rasakan lebih menukik pada ruang individu. Batasan (frame) individu itu sedemikian jelas, mereka pilih, menelusuri per-tubuh-an (eksperimentasi dan eksplorasi daya, irama, jarak) dan kedirian (jiwa, emosi, karakter, kesadaran, kepekaan, makna). Mereka tengah menuliskan kata kerja:  mencari, mencoba, mengalami. Ini berbeda dengan para koreografer di Pertunjukan Utama yang telah menyatakan kalimat atau beberapa kalimat.

Ayu Permatasari. Foto : Renee Sariwulan
Work in Progress

Tanda sebuah ruang Demokrasi di antaranya adalah diberlakukannya persamaan hak. Dalam konteks IDF, karya-karya yang mendapat panggung/ruang pentas, tak hanya karya-karya yang telah ‘jadi’, namun juga karya-karya yang masih dalam proses. Dalam IDF 2018 ini karya yang mendapat kesempatan tersebut adalah Hijra, koreografer Rianto.

Di karya ini saya melihat tubuh yang berproses, lebih menampakkan keorganikannya jika dibandingkan dengan apa yang saya lihat pada karya Rianto sebelumnya, Medium, pada IDF 2016. Kehadiran tubuh lebih kuat dan gamblang. Saya tidak menjumpai “tubuh yang tanggung” di sini. Tantangannya adalah bagaimana nanti Rianto mampu mempertajam karakter masing-masing bagian perjalanan tubuhnya. Karakter itu yang akan bercerita.  

Gusmiati Suid

Demokrasi melahirkan manusia-manusia independen dan merdeka. Ibu Gusmiati Suid (bu Yet) adalah bagian dari manusia-manusia itu. Ia memiliki kemerdekaan untuk membuat keputusan, menentukan sikap, berbicara lantang dalam karya-karya tari kontemporernya. Pemikirannya tentang tradisi, perempuan, kemandirian, keberanian, adalah pemikiran yang mengisi-mewarnai ruang Demokrasi negeri ini. Di dunia tari sendiri, bu Yet adalah sebuah cerita yang ‘lengkap’ menurut saya. Bagaimana ia mengawali geraknya dengan berasyik-masyuk dalam kepekatan tradisi Minangkabau (dengan silat sebagai menu utama). Kemudian ia menciptakan ruang sendiri untuk mengolah perjalanan tubuhnya, dan membuahkan pandangan-pandangan kritis berkaitan dengan tradisi, bangsa, manusia. Bagi saya, penganugerahan IDF Award 2018 kepada beliau adalah tanda itu semua.  

Diskusi

Ada tiga diskusi yang saya jumpai di perhelatan IDF ini. Pertama adalah diskusi antara kurator (Helly Minarti dan Arco Renz)  dan penyelenggara IDF (Maria Dharmaningsih) dengan para produser Seni Pertunjukan dari beberapa negara Asia Pasifik yang tergabung dalam Next Generation. Kedua diskusi khusus perihal kuratorial. Ketiga diskusi khusus membahas festival. Dalam konteks perhelatan seperti IDF, ketiga diskusi tersebut memang sudah selayaknya terjadi.

Diskusi pertama menunjukkan posisi IDF di dunia seni pertunjukan internasional yang telah diperhitungkan dan kuat sebagai daya tarik untuk dikunjungi. Bisa dikatakan IDF telah dipandang memiliki posisi penting sebagai ruang yang menunjukkan pergerakan tari kontemporer beserta segala persoalan yang mengitarinya. Melalui diskusi ini pun dunia internasional dapat melihat dari dekat dan mendengar informasi langsung berkaitan dengan perjalanan IDF dan program-programnya, yang tak lepas dari kondisi dunia tari kontemporer di Indonesia sendiri. Hal-hal spesifik yang tak tampak di permukaan menjadi pemantik dialog dan diskusi yang intensif.

Diskusi kedua lebih menukik pada perbincangan kerja kuratorial IDF, ditambah informasi tentang Komunitas Salihara. Ini juga ruang penting untuk saling berbagi informasi dan pembelajaran bersama. IDF (diwakili tiga kurator muda: Taufik Darwis, Linda Agnesia, Nia Agustina) berbagi tentang bagaimana platform kuratorial itu terwujud dan berjalan dengan latar belakangnya. Salihara (diwakili Ening Junior) lebih memperlihatkan dirinya sebagai ruang dengan beragam program di dalamnya.

Diskusi tentang festival mendatangkan lima pembicara, Arco Renz (Belgia), Padmini Chettur (India), Helly Minarti (Indonesia), Miroto (Indonesia), dan Mariana Arteaga (Meksiko). Mereka berbagi informasi dan pengalaman sebagai penyelenggara festival tari maupun seni pertunjukan. Menarik ketika menangkap sudut pandang mereka tentang festival tari. Arco menyatakan kepedulian pada dinamika dan relasi yang menciptakan resonansi. Ia pun menyoroti sudut pandang fisik dalam kerja kuratorial. Padmini mengutarakan motivasi bagaimana mengundang orang untuk datang diwadahi festival. Ia mengungkapkan pentingnya keterhubungan, menunjukkan kerja kreatif beberapa seniman, membingkai percakapan, sekaligus terbuka dan hadir. Terbentuk sesuatu yang spesifik, suatu komunitas (untuk) tari. Miroto berbagi pengalamannya menggagas Bedog Arts Festival dari tahun 2007. Menurutnya sebuah festival harus menjadi sesuatu yang berpengaruh. Ia pun mendambakan adanya Asosiasi Festival Indonesia. Mariana berbicara tentang berpikir kuratorial dengan situasi yang dinamis. Apa konteks yang sedang berbicara pada kita. Ada refleksi kolektif dan supremasi ekonomi. Bagaimana mewujudkan ide dengan pasar, saling berdialog, memahami, dan memiliki tujuan. Ada sistem proteksi, pasar, kolaborasi, dan bagaimana dalam situasi demikian berpikir tentang konteks kita. Banyak lapisan-lapisan, buatlah banyak pertanyaan tentang interaksi dan kolaborasi. Perhatikan apa yang tubuh sampaikan pada kita. Ada perubahan konteks. Di mana koreografer terbuka untuk terkontaminasi. Apa yang disampaikan oleh konteks global pada kita. Pada akhirnya semua itu menunjuk pada “politik berpikir”.

Kelas Mariana Arteaga

Di sini Mariana memberikan suatu pengalaman tentang tari sebagai penyuaraan gerakan sosial. Hal ini sangat berkaitan dengan situasi politik yang melibatkan warga sipil. Bagaimana mereka menyuarakan pernyataan politik mereka melalui tari. Ada dua isu yuang ia presentasikan berkaitan dengan hal itu, yaitu terbunuhnya beberapa orang demonstran dan gempa bumi besar yang melanda Meksiko. Bagi saya ini menarik ketika tari hadir dalam gerakan masyarakat sipil.

Pameran

Pertunjukan memang bukan media yang bisa mengungkap banyak hal. Sebagai sesuatu yang bergerak, ia memiliki keterbatasan. Dalam upaya membaca perjalanan, pameran adalah wujud yang lebih mampu mempresentasikannya, karena ia adalah ruang yang diam. Ke-diam-an ini memungkinkan pengunjung melihat bagian manapun dari hal-hal yang dipamerkan; bahkan juga memungkinkan pengunjung melakukannya berulang-ulang. 

Dalam perhelatannya tahun ini, IDF menghadirkan pameran perjalanan IDF sendiri sebagai salah satu lembaga yang mengawali langkahnya di tahun 1992. Mengamati rekaman perjalanan semacam ini layaknya menelusuri lorong-lorong waktu dan mengalami warna-warna di dalamnya. Di tempat lain IDF menggelar perjalanan tubuh dan koreografi Padmini Chettur. Bagi saya ini lebih mengasyikkan lagi karena kita diajak menelusuri sebuah perjalanan dari dekat, bahkan diuraikan langsung oleh pelakunya. Terasa kita berada dalam transformasi dan konteksnya, kita ikut merasakannya. Ini adalah sebuah transfer pengetahuan yang luar biasa.

Penutup

Perjalanan IDF yang sedemikian jauh, telah memberi banyak sekali warna. Ada beragam perspektif yang ditawarkan, dari Indonesia sendiri maupun dari dunia internasional. Perkembangan IDF semakin menunjukkan keseriusan untuk membaca tari dengan sungguh-sungguh sebagai realita dan peristiwa organik. Di luar apa yang kita sangka, tari telah bergerak dengan kecepatannya sendiri, memekarkan dirinya sendiri, sebagai bagian dari pergerakan realita. Posisi IDF sebagai wadah tari internasional sangat memungkinkan menangkap fenomena-fenomena tari di belahan bumi manapun. Dari itu semua IDF leluasa menentukan posisi dan sikap. Tentunya penentuan posisi dan sikap tersebut diharapkan terjalin dengan upaya elemen-elemen lain bangsa ini untuk membangun tari, memajukannya, dan terus membuatnya bersuara. Jika demikian, maka tari akan terus membutuhkan ruang Demokrasi.

Renee Sari Wulan

Renee Sari Wulan lahir di Malang, Jawa Timur, tahun 1973. Menari sejak usia 6 tahun. Lulus dari Institut Kesenian Jakarta program studi Antropologi Tari. Menjadi anggota Dewan Kesenian Jakarta (2006-2012) di Komite Tari. Memiliki ketertarikan pada riset dan penulisan tari, terutama kajian tubuh tari Indonesia. Tahun 2017-2018 terlibat sebagai editor buku tari Ikat Kait Impulsif Sarira yang ditulis oleh Eko Supriyanto. Kemudian ia diminta terlibat sebagai dramaturg dalam proses kerja koreografi dari tiga koreografer Indonesia, yaitu Hartati ("Wajah #2" 2017), Tulus ("Pasir" 2018 - sekarang masih berproses), dan Eko Supriyanto ("Ibu Ibu Belu Body of Border" 2019 sedang berproses).

Renee Sari Wulan

Renee Sari Wulan lahir di Malang, Jawa Timur, tahun 1973. Menari sejak usia 6 tahun. Lulus dari Institut Kesenian Jakarta program studi Antropologi Tari. Menjadi anggota Dewan Kesenian Jakarta (2006-2012) di Komite Tari. Memiliki ketertarikan pada riset dan penulisan tari, terutama kajian tubuh tari Indonesia. Tahun 2017-2018 terlibat sebagai editor buku tari Ikat Kait Impulsif Sarira yang ditulis oleh Eko Supriyanto. Kemudian ia diminta terlibat sebagai dramaturg dalam proses kerja koreografi dari tiga koreografer Indonesia, yaitu Hartati ("Wajah #2" 2017), Tulus ("Pasir" 2018 - sekarang masih berproses), dan Eko Supriyanto ("Ibu Ibu Belu Body of Border" 2019 sedang berproses).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *