fbpx

Multiverse Dunia (Teater) Anak : Ulasan “Gadis Biji Timun” – Teater Bocah Jogja di Linimasa#5

[Raihan Robby]. Sewaktu kecil, saya adalah seorang penyendiri yang tak mempunyai teman, sebab dalam pikiran saya hidup cerita-cerita yang saya tonton dari tontonan anak-anak di televisi pada tahun 2005-an awal. Karakter-karakter yang saya tonton itu menjadikan tubuh saya seakan-akan menjadi bagian dalam tontonan: saya sewaktu-waktu dapat berperan sebagai anggota Akatsuki, melakukan kamehameha, hingga membayangkan pancaran cahaya bekerlap-kerlip dalam dada saya, tanda saya adalah Ultraman yang sedang sekarat. Kesenangan masa kecil itu saya lakukan dengan cara mundar-mandir di gang sempit samping rumah kakek saya yang penuh kandang ayam di Jakarta.

Saya pun bertumbuh, memasuki Sekolah Dasar, saat anak-anak di usia saya pada saat itu sudah mahir bercalistung, yang saya lakukan tetaplah melakukan ritus imajinasi, sehari-hari, di saat anak-anak lain sepulang sekolah bermain bola, saya memilih untuk mundar-mandir menjadi karakter kartun yang saya tonton, sendirian. Hingga ritus imajinasi itu membuat kedua orang tua saya khawatir, karena menyadari bahwa anaknya menjadi jauh dengan lingkungan sosial, dan kemampuan calistungnya yang payah, kedua orang tua saya melarang pada titik tertentu pengimajinasian kartun dalam tubuh saya, barangkali itulah pertama kalinya saya memasuki kekakuan menuju tubuh dewasa. Meski kini, saya dapat memahami kekhawatiran kedua orang tua saya pada saat itu.

Saat membaca nama Teater Bocah Jogja, saya takjub dengan kelompok teater yang dominan berperan dalam pertunjukannya adalah anak-anak, di Concert Hall TBY, malam itu, saya melihat wajah-wajah orang tua penuh sumringah dan haru menanti pertunjukan, mereka membawa keluarga beserta bucket makanan hingga bunga. Menanti anak-anak mereka yang sebentar lagi akan memukau penonton, mencipta rasa bangga sebagai orang tua.

Teater Bocah Jogja membawakan naskah “Gadis Biji Timun”, sebagai pembuka: suara gamelan menciptakan dimensinya sendiri yang sejalan dengan wayang dongeng, dalang menyeluruhkan semesta itu melalui gunungan yang ia putar: ritus seakan bermula. Wayang Mbok Sirni muncul dengan mengutarakan kesepiannya yang hidup ditinggal mati suami dan belum sempat mempunyai anak. Sebuah pengantar magis menuju dunia dongeng yang imajinatif.

Layar terbuka, asap mengembur keluar, terdengar suara anak-anak riang. Mereka bergerak berirama, berputar-putar, melambaikan tangan, tersenyum sembari menyanyikan lagu:

Ini cerita tentang legenda… seorang anak yang berhati mulia… dia berbakti pada ibundanya… Timun Emas namanya… semasa kecil malang nasibnya… penuh dengan marabahaya… dijadikan mangsa raksasa… Buto Ijo namanya… Timun Emas… Timun Emas… Tabahkan hatimu… Timun Emas… Timun Emas… Doaku selalu bersamamu…

Lagu itu terus menggema dan meruang dalam benak  penonton dengan gerak-gerik para aanak-anak yang menggemaskan, lirik-lirik lagu itu menceritakan keseluruhan kisah dan posisi Timun Emas sebagai tokoh utama dalam pertunjukan ini, dengan kostum yang mewakili warna kalem bumi, menunjukan peristiwa ini terjadi pada masa lampau. Perpindahan ruang, waktu dan jalinan batin yang masih selaras sedari semesta wayang dongeng menuju pembuka musikal pertunjukan, tubuh anak-anak masihlah menjadi tubuh “bermain”, sebelum tubuh anak-anak itu menjadi tubuh “dewasa” yang kaku dan politis.

WhatsApp Image 2022 11 01 at 15.30.14 | Multiverse Dunia (Teater) Anak : Ulasan “Gadis Biji Timun” – Teater Bocah Jogja di Linimasa#5
foto : doc pribadi Ahmad Altaf Nugraha
Semesta Dongeng, Wayang dan Teater

Pertunjukan ini disutradarai oleh Dina Megawati dengan penulis naskah Pandan Sekar Wangi, bentuk transformasi dan intertekstualitas cerita pada dongeng anak-anak “Timun Emas” yang berangkat dari lokalitas kebudayaan Jawa dirasa dekat dengan dunia anak-anak, setidaknya Teater Bocah Jogja menjelaskan konsep pengkaryaan mereka melalui flyer yang tersebar: bagaimana proses dialog dan demokratisnya penentuan cerita dongeng-dongeng nusantara untuk menjadi naskah pertunjukan, yang dalam proses itu tiap anak diwajibkan untuk membaca sekurangnya tiga cerita dongeng, dilanjutkan dengan diskusi yang bertumpuan pada sudut pandang anak dengan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi setelahnya.

BACA JUGA:  Masih Adakah Cinta di Antara Kita? (Keprihatian Pendidikan Seni Pertunjukan Kita)

Pendamping lebih lanjut membuat treatment dan pendedahan lebih dalam lagi mengenai karakter masing-masing tokoh, pencatatan teknis seperti blocking, acting dan lain-lain. Semesta dongeng anak mencoba untuk dibawa ke ruang nyata, dalam tatanan yang nyata itu, sebenarnya imajinasi menjadi sempit, sebab batas-batas untuk menghadirkan “realitas” dongeng ke dalam “realitas” panggung seringkali berbenturan, seakan menggabungkan dua dunia.

Hal ini pun diakui oleh Teater Bocah Jogja, itulah mengapa mereka menggunakan semesta wayang sebagai “ruang imajinasi angan” yang bertumpu pada tutur cerita, dan bukan tutur pertunjukan. Pengadeganan yang rumit (dan setting yang banyak) dalam bentuk “realitas panggung” dileburkan dalam “realitas wayang”, posisi mata penonton diberalihkan dari ornamen-ornamen pertunjukan ke dalam gerak wayang dongeng yang “kosong namun penuh” sehingga peristiwa ini menjalin tiga semestanya sendiri-sendiri.

Semesta dongeng sebagai teks keberangkatan serta pijakan bagi anak-anak mengenali bentuk semesta yang lain: semesta wayang dan semesta pertunjukan (teater). Dalam semesta dongeng, cerita dituturkan sehingga anak-anak yang mendengarkan (atau membaca langsung) mempunyai imajinasinya sendiri dalam memandang betapa nelangsanya Mbok Sirni, semenyeramkan (atau selapar) apa itu Buto Ijo, dan betapa ganjil (mungkin juga menyenangkan) lahirnya seorang gadis dari benih timun, yang dalam daya imajinasi itu, tak akan pernah bisa “dimasuki” kembali oleh orang dewasa.

Semesta wayang hadir dengan menghadirkan tokoh-tokoh figuratif dongeng anak, tujuannya untuk membantu penggambaran dari dongeng itu, imajinasi masih terpakai dan terbentuk dalam semesta wayang ini, dengan adanya harmonisasi gamelan serta gerak wayang dongeng yang identitif, para anak-anak memahami bahwa tokoh-tokoh itu bisa saja hadir dalam bentuk yang “nyata”, tak selamanya tersimpan dalam imajinasi mereka. Namun, hal ini pula, yang mungkin dapat membatasi imajinasi anak, sehingga untuk menggambarkan tokoh-tokoh itu, mereka berpacuan pada penggambaran wayang. Katakanlah; semula mereka menganggap Buto Ijo kurus kerempeng sehingga ia butuh makan, dibenturkan dengan “kebuasan raksasa” sehingga Buto Ijo ditampilkan dengan perawakan yang seram dan seperti monster. Atau, tentang Timun Emas yang mungkin dalam pandangan anak-anak mempunyai kulit secerah dan semengkilap warna emas.

Lagi-lagi dugaan dan percobaan saya memasuki dunia anak terbentur oleh dunia dewasa, sekeras apapun usaha saya untuk mencoba memasuki dunia anak yang imajinatif, diri saya tetaplah orang dewasa yang tubuh dan pikirannya terbentuk oleh rasionalitas masyarakat dewasa yang telah mengalami distorsi nilai: perpindahan bahasa, imaji-imaji pecah dan identitas budaya yang goyah sebab keseharian masyarakat dewasa kini bergelut dengan roda kekakuan: iklan-iklan, konsumerisme, gaya hidup dan ketidakmungkinan kembali menjadi kanak-kanak. 

Terakhir, adalah semesta teater. Anak-anak mulai memahami bahwa semesta dongeng yang terbentuk dalam imajinasi mereka dapat terlihat dan dirasakan melalui semesta wayang, dan kini mereka dapat menjadi dongeng itu sendiri, tubuh dan pikiran mereka dapat menjadi karakter yang bercerita dalam dongeng. Singkatnya, mereka menghidupi dongeng dengan diri mereka sendiri.

Saya menganggap bahwa realisme (dalam bentuk teater) bukanlah semata-mata cerminan yang nyata (mimetik) sehingga yang seakan realitas itu dihadirkan ke atas panggung, yang terjadi adalah kita menganggap dongeng dengan segala entitas yang menarik itu menjadi tidak realis. Padahal, bagi saya, realisme adalah bentuk kesadaran yang mengikuti masing-masing semestanya. Realisme adalah kesadaran tubuh (pikiran, ucapan, gerakan), ruang (komposisi latar, kemungkinan tempat) dan waktu (dalam masa tertentu, atau loncatan ingatan, dsbnya). Sehingga kita tidak mempersempit kesadaran itu berdasarkan tubuh, ruang dan waktu yang nyata kita hidupi di dunia saat ini. Ketika memasuki suatu semesta, katakanlah kita menjadi seorang penjelajah, atau mungkin perantau yang menyadari bahwa semesta yang kita pijak memiliki tatanannya sendiri. Sewaktu-waktu kita akan kembali ke dunia nyata kita, tetapi yang pasti, kita akan selalu membawa identitas asal dari mana kita bermula, peleburan antara identitas asal kita, dan tatanan semesta yang kita masuki menciptakan kesadaran baru: kesadaran bahwa yang nyata sebenarnya tak benar-benar nyata.

BACA JUGA:  (PERCAKAPAN) Kompleksitas Tatapan dan Kesadaran atas Kuasa pada PESONA

Hampir seluruh pementasan ini diperankan oleh anak-anak yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Pertama, sepengetahuan sempit saya, hanya Dalang dan Buto Ijo yang diperankah oleh orang dewasa. Sungguh penawaran yang menarik dengan menghadirkan dunia anak dengan pemerannya yang dominan oleh anak-anak pula. Seluruh anak-anak itu bernegosiasi antara tubuh organik mereka yang bermain dan keseriusan menjadi orang dewasa. Karakter Ki Jagawana, selaku Kyai menandakan proses akulturasi budaya Hindu-Islam dalam budaya Jawa. Ia memberikan bungkusan yang nantinya bungkusan itu dapat menyelamatkan Timun Emas dari kejaran Buto Ijo. Pertunjukan selesai dengan menghilang dan tenggelamnya Buto Ijo sebab garam yang dilempar Timun Emas menjadi lautan asin, hingga akhirnya Timun Emas kembali dalam pelukan Mbok Sirni, cerita berakhir bahagia.

Namun, ada sekelebat pikiran dalam diri saya yang cukup mengganggu, ketika selesai menonton pertunjukan itu. Dengan penggabungan tiga semesta, yang mana semesta teater lebih dominan di dalamnya, benarkah anak-anak merasa mewakili diri mereka sendiri?

WhatsApp Image 2022 11 01 at 15.30.131 | Multiverse Dunia (Teater) Anak : Ulasan “Gadis Biji Timun” – Teater Bocah Jogja di Linimasa#5
foto : doc pribadi Ahmad Altaf Nugraha
Tubuh Anak VS Tubuh Dewasa

Saya merasa nyaman dan menemukan bahwa pemeran pertunjukan itu benar-benar anak-anak hanya pada saat awal dan akhir pertunjukan, saat mereka bergerak beriringan dan bernyanyi dengan keluwesan tubuh, serta saat Timun Emas dan teman-temannya memainkan permainan tradisional seperti petak umpet dan jemuran. Tubuh mereka kembali dalam tubuh “bermain”, perbedaan begitu terasa ketika para anak-anak itu memerankan diri mereka sebagai warga, sebagai “orang dewasa”.

Tubuh mereka, seperti yang saya katakan di atas, menjadi kaku dan politis, membusung dan meninggi, dengan suara yang berat, percakapan yang berkelindan di antara mereka menyangkut isu-isu nilai: bagaimana sepantasnya menghargai Mbok Sirni selaku janda dan perempuan, kejanggalan lahirnya Timun Emas sebagai anak Mbok Sirni, hingga berujung pada keinginan warga untuk mengusir mereka berdua. Tubuh anak-anak bermigrasi menjadi tubuh orang dewasa, dengan urat dan raut wajah yang terlihat keras, pantulan-pantulan dialog yang seakan dihapal benar-benar agar tak lupa. Hingga pada titik-titik tertentu keinginan improvisasi keluar dalam tubuh anak-anak yang ingin bermain itu, contoh kecil saat Mbok Sirni yang seakan melepaskan sosok ibu dalam dirinya dengan mengatakan bahwa ia lebih rela agar Timun Emas yang dimakan oleh Buto Ijo ketimbang dirinya. Hal ini, mungkin tak mencerminkan perjuangan dan perlindungan seorang ibu, dan ini jelas tak apa-apa, sebab Mbok Sirni tetaplah anak-anak di dalam pertunjukan itu, ia tak sanggup “merelakan dirinya” agar direnggut oleh entitas jahat, sehingga menghilangkan dirinya di dalam pertunjukan, ia ingin bermain, dan permainan memanglah dunia anak-anak.

Situasi yang dialami Mbok Sirni, tentu bukanlah suatu kesalahan teknis, anak-anak itu sedang belajar menjadi orang dewasa, suatu semesta terbalik yang tak akan mereka kira akan serumit itu. Inilah yang saya sebut sebagai batasan ruang dalam masing-masing semesta, di dalam teater, seimajinatif dan secemerlang apapun gagasan, saya tak membayangkan bahwa akan ada seorang anak yang mencoba berperan menjadi orang dewasa dengan perpindahan paksa: identitas, tubuh keseharian hingga pikirannya yang masih “murni” bersinggungan dengan dunia orang dewasa yang penuh kekhawatiran itu. Begitu pula sebaliknya, saya tak membayangkan orang dewasa akan memerankan peran sebagai anak-anak, apapun alibinya: dengan memanggil kembali ingatan masa kecil, atau mengunjungi masa lalu. Tubuh dan sejarah politis orang dewasa telah membuatnya menjadi sesuatu yang lain, yang tak akan bisa kembali menjadi kanak-kanak.

BACA JUGA:  Dance with the Minotaur: Bertandak Tindak Tanduk yang Tunduk

Namun, kecanggungan identitas itu tipis kita temukan dalam dua semesta sebelumnya, semesta dongeng dan semesta wayang, bentuk tipis ini masih dapat lentur sebab dalam semesta dongeng pun semesta wayang, orang dewasa ditempatkan sebagai pencerita (narator). Meski tetap ada beberapa tendensi yang menyempitkan dunia anak, sebab sekeras apapun usaha orang dewasa “mewakili” dunia anak-anak, mereka tetaplah berposisi sebagai orang dewasa yang “memandang” dunia anak-anak.

Kita Perlu Festival Teater Anak Yogyakarta!

Secara keseluruhan kita patut mengapresiasi setinggi-tingginya apa yang telah dilakukan Teater Bocah Jogja, mereka menitikberatkan fokus kepada anak, dengan segala keinginan agar anak belajar dan berkembang, salah satu cara menempuh pendidikan yang dapat dirasakan manfaatnya adalah dengan teater.

Dengan ini, ke depannya, tanpa bermaksud memberikan tekanan, hanya saran sepintas dalam diri saya, Teater Bocah Jogja dapat menjadi landasan terbentuknya Festival Teater Anak Yogyakarta (mungkin), yang memang berangkat dari dunia anak-anak, sudah saatnya kita sebagai pegiat teater mendengar dan merespon keresahan atau kesukaan akan sesuatu yang dialami oleh anak-anak. Semisal mereka ingin memerankan hewan-hewan dalam fabel, atau cerita-cerita pahlawan, atau hal-hal keseharian di mana mereka mungkin tak mendapat tempat mengekspresikan diri mereka, maka teater adalah jalan keluarnya.

Sehingga semesta dunia anak memang terbentuk dari dalam diri anak-anak dan untuk anak-anak pula: mereka dapat menulis naskah (atau orang dewasa menuliskan naskah khusus untuk anak-anak), menentukan peran, hingga menyutradarai pertunjukan. Tugas kita sebagai orang dewasa, seperti yang telah dilakukan Teater Bocah Jogja, adalah menjadi pendamping, lebih jauh lagi, menjadi teman yang mendengarkan dan menuruti imajinasi mereka, barulah nilai, pun pembelajaran tentang kehidupan akan bertumbuh dengan sendirinya dalam diri mereka. Pada titik tertentu, orang dewasa ini akan menyadari bahwa pandangannya akan apa yang dianggap realis selama ini, di hadapan anak-anak menjadi sesuatu yang kaku dan membosankan.

Dokumentasi Pertunjukan Gadis Biji Timun bisa disaksikan di tautan di atas dari menit awal hingga menit ke 60:00.
Raihan Robby

Raihan Robby

Raihan Robby, lahir dan besar di Jakarta, kini ia sedang menyelesaikan studinya di Sastra Indonesia UNY, ia menjadi alumni kelas penulisan Naskah Lakon Komunitas Salihara 2022, dan tengah mengikuti Lokakarya Penulisan Naskah Teater Remaja DKJ 2022. Dapat ditemui di IG @raihanrby.