PASTAKOM 2019: Menelisik Tubuh yang Berbicara dalam Kesadaran Jagad Kecil dan Jagad Besar

(Renee Sari Wulan). Pasar Tari Kontemporer (Pastakom), sebuah ajang yang menghelat pertemuan koreografer nusantara di Pekanbaru, Riau, sejak 1997. Saya sangat mengapresiasi ajang seperti ini di tengah mahal dan langkanya ajang penciptaan tari. Hadirnya ajang semacam ini di Riau akan menarik dan menggeliatkan tubuh-tubuh tari di dalam maupun di sekitarnya (Sumatera khususnya). Walau belum mampu konsisten mewujudkan sebagai even tahunan, namun semangat untuk terus menghidupkannya menjadi poin penting di sini.

Tahun ini Pastakom meluncurkan tema “membaca lokalitas dalam tubuh”. Tema ini membuka imajinasi saya tentang “lokalitas” yang ada di lipatan-lipatan lapisan-lapisan dalam tubuh. Imajinasi itu berupa gambaran tentang fenomena yang hadir di wilayah di mana tubuh berada, yang memuat semua hal yang terjadi, saling-silang berkelindan, di bawah payung karakter kultur yang bersangkutan. Tak melulu tentang tradisi dalam bingkai sejarah masa lampau, namun juga “lokalitas hari ini”. Di dalamnya ada fenomena urban, kapitalisme, generasi dan era milenial, perkembangan industri, dsb. Juga hal-hal yang bersangkutan dengan keadilan, kesejahteraan, kualitas kemanusiaan, maupun politik praktis dengan kelucuan dan kekotorannya. Akan ada temuan-temuan persoalan, pertanyaan-pertanyaan, lingkaran kegelisahan, catatan, yang terus menggerakkan pikiran dan tubuh seniman tari. Bagi seniman tari kontemporer, ini adalah perjalanan ulang-alik menerobos batas waktu. Ia bisa hadir di tiga masa sepanjang yang mampu ia hadirkan. Yang terpenting adalah memiliki kesadaran sebagai individu hari ini di tengah lingkaran kompleksitas, yang bergerak dengan kebutuhan menelusuri jejak ruang dan waktu sebelumnya, berdampingan dengan kemampuan menghadirkan gambaran (visual) ujud dari bidang-bidang masa depan.

Selanjutnya saya ingin melihat gagasan apa yang muncul. Seberapa kuat ia hadir dan mendorong tubuh berbicara dalam ruang ekspresi yang disiapkan. Lalu bagaimana akhirnya para peserta mempresentasikan diri dalam tiga konteks tersebut (kesadaran eksistensi hari ini, gagasan, tubuh yang berbicara)?

Dari keseluruhan lima belas karya yang hadir pada Pastakom kesembilan, saya menemukan lima karya terkuat. Ada beberapa hal yang membuat saya mengatakan karya mereka kuat, yaitu: memiliki gagasan yang menarik, dalam arti menimbulkan keinginan untuk tahu lebih jauh; mampu mengembangkan imajinasi saya sebagai penonton; saya menangkap ada potensi-potensi kekuatan untuk dikembangkan lagi; ada karakter yang kuat di dalamnya; karya itu mengajak berpikir mengerucut/menukik/menajam.

Frekuensi Rasa” (M. Safrizal, Aceh) adalah catatan pertama saya. Karya ini berbicara tentang kekerasan pada anak, namun tidak terjebak pada lingkaran setan kecengengan (playing victim dengan emosi yang dominan). Ijal, sang koreografer, telah menemukan kecerdasannya dengan menggunakan properti kerangka besi yang mengurung tubuhnya. Hal ini telah memberi pesan kuat tentang keterbatasan dalam konteks kekerasan. Sayangnya hal ini belum didukung oleh tubuh yang bergerak dengan kapasitas yang sesuai. Tubuhnya masih bergerak “lebih”/melampaui kesempitan kerangka besi, sehingga terasa ada yang tertahan. Ia belum bisa memastikan seberapa panjang jangkauan gerak yang harus dihadirkan di dalam properti itu. Yang menggembirakan adalah saya melihat “motif-motif gerak tari tradisi Aceh” yang hadir dengan konteks yang (jauh) berbeda. Bagi saya hal ini penting, ketika Ijal melakukan penjajagan dan eksplorasi terhadap gerak-gerak tersebut, mencoba melepas dari konteks sebelumnya, dan memberi ruang baru. Di ruang baru ini gerak-gerak tersebut dipertemukan dengan gerak lain, diujicoba-dipadupadankan membentuk “kalimat baru”. Dilihat dari konsistensi dan perpaduan yang utuh, upaya Ijal belum sepenuhnya berhasil. Masih “kasar”, terasa potongan-potongan di sana-sini (belum nyambung), namun masih terselamatkan dalam perspektif keutuhan karya. Di sisi lain, ada poin ketika gerak tradisi diupayakan hadir sebagai perbendaharaan gerak baru. Ada makna baru, yang terhubung dengan ruang yang berbeda dari ruang sebelumnya. Bagian terakhir, ketika empat bidang kerangka besi itu terbuka, lalu Ijal menjadikannya sarana permainan anak, terasa sangat menyentuh. Karya ini menjadi semacam flashback, ada hamparan ekspresi korban kekerasan yang ditutup dengan “pengingat” bahwa hidup anak-anak adalah sebuah bidang permainan, di sanalah sumber energi mereka. “Mereka itu anak-anak lho …” adalah ‘alarm’ yang harus terus-menerus berbunyi, agar manusia dewasa tidak melakukan kesalahan terus-menerus terhadap mereka. Satu lagi catatan saya untuk Ijal, bahwa gerak di karyanya membutuhkan ‘nyawa’ yang bersumber dari pengalaman batin dan fisik para korban kekerasan. Dia harus melakukan riset mendalam agar menjumpai lapisan-lapisan dalam dari pengalaman-pengalaman tersebut. Hasil riset ini berupa data yang akan menstimulus proses eksplorasi gerak dan penciptaan karakternya.

m Safrizal di Pastakom 2019
Frekwensi Rasa, karya M Safrizal di Pastakom 2019. Foto oleh: Renee Sari Wulan

Berikutnya adalah Fadlan Auliananda, juga dari Aceh, mempresentasikan karya berjudul “Fana Jiwa”. Tema yang ia usung mengejutkan saya, tubuh dalam konteks hukum cambuk. Performa tubuhnya menampakkan tubuh yang terdera. Ada cabikan-cabikan yang harus dirasakan. Ada batas yang harus diselami. Ada kelengangan yang menyiksa. Bagi saya ini adalah bagian dari proses tubuh yang menarik. Tiba-tiba tubuh semacam ini memunculkan paradoks: ia adalah korban atau bukan? Pertanyaan ini bisa menjadi titik untuk eksplorasi selanjutnya. Ada banyak lapisan di tubuh tersebut yang harus dibuka, ditelusuri, ada “data” apa lagi di sana? Saya kira ini yang menjadi pe-er Fadlan. Dari pembongkaran lapisan-lapisan tubuh itu, tubuh yang hadir bukan tubuh tunggal pesakitan, namun tubuh problematik yang manusiawi.

Fana Jiwa karya Fadlan Auliananda di Pastakom 2019
Fadlan Auliananda dalam karya “Fana Jiwa”. Foto oleh Renee Sari Wulan.

Di malam yang sama hadir karya Lalu Suryadi Mulawarman dan Desak Leratinyngsih dari Lombok-Nusa Tenggara Barat, berjudul “Segare Muncar. Bagi saya ini adalah puisi (tentang dan dari) perempuan. Pekat dengan “tubuh Sasak”, ia menarasikan perempuan laiknya puisi. Tidak terjebak pada tampilan tubuh yang “bermanis-manis”. Berangkat dari kisah Dewi Anjani yang melarikan diri ke Gunung Rinjani karena kegagalan cinta. Di puncak Rinjani terdapat Segare Muncar, lautan yang harus dicapai dengan laku suci. Sebuah pesan kepada Anjani agar ia melanjutkan hidupnya dengan berjuang di jalan suci. Di karya ini pernyataan tersebut menjadi utopis. Anjani hadir sebagai sosok yang kecewa dan marah, namun justru nampak kekuatannya. Di Lombok Dewi Anjani diyakini dan disebut sebagai Inen Gumi (ibunya bumi), ibu dari perempuan Sasak. Hal tersebut dinyatakan di dalam naskah Babad Selaparang. Saya mengenal Bang Surya sejak saya kuliah di Institut Kesenian Jakarta (IKJ) tahun 1991. Kami berada di almamater yang sama, Jurusan Tari IKJ, dia di Program Studi Penataan Tari, saya di Antropologi Tari. Dari sejak awal saya melihat karya-karyanya, saya selalu menjumpai sebuah “warna” yang senada yang berkaitan dengan gagasan dan proses ketubuhan. Bang Surya hampir selalu berbicara tentang perempuan dan tradisi Sasak, serta ada gestur tubuh yang ia pertahankan. Semua itu masih melekat dan hadir di karyanya yang saya lihat malam itu. Saya terkesan dengan konsistensi artistik dia. Di pertunjukan malam itu, keutuhan terjaga dengan intensitas yang sangat baik. Penari, Desak Leratinyngsih membawakan sosok perempuan Anjani dengan segala kompleksitasnya, dengan baik. Ketika saya konfirmasi, saling silang tradisi-kontemporer memang terjadi dalam proses berkarya Bang Surya. Tubuh, tradisi, dan sejarah Sasak, di mana semua itu berfokus pada cerita lontar Babad Selaparang. Kemudian berkelindan bersama interaksi koreografer dengan perubahan jaman dan kompleksitas perempuan. Segalanya menjadi nyawa bagi gagasan maupun proses ketubuhan. Entah kenapa, karya-karyanya selalu terlihat sebagai puisi dalam pandangan saya. Gestur masyarakat Sasak menjadi hal utama, baik dari tubuh bangsawan maupun non bangsawan. Segala materi gerak diletakkan di bidang yang sama, dilepaskan dari konteks awalnya, untuk dieksplorasi menjadi bahasa ungkap baru. Yaaa, ini indah … dan serpihan pecahan cermin yang dihantam tangan Anjani, menutup dan melengkapi keindahan Segare Muncar malam itu.

Segare Muncar, karya Lalu Suryadi Mulawarman
Desak Leratinyngsih dalam karya Segare Muncar karya Lalu Suryadi. Foto oleh Renee Sari Wulan

Di malam penutup Pastakom 2019 hadir karya Tri Putra Mahardika (Jambi), berjudul “Saat Ini”. Dari awal pertunjukan saya telah menangkap tubuh Dika yang berkeinginan kuat menyampaikan sesuatu. Namun keinginan itu tak mampu menghancurkan kendali geraknya. Geraknya tetap terkonsep dan kuat berada di dalam koridor konsep tertentu. Ia bicara waktu dan plastik. Ide tentang plastik terasa lebih kuat. Menarik ketika ia menutup beberapa kepala penonton dengan plastik, setelah itu ia sendiri memasang plastik yang  menutupi kepalanya. Plastik memang tengah menjadi isu populer belakangan ini. Banyak fenomena plastik yang bisa diriset. Yang belum tampak dari karya Dika adalah ‘hasil pembacaan plastik tersebut membuahkan temuan-temuan apa saja?’. Saya berasumsi Dika belum melakukan banyak riset/riset mendalam berkaitan dengan hal tersebut. Karya itu baru bicara plastik sebagai informasi tunggal, sebuah pertanyaan besar: bagaimana manusia memposisikannya, atau harus seperti apa memposisikan plastik pada kehidupan konkritnya? Dalam perspektif tari/seni kontemporer, bagi saya, informasi itu sangat tidak cukup. Banyak persoalan-persoalan atau hal-hal menarik yang bisa digali. Karena plastik hadir di beragam bidang kehidupan. Ini menjadi pe-er Dika selanjutnya. Dika telah cukup tepat mengkaitkan plastik dengan “saat ini”, sebuah konsep waktu yang memiliki banyak pertanyaan, terutama penyikapan manusia terhadap hidupnya. Bagi saya karya ini adalah karya yang menarik, yang memiliki banyak potensi untuk digali dalam proses selanjutnya. Kita menunggu temuan-temuan itu. Beberapa puluh  tahun lalu (era 70-an) Sardono W. Kusumo telah menggelontorkan pertanyaan dan temuannya tentang hutan plastik. Lalu bagaimanakah saat ini?

BACA JUGA:  Feminisme ala Ayu Permatasari dalam "Hah"
Saat Ini, karya Tri Putra Mahardika
Saat Ini karya Tri Putra Mahardika. Foto oleh Renee Sari Wulan

Sebagai penutup rangkaian acara Pastakom 2019, tampil koreografi dari Miftakhul Hauna (Achoel) berjudul “Sekangkang Kera. Karya ini pernah saya lihat di Paradance Yogya tahun 2017. Karya ini berangkat dari fenomena yang terjadi pada suku Sakai, di Riau. Suku Sakai tengah mengalami penyempitan lahan akibat ulah investor perkebunan yang mengambil lahan mereka. Sewaktu di Yogya, karya yang ditarikan sendiri oleh koreografernya itu hanya berpusat pada satu bidang pentas di tengah panggung. Penari tidak bergerak ke mana-mana, ia hanya bergerak di titik itu saja. Achoel memang sedang mengeksplorasi kesempitan. Ia mencoba menubuhkan dan mengekspresikan manusia-manusia Sakai yang kehilangan ruang dari waktu ke waktu. Sekangkang Kera diadopsi dari bahasa Melayu sekangkang keghe yang artinya langkah yang terbatas seperti langkah kera. Di Pastakom 2019, kesempitan itu hilang. Penari memanfaatkan ruang terbuka yang luas. Tubuhnya senantiasa membelakangi penonton. Ia bersuara, kemudian berlari, dan bergerak lagi. Saya menangkap sebuah  kegelisahan sekaligus pencarian terhadap sesuatu (kepastian?). Karya ini tidak berujung pada kesimpulan apa-apa. Namun saya melihat lukisan di sana. Lukisan alam. Pepohonan dalam tubuh, tubuh di antara pepohonan, berganti-ganti. Ada lukisan Sakai dalam tubuh, seperti halnya masyarakat  Sakai melukiskan alam di tubuhnya (Tari Olang-Olang, dll). Sebagai sebuah informasi, masih terlalu sedikit hal yang diungkapkan. Persoalan lahan/hutan/tanah/perkebunan di negeri ini adalah hal yang sangat kompleks. Banyak sekali kelindan kerumitan yang terjadi. Tak bisa melulu hanya dipandang sebagai persoalan kehilangan saja. Itu terlalu menyederhanakan. Saya berharap Achoel menyadari ini, jika ia memang bersungguh-sungguh ingin menyuarakan kegamangan masyarakat suku Sakai. Kemurungan Sakai berhasil dihadirkan. Ada “lolongan” panjang di sana.

Sekangkang Kera oleh Achoel
Miftahul Hauna (Achoel) dalam karya Sekangkang Kera. Foto oleh Willy Fwiandri

Itulah lima karya yang saya anggap terkuat dalam perhelatan Pastakom 2019. Ada gagasan yang terbaca, yang mampu membuat imajinasi berkembang, sehingga dapat mengarah kepada diskusi yang menarik. Termasuk memberi informasi tentang situasi lokal yang tertangkap tubuh hari ini.

Tiga karya berikut saya sebut lapis kedua dari penampil Pastakom 2019. Mereka adalah Wan Harun Ismail (Kampar, Riau) dengan karyanya “Long”, Kiki Rahmatika (Lampung) dengan karya “Reflection”, dan Indra Zubir (Bukittinggi, Sumbar) dengan karya ”Berlin”. Ketiganya berhasil tampil dengan gerak yang maksimal dan rapi, namun berjarak dengan gagasan yang mereka usung, kecuali Indra yang justru belum menemukan gagasan yang khusus. Wan Harun Ismail (Iwan) sebenarnya memiliki gagasan menarik tentang tubuh feminin dan maskulin.  Ia menyoroti keterkungkungan tubuh feminin dalam tubuh maskulin. Namun konteksnya masih belum jelas. Tubuh siapa yang dibicarakan? Tubuh perempuan, laki-laki, transgender, atau tubuh lain? Dari tubuh yang bergerak saya pun belum menemukan keterkaitannya dengan gagasan feminin-maskulin maupun keterkungkungan tubuh. Ia membicarakan ketidaknyamanan tubuh feminin dalam tubuh maskulin, namun tidak jelas dalam konteks apa. Demikian halnya dengan Kiki. Dari tubuh yang ia tampilkan saya tidak menangkap sama sekali konsep reflection (refleksi). Saya justru menangkap tubuh purba yang melekat dengan alam. Di sinopsis ia bicara tentang memori, yang tentu saja sangat luas cakupannya. Menjadi sangat abstrak jika hal itu dijadikan ide. Bagaimana tubuh mampu membahasakannya? Mereka berdua punya pe-er untuk masuk lagi ke dalam lapisan yang mengerucut, agar menemukan pokok pembicaraan yang lebih jelas, sehingga tubuh mampu menterjemahkannya.

Indra mempresentasikan prosesnya bersama anak-anak dan remaja kampung Balingka di lereng Gunung Singgalang, Sumatera Barat. Ia menebalkan aktivitas seni tradisi setempat, silat dan tari piring, kemudian ia pindahkan perlahan-lahan ruang ekspresi itu ke ranah koreografi kontemporer. Sebagai sebuah proses kesenian, ini menarik dan penting. Tubuh yang hadir di karya ini pun mampu tampil bersih dan kuat. Namun sebagai karya, saya belum menangkap ia mau bicara apa?

Lapis ketiga adalah karya Deslenda (“Tuduang Duo) dan Ruki Daryudi (“Serupa Aku”). Di usianya yang memasuki enam puluh tahun lebih, Ibu Deslenda mempresentasikan karya berdurasi sekitar dua puluh lima menit ini dengan sangat baik. Energinya terasa prima mendukung intensitas gerak yang ia hadirkan sepanjang pertunjukan. Bagi saya yang terasa hambar adalah gagasannya. Beliau mengusung ide tentang tudung (penutup kepala). Saya belum melihat urgensi mengapa ide ini dihadirkan. Dari sinopsis saya mendapat penjelasan tentang fungsi dan perubahan fungsi tudung ini berbarengan dengan perjalanan jaman. Di situ ada disebutkan pergeseran fungsi tudung sebagai alat untuk meminta-minta. Bagi saya hal ini adalah celah menuju pada pengamatan kritis terhadap fenomena manusia hari ini. Yaitu mereka yang menggemari jalan pintas, enggan bekerja keras,  berkarakter egois dan suka memanfaatkan orang lain. Sayangnya koreografer tidak menciptakan tudung sebagai tanda yang berkaitan dengan fenomena kontemporer hari ini, yang bisa diurai menuju lapisan-lapisan berikutnya sebagaimana telah saya sebutkan beberapa, sebagai contoh. Jika di sinopsis disebutkan perihal tudung yang berfungsi sebagai penutup kepala, dan pergeserannya sebagai pengipas bila terasa panas, lalu mengapa itu penting untuk disampaikan? Jika penting, dalam konteks apa? Apa relevansinya dengan persoalan-persoalan di dunia hari ini?

Pada karya Ruki Daryudi, saya pun tak mampu menangkap apa yang sesungguhnya tengah ia bicarakan. Jika membaca sinopsis dan performa di pentas, ia bermaksud berbincang tentang topeng. Namun topeng hendak diperbincangkan dalam konteks apa, tidak jelas. Tubuh yang bergerak pun tak mampu membuat saya menangkap sesuatu dari karya tersebut. Ada saya tangkap sedikit berbicara tentang keterbatasan topeng, namun saya tidak merasakan eksplorasi lebih jauh yang berkaitan dengan hal itu. Di bagian terakhir penari berjalan sambil menjinjing topeng, hal ini langsung mengingatkan saya pada peristiwa berdarah beberapa tahun lalu, ketika terjadi bentrokan antara  suku Dayak dan Madura di Kalimantan Barat. Penari yang menjinjing topeng malam itu laksana orang Dayak yang menjinjing kepala manusia Madura.

Lapisan keempat adalah karya-karya yang bagi saya meliputi kombinasi antara gagasan yang lemah, tubuh yang belum berbicara, dan ketidakterkaitan antara gagasan dan tubuh (disconnected). Lima karya tersebut adalah  “Bebaskan Kami Dari Kelambu Asap” (Duni Sriwani – Riau), “Ngaji Rasa” (Iing Sayuti – Indramayu), “Abadi” (Khairulazhar bin Mohtar – Malaysia), “Onduo Dalam Gerak” (Dasrikal – Riau), “Beusajan Saban” (Fitra Ariansyah – Aceh).

Asap adalah isu yang paling kuat mengemuka saat ini terutama bagi masyarakat Riau. Mengangkat isu ini di momen semacam Pastakom adalah hal yang sangat tepat. Namun kehadirannya di pentas belum bisa saya katakan sebagai suatu ungkapan yang mampu memberikan informasi mendalam dan beragam, yang menyodorkan beragam hal sebagai pecahan-pecahan, potongan-potongan, serpihan-serpihan dari perbincangan tentang hal pokok yaitu asap, yang kompleks dan problematik. Ada seorang penari yang bergerak dominan sepanjang pertunjukan, dan sekumpulan anak-anak. Di sini saya melihat bahwa anak-anak sebetulnya berpotensi menjadi bagian dari serpihan-serpihan tersebut. Mereka adalah juga manusia terdampak asap. Mereka memiliki bahasa ungkap sendiri yang perlu digali, sehingga kita mendapatkan bahasa ungkap spesifik anak-anak yang milik mereka sendiri, yang berbicara asap versi mereka. Gerak yang muncul adalah murni dari ekspresi mereka ketika  kepada mereka disodorkan konsep-konsep yang perlu mereka respon dengan tubuhnya, seperti: bau asap, rasa asap, sesak, putih, jarak pandang yang terbatas, dsb. Segala macam konsep tentang asap yang dijadikan motivasi gerak dan ekspresi mereka. Sayangnya hal itu tidak terjadi. Penari pria yang bergerak sendiri juga saya tangkap sebagai gerakan saja, namun tak membuka imajinasi saya yang terhubung dengan hal-hal yang berkaitan dengan asap. Di sinilah saya menjumpai gagasan yang tak terhubung dengan tubuh, kecuali masker yang dikenakan anak-anak.

BACA JUGA:  Open Call Residensi Internasional untuk Koreografer Muda di Hamburg

Seanjutnya ada dua karya yang hendak saya bicarakan bersama-sama yaitu karya Iing Sayuti dan  Khairulazhar bin Mohtar. Keduanya mengusung gagasan tentang ketuhanan. Ada tubuh spiritual yang dihadirkan. Dalam konteks tubuh di ranah spiritual, saya cenderung tak melihat tubuh yang utopis (tubuh ideal di wilayah spiritual) saja, namun juga tubuh yang kongkrit. Tubuh yang utopis adalah tubuh yang menuju pada puncak keinginan yaitu di antaranya adalah tubuh yang bertaubat dan tubuh yang menyatu dengan Tuhan. Sedangkan tubuh kongkrit adalah tubuh yang memiliki kesadaran akan kehadiran hari ini dalam situasi yang kompleks dan problematik, kesadaran bahwa tubuhnya membawa jutaan sejarah dan terhubung dengannya, dan kesadaran untuk melangkah terus ke depan. Bagi saya keterhubungan manusia dengan Tuhan adalah dengan membawa segala kondisi tersebut, apa adanya. Ketika di pentas saya hanya melihat tubuh yang utopis, saya tidak mendapatkan informasi yang saya butuhkan: dalam konteks apa itu terjadi, sehingga sebagai penonton ada hal-hal yang bisa saya ambil di rangkaian perjalanan refleksi  saya sendiri, dalam konteks spiritual maupun ketuhanan. Karena ketiadaan kasus atau isu yang kongkrit, maka gagasan tentang ketuhanan menjadi sangat luas dan abstrak, sehingga tubuh pun kesulitan membahasakannya. Bagaimana tubuh membahasakan “ruang kosong”, “kegelapan”, pengorbanan”, dsb, sebagaimana disebutkan Iing Sayuti dalam sinopsisnya? Di sinopsis pula saya menemukan pernyataan menarik dari Khairulazhar: “Dalam putih kita datang, dalam perlbagai warna kita kembali”. Ini sebetulnya bisa menjadi titik tolak untuk masuk ke wilayah kongkrit terutama tentang “berbagai warna kita kembali”. Itu adalah sebuah pernyataan tentang keberagaman manusia. Walau sering kali direpresentasikan sebagai “kosong” dan/atau “putih”, namun sejatinya manusia dilahirkan beragam dengan  segala “modal kemanusiaan” yang diberikan padanya dalam DNAnya. Hidup membuat manusia makin beragam dan berlapis-lapis, berwarna-warna. Justru itulah menjadi menarik ketika dalam pembicaraan tentang “kembali kepada Tuhan” atau “mendekati Tuhan”, ada pendekatan yang beragam berdasarkan warna-warna tersebut. Penonton menjadi tahu, MENGAPA hal itu dilakukan, mengapa ada perasaan semacam itu yang muncul. Warna-warna itu yang akan memantik diskusi. Sayangnya, sekali lagi koreografer terjebak untuk bergerak di wilayah abstrak dan utopis, tidak menyentuh hal yang riil. Warna-warna diwakili oleh payung yang berwarna-warni, karena tak disertai kasus/isu kemanusiaan yang kongkrit, saya pun tak mampu membedakan karya itu dengan pergelaran tari payung pada umumnya.

Saya pun kehilangan hal yang khusus dan kongkrit di karya Dasrikal. Karyanya berjudul “Onduo Dalam Gerak” sebenarnya menarik, ia mengangkat interaksi tubuh dan sastra lisan (onduo). Bagi saya keduanya adalah teks. Di pentas, saya menjumpai tubuh yang bergerak tanpa saya pahami apa maksudnya, dan sulit saya dapatkan interaksinya dengan kedua teks tersebut. Di sinopsis disebutkan bahwa onduo berisi nasihat kehidupan, yang dimaksudkan memberi ajaran agar kelak hidup lebih terarah. Sekali lagi koreografer terjebak untuk membicarakan hal-hal yang umum dan abstrak, yang justru akhirnya tidak menyampaikan apa-apa pada penonton. Apakah isi nasihat dalam sastra lisan tersebut? Lalu nasihat tersebut terkait dengan bagian tubuh dan pengalaman hidup yang mana? Tentu saja tubuh yang saya bicarakan di sini adalah tubuh yang tak melulu dalam pengertian fisik, namun tubuh yang mengalami, menjadi bagian dari gerak hidup dan sejarah.  Ia menyerap, mengolah, dan menyimpan segala hal yang ia temui dalam hidup. Walau sastra lisan tersebut berisi nasihat tentang hal-hal yang umum, luas, dan abstrak, namun koreografer adalah penafsir yang memiliki keleluasaan mengkaitkannya dengan hal-hal khusus sebagai pengalaman tubuh yang kongkrit/riil/nyata. Bagi saya menyelam jauh ke dalam lapisan-lapisan hidup yang dinamis, kompeks, dan problematik adalah keharusan bagi pencipta seni. Hal itu menjadi penopang (fondasi) sehingga karyanya bukan karya yang mengambang, namun berpijak. Di sisi lain saya menemukan hal-hal menarik, yaitu pertemuan antara vokal feminin dan tubuh maskulin, pertemuan antara tubuh dengan gong (ketukan). Ada kain perca yang tidak berbicara. Karya juga terjebak pada irama yang linier. Tubuh hanya menempel pada irama/vokal,  bukan irama yang mampu menggali tubuh.

Karya terakhir yang akan saya bicarakan adalah “Beusajan Saban” karya Fitra Airiansyah. Mengusung nilai-nilai kerjasama, sukarela, kerukunan. Berangkat dari tradisi Me’urab , yaitu suatu bentuk kerjasama masyarakat Aceh. Lagi-lagi hal yang disodorkan pada penonton adalah hal yang umum dan abstrak. Tari bagi saya adalah ekspresi yang khusus dan berpijak, namun bukan berarti verbal. Tubuh yang saya saksikan adalah tubuh yang bergerak, namun tidak berbicara. Artinya, dengan bahasa ungkap yang seperti itu, maknanya bisa sangat bermacam-macam, tidak membawa imajinasi penonton pada hal-hal yang khusus dan kongkrit yang akan membuat karya ini berbeda dengan karya lain dengan tema yang sama. Penonton tidak dibawa ke konsep kerjasama khas Aceh, yang tak menutup realita atas dilematika manusia-manusia di dalamnya. Ini masih karya utopis, bagi saya. Ada ide, tapi mati.

Workshop Koreografi (oleh Ery Mefri, pada 29-30 November 2019)

Ery Mefri mengawali workshopnya dengan menyatakan bahwa menari tak boleh dipaksakan. Tak perlu ada kesakitan dalam tari. Jika ada sakit di badan, atasi sendiri. Ikuti tahapan-tahapan tubuh. Sediakan waktu untuk mempelajari tubuh (pemanasan, berlatih, eksplorasi).

Tahun 1983 ia mendirikan Nan Jombang. Penanaman pemikiran yang terjadi adalah latihan untuk sehat, berkarya untuk kita sendiri. Rumah adalah kehidupan koreografi. Latihan pertama adalah bangun tidur.

Seorang peserta dipanggil ke tengah, tidur berbaring, menguap, bergerak (menguap adalah pemanasan pertama). Lalu bangun, lari di tempat. Tambah hitungan setiap harinya. Di film Cina  semua dilatih, diasah, tanpa paksaan. Di saat bicara, ada yang bergerak dalam tubuh selain mulut.

Perhatikan irama gerak. Tubuh harus dicintai. Dalam tari kontemporer bukan bentuk tubuh sempurna yang dituntut, namun tubuh yang sehat. Penari kadang lupa ‘bernafas’. Untuk mengembalikan nafas, bernyanyilah, bersuaralah. Proses latihan bisa menjadi koreografi yang indah. Kesalahan adalah kebenaran yang sesungguhnya. Kalau salah jangan berhenti, ikuti menuju kebenaran. Sesuatu yang didapat diolah lagi.

Tradisi melakukan konsep berlatih seumur hidup. Kesenian di Indonesia adalah bagian dari hidup. Pelajari dan koreografi tubuh kalian. Apakah kita sungguh-sungguh menjadikan itu (berlatih) sebagai kehidupan yang mengalir dan rutin.

Kamar mandi adalah pentas pertama kita.

Tanya jawab

Pak Darus, kepala suku Sakai menanyakan apakah perbedaan tradisi dan kontemporer? Tradisi adalah sesuatu yang berlangsungturun temurun dan hampir punah. Apakah di tari kontemporer harus berguru juga seperti di tradisi?

Ery Mefri menjawab bahwa tradisi dan kontemporer sama. Perbedaannya adalah ia belum pernah mengalahkan tradisi.  Ia berguru ke Sal Murgiyanto. Menurut pak Sal tak perlu sering-sering memproduksi karya baru. Pegang satu karya untuk diolah di studio beberapa tahun. Ini seperti konsep tradisi. Masyarakat tradisi tidak berkarya, namun karya itu berkembang (di wilayah ruh dan  kematangan). Ada cara hidup yang berbeda antara tradisi dan kontemporer. Talempong jika dilangkahi, suaranya akan berubah. Bagi Ery Mefri, baik tradisi maupun kontemporer sama-sama dimarjinalkan. Ada konsep ibu bumi dan langit ayah, sebagai penghormatan terhadap lingkungan tempat kita berkesenian.

Berlatih rutin yang menubuh layaknya mandi dua kali sehari. Ia melihat di kondisi sekarang koreografer banyak yang menjadi pelatih daripada kreator.

Apa yang dibicarakan sekarang, dikembangkan besok. Masuk lorong (berguru), harus keluar dari lorong sebagai DIRINYA.

Koreografi adalah ruang berpikir.

Selesai latihan, tidur adalah penutup. Badan berbaring terlentang, tumpuan pada kepala dan pantat, badan terangkat, kedua siku terangkat, tangan menggelitik perut dari atas ke bawah. Lakukan beberapa saat, lalu pelan-pelan kembali ke posisi awal.

Konsep belajar di tradisi lebih pd menubuhkan gerak secara organik (menirukan); bukan hitungan, atau arahan bentuk.

Setiap bergerak kamu harus menyanyi, nafas sesuaikan dengan kondisi tubuh.

Pengiring musik yang baik adalah musik yang tidak didengar (Rizaldi Siagian). Ia ada dalam tubuh penari. Ery Mefri terganggu dengan kalimat itu selama sepuluh tahun, lalu memutuskan untuk tidak lagi menggunakan instrumen musik.

BACA JUGA:  Tegangan Kediaman dan Mobilitas dalam Cabaret Chairil Vol. I

Diskusi

Salah satu hal menarik di Pastakom 2019 adalah diskusi yang tak lagi melihat tari atau penciptaan tari sebagai ekspresi yan berdiri sendiri, namun terkait dengan hal-hal lain di sekitarnya, yang turut membentuknya. Dalam konteks Riau, tari menjadi bagian dari isu besar ekologi, yaitu asap. Adalah Karang Pohon, sebuah titik pertemuan antara berbagai elemen di Riau yang bergerak bersama menemukan solusi membebaskan Riau dari asap tahunan, yang berasal dari pembakaran hutan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab (individu maupun korporasi). Diskusi bertajuk “Tari dan Ekologi”. Dipandu oleh Aristofani (etnomusikolog)sebagai moderator. Sebagai narasumber ada Okta (aktifis lingkungan hidup), Datuk Seri Al Azhar (Kepala Adat Melayu Riau), dan saya sendiri dari perspektif tari.

Diskusi ini mencoba menggali pandangan ekologi, koreografi, antroposentris, ekosentris, etika lingkungan, tradisi, koreografi kontemporer. Tahun 2020 akan ada dua kali panas ekstrim, yang merupakan potensi terjadinya dua kali bencana asap yang lebih parah dari tahun-tahun sebelumnya. Tingkat kekritisan situasi lingkungan kita, iklim, perubahan cuaca, sudah sangat membutuhkan perhatian kita semua.Termasuk siaga banjir. Di sisi lain ijin perihal Hutan Tanaman Industri (HTI), di Mentawai misalnya, diberikan kepada 70 perusahaan. Industri Sawit, lahan gambut (penurunan daya dukung lingkungan: ruang untuk tumbuh tanaman menjadi berkurang), mempengaruhi kebudayaan dan manusia. Riau dikepung karhutla (kebakaran hutan dan lahan) dan banjir.

Datuk Al azhar mengungkapkan adanya ritual pengobatan yang disebut kemantan, ada konsep “pulang ke bumi”. Kerusakan adalah penyakit. Diperlukan interogasi dengan dunia melalui dua ruh yaitu roh pemulih, dan roh kejahatan (disharmoni). Menginterogasi kenyataan-kenyataan hari ini.

Jalu adalah penyebutan bagi orang yang tidur tapi dia bangun (sleepwalkers). Seniman yang hantu adalah seniman yang walau kakinya tertancap di bumi, tapi tak terpisah dengan hal-hal metafisik.

Tari sebagai ramalan. Ruang menjadi isu.

Kaum positivistik memisahkan antroposentis dan ekologis, hal itu melahirkan kapitalisme. Keberjarakan akan melahirkan bencana. Teknologi merupakan obat yang dosisnya kita tentukan.

Willy Fwiandri (aktor, sutradara teater, pekerja teater dan senin pertunjukan) menyatakan bahwa

yang perlu adalah keseimbangan. Akar-akar kita juga menjadi bagian penting bergerak bersama teknologi. Harus ada gerakan-gerakan yang berpadu, tak lagi sendiri-sendiri. Gerakan karang pohon sebagai revolusi ekologi. Manusia yang berpikir dan berlaku benar adalah yang tidak dikuasai rasio. Dampak krisis ekologi juga menimpa masyarakat yang berkesenian.

Ketika saya diminta memberi pandangan seputar tari dan ekologi, saya lantas teringat komentar dari seorang teman sastrawan dari Jember (Jatim), Halim Bahriz, pada 19 Maret 2019 di kolom komentar facebook saya menanggapi postingan saya  tentang koreografi untuk buruh migran. Berikut saya kutip komentarnya:

“Menurut pengamatanku, tubuh tari kontemporer kita kian merasuk ke dalam. Sampai-sampai kehilangan sirkulasi interior-eksteriornya. Pada taraf seperti itu ia kembali menyerupai watak keraton. Bahkan ketika persoalan gender, feminitas, atau ekspresionisme yang menimbang bawah sadar naik ke permukaan, artikulasinya tidak kaya atau variatif. Suatu kecenderungan yang, saya duga, timbul sebab proses-proses yang kelewat studio/laboratoris. Ada sih yang menggapai tema-tema eksterior, tapi entah kenapa disconnected antara tubuh sebagai kamus dan gagasan yang ingin diucapkan. Agaknya karena prosedur penciptaan yang sama, atau bentuk riset yang tidak berbasis pada ketubuhan sebagai kertas tempat mencatat aksentuasi fenomena, juga ada kesan pendekatan semata tekstual sebagaimana cara orang sastra atau peneliti-peneliti yang produk akhirnya dalam bentuk buku.”

Komentar itu tidak mengejutkan saya. Telah saya sadari sejak lama bahwa tubuh tari kita telah didominasi ruang interior. Studio, tempat berlatih-berproses, melulu dimaknai sebagai ruang interior. Ruang eksterior serasa tak tersentuh, setidaknya  sebagai elemen penyeimbang bagi tubuh yang berproses. Yang mengejutkan saya adalah bahwa hal itu pun tertangkap oleh orang-orang di luar tari/seni pertunjukan. Betapa dominasi itu telah menubuh. Ditambah lagi ruang presentasi tubuh maupun karya yang juga didominasi panggung prosenium.

Hal ini bersambung dengan apa yang disampaikan salah satu peserta Pastakom 2019, pada malam pertama perhelatan. Ia mengatakan pada saya tentang kegamangannya pentas di ruang terbuka. Ia tak pernah berlatih-berproses di ruang terbuka.

Nun berpuluh tahun lampau, seorang Sardono W. Kusumo telah memperbincangkan hutan dan lingkungan dalam karyanya Hutan Plastik dan Metaekologi, hasil eksplorasinya di hutan Kalimantan dan masyarakat suku Asmat di Papua.  Dilanjutkan dengan Dedy Lutan yang banyak bereksplorasi dengan suku Dayak di Kalimantan. Sejak itu saya belum pernah mendengar lagi koreografer kita memfokuskan dirinya pada perbincangan tentang alam. Yang ada adalah generasi yang lebih menggeluti ruang interior, baik di kampus maupun di luar kampus, sambil berkhayal-khayal tentang lingkungan yang ideal (generasi utopis). Di sinilah tubuh terpenggal dengan alam. Ia berjarak, bahkan terputus dengan alam yang melingkarinya dan turut melahirkannya.

Sampai di sini saya melihat adanya dua hal yang perlu diselamatkan, yaitu ekspresi dan ekologi. Salah satu jalan keluar yang muncul di benak saya adalah mengembalikan kesadaran pelaku tari tentang posisi dirinya di antara keluarga, masyarakat, alam, dan semesta. Posisi ini tidak memandang tubuh individu sebagai penguasa atau elemen yang dominan dari lingkaran tersebut, melainkan sebagai bagian sejajar dengan lapisan-lapisan lingkaran itu, yang saling berinteraksi, bekerjasama, bersinergi, saling menjaga keberadaan dan keutuhan semuanya. Saya pun teringat pemikiran saya tentang “tubuh yang kembali”. Bahwa tanah yang kita pijak dan kita makan, udara yang kita hirup, air yang kita minum, adalah alam yang tak hanya memberi. Ia juga pengingat peran manusia untuk merawatnya agar alam dapat selalu memberi. Jika tidak, alam pun memberi tanda-tanda kematian pada kita.

Kembali pada Pastakom 2019 dan lokalitas dalam tubuh, bagi saya ini adalah momen berharga ketika sebuah ruang ekspresi digelar untuk mendorong pelaku dan penikmat kesenian melihat ke dalam dan ke luar dirinya. Ke dalam adalah melihat apa yang tersedia dalam tubuh di sepanjang perjalanannya.  Lokalitas adalah bagian dari ruang tumbuh tubuh. Bagaimana pertemuan dan kelindan yang terjadi, menghasilkan “warna”/percampuran apa di tubuh hari ini? Ke luar adalah melihat lingkaran di mana tubuh berada dan bagaimana tubuh berperan dalam interaksi antar lapisan-lapisan dalam lingkaran itu. Saya sangat mengapresiasi panitia yang menyediakan ruang luar (outdoor) sebagai panggung presentasi para seniman. Ruang luar ini menjadi media tanya bagi seniman, seberapa besar ia memberi porsi pada tubuh untuk menyerap lingkaran besar di luarnya. Seberapa dalam ia menyadari posisi tubuh di lingkaran semesta (jagad besar). Kemudian dalam konteks tari dan ekspresi, bagaimana pelaku tari menggunakan tubuhnya, yang berpotensi menjadi juru ungkap yang artikulatif. Bagaimana menjadikan tubuh yang tak hanya bergerak, namun juga berbicara?

 

 

Renee Sari Wulan

Renee Sari Wulan lahir di Malang, Jawa Timur, tahun 1973. Menari sejak usia 6 tahun. Lulus dari Institut Kesenian Jakarta program studi Antropologi Tari. Menjadi anggota Dewan Kesenian Jakarta (2006-2012) di Komite Tari. Memiliki ketertarikan pada riset dan penulisan tari, terutama kajian tubuh tari Indonesia. Tahun 2017-2018 terlibat sebagai editor buku tari Ikat Kait Impulsif Sarira yang ditulis oleh Eko Supriyanto. Kemudian ia diminta terlibat sebagai dramaturg dalam proses kerja koreografi dari tiga koreografer Indonesia, yaitu Hartati ("Wajah #2" 2017), Tulus ("Pasir" 2018 - sekarang masih berproses), dan Eko Supriyanto ("Ibu Ibu Belu Body of Border" 2019 sedang berproses).

Renee Sari Wulan

Renee Sari Wulan lahir di Malang, Jawa Timur, tahun 1973. Menari sejak usia 6 tahun. Lulus dari Institut Kesenian Jakarta program studi Antropologi Tari. Menjadi anggota Dewan Kesenian Jakarta (2006-2012) di Komite Tari. Memiliki ketertarikan pada riset dan penulisan tari, terutama kajian tubuh tari Indonesia. Tahun 2017-2018 terlibat sebagai editor buku tari Ikat Kait Impulsif Sarira yang ditulis oleh Eko Supriyanto. Kemudian ia diminta terlibat sebagai dramaturg dalam proses kerja koreografi dari tiga koreografer Indonesia, yaitu Hartati ("Wajah #2" 2017), Tulus ("Pasir" 2018 - sekarang masih berproses), dan Eko Supriyanto ("Ibu Ibu Belu Body of Border" 2019 sedang berproses).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *