fbpx

Hari Teater Dunia dan Lubang Kuburnya

[Ekwan Wiratno].

Semakin pesatnya multimedia dalam kehidupan manusia menuntut pengalaman yang tak terbatas. Film, misalnya, terus mengembangkan efek 3 dimensi yang mendekati, bahkan melampaui realitas. Sehingga, apapun bisa dibuat dan dinikmati oleh penonton. Sementara di pojok gelap, teater masih berkutat pada persoalan-persoalan teknis kuno.
Apakah kita hendak membiarkan teater digiring menuju lubang kuburnya?

WORLD THEATRE DAY

Kemarin, tanggal 27 Maret, gempita ucapan-ucapan Hari Teater Dunia di semua media, terutama media social. Peringatan ini berangkat dari sebuah perayaan World Theatre Day tahun 1961 yang diinisiasi oleh International Theatre Institute (ITI). Perayaan setiap tahunnya dirayakan dengan sebuah refleksi oleh tokoh teater yang membagikan pandangannya tentang kondisi teater dan masa depannya. Beberapa tokoh yang memberikan catatannya adalah Jean Cocteau (1962), Arthur Miller (1963), Peter Brook (1969, 1988), Pablo Neruda (1971), Eugène Ionesco (1976), Martin Esslin (1989), Edward Albee (1993), Augusto Boal (2009), Dario Fo (2013), dan Helen Mirren (2021).

Tujuan dari perayaan World Theatre Day adalah untuk mempromosikan semua bentuk teater di seluruh dunia, meningkatkan kepedulian masyarakat akan nilai dari teater, mendukung kelompok teater untuk mempromosikan karyanya pada skala luas agar pemerintah dan tokoh bangsa lebih peduli pada teater, untuk menikmati dan berbagi kesenangan berteater dengan masyarakat umum.

Hari ini, setahun setelah pandemic Covid-19, refleksi tentang keterbatasan dalam berkarya menjadi isu utama yang disampaikan oleh Helen Mirren, seorang pemain teater dan film. Teater “…tak lama lagi akan kembali mengembang dengan energi baru dan pemahaman baru atas dunia tempat kita berbagi bersama,” demikian tulisnya di website World Theatre Day (https://www.world-theatre-day.org/). Optimisme ini tampaknya merupakan respon terhadap semakin menurunnya kasus aktif Covid-19 dan semakin masifnya vaksinasi di seluruh penjuru dunia. Beberapa negara sudah mulai melonggarkan kegiatan-kegiatan kemasyarakatan, hal ini disambut dengan mulai bermunculannya jadwal pertunjukan luring yang dipatok pada bulan Mei, Juni dan seterusnya.

BACA JUGA:  Mampir Ngombe di Larantuka : Oleh-oleh Seniman Mengajar

TEATER HARI INI

Optimisme memang penting, tetapi kewaspadaan harus tetap ada di dalam diri kita. Kewaspadaan itu yang akan membuat kita mampu mencegahnya tidak terjadi. Kewaspadaan itu hanya bisa kita lakukan dengan membaca kecenderungan-kecenderungan negative teater sekarang ini.

Setelah digempur pandemic Covid-19 sejak tahun 2020, teater memang kehilangan ruangnya. Gedung-gedung pertunjukan ditutup, ijin-ijin kegiatan ditahan. Sejak itulah seniman teater kehilangan dayanya. Sebagian besar, pada masa awal pandemic itu, seniman teater menghentikan semua aktivitasnya. Pada tahap berikutnya, mulai digelar berbagai diskusi virtual dan pergerakan di media social. Pada masa inilah kemudian terbentuk beberapa asosiasi teater yang terus melakukan diskusi melalui platform Zoom dan membahas hampis semua aspek teater. Sementara pertunjukan teater disajikan dalam bentuk pemutaran Kembali dokumentasi-dokumentasi pertunjukan. Pada level ini sepertinya seniman teater mulai tersadar bahwa dokumentasi pertunjukan adalah hal penting. 

Tahapan berikutnya adalah mulai dicobanya cyber space untuk mulai berpentas, maka muncullah pertunjukan yang direkam khusus untuk media social dan Youtube. Beberapa bahkan mencoba melakukan pentas streaming yang memungkinkan pengalaman menonton live menjadi tetap terjaga. Semua usaha ini semata untuk terus kreatif dan menjaga ritme penonton. Sebab seperti saya tulis dalam artikel “Mimpi Buruk Teater Setelah Pandemi” yang juga dipublikasi di website https://gelaran.id/, bahwa penonton adalah elemen yang harus mendapat perhatian dan harus terus dijaga intensitas pertemuannya dengan pertunjukan teater.

Pementasan Entah oleh Teater Pribumi, Tuban, Jawa Timur
Pementasan Entah oleh Teater Pribumi, Tuban, Jawa Timur
Pementasan Savitri oleh Teater Koma
Pementasan Savitri oleh Teater Koma

Di tengah perayaan Hari Teater Dunia ini, ada ironi menyakitkan bahwa masih rendahnya pementasan yang digelar. Di beberapa kota, pementasan luring sudah mendapatkan ijin dengan pembatasan penonton dan protocol Kesehatan yang ketat. Hal ini tentu saja sebuah berita yang menyenangkan. Pada bulan April 2021, misalnya, digelar Parade Teater oleh Dewan Kesenian Malang, Jawa Timur. Parade yang melibatkan teater-teater independent ini mengetengahkan ide “udara segar” yang seakan menjadi kebutuhan kita semua di tengah penjara dinding rumah. Beberapa komunitas teater memilih untuk melakukan pentas daring melalui Youtube, seperti yang dilakukan oleh Teater Pribumi, Tuban yang mementaskan naskah Entah pada tanggal 26-28 Maret 2021. Juga, dalam perayaan ulang tahunnya, Teater Koma dan Teater Kubur menggelar pertunjukan daring gratis melalui media yang sama.

BACA JUGA:  Hubungan dan Kedekatan Kritikus - Praktisi Seni: Pengalaman dari Singapura

Sayangnya, penggunaan teknologi informasi macam ini belum menjadi sebuah hal menarik bagi Sebagian seniman teater. Mereka masih suntuk dalam doanya mengharapkan pandemic segera berakhir. Tentu berdoa saja, tanpa mau mencari cara terbaik untuk terus berkarya. Hal inilah, dalam berbagai kesempatan, saya sampaikan bahwa justru akan mengantarkan teater masuk ke lubang kuburnya sendiri. Sebuah ironi menyakitkan yang harus kita terima sebagai kenyataan bila kita terus melakukannya.

Semakin familiarnya penonton teater terhadap media online maka menuntut kemampuan seniman teater untuk mampu menggunakannya dalam berkarya. Hal ini untuk, tentu saja, mencegah mereka lari dan melupakan seni teater. Sebab kalau itu terjadi, maka teater benar-benar telah masuk ke lubang kuburnya, sialnya tangan kita berperan membuatnya nyata.

KEMBALI PADA TUJUAN WORLD THEATRE DAY

Apakah semua tujuan WTD telah terwujud? Inilah pertanyaan yang harus kita jawab setiap tahun di tanggal 27 Maret, tidak semata berucap dan mengupload kata-kata Mutiara yang menghanyutkan. Persoalan penyebaran informasi tentang teater, betapa menyenangkannya berteater kepada pemerintah, pengambil kebijakan dan masyarakat umum harus terus digaungkan. Apakah teater masih asyik sendiri: dibuat oleh, dan dibuat untuk dirinya sendiri? Atau telah mampu “…membuat orang peka terhadap kehidupan sehari-hari di mana para aktor adalah penonton itu sendiri,” demikian tulis Augusto Boal pada tahun 2009, tepat pada tahun kematiannya.

Malang, 29 Maret 2021

Ekwan Wiratno
Latest posts by Ekwan Wiratno (see all)

Ekwan Wiratno

Ekwan Wiratno adalah Dosen Universitas Brawijaya, Malang yang juga merupakan kritikus teater, penulis naskah, dan sutradara. Selain sebagai kritikus, penulis merupakan pendiri Malang Study-Club for Theatre (MASTER) (IG: master.malang) yang berfokus pada upaya literasi dan pengembangan keilmuan teater secara umum. Kini tinggal di Malang dan membuka peluang komunikasi melalui account Instagram @ekwan_wiratno.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *