fbpx

Toksik Maskulinitas dalam Rumah Tangga : Ulasan “Ngono Ya Ngono” – GMT Jogjadrama di Linimasa #5

[Raihan Robby]. Bagaimana caranya agar dapat keluar dan memutus hubungan yang dipenuhi oleh kekerasan, baik kekerasan fisik, verbal hingga seksual? Pertanyaan ini akan sulit mendapatkan jawaban jika ditanyakan kepada korban dari hubungan yang toksik itu. Seperti yang dirasakan oleh Eni (diperankan oleh Wijil Rachmadhani), perempuan yang berada dalam jerat kuasa lelaki yang dipenuhi oleh ketoksikan dan kekerasan.

Dengan berani, dan dipenuhi cita-cita untuk membuka mata para penonton menyadari realitas di sekitar kita, GMT Jogjadrama, merekonstruksi ulang kisah “Balada si Eni” yang berangkat dari sebuah lagu dan dirilis dalam album Rannisakustik and Friends berjudul Bertanya Apa itu Cinta pada tahun 2015 sebagai kampanye penghapusan kekerasan terhadap perempuan yang ketika itu difasilitasi oleh Rifka Annisa Women Crisis Center.

GMT Jogjadrama dengan cemerlang menciptakan alur dan konflik yang lebih kompleks dan menghadirkannya di atas panggung Parade Teater Linimasa TBY #5 pada 23 Oktober 2022. Ahmad Jalidu, selaku sutradara dan narator di atas panggung menyanyikan sebuah lagu dengan lirik yang penuh penceritaan. Sebuah usaha untuk menciptakan pertunjukan drama musikal.

Lirik yang dihadirkan sebagai pembuka pertunjukan, menggambarkan bagaimana toksik maskulinitas itu telah dibangun sedari kecil:

Setiap lelaki kecil diwarisi langit
Cerita tentang menjadi manusia perkasa
Anak lelaki tak boleh terlihat menangis
Anak lelaki tak boleh terlihat lemah

Lantas Ahmad Jalidu mengundang rekannya, Febrinawan Prestianto juga selaku narator untuk bersama-sama mereportasekan peristiwa di atas panggung, para aktor-aktor lain turut hadir dan menyanyikan sebuah lagu yang menambah pernyataan toksik maskulintas itu:

Ini kisah laki-laki
Bermula dari laki-laki
Berkisah tentang laki-laki
Kisah harga diri para pemberani
La…lala…la….
Otot kawat tulang besi
La…lala…la….
Jiwa tegas para pemberani
Haaaa…..

IMG 4557 | Toksik Maskulinitas dalam Rumah Tangga : Ulasan “Ngono Ya Ngono” – GMT Jogjadrama di Linimasa #5
Seluruh pemain menyanyikan lagu pembuka. Ki-ka: Arief Gogon (Joko), Odon Saridon (Pak RT), Febrinawan Prestianto (narator), Wijil Rachmadhani (Eni), Ajeng Jovanditya (Ibu), Ahmad Jalidu (narator), Sapta Sutrisno (Pak Yadi), Ira Mayasari (Bu Vina).
Foto oleh Julio Uul.

Seketika para pemain berlalu lalang pergi seiring masuknya setting minimalis yang dapat berpindah sesuai kebutuhan panggung, di belakang Eni telah jatuh tirai putih untuk layar proyektor video-video. Febrinawan Prestianto dengan presitius mengajak penonton untuk sama-sama mendengarkan peristiwa luka yang dialami langsung oleh Eni, atas kekerasan dalam rumah tangga yang dilakukan oleh Joko (Arief Gogon), mantan suaminya.

Ya, cerita ini justru dimulai jauh setelah peristiwa KDRT yang dialami oleh Eni, pembuka pertunjukan ini menjadi “pasca-peristiwa” yang berada di dalam peristiwa. Loncatan-loncatan waktu ini di sepanjang pertunjukan terbungkus rapih sebab adanya narator yang berperan tak hanya mereportasekan peristiwa, namun juga menggiring perasaan penonton, lebih jauh mengajak penonton masuk ke dalam peristiwa demi peristiwa yang direportasekan.

Selayaknya wawancara dan mencoba tetap objektif, Febrinawan menanyakan alasan dari Eni yang tetap bertahan meski telah mengetahui bahwa Joko, sewaktu dulu sebagai pacarnya telah menunjukkan sifat-sifat temperamental hingga melahirkan perbuatan abusive dalam tindakan fisik, verbal dan seksual yang menyiksa Eni.

Eni tak bisa lepas begitu saja, ia telah dibesarkan dalam kondisi keluarga yang runtuh, kondisi keluarga yang melanggengkan bentuk-bentuk tindakan abusive yang dilakukan oleh alm. Bapaknya. Sehingga ia merasa sudah terbiasa dalam posisi yang tertekan, alih-alih keluar mencari pertolongan, Eni terus menerus memaklumi perbuatan yang dilakukan oleh Joko, sebab ia telah mengalami trauma dari maskulinitas sejak masih kecil, dalam lingkup yang erat pula: keluarga. Maka pikirannya selalu kembali kepada pemakluman, sekaligus pertanyaan yang justru ia tujukan kepada dirinya sendiri: apa mungkin kekerasan ini terjadi sebab ia pantas menerimanya?

Layar putih yang sedari tadi membentang, kini menghadirkan dimensi percakapan telepon, saat Febrinawan menghubungi Haryo Widodo, seorang Psikolog. Dalam catatannya, Haryo menambahkan bahwa apa yang dialami Eni, tak hanya berangkat dari pola asuh sedari kecil, melainkan cara pandang masyarakat yang masih berpandangan bahwa laki-laki yang otoriter, keras, temperamen layak dijadikan sebagai pasangan hingga pemimpin, karena dianggap mampu mendidik posisi perempuan yang seakan butuh untuk dididik dan dibenahi.

BACA JUGA:  Menjejak Ingatan pada Semangkuk Sup Makan Siang atau Cultuurstelsel

Apa yang dialami Eni kini lebih kompleks, kekerasan yang dialaminya telah merasuk hingga ke jiwa, irisan kenangan buruk semasa kecil, dan stigma masyarakat yang camping semakin mengukuhkan kuasa dari Joko dalam bertindak atas tubuh Eni. Semenjak kuliah semisal, Joko selalu meminta untuk berhubungan seksual seminggu dua kali, jika tidak dituruti, Joko akan marah dan main tangan seperti memukul dan mencekik Eni, hal-hal sepele seperti kelupaan membawa jaket pun bisa dipermasalahkan oleh Joko.

IMG 4703 edited | Toksik Maskulinitas dalam Rumah Tangga : Ulasan “Ngono Ya Ngono” – GMT Jogjadrama di Linimasa #5
Layar menampakkan video lirik ketika lagu-lagu dinyanyikan. Foto oleh : Julio Uul.

Eni telah terjatuh ke lubang toksik maskulinitas yang mengatasnamakan cinta, ia terus menerus percaya bahwa Joko adalah lelaki yang akan membimbingnya, hingga pada puncaknya Eni hamil. Lagi-lagi dengan dalih suka sama suka, dan pandangan masyarakat dalam melihat perbuatan menyimpang itu menimbulkan ketakutan dalam diri Eni, hingga mau tak mau ia menikah dengan Joko, dan mempunyai dua orang anak, hubungan rumah tangga itu pun selalu dipenuhi kekerasan dan kekurangan, sebab Joko tidak bekerja, dan mereka tinggal menumpang di rumah Mas Yadi, kakak dari Joko.

Kini, alasan Eni berganti, seperti yang dialami oleh para korban KDRT lainnya, perempuan-perempuan yang menjadi korban kekerasan laki-laki umumnya memilih bertahan sebab tak tega untuk pisah dan melihat anak-anak mereka menjadi anak broken home. Menikahkan korban dengan pelaku yang abusive didasarkan karena kehamilan pun sudah perbuatan yang salah, sebab hal tersebut merugikan korban dan mengutungkan pelaku, korban tak mendapatkan hak pemulihan atas kejadian yang dialaminya.

Masalah demi masalah pun terjadi, seperti saat Eni mempunyai utang sebesar tujuh ratus ribu dengan tukang sayur yang juga tetangganya, menggemakan gosip tidak enak di lingkungan sekitar. Untuk melakukan protes terhadap suaminya itu, Eni enggan melakukan hubungan seksual dengan Joko, yang membuat Joko marah dan lagi-lagi melakukan berbagai kekerasan fisik dan verbal.

Di rumah itu, Mas Yadi (Sapta Sutrisno) dengan dalih melerai justru malah mengambil kesempatan dan melakukan pelecehan terhadap Eni. Pada posisi ini, tergambar jelas bentuk inferioritas yang melahirkan superioritas dari Joko dan Mas Yadi, superioritas terbentuk sebab Joko merasa lemah dan tak mampu menafkahi keluarganya, maka cara yang ditempuh adalah kekerasan dan bentuk kuasa terhadap Eni, begitu pula yang dilakukan Mas Yadi, dengan dalih kejantanan dan kesenangan melakukan hubungan seksual, ia merasa dapat menguasai tubuh Eni.

Eni berhasil melarikan diri sebelum dilakukan pemerkosaan padanya, ia lari dan mengadu kepada Pak RT (Odon Saridon), namun segalanya keburu runyam, Mas Yadi dengan liciknya melakukan taktik DARVO (dikutip dari theconversation(.)com), ia memfitnah Eni dan membuat Ibu Vina (Ira Mayasari), istri dari Mas Yadi percaya bahwa justru Eni-lah yang bejat, taknik DARVO ini yang biasa dilakukan oleh pelaku dan di titik tertentu aparat penegak hukum ketika korban melakukan suatu gugatan hukum. Seperti yang diungkapkan dalam salah satu episode podcast SuarAkademia, Bestha Ashila yang seorang peneliti IJRS (Indonesian Judicial Research Society), menjelaskan lebih lanjut ‘DARVO’: deny, attack, reverse victim and offender.

Mas Yadi berhasil membujuk istrinya bahwa yang melakukan pelecahan seksual justru adalah si Eni. Mas Yadi menyangkal, kemudian menyerang dan membalikkan keadaan sehingga Eni merasa dipertanyakan kembali kredibilitasnya sebagai korban.

Kini, Eni tak mempunyai siapa-siapa lagi selain ibundanya, sosok Ibu (Ajeng Jovanditya) yang dianggap sebagai ‘rumah ideal’ tempat Eni dapat berkeluh kesah, dan menjadi dirinya sendiri. Eni merasa sudah tidak mampu menghadapi Joko, hingga ia bermaksud untuk menceraikannya. Namun, Ibunya mencoba menguatkan kembali pilihan si Eni, alih-alih langsung mendukungnya, Ibunya meminta Eni untuk memikirkan kembali keputusan itu.

Barangkali, sosok Ibu dari Eni pun juga telah berada cukup lama dalam cengkraman toksik maskulinitas di dalam keluarga, Ibunda Eni berkali-kali meminta Eni untuk memikirkan kembali bahwa Joko barangkali khilaf dan pasti akan datang meminta Eni untuk bertahan dan memaafkannya.

BACA JUGA:  Menengok Kembali IDF 2018: Membaca Tari Kontemporer di Ruang Demokrasi Hari Ini

Namun, Eni telah cukup merasakan sakit, dan Joko tetaplah Joko yang abusive dan temperamental. Eni akhirnya meminta cerai dan memutus hubungannya dengan Joko. Yang menarik adalah, saat Ibunda Eni meminta ia untuk sholat tahajud dan menenangkan diri meminta jawaban kepada Tuhan. Justru keputusan untuk meminta cerai mencuat setelah Eni selesai melakukan ibadah sholat tahajud.

Peristiwa ini pun sering terjadi di dalam masyarakat kita, bagaimana masyarakat yang dianggap religius namun tak cukup mampu mengatasi permasalahan domestik itu, selalu meminta kepasrahan dan jawaban kepada Tuhan, hingga narasi yang mengatakan bahwa surga seorang istri berada di telapak kaki suami yang membuat banyak perempuan memilih diam ketika mendapatkan kekerasan dalam rumah tangga, sementara sang suami dapat berbuat seenaknya kepada istri mereka.

Contoh nyata yang paling dekat beberapa waktu lalu adalah kasus dari artis Billar-Lesti, di saat beberapa selebriti masih mengekalkan dan menguatkan toksik maskulinitas, Mamah Dedeh, seorang pendakwah justru mempunyai pandangan yang lebih terbuka dan progresif. Dalam acaranya “Mamah dan Aa Beraksi”, salah satu tema yang dibahas adalah “Suami KDRT Bolehkah Istri Minta Cerai?”, lebih jauh Mamah Dedeh mengatakan bahwa KDRT secara oral (verbal) dan fisik hingga menimbulkan luka pada tubuh dan mental sang istri, maka perceraian menjadi wajib.

Apa yang dilakukan Mamah Dedeh, dengan para jamaahnya yang mayoritas ibu-ibu menjadi pembuka dalam memandang permasalahan rumah tangga, seperti KDRT itu, di titik ini narasi agama hadir bukan sebagai pemakluman akan kekerasan, melainkan sebagai perlawanan atas hak perempuan untuk terbebas dari kekerasan.

IMG 5121 | Toksik Maskulinitas dalam Rumah Tangga : Ulasan “Ngono Ya Ngono” – GMT Jogjadrama di Linimasa #5
Di pelukan Ibu. Foto oleh : Julio Uul.

Di akhir pertunjukan, Febrinawan Prestianto menarasikan bahwa Joko dan Yadi menjadi tersangka atas kasus kekerasan yang dilakukannya kepada Eni. Dengan bantuan Bu Lurah, Eni melaporkan kasus itu kepada pihak kepolisian.

Eni telah menjadi perempuan kuat yang dapat melepaskan diri dari cengkraman laki-laki bejat seperti Joko, titik yang mengubah balik hidupnya dalam pengembalian kembali hak dirinya sebagai perempuan yang bebas adalah dengan meminta perceraian dan melaporkan suaminya kepada polisi. Sungguh hal yang berani, sebab kenyataannya masih banyak perempuan yang berdiam diri dan enggan menanggung malu dengan stigma yang diberikan oleh masyarakat terkait ketidakbecusan seorang istri. Lagi-lagi kita hidup di tengah masyarakat patriarki yang langgeng bukan hanya karena laki-laki itu sendiri, melainkan juga didukung banyak faktor seperti pemakluman-pemakluman yang tak jarang dilakukan oleh sebagian perempuan yang telah dibutakan toksik maskulinitas itu.

Suara yang traumatis

Selain fisik yang langsung berdampak pada tubuh ketika terjadi kekerasan, suara pun dapat menjadi hal yang traumatis dan menyakitkan, seperti yang dikatakan Eni sewaktu awal pertunjukan, bagaimana ia merasa sakit dan terluka mendengar suara gebrakan meja dan pintu, bentakan-bentakan dari alm, Bapaknya, dan makian-makian yang dilakukan oleh Joko membuat ia merasa goyah secara kejiwaan.

Seperti dalam salah satu diskusi di Indonesia Dramatic Reading Festival (IDRF), salah satu pembicara, Akbar Yumni yang seorang aktivis kebudayaan dan penulis itu, menjelaskan lebih jauh bagaimana suara (dalam konteks dramatic reading) dapat membentuk imajinasi penonton, menghasilkan bebauan hingga kenangan yang traumatis, ia mengambil contoh film G30SPKI, semisal ketika film-film tersebut diiris, maka unsur visual tentang kekerasan mungkin hanya sekian persen sedikit, ketimbang suara yang memang membentuk traumatis penonton, seperti jeritan, tangisan, dan sebagainya.

Maka, para korban kekerasan KDRT, telah merasa sakit terlebih dahulu ketika mendengar makian, gebrakan, dan bentakan yang membuat mental mereka terluka dan tunduk, sungguh kuasa dari toksik maskulinitas telah merasuk begitu dalam dan membekas di dalam diri korban kekerasan dalam rumah tangga.

BACA JUGA:  ETNOMUSIKLOPEDIA #3 : Art in Education and Entertainment

Dan melalui suara pula, utamanya lagu dan musik, GMT Jogjadrama seakan menghadirkan “proses penyembuhan” sekaligus proses penceritaan di dalam lirik-lirik yang dinyanyikan, lagu-lagu tersebut seakan mempunyai dimensinya sendiri, yang memberikan patahan, ruang, di titik tertentu sebagai jaminan aman dalam mengungkapkan perasaan, seperti yang Eni lakukan ketika menggugat Joko dalam perceraian.

Meski, saya merasa bahwa ending tentang pelaporan kasus KDRT ke pihak kepolisian terlalu dipaksakan, dan mengejar kesan “happy ending”, sebab dengan kondisi sosial, dan psikis Eni, seperti yang terjadi pada korban KDRT di Indonesia, mereka merasa takut dan malu untuk melaporkan kasus KDRT ke pada pihak aparat, selain karena memang negara harus bekerja ekstra memberikan pengamanan dan pemulihan kepada para korban, di banyak kasus, seperti yang disebutkan di atas, DARVO juga menjadi taktik oleh aparat untuk menentukan duduk perkara yang tak memihak kepada korban.

IMG 5185 | Toksik Maskulinitas dalam Rumah Tangga : Ulasan “Ngono Ya Ngono” – GMT Jogjadrama di Linimasa #5
Eni memutuskan menggugat cerai. Foto oleh : Julio Uul.

Video pada layar proyektor pun terkesan hanya sebagai ‘video klip’ dan ‘video lirik’ yang mengulang dan tidak merepresentasikan secara utuh peristiwa di panggung. Yang terjadi adalah ‘kegamangan sejarah visual’, terjebak sebagai hiburan, alih-alih saling merespon antara video dan teater, ruang yang silang saling. Jika kata Afrizal Malna dalam salah satu wawancaranya bersama Akbar Yumni dalam jurnalfootage(.)net, video dan teater di Indonesia persinggungannya masih sebatas dokumentasi. Saya menyetujui banyak hal dalam pertemuan antara Akbar Yumni dan Afrizal Malna itu, lebih jauh pertunjukan GMT Jogjadrama tetap terbangun dan menjembantani imajinasi pertunjukan tanpa harus melihat video proyektor itu.

Selebihnya saya mengapresiasi apa yang dilakukan oleh GMT Jogjadrama dengan Ahmad Jalidu selaku sutradara yang telah membawa teater untuk mengangkat isu-isu yang perlu disuarakan, isu yang selama ini mungkin dianggap tabu untuk dibicarakan, dalam pertunjukan Balada si Eni, bukan hanya kisah si Eni saja yang direkonstruksi, melainkan lebih jauh, cara pandang masyarakat dalam melihat kekerasan dalam rumah tangga, sehingga penonton mendapatkan “tamparan”, dan kembali melihat realitas yang dihidupinya, bahwa toksik maskulinitas itu tak benar-benar membuat seseorang lelaki menjadi kuat, justru menonjolkan kelemahan yang paling nyata: penerimaan bahwa tidak ada manusia yang mesti sempurna.

Sumber Referensi:

1. Mengapa perempuan miskin enggan melaporkan KDRT ke pihak berwenang? (theconversation.com)

2. Riset: perempuan korban KDRT enggan bercerai karena ingin hindari sanksi sosial (theconversation.com)

3. Pakar Menjawab: kenapa banyak korban kekerasan seksual malah minta maaf atau menarik laporannya? (theconversation.com)

4. Bertemu Afrizal Malna; Bicara Seni Video, Teater, Sastra dan Politik Kesenian – Jurnal Footage

Dokumentasi Pertunjukan Ngono ya Ngono, bisa dilihat mulai menit ke : 01.42.00
Raihan Robby

Raihan Robby

Raihan Robby, lahir dan besar di Jakarta, kini ia sedang menyelesaikan studinya di Sastra Indonesia UNY, ia menjadi alumni kelas penulisan Naskah Lakon Komunitas Salihara 2022, dan tengah mengikuti Lokakarya Penulisan Naskah Teater Remaja DKJ 2022. Dapat ditemui di IG @raihanrby.