Ibu Pertiwi, dan Anak-Anak yang Mencintainya

Pertunjukan berjudul Sesak dipentaskan di Omah Petruk, pada tanggal 10 November 2019.

Sebuah kolaborasi dari tiga seniman; Asita Kaladewa sebagai pelaku Pantomime, M. Shodiq sebagai pelaku Monolog, dan Guntur Nur Puspito sebagai Penata Bunyi. Mereka bertiga yang tergabung dalam komunitas SANG bersama segenap tim produksi berhasil menyelenggarakan pertunjukan yang berjudul Sesak, dalam rangka memperingati Hari Pahlawan.

“Dan, ini dia sebuah pertunjukan kolaborasi, Sesaaaaaak” Begitu, Rini, sang pembawa acara mengantarkan pertunjukan.

Asita Kaladewa, datang dari tangga berkapet merah. Ia mendekat dan berdiri di hadapan para penonton. Asita sejenak diam, menyapu pandang kepada penonton yang duduk di setiap penjuru halaman kebun. Asita dengan ajakan yang santun menunjuk dengan jarinnya ke arah penonton, lalu memberi isyarat jika penonton diminta untuk mendengarkan. Ia mengarahkan telapak tangan yang terbuka pada telinganya. Sebuah ajakan dari Asita, lalu apa yang akan didengarkan penonton, sedangkan pantomime tidak berbicara? Namun di situ, Asita yang sedang melakukan aksi mime, bukanlah orang bisu yang tak mau bicara, bukan pula ia yang sedang memberikan pertanyaan kepada penonton, apa yang harus didengarkan. Asita mengajak dengan isyarat, seakan dengan lirih mendekat lalu berkata: Mari, untuk malam ini saja, kita bersama, menikmati cerita yang disajikan dalam teater kita malam ini.

Penonton yang menyebar di setiap penjuru dari pekarangan luas Omah Petruk, tertuju pada Asita yang diam-tidak bicara, namun tubuh mime nya dengan kerendahan hati mengajak berinteraksi dengan menguji kepekaan perasaan penonton. Tidak ada lisan, namun berkesan. Tidak bersuara, namun bermakna. Begitulah, Asita membuka pertunjukan Sesak.

Guntur Nur Puspito, datang dari arah kegelapan memainkan satu instrumen bebunyian. Dari arah kegelapan Guntur berjalan, mengenakan celana bermotif batik dan jumper berwarna hitam. Guntur memberikan suasana lebih berdenyut lewat bebunyian yang ia hadirkan. Guntur berjalan, menuju ruang yang telah ditata sebagai studio alam, tempat ia bermain musik sepanjang pertunjukan. Di pojok halaman kebun tersebut, di depan patung seorang nenek yang duduk membaca koran, Guntur memindah ruang-kerja studio musiknya.

BACA JUGA:  Seni Menegosiasikan Ruang : Catatan dari Kaba Festival 4

Asita dan Guntur telah membuka pertunjukan dengan indah. Mengapa? Mereka telah membuka perasaan penonton, memberikan kesan yang berlanjut keingintahuan pada diri penoton, apa yang akan terjadi kemudian.

Pelaku Monolog yaitu M. Shodiq memulai aktivitas panggungnya. Ia datang dari kejauhan penonton, dari arah gelap, dengan bebunyian alat mainan anak-anak dari bambu.

“Bli bli, beli, beli, beli, silahkan dibeli, ada yang lima ribuan, lima puluh ribu, lima ratus ribu. Ayo beli, beli, dibeli, dibeli. Ini mainan yang bisa menghibur anda semuanya, semuanya serba lima, karena saya suka dengan angka lima. Pokoknya harga dari semua mainan ini serba lima, karena lima itu melambangkan persatuan.”

“Pokonya mainan ini saya jual serba dengan harga lima, karena saya suka angka lima, namun jangan sembarangan menjual barang yang berjumlah lima.”

Bapak penjual mainan anak itu dengan santun mendatangi, mendekat pada penonton, ada salah satu penonton yang membeli. Bapak berinteraksi dengan renyah kepada mas mas penonton.

“Ini bagus lo mainannya mas, bisa muter-muter. Kayak hidup sampeyan kan mas, muter-muter. La iya, hidup kita kan pasti selalu muter-muter.” Bapak tertawa, lalu disambut gelak tawa dari penonton.

Bapak Penjual mainan anak kembali berjalan, meletakkan barang jualannya, lalu menuju tangga berkapet merah. Ia menirukan pidato seorang tokoh bangsa, ketika meletakkan dasar pondasi Negara kita. Bapak penjual mainan menegaskan arti angka 5 yang ia sebut-sebut menjadi harga dari mainannya. Dan, angka lima tidak boleh dipermainkan, apalagi akan menjadi barang jualan.

Shodiq sebagai pelaku monolog, Ia menggerakkan seluruh peran kesadaran intelektual, serta kepiawaiannya dalam menyusun sebuah bangunan dramatik lakon yang dapat kita saksikan bersama. Sebagai aktor teater, ia telah menemukan bagaimana Roh dalam seni teater dapat hidup dan tumbuh, dengan begitu ia dapat memasukkan apa yang menjadi gejolak batinnya sebagai manusia pada waktu dan ruang, yang kita sebut sebagai Peristiwa Teater.

Guntur Nur Puspito bermain Biola bersama M. Shodiq yang berperan sebagai Bapak Penjual Mainan. (Foto : Zahid Asmara)

Dari kepiawaiannya bermain dalam peran, Shodiq membuka kesempatan kepada setiap penontonnya untuk menarik-ulur kesadaran sebagai penonton untuk berada pada sebuah antara. Pertama, sebagai penonton yang sedang menyaksikan atau menikmati sajian pertunjukan. Kedua, sebagai manusia yang memiliki kesadaran eksistensi dalam dunianya: pendidikan, pekerjaan, ketaatan beragama, perilaku sosial, dan menjadi anak dari Ibu Pertiwi.

BACA JUGA:  BEASTLY : Ruang, Isu, Tema dan Dramaturgi

Selanjutnya, saya ingin menyebut, beginilah sebuah seni kontemporer, ia bekerja pada sebuah Waktu yang melingkupinya. Membawa semangat kebaikan pada peradaban. ADUH, Peradaban mungkin terlalu luas. Semangat zaman pada pelaku seni, yang dia juga manusia, dia juga anak dari ibu pertiwi. Mempunyai hak penuh untuk mencintai bangsa ini. Tanpa harus banyak motif, dan kepentingan politis barangkali.

Sebagai anak bangsa sudah sewajarnya kita berkeinginan untuk tahu tentang apa yang sempat terjadi pada waktu lalu, sebelum kita bertemu pada arti Zaman. Sebagai anak, sangat wajar jika kita ingin memahami, bagaimana orang tua kita dulu dengan penuh perjuangan melahirkan kita. Bagaimana perjuangan Ibu Pertiwi melahirkan anak-anaknya. Sebagai anak dari Ibu Pertiwi, sangat wajar kan, jika kita mempunyai rasa untuk melindungi dan menjaga Ibu kita, ibu pertiwi bangsa Indonesia.

Sebuah Kolaborasi Anak Ibu Pertiwi

Guntur Nur Puspito

Ia hadir sebagai penata bunyi, penata dramatik pertunjukan. Dia tidak hanya ‘mengiringi’ pertunjukan teater, seperti yang sering disebutkan pada setiap karya teater. Sebagai seniman musik, Guntur hadir utuh dalam karya pertunjukan. Ia bermain musik, dan musik yang ia ciptakan membuatnya menjadi pelaku dalam pertunjukan.

Saya sangat senang ketika melihat ia bermain biola di atas kursi yang sudah disiapkan untuk memangku berat badannya. Di sana ia sudah tidak lagi bermain di dalam studio yang ia ciptakan dengan seperangkat alat kerja musiknya. Ia sadar, ini panggung! Ia berdiri, hidup dalam peristiwa yang saling diciptakan aktor dan penata bunyi.

Lalu saya sangat senang melihat Guntur melompat dari kursi selepas ia rampung dengan biolanya. Hap! Ia melompat lalu kembali dengan performa panggungnya yang, diam-menawan. Dari kejauhan, samar-samar nampak wajahnya. Terlebih ia memilih menutup kepalanya dengan jumper yang dikenakan.

BACA JUGA:  Setelah Thanksgiving Ada Apa?

Asita Kaladewa

Pantomime, bagaimana ia menyampaikan sebuah kehidupan. Saya rasanya ingin menanyakan hal ini langsung kepadanya. Semoga suatu saat ada kesempatan. Kenapa ya, saya rasa, Asita dan Pantomime, seperti hidup dan denyutnya yang berdetak. Melakoni pantomime, saya merasakan, ada getaran hidup yang ia simpan di dalamnya. Padahal, ia tidak melakukan apapun, kecuali sebuah penampilan pantomime. Namun saya kira, dari sana, Asita mempunyai proses yang dalam. Pantomime saja, tidak ada yang lain, ia telah hidup dalam tubuhnya. Jika boleh, hal demikian yang ingin saya sampaikan. Cukup begitu saja. Terimakasih yang berkesan untuk Pantomime dari Asita.

M. Shodiq bersama Asita Kaladewa yang sedang berpantomime. (Foto : Zahid Asmara)

M. Shodiq

“Sekarang bukan suatu yang lahir tanpa ada masa lalu. Dan saat ini maka menjadi sebuah pertanyaan. Bagaimana cara mengenang pahlawan dengan cara yang tepat?”

Disampaikan Shodiq melalui selebaran kertas yang dibagikan kepada setiap penonton. Saya tidak akan mengomentarinya. Saya tidak perlu menambahkan maksud dan tujuan dari kalimat yang disampaikan.

M.Shodiq menirukan pidato salah satu Pahlawan Indonesia. (Foto : Zahid Asmara)

Pertunjukan Teater malam itu, menjadi suatu ajakan, kita bersama dalam sebuah perayaan! Kita yang dilahirkan Ibu Pertiwi, kita lahir pula atas perjuangan pahlawan-pahlwan bangsa, kita yang semestinya berdamai kokoh, yang telah hidup dalam pondasi LIMA, menjaga dan melindungi Ibu Pertiwi.

Peristiwa Teater malam itu dengan lakon cerita yang disampaikan, kita perlu menarik nafas panjang, untuk terus meyakinkan diri, jika kita akan selalu baik-baik saja, dalam semangat gotong-royong dan sedikit percikan konflik di dalamnya, itu sudah pasti. Namun, yang perlu diingat, kita semua adalah anak kandung yang sah dari Ibu Pertiwi. Nasehat dan pedoman hidup darinya, berlaku sama untuk kita. Dengan pelan dan lirih, mari kita bersama berkata, Bagaimana kabarmu Ibuku, Ibu Pertiwi Tercinta?

Selamat untuk teman-teman yang telah menuntaskan keringatnya dengan kebahagiaan. Mereka adalah Rizky Wahyu Kopong, Mas Cukong, Nimas, Agung, Budi SNI, Anik Setyaningrum, Tholi, Teguh, Alan, Mba Dhinie Ariesta dan Shannon, serta semua kerabat produksi dari SANG dan Omah Petruk. Tidak lain karena rasa Cinta, kita tumpahkan keringat demi rasa Kebahagiaan Bersama.

Terimakasih!

Kali Opak, November 2019

Mathori Brilyan

Alumnus Jurusan Teater ISI Yogyakarta. Aktor dan penulis, aktif di Kalanari Theatre Movement dan Teater Kali Opak Yogyakarta.

Mathori Brilyan

Alumnus Jurusan Teater ISI Yogyakarta. Aktor dan penulis, aktif di Kalanari Theatre Movement dan Teater Kali Opak Yogyakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *