fbpx

Benda-Benda yang Menggerakkan Tubuh: Pertemuan Dua Migrasi

[Raihan Robby]. CAK Ayu Permata membuka pertunjukan tari “Sebangun Tiga Sudut #2” dalam acara Festival Gugus Bagong, program Rubik pada hari Sabtu (19/11) dengan menjelaskan dua konsepsi masyarakat adat Lampung Pepadun dalam menjalin hubungan. Pertama, adalah oposisi berpasangan yang menghadirkan dua subjek, menghanai (laki-laki), dan muli (perempuan), oposisi berpasangan ini membentuk dua keselarasan, yang sama tegaknya, dan saling membutuhkan, selayaknya perkawinan. Kedua, adalah tungku tiga batu yang saling berelasi dalam masyarakat Lampung Pepadun antara lain: adat cepalo, ngajuk-ngaku, dan kebumian.

image001 | Benda-Benda yang Menggerakkan Tubuh: Pertemuan Dua Migrasi
“Sebangun Tiga Sudut #2” oleh Ayu Permata Dance Project. Dok. Sito Adhi Anom/Media PSBK)

Penonton telah memadati panggung yang dipisahkan oleh garis-garis, di ujung tiga titik garis itu terdapat sebuah meja putih berisi barang-barang domestik, barang-barang rumah tangga yang tersimpan dalam dapur dan beranda depan rumah. Penonton turut serta membawa beda-benda domestik dari rumahnya, yang digabungkan dengan benda-benda yang dibawa khusus oleh Ayu dari lampungtelah sepenuhnya mengakrabi benda-benda itu, seperti: helm, payung, bingkai foto, tutup gelas, bebek-bebekan, buku, dan lain sebagainya.

Ayu Permata berdiri di pusat lingkaran dari pertemuan tiga garis itu, ia menjadi tumpu bersamaan dengan Denta, pasangan menarinya.  Mereka bergantian mengambil barang-barang domestik dari tiga titik biner dan menyusunnya menjadi satu. Selayaknya “Balancing Art”, yang penuh kefokusan dan kedalaman diri, Ayu dan Denta menitik beratkan benda-benda domestik menjadi susunan yang saling mengisi dan berinteraksi.

Dalam proses ini, benda-benda domestik telah menjadi nir-benda, beban fungsional hingga identitas benda dinegasi oleh Ayu dan Denta, benda-benda tersebut dipertimbangkan sesuai bentuk, segi dan sisinya. Benda-benda tersebut menggerakkan tubuh Ayu, sehingga tubuh Ayu yang hadir di atas panggung bukanlah tubuh organiknya sebagai penari yang bersinggungan dengan benda-benda, melainkan kesejarahan tubuh penari yang bergerak sesuai medium benda-benda domestik.

BACA JUGA:  PASTAKOM 2019: Menelisik Tubuh yang Berbicara dalam Kesadaran Jagad Kecil dan Jagad Besar

Terdapat “Zen”, dalam tubuh Ayu dan Denta, Zen yang berarti fokus diri dalam pikiran dan keseimbangan tubuh, indera penonton dibuat menjadi tegang dengan kemungkinan benda-benda yang disusun akan terjatuh.

Benda-benda yang berasal dari dapur dan beranda depan itu menjadi pertemuan yang ritmis, pertemuan antara migrasi simbolik: antara dapur sebagai ruang diri (ego), menuju ke beranda depan sebagai ruang privat (makna) menuju publik (terbatas). Dapur sebagai posisi belakang rumah yang menjadi “laboratorium muli” dihadirkan melalui soundscape menggoreng, mengulek dan perbincangan dengan Denta sebagai menghanai, tak hanya suara, Ayu dengan cemerlang menghadirkan bau sambal dilan, sambal terasi khas dari Lampung yang merasuk ke dalam hidung penonton.

Benda-benda yang menyusun tubuh Ayu dan Denta perlahan-lahan memenuhi lingkaran itu, benda-benda dengan struktur yang beragam dan semakin membuat tegangan dalam diri Ayu dan Denta, mereka kini tak hanya berinteraksi dengan menunggu satu sama lain menyusun benda-benda, tetapi mulai agresif, membenarkan posisi benda-benda, mengoreksi, memindahkan. Konsep tegangan dalam oposisi berpasangan yang ditemui dalam kehidupan: nilai-nilai yang terus bernegosiasi dalam perkawinan.

Hingga Ayu menemukan pengharum ruangan, menyemprotkan pengharum itu di benda-benda domestik yang telah meninggi bagai menara, seketika harum beranda depan menghiasi hidung penonton. Kami dibawa migrasi dari ruang dapur ke beranda depan dengan perlahan dan penuh tegangan.

Apa yang diinginkan Ayu adalah proses pencarian pada tubuhnya sebagai penari kontemporer asal Lampung dan posisinya sebagai koreografer dalam memandang konsepsi tari. Ia sudah melebih capaian yang selama ini terus diresahkan, tari baginya bukan lagi sebagai ‘adalah…’ melainkan sebagai pemaknaan, sehingga tari dianggapnya menjadi ‘sebagai…’ yang dibutuhkan oleh tubuhnya.

BACA JUGA:  Komunikasi Musikal ala Bhavana di Panggung Konsersium 15.11

Proses ‘tari sebagai…’ itu menjadikan tubuhnya menempuh jalan “nir-tubuh”, ia turut menghilangkan tubuhnya di akhir pertunjukan, menjadikan tubuhnya dan tubuh pasangannya bersatu padu, keselarasan kuat yang turut menggenggam benda-benda dalam posisi yang relatif lama. Capaian ini menegasi posisi benda-benda yang disusun dan tubuh Ayu sendiri, seluruhnya telah menjadi tumpuan dan menyatu. Disadari atau tidak, tubuh Ayu dan Denta pun turut menjadi “objek” yang berjalinan dengan benda-benda.

Keseluruhan konsepsi itu telah merangkum Zen dalam tubuh Ayu, ia penuh kesabaran, kecermatan, kefokusan, meniadakan kekhawatiran, ketakutan dan keragu-raguan: ia begitu yakin dengan dirinya. Barangkali proses pencarian yang resah atas diri Ayu, menemukan titik terang bahwa hanya kepada tubuhnya-lah ia kembali, dan migrasi yang dilakukannya dengan pergi ke Yogyakarta, atau pulang kembali ke Lampung, layaknya migrasi pertemuan dua sisi: dapur dan beranda depan, keduanya membutuhkan negosiasi dan negasi ego, yang membuat segalanya menjadi satu padu, kekompleksan imajinasi tentang relasi manusia, yang paling dekat dan mungkin dilakukan adalah usahanya dengan tubuh dan benda domestik.

Raihan Robby

Raihan Robby

Raihan Robby, lahir dan besar di Jakarta, kini ia sedang menyelesaikan studinya di Sastra Indonesia UNY, ia menjadi alumni kelas penulisan Naskah Lakon Komunitas Salihara 2022, dan tengah mengikuti Lokakarya Penulisan Naskah Teater Remaja DKJ 2022. Dapat ditemui di IG @raihanrby.