Teater Mandiri Menyentak Untuk Mandi Sendiri di ISI Yogyakarta

Oleh : Maulana Mas

Saya tidak pernah sebelumnya, menantikan dimulainya sebuah pertunjukkan di sebuah gedung teater arena sambil menyaksikan berjubelnya seniman-seniman muda sampai yang tua, dan harapan. Entah bagaimana, dibanding sesak oleh manusia, ruangan malam itu lebih sesak karena dipenuhi harapan-harapan yang terpancar dari berlusin-lusin binar mata yang menatap lurus ke arah panggung. Semua khidmat menunggu, menantikan wujud nyata atas dua kata yang terpatri mapan di dalam kepala-kepala nya : PUTU WIJAYA. Sebelum ini, di pelataran atau angkringan-angkringan telah tersebar cerita bahwa sosok teaterawan yang melegenda itu telah dianugerahi gelar “Doctor Honoris Causa”  oleh Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta atas prestasi dan dedikasinya melalui “Teater Mandiri” yang telah ia bangun sejak 1971.

Petang menjadi hangat. Ruang semarak oleh pertukaran kabar antar teman dan gurauan lirih. OH adalah judul lakon yang hendak beliau bawakan. Selang beberapa saat, Ibu Susi dan Juyez muncul memasuki panggung sebagai MC, menyapa dengan ramah, memberikan informasi yang diperlukan penonton dan memperkenalkan penampil-penampil yang ikut terlibat dalam pertunjukan yang disutradarai beliau :  Taksu Wijaya (anak laki-laki Putu Wijaya)  sebagai Pengacara Muda, Dewi Pramowati (istri Putu Wijaya)  memerankan Suster, Putu Wijaya sebagai Pengacara Tua / ‘Maestro’, dan pendukung artistik lainnya.

“Selamat menyaksikan!” Telah dikumandangkan. Pertunjukan dimulai. (Prok! Prok! Prok! 8x ).

Panggung itu disajikan dalam dandanan sederhana: sebuah kursi tamu kosong dan Sang Maestro yang terduduk di atas kursi roda, lengkap dengan rambut dan jenggot nyentrik beserta suster di belakangnya. Tidak ada kejutan visual dalam penataan ruangnya.

Taksu Masuk, menyapa dengan “Clip on Mic” tergantung di pipinya. Di Jurusan Teater ISI Yogyakarta, penggunaan “Clip on” kerap dianggap tindakan yang kurang keren (seolah menjadi bentuk tanda menyerah pada akustik panggung atau tidak primanya kualitas vokal aktor) tapi Taksu melakukannya sambil mengenakan kaos putih, berjas hitam, celana jeans, kacamata dan sepatu olahraga.

Dengan gaya hiperbola yang diiringi oleh ilustrasi musik komikal (bunyi seperti “jejeeeeng”) dalam candaannya, Taksu menyapa ayahnya yang duduk lemah. Ia meragukan tentang keberadaannya sebagai pengacara ternama yang bergulat tentang :

Upaya menegakkan keadilan ditengah dunia yang chaos.

“Siapa musuh kita?”, “Ideologi? golongan? individu?”

Keberadaan nilai-nilai yang menjelma menjadi kabut tebal, lingkaran setan. Membuat manusia terjebak dalam sebentuk pengkhianatan pada revolusi, lalu menjadikan dunia dalam keadaan absurd.

Bermimpi menjadi kebiasaan, impian tentang segala harapan (yang mana bagiku “harapan” = konsep yang tidak menemukan teknisnya) tentang nilai-nilai dan kehidupan indrawi menjadi fakta eksistensi manusia.

Manusia dan dunia chaos! Gila!

” S O  W H A T !? “

“Hari ini, Individu hanyalah partikel kecil dari mesin besar bernama negara. Kita sudah menelusuri filosofi Eropa: mengenal Nietzche, Karl Marx, Derrida, Freud, Sartre, Foucault dan lainnya tapi sibuk berpolitik sehingga tenggelam dalam ilmu itu sendiri”, katanya. Sementara Maestro baginya sudah tidak bisa benar atau salah lagi di antara semua itu, sebab Maestro yang melegenda itu telah menjadi keadilan itu sendiri (nilai ideal dalam kepala banyak orang barangkali). Segudang upaya dan prestasi Maestro di masa lampau (baca: “dulu”; dulu tidak sama dengan sekarang) telah menjadi monumen sejarah yang tidak bisa diperbaiki.

Maka Taksu si pengacara muda itu mengakui dengan jujur, bahwa ia sekedar mata air di pegunungan yang hanya mengalir saja, kemana saja, sambil mendengarkan dengung tajam yang selalu terngiang dalam telinganya : “anak muda, kau dibutuhkan bangsamu.”

Sesekali ia mencoba merokok tapi dihalangi oleh suster, dan sesekali Sang Maestro (ayahnya) menjawab dengan teriakan parau “aaaaaarrrggghh”, sisanya ia bicara sendiri, berputar-putar di panggung arena, kejar-kejaran dengan lampu spot warna netral. Begitulah pertunjukan ini berjalan dalam peristiwa yang mengambang. Lebih seperti ceracauan gado-gado argumen-argumen filosofis dengan gambaran keadaan secara deskriptif plus bumbu candaan kering dalam balutan emosi-emosi hiperbolik.

Selanjutnya? Pertunjukan berlanjut. Pengacara bercerita, ia telah menolak perintah pemerintah untuk membela seorang bandit karena tidak mau terlibat dalam teater politik yang spektakuler. Namun di saat yang lain si bandit justru memintanya secara langsung dan jujur untuk membelanya. Sebagai seorang profesional ia menyatakan bersedia. Dengan bonus rasa sesal tentunya, menghantui dalam benaknya : “Apa keputusanku sudah betul? Bagaimana aku menunjukkan diriku sebagai profesional yang berhadapan secara langsung dengan manusia dan keadilan?” Sementara benar atau salah tak pernah pasti, melainkan hanya upaya untuk mendekati yang paling nyata adanya. Dan ia berhasil, sebagai pengacara ulung, seperti biasa ia memenangkan kasus itu.

Pada akhir cerita ia menerima beragam protes, seolah ia mencabuli keadilan karena uang atau psikologi, padahal bukan! Ia hanya manusia modern yang mencoba profesional. Karena itu ia berhadapan dengan pemberontak yang menculik, menyiksa dan membuatnya mati dalam wujud siluet sambil diiringi lagu ‘Indonesia Jangan Menangis’ saat cerita tamat. Nyaris seluruh pertunjukan berisi Taksu yang menarasikan, sementara Putu Wijaya hanya sesekali merespon dengan berteriak parau “aaaaaaaa”.

Sungguh, sebuah pertunjukan yang sederhana dan biasa, ringan, mudah diterima dan menyenangkan bagi semua kalangan (atau mungkin menjemukan bagi penonton yang kurang wawasan dan perbendaharaan istilah) bukan? Secara struktural, teks yang disajikan dapat dipandang garis merahnya yaitu gamangnya pengacara sebagai penegak keadilan di dalam dunia yang tata nilainya sudah chaos.

Memang, malam tadi, kalau dibandingkan dengan pertunjukan teater yang biasa digelar di Jurusan Teater ISI Yogyakarta, bisa dikatakan relatif biasa. Tidak ada spektakel yang beragam, situasi dramatik yang megah, totalitas aktor yang prima atau atraksi visual yang menggemparkan. Hanya siluet pada saat akhir mungkin yang bisa dibilang merupakan sajian yang paling fotogenik.

Tapi seperti tulisan ini, segala gambaran di atas barulah sebuah ‘introduksi’ tentang bagaimana imaji peristiwa secara indrawi. Dibaliknya? Serius. Ada pusaran peristiwa yang meledak diam-diam dengan cara yang rahasia.

TENTANG TEATER YANG BIASA AJA

Hmm….. Yang terlintas dalam benak saya adalah : penonton yang kebanyakan merupakan pelaku seni atau orang teater pasti datang dengan harapan untuk menonton pertunjukan seorang maestro idola, menimba referensi, atau membuka cakrawala kepalanya tentang bagaimana teater itu sendiri, dan sebagainya. Tapi pada malam itu, pertunjukan hadir secara biasa kalau dibandingkan dengan pertunjukan-pertunjukan teater ala masa kini yang kaya akan pukauan, dapat kusebut Putu Wijaya dengan sangat gagah dan tenang memupuskan harapan itu sambil tetap duduk di kursi rodanya. Memangnya, praduga (harapan) apa yang ada dalam kepala kita kepada Teater Mandiri?

Pada momentum ini, Teater Mandiri menyajikan kesederhanaan, seolah menolak dijadikan ‘idola’ jaman ini sebab setiap pelaku seni sepertinya memang harus merdeka. Dalam sajiannya yang sederhana itu mata kita dibuat agak cuek sehingga telinga lebih hikmat menikmati drama dalam kata-katanya, bukan dibuat hanyut di balik dinding ke empat, tapi persoalan di dalamnya itulah drama yang sesungguhnya. Menjebak untuk membuat berkata “oh” dalam hati sambil merenung : Apakah dalam kepala kita ada drama? Atau siapkah kepala ini dikunjungi drama? Jangan-jangan ada yang pura-pura tidak terlibat dalam drama?

Perkembangan ilmu pengetahuan dan kebudayaan modern selama ini kalau dirasa-rasakan pun ikut membuat teater semakin mekanik dan matematis. Menjadi hukum sebab akibat yang pasti logis berkat rumusan absah atas metode-metode dan konsepsi estetika (untuk kasus ini Jurusan Teater ISI Yogyakarta merupakan studi kasus yang tepat) : Melenakan siapa saja dalam dialektika yang membuatnya sudah merasa tahu dan memiliki kebenaran sebagai kebenarannya. Tapi di sisi lain, bagaimana supaya ia (teater) bisa bicara? Bagaimana untuk ia benar-benar hadir sebagai peristiwa? Bagaimana ia menjadi sebentuk gugatan atas keadaan? Bagaimana agar ia adalah “pemberontakan” terhadap kesabaran dalam menerima derita? Bagaimana ia menjadi pesta penyadaran atas kekacauan? Bagaimana ia mau dibawa pulang sebagai oleh-oleh, mau dikenalkan kepada keluarga di rumah, mau dibawa ke tempat kerja, mau diajak ke tempat wisata, mau menemani ke supermarket, mau ditunggangi keliling dunia? Dalam keadaan biasa, jawaban pertanyaan itulah yang dilakukan oleh Putu Wijaya.

“Bahwa teater dan sejarahnya harus maju terus, tidak berhenti karena melongo pada pengagungan nama besarnya. Sudah saatnya dunia disambut oleh kegilaan-kegilaan baru, teror-teror baru, agar teater tidak sekedar ada tapi juga meruang dan mewaktu pada dunia. Tidak perlu berdamai dulu dengan dunia karena teater bisa hadir sebagai apa saja, dengan cara bagaimana saja, dalam keadaan apa saja dan lentur akibat keberadaannya dipelihara oleh kesadaran pelakunya”, Seolah ia bicara begitu dalam pikiran saya.

Di ujung tulisan ini, saya mengajak kita semua untuk terpukul. Pada saat ini, jauh dalam hati kita, kita masih ternganga mengidolakan Putu Wijaya, padahal saya rasa beliau berisyarat bahwa setiap dari kita harus merdeka. Baik prestasi atau cela yang ada dalam Teater Mandiri lantas tidak boleh membuat pena kita terhenti. Waktu terus berjalan, sejarah harus terus dituliskan di dalam atau di luar kemasan. (Gampangnya, terserah bagus atau nggak-nya Teater Mandiri karena mereka sudah berhasil mengukir sejarah, membangun teater Indonesia dan memberikan banyak pelajaran bagi kita, lha kita memahat sejarahnya kapan? Mana pahatan kita?)

Oke. Pada paragraf ini, ingatan saya terlempar ke jauh belakang, pada kelompok-kelompok teater di desa (salah satunya kelompok teater saya : Teater Anak Angin) yang tetap berusaha untuk menarik nafas, tahan, 1-8, lalu hembuskan, atau berteriak “aaaaaaaa” sambil duduk bersila dalam keadaan serba dipandang sebelah mata dari segala penjuru, dipandang timpang dengan ilmu-ilmu science dan olahraga).

Saya rasa kita semua masih bergelut di dalam teater karena percaya dan punya harapan juga kan? (Walau harapan adalah konsep yang belum menemukan teknisnya) Dalam dunia dan diantara segalanya, kenapa tidak kita coba tembakkan pada diri kita sendiri dulu lalu pelan-pelan coba menemukan?

Jeng jeng jeng jeng !!!!!!!!!

 

Untuk Yth. Bapak Dr. (H.C.) Putu Wijaya S. H.,  semoga sehat selalu. Terimakasih banyak. Saat itu saya rasakan terormu lewat cara yang lucu. Saya senang. Saya tertawa saat hendak dimulai sarasehan engkau berkata, “besok saja, suara saya serak habis teriak-teriak”. Entah, mungkin teater memang ada ajaibnya. Sekali lagi terimakasih yaaa….

Salam hormat dan hangat.

 

Maulana Mas. Mahasiswa Jurusan Teater Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *