Mother Earth, Ekspresi Keluhuran Ibu

oleh : Nia Agustina

8 Maret lalu dirayakan sebagai hari perempuan sedunia. Lembaga-lembaga yang berkutat di isu perempuan merayakan dengan berbagai aksi dan campaign baik di dunia nyata maupun maya. Luar biasanya adalah, banyak perempuan yang ikut merayakan secara independen dengan mengunggah berbagai foto dengan berbagai caption yang dikaitkan dengan hari Perempuan Sedunia. Dari seluruh cara tersebut, ada satu yang menarik perhatian saya. Banyak perempuan, bahkan juga laki-laki yang mengunggah form di Instastory dengan format yang mengharuskan pengunggah menuliskan 5 orang inspiratif di hidupnya. Berdasarkan amatan serampangan saya, secara acak, 100 % pengunggah menuliskan IBU (dengan berbagai panggilan, emak, mama, bunda, dll) sebagai orang yang menginspirasi di baris pertama.

Bagi orang Jawa, atau yang pernah tinggal di Jawa, tentu pernah mendengar istilah mbok-mboken yang berarti anak yang sangat tergantung dengan ibu, apa-apa ibu, mengambil keputusan harus ibu, tidak bisa jauh dari ibu. Hampir kita tidak pernah mendengar istilah sebaliknya, pak-paken atau anak yang tergantung dengan ayah.  Kenapa term mbok-mboken ini begitu melekat dalam khasanah hidup orang Jawa? Menurut Risa Permanadeli dalam buku Dadi Wong Wadon : Representasi Sosial Perempuan Jawa di Era Modern (Ifada Press, 2015), istilah ini merupakan representasi sebuah konstruksi sosial tentang tempat perempuan dalam sebuah masyarakat yang demikian pentingnya, sehingga setiap orang merasa selalu terikat pada tokoh ibu, dan meletakkan ibu sebagai figur utama dalam struktur mentalnya.

Tentu saja penempatan ibu yang sedemikian pentingnya merupakan kebanggaan dan kebahagiaan bagi si ibu itu sendiri. Namun dalam kenyataannya, apakah kebahagiaan dan kebanggaan itu dengan mudah didapatkan oleh seorang ibu? Apakah kebahagiaan dan kebanggaan itu didapatkan oleh seorang ibu tanpa pengorbanan?

Mila dan Louise

Pertanyaan itu agaknya akan dijawab oleh para seniman lintas disiplin yang sekarang tengah berproses bersama dalam Mother Earth Project. Mother Earth adalah project yang diinisiasi oleh Mila Rosinta Totoatmojo dan Mila Art Dance School. Mila adalah seorang koreografer yang sejak kecil sudah menggeluti dunia tari. Hidupnya mulai dirasakan berubah total setelah Mila memiliki putri kecil, Sandya Kirana Larasati (Kirana). Sebelum memiliki putri, Mila sering menari ke berbagai kota di Indonesia sampai ke mancanegara, intensitas berkaryanyapun bisa dibilang cukup rapat. Namun setelah memiliki putri, Mila merasakan perubahan yang sangat drastis, tidak bisa dengan gampang bepergian, jangankan ke luar kota atau luar negeri, ke luar rumahpun hanya jika ada sesuatu yang penting, itupun harus dengan membawa si kecil bersama seluruh kerepotannya. Tentu bukannya tidak bersyukur, tetapi perubahan semacam itu bagaimanapun membuat Mila sempat merasa lelah, marah, sampai-sampai ego untuk melepaskan diri dari semua tanggung jawab itu juga sering muncul.

Bertemu dengan Luise Najib, seorang penyanyi, juga sahabatnya yang kebetulan sama-sama baru memiliki putra. Mila dan Luise pada awalnya hanya sekedar saling berbagi cerita atas kelelahannya, juga berkeluh kesah tentang bagaimana kembali mengejar pasion mereka dalam keadaan yang sudah tidak sama seperti dahulu ketika masih sendiri. Alih-alih berhenti pada saling curhat semata, mereka akhirnya memutuskan untuk membuat karya bersama sebagai salah satu jalan untuk mensupport satu sama lain.

Dengan menggandeng sahabat mereka yang lain seperti Gardika Gigih (Komposer), Lia Pharaoh (Make up artist), Jenny Subagyo (Hair stylist), Manda Baskoro (Desainer), Yugo Risfriwan (Videografer), Rio Pharaoh (Fotografer), dan Kokoksaja (Visual artist), Mila dan Luise juga memiliki harapan bahwa pertemanan dan persahabatan yang sudah sekian lama terjalin tidak berhenti pada sebatas pergi atau nongkrong bersama, tetapi juga berimbas positif, salah satunya dalam bentuk karya.

Mother Earth project ini sebenarnya sudah digagas sejak Juni 2017 lalu, namun karena konsepnya terus berkembang dari video dance pada awalnya, sampai akhirnya menjadi konsep pertunjukan multidisiplin. Setelah pertunjukan tanggal 13 Maret 2018 nantipun dari Mila, Luise, maupun kolaborator yang lain juga masih memikirkan pengembangan selanjutnya dari project ini.

Membangun Kesadaran

Dalam masyarakat yang masih berada dalam konstruksi patriarkal, perempuan dan laki-laki selalu dipisahkan dalam ruang publik dan domestik. Ranah publik dianggap memiliki peran penting dalam berbagai hal, pertumbuhan ekonomi, kesejahteraan, pendidikan, politik, kesehatan, bahkan hingga perdamaian dunia, semuanya seakan tergantung pada pekerjaan-pekerjaan di ranah publik. Ada hal yang terlupakan, dan diabaikan begitu saja disini, jika semua orang mengerjakan ranah publik lalu siapa yang akan merawat bayi yang belum bisa melakukan apapun untuk dirinya sendiri, siapa yang akan membuat makanan enak untuk membuat energi kita pulih kembali dan bisa kembali bekerja atau kembali belajar dan sekolah, siapa yang akan membersihkan debu-debu di rumah yang jika tidak dibersihkan akan membuat seluruh keluarga menjadi sakit, siapa yang akan menguatkan anak-anak ketika mereka di luar rumah tidak diterima oleh masyarakat, siapa?

Kesadaran ini pulalah dibangun dalam Mother Earth Project, para kolaborator ingin memberi gambaran betapa istimewa dan pentingnya tugas seorang ibu mulai dari mengandung, melahirkan, hingga mengasuh putra putrinya, dan betapa kelelahan dan pengorbanannya setara bahkan mungkin melebihi pekerja di ranah publik. Menjadi ibu, mengasuh anak dan bekerja di ranah domestik bukanlah pilihan kedua, bukan pula pekerjaan yang memalukan, justru ada kebanggaan yang harus diselipkan dalam setiap diri para ibu. Saking mulianya, kita tidak pernah mendengar term bapak pertiwi, yang ada adalah ibu pertiwi, karena sifat-sifat di dalam kata “ibu” sendiri selalu terkait dengan mengayomi, mengasihi, menghangatkan, menenangkan. Sehingga diharapkan dengan term ibu pertiwi, negara kita terayomi, selalu dilimpahi kasih, kehangatan, dan selalu dalam kondisi yang damai.

Support System

Mila melihat selama ini koreografer perempuan terbatas umurnya, jika sudah mulai menikah dan apalagi punya anak, kemudian menjadi tidak produktif lagi. Mungkin tidak hanya di ranah tari saja, tetapi di banyak pilihan karier yang lain, anak seakan-akan menjadi penghalang. Memang setelah punya anak ada tambahan tanggung jawab yang harus dijalankan, namun apakah tanggung jawab ini semata-mata tanggung jawab ibu?

Menarik selama mengamati proses latihan Mother Earth, ketika Mila sedang berlatih bersama kolaborator yang lain, alih-alih diasuh oleh baby sitter, Kirana justru secara langsung diasuh dan ditemani oleh sang ayah, Gusti Raditya. Begitupun Luise, ketika dia sedang berlatih, anaknya bisa dengan tenang ditinggal di rumah bersama ayahnya. Tidak heran dua seniman ini masih memiliki waktu mengejar passionnya, di tengah padatnya aktivitas menjadi seorang ibu muda. Karena support system di lingkaran mereka sangat kuat. Para ayah tidak malu dan kagok untuk ikut mengasuh anaknya, hal ini juga dituturkan sendiri oleh Mila, bahwa dia merasa masih cukup beruntung, selain suaminya sangat mensupport karier dan pasionnya, suaminya juga mau berbagi peran dalam mengasuh Kirana.

Selain support dari suami, Mila juga dikelilingi oleh sahabat yang selain berbagi cerita dan kelelahan, juga mau bekerja bersama-sama membuat karya. Ini sangat penting, biasanya para ibu, karena saking fokusnya mengurus anak dan pekerjaan domestik lainnya, sampai terkadang lupa bahwa dia memiliki sahabat. Teman atau sahabat, terutama yang memiliki keluh kesah yang sama secara otomatis akan mensupport satu sama lain. Dengan saling bercerita, setidaknya para ibu tidak merasa sendiri, sehingga akan muncul kekuatan di dalam dirinya. Yang jika dimanfaatkan secara positif, mungkin akan berujung pada sebuah karya atau gagasan positif seperti apa yang terjadi pada Mila dan Luise sampai akhirnya muncul gagasan Mother Earth Project.

Jadi pertanyaannya, apakah anak adalah penghalang cita-cita seorang ibu? Tentu tidak, asalkan ada support system yang kuat mulai dari suami, keluarga, hingga sahabat. Jika semua pekerjaan pengasuhan dan domestik masih hanya berada di tangan ibu, lalu kapan ibu bisa memulai memikirkan cita-citanya?

Dari project ini ada energi positif yang ingin dipancarkan merangkul para ibu untuk tidak menyerah. Karena ada pilihan-pilihan yang sangat terbuka dan bisa diambil oleh semua ibu di dunia. Menjadi ibu dan tetap berkarya, itu pilihan Mila dan Luise yang kemudian lebih mudah karena didukung oleh orang-orang di lingkungan mereka. Bahkan Mila mengajak Kirana ikut serta menjadi performer dalam Mother Earth Project ini. Tidak untuk mengeksploitasi, namun semata-mata dengan alasan, “Jika saya tidak bisa meninggalkan anak untuk berkarya, mengapa saya tidak berkarya bersama anak?”

Pada akhirnya, sebagai sebuah pertunjukan, Mother Earth Project tentu diharapkan dapat memberikan pertunjukan yang berkualitas, namun lebih daripada itu, gagasan Mother Earth Project ini seharusnya dapat mengambil bagian menjadi salah satu support system bagi para ibu di luar sana.

Mother Earth, akan dipentaskan esok 13 Maret 2018 jam 19.30 di gedung Pusak Kebudayaan Koesnadi Hardjosoemantri (PKKH) di kompleks Universitas Gadjah Mada, Bulaksumur, Sleman, DIY.

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *