Rabu, Maret 11, 2026
ARTIKEL & ESAIDramaturgiPanggung TeaterPertunjukan MusikULASAN

Utau-Hahagokoro: Membangun Praktik Teater yang Berakar dari Pengalaman dan Pengetahuan Para Ibu

Flea Market, playground, anak-anak dan orang tua yang lalu lalang, menjadi pemandangan ketika memasuki ruang pertunjukan siang itu. Seluruh pintu masuk, keluar, dan emergency exit tetap terbuka lebar meski pertunjukan telah dimulai. Begitupun anak-anak tetap bermain di playground bahkan sekali waktu naik ke atas panggung dan menari riang meski penonton sedang fokus pada sekelompok perempuan yang tengah menyanyikan satu per satu nomor lagu. Para perempuan ini juga tidak terlihat terganggu, hanya terlihat hati-hati ketika berpindah posisi pola lantai supaya tidak menabrak anak-anak ini. Di antara perpindahan lagu, orang dewasa yang sepertinya bertugas mengawasi mereka akan meminta anak tersebut untuk kembali ke playground. Meski kemudian sang anak kembali ke playground, tetapi ketika lagu baru mulai dinyanyikan ia akan kembali ke atas panggung dan menari, gemas ya? Penonton bukannya terganggu tapi juga tertawa kecil dengan ulah sang anak.

90 menit berlalu, pertunjukan telah usai dan riuh tepuk tangan penonton memenuhi Ruang Theatre West Tokyo Metropolitan Theatre. Hari itu, 26 Oktober 2025 adalah hari terakhir Utau-Hahagokoro melangsungkan pertunjukannya dalam Performing Arts Festival: Autumn Meteorite 2025 Tokyo. “The Theater ☆ Sing! Grow! A garden of Hahagokoro ~Children’s Clothing is Reincarnation~” bukan hanya sekedar pertunjukan tapi pertanyaan bagi kita semua, seberapa inklusif ruang pertunjukan kita hari ini?

Siang itu, 31 Oktober 2025 di salah satu ruang rapat Tokyo Metropolitan Theatre, saya berkesempatan ngobrol bersama Asako Kikukawa, sutradara sekaligus founder kelompok Utau-Hahagokoro, bersama tiga anggota lainnya, Yumiko Kikuchi, Satsuki Nomura, dan Shiho Takamura. Meski waktunya sangat sempit, namun obrolan ini bukan hanya membuat saya lebih memahami pertunjukan yang beberapa hari lalu saya alami, namun juga memberi saya ruang untuk merefleksikan pilihan-pilihan hidup saya sebagai perempuan.

IMG 1298 | Utau-Hahagokoro: Membangun Praktik Teater yang Berakar dari Pengalaman dan Pengetahuan Para Ibu
Foto oleh: Alissa Osada-Phornsiri

Nyanyian Dari Hati Seorang Ibu

Sebelum membentuk grup Utau-Hahagokoro, Asako Kikukawa aktif di berbagai kelompok teater. Namun, setelah memiliki anak di tahun 2016 ia memikirkan ulang bagaimana melanjutkan kerja-kerja teater ini. Beberapa kali ia berproses teater sembari membawa anaknya ke ruang latihan, dan kelompoknya saat itu terbuka dengan pilihan ini. Ia juga pernah melakukan pertunjukan dengan konsep ibu dan anak. Meski ada keterbukaan, namun seturut pengalamannya, ternyata lingkungan latihan dan ruang pertunjukan tetap tidak cukup mengakomodasi kehadiran anak di dalamnya, apalagi ketika anaknya telah bertambah umur dan memiliki keinginan sendiri untuk melakukan berbagai aktivitas. Di sinilah ia mulai merasa kesulitan melanjutkan aktivitasnya dalam ruang latihan dan pertunjukan. Dari pengalaman ini ia mulai punya keinginan untuk membuat kelompok teater yang dapat mengakomodasi kebutuhan spesifiknya tersebut. Dari sanalah Utau-Hahagokoro terbentuk pada tahun 2017. Sesuai dengan namanya, Utau yang berarti bernyanyi, dan Hahagokoro berarti hati seorang ibu, kelompok ini adalah teater-paduan suara yang mengumpulkan para ibu-aktor yang bervisi sama untuk menghadapi kompleksitas menggabungkan peran ibu dengan peran mereka di dalam panggung teater. Meski demikian mereka tidak menutup kemungkinan bagi seniman perempuan yang belum memiliki anak. Seperti Yumiko Kikuchi, ia bergabung dengan Utau-Hahagokoro sejak belum memiliki anak hingga sekarang anaknya berumur 6 tahun. Ia juga menjelaskan bahwa selama merawat anak-anaknya, hampir setiap hari secara alami mereka bersenandung, misalnya lagu pengantar tidur. Dari sanalah mereka mendapatkan inspirasi dan kemungkinan bahwa senandung semacam ini sepertinya juga memungkinkan dinyanyikan dalam bentuk kelompok paduan suara. Salah satu nomor lagu mereka, Poop Song adalah lagu yang inspirasinya dari senandung salah satu anggota ketika mengganti popok anaknya. “Tidak semua anggota memiliki latar belakang sebagai vokalis maupun penyanyi, tapi toh bersenandung seperti ini tidak terhindarkan dikehidupan sehari-hari kami sebagai seorang ibu,” ungkap Asako.

IMG 1284 | Utau-Hahagokoro: Membangun Praktik Teater yang Berakar dari Pengalaman dan Pengetahuan Para Ibu
Foto oleh : Alissa Osada-Phornsiri

Pengalaman Menonton dan Mengalami

Ruang pertunjukan hari itu pada dasarnya adalah panggung prosenium dengan kapasitas kursi antara 195-278. Di atas panggung dipajang pakaian anak dengan keterangan ukuran di setiap rak. Playground  yang dibangun di panggung bagian bawah sudah penuh dengan anak-anak. Beberapa orang dewasa menemani mereka, termasuk juru bahasa isyarat. Menurut keterangan Satsuki Nomura, para orang dewasa yang menemani anak-anak ini disebut Irun-gers, irun sendiri berarti ada “hadir di sana”, gers (rangers) berarti “pahlawan atau penjaga”. Beberapa orang dewasa lain lalu lalang di atas panggung melihat-lihat baju, ada beberapa yang berada di seputaran playground. Belakangan saya baru tahu bahwa mereka adalah penonton yang membawa anak mereka, memang mereka diperbolehkan masuk terlebih dahulu untuk kemudian menitipkan anak-anak mereka di playground. Apa yang kami lihat sejak masuk ke ruang pertunjukan hingga pertunjukan hampir dimulai adalah suasana ceria anak-anak yang bermain dan berlarian di ruangan dari playground hingga atas panggung. Bagi saya, suasana awal yang disuguhkan ini benar-benar mempengaruhi kesuluruhan rasa pertunjukan. Kami disuguhkan kenyataan bagaimana anak-anak beraktivitas, berinteraksi, dan beradaptasi dengan ruang.

Setelah seluruh penonton masuk dan duduk, Irun-gers membacakan beberapa nomor dongeng, tentu dalam bahasa Jepang, karena sebenarnya dongeng ini ditujukan untuk anak-anak yang ada di panggung dan playground.  Meskipun begitu, disediakan terjemahan bagi penonton asing dalam bentuk foto copy. Asumsi saya, pertunjukan dongeng ini selain sebagai keputusan artistik juga keputusan praktis supaya anak-anak yang masih berlarian dapat terkondisikan berkumpul di playground, karena setelahnya pertunjukan inti akan dimulai.

BACA JUGA:  Membongkar Kubur Pentas Sagaloka : Keluarga Yang Dikuburkan

Pertunjukan inti dimulai, 10 perempuan masuk ke atas panggung dan memulai nomor-nomor lagu dalam paduan suara. Saya tidak terlalu ingat berapa jumlah nomor yang mereka sajikan, namun lagu-lagu ini disajikan pula dengan koreografi dan cerita singkat di antara lagu. Terjemahan disediakan pada layar yang disematkan di bagian atas panggung. Juru bahasa isyarat menerjemahkan di area panggung dan kadang berpindah dari titik satu ke titik lainnya untuk menyesuaikan komposisi keseluruhan di atas panggung.

Utau Hahagokoro Photo by Azusa Yamaguchi | Utau-Hahagokoro: Membangun Praktik Teater yang Berakar dari Pengalaman dan Pengetahuan Para Ibu
★うたうははごころ①_Utau-Hahagokoro_Photo by Azusa Yamaguchi

Selama 90 menit menonton, saya menemukan bahwa pertunjukan ini menerjemahkan sesuatu yang kompleks dalam balutan kesederhanaan pilihan-pilihan artistiknya. Meski lirik-lirik dalam nomor lagu yang mereka nyanyikan di atas panggung juga sederhana, menceritakan soal pengalaman dan tantangan ketika berperan sebagai ibu. Namun apa yang terjadi di ruang pertunjukan hari itu lebih dari itu, tapi juga soal bagaimana para aktor menggunakan pengalaman keibuannya sebagai sumber pengetahuan. Sumber pengetahuan yang bukan hanya tercermin dari lagu-lagu mereka, tapi juga dalam mereka mengakomodir akses yang lebih inklusif baik bagi diri dan kelompok mereka maupun bagi penonton.

Bagi seorang seniman pertunjukan, menonton pertunjukan lain adalah jalan untuk menambah serapan artistik, wacana, hingga jejaring. Dapat dibayangkan, ketika ada seniman perempuan yang memiliki anak dan masih kecil. Ia sangat ingin menonton satu pertunjukan. Bagaimana ia akan memutuskan untuk berangkat atau tidak? Beberapa mungkin punya pilihan menitipkan anaknya ke pengasuh, ibu, maupun suami. Namun ketika sama sekali tidak ada sistem dukungan seperti ini, kemungkinan besar pilihannya adalah memutuskan untuk tidak menonton, karena ketika datang dengan anaknya, kebanyakan ruang pertunjukan masih belum mengakomodir kondisi ini. Bahkan ada kebutuhan pertunjukan yang ketat, sehingga penonton harus tenang selama pertunjukan. Ini tentu sudah sangat tidak memungkinkan bagi orang tua yang membawa anak. Dari situasi ini dapat dikalkulasi, berapa kesempatan menonton pertunjukan atau bahkan forum yang terlewat dari seniman ini selama tidak hanya berbulan-bulan tapi bisa jadi bertahun-tahun, meski ia punya keinginan yang kuat.

Dari situasi ini, ketika suatu hari ia kembali melantai di panggung pertunjukan, bisa jadi ada ketertinggalan secara akses jejaring maupun pengetahuan akan perkembangan bentuk dan wacana seni pertunjukan. Mungkin ada yang bertanya, tapi kan bisa saja ia belajar dari rumah, banyak nonton pertunjukan digital atau dokumentasi pertunjukan, atau baca buku? Emmmm…kalau punya pengalaman jadi ibu rumah tangga pasti pernah merasakan huru-hara 24 jam di rumah. Bahkan terkadang untuk mandi dan makan dengan tenang pun tidak memungkinkan. Meski sudah menjadwalkan membaca buku misalnya, tiba-tiba anak yang tadinya sedang tidur terbangun dan menangis, atau akhirnya memilih merapihkan rumah ketika anak tidur. Giliran akhirnya ada waktu badan rasanya sudah tidak kuat lagi dan ikut tidur bareng anak adalah pilihan terbaik. Ya, memang bisa jadi ini pilihan, misalnya pilihan atas merapihkan rumah dan membaca, kenapa tidak memilih membaca saja? Tidak sesederhana itu ya, menjelang hingga paska melahirkan hormon oksitosin pada perempuan akan meningkat, hormon ini mempengaruhi peningkatan rasa cinta dan kasih sayang, yang kemudian  bisa jadi mempengaruhi pilihan-pilihannya. Bisa jadi memilih membersihkan rumah saat itu memang yang paling masuk akal, karena didorong rasa merawat yang muncul dari cinta dan kasih sayang. Dari sini kita dapat melihat bahwa akses perasaan tenang bahwa anaknya pasti telah terawat dengan baik atau perasaan tentram bahwa pilihan yang ia ambil tidak akan membahayakan anaknya adalah kebutuhan yang tentu dapat mempermudah ibu memilih apa yang ia lakukan dengan lebih jernih. Maka, akses menonton yang mempertimbangkan ketenangan dan ketentraman hati para orang tua terutama ibu-seniman yang sudah memiliki anak juga memang salah satu tawaran penting dalam karya ini.

DSC 1946 | Utau-Hahagokoro: Membangun Praktik Teater yang Berakar dari Pengalaman dan Pengetahuan Para Ibu
Performing Arts Festival: Autumn Meteorite 2025 Tokyo
Utau-Hahagokoro “The Theater☆Sing! Dance! Grow! A garden of Hahagokoro ~Children’s Clothing is Reincarnation~”
Photo by Azusa Yamaguchi

Ini sejalan dengan alasan Utau-Hahagokoro menyediakan playground dan Irun-gers  dalam pertunjukan mereka, karena meski mereka membuka pertunjukan bagi penonton yang sudah memiliki anak, namun sebenarnya sasaran utama pertunjukan adalah penonton dewasa. Maka, sangat mungkin anak-anak akan bosan dan tidak dapat menikmati peristiwa pertunjukan tersebut. Sehingga untuk mengakomodasi rasa tenang bagi para orang tua sekaligus memberikan anak pengalaman untuk terlibat dan mengobservasi, gagasan soal playground dan Irun-gers muncul.  Asuko percaya bahwa anak akan mengobservasi kami ketika dilibatkan pada saat kami bekerja, mereka tidak kehilangan kami, mereka juga melakukan sesuatu, mereka menyaksikan dan mengambil pelajaran dari sana.

Di luar itu, Satsuki juga menjelaskan beberapa fasilitasi akses yang lain misalnya tiket orang tua dan anak yang dapat dibatalkan hingga tengah malam sebelum hari pertunjukan berlangsung. Pertimbangan ini dilakukan, karena terkadang anak tidak dapat ditebak situasinya,misalnya tiba-tiba sakit, sistem ini memudahkan bagi para orang tua. Selain itu seluruh pintu di ruang pertunjukan yang dibuka sepanjang pertunjukan juga memudahkan apabila tiba-tiba anak rewel dan tidak dapat dikendalikan, orang tua bisa keluar dan masuk kembali sewaktu-waktu. Bahkan mereka menyiapkan tatami di pintu depan supaya mereka dapat menonton pertunjukan dari luar ruang pertunjukan jika dibutuhkan. Fasilitas lain yang mereka siapkan adalah nursing room dan tempat parkir untuk stroller. Di dalam publikasinya, mereka juga menyatakan, “A child’s crying, laughing, talking, and walking—all are part of the show. Please relax and enjoy your time (Anak menangis, tertawa, berbicara, atau jalan-jalan, semuanya adalah bagian dari pertunjukan. Silahkan bersantai dan menikmati waktumu).”

BACA JUGA:  Setelah “Pantomim dan Api Gagasan” : Percakapan Dua Penonton

Ini adalah kali pertama mereka melangsungkan pertunjukan di panggung teater, biasanya mereka berpentas di cafe, festival musik, atau ruang terbuka seperti taman. Menurut Asuko, meski semua anggotanya punya pengalaman di panggung teater, namun sebagai Utau-Hahagokoro banyak hal yang perlu mereka pertimbangkan. Memang benar, ketika menonton pertunjukan ini, saya dapat membayangkan pertunjukan ini akan lebih cair di ruang-ruang yang telah disebutkan sebelumnya, sehingga apa yang dibangun oleh pertunjukan dapat lebih mudah diakses oleh penonton. Seturut pengamatan saya, meski segala akses dipertimbangkan, namun memang ruang teater prosenium selalu sudah memiliki atmosfer dan karakternya sendiri. Dari sini, saya juga sebenarnya melewatkan beberapa hal penting dalam pertunjukan ini karena mungkin terbiasa dengan norma ruang prosenium. Ditambah lagi dengan tidak cukupnya akses informasi, saya sedikit bingung menavigasi pertunjukan ini, misalnya, apakah boleh ke area panggung atau tidak? Apakah kami boleh melihat pajangan baju bekas di atas panggung atau tidak? Yang ketika obrolan berlangsung bersama anggota Utau Hahagokoro, saya tahu bahwa penonton diperbolehkan melakukan itu semua, bahkan penonton diperbolehkan meminta salah satu baju bekas dan memberikan baju bekas anaknya sebelum pertunjukan dimulai, karena ini juga penerjemahan dari siklus reinkarnasi yang tercatut dalam judul karya.  Namun, meski melihat orang berlalu lalang, namun ada kesungkanan karena tetap saja terasa ada batas antara ruang penonton dan panggung ketika memasuki panggung prosenium. Mungkin informasi yang penuh tentang apa yang diperbolehkan dan tidak diperbolehkan pada saat registrasi ulang sebelum masuk ruang pertunjukan atau bahkan melalui informasi dari publikasi pertunjukan  akan sangat membantu. Memang ada beberapa informasi yang telah disampaikan oleh petugas di pintu masuk, namun bisa jadi karena perbedaan bahasa, ada beberapa hal yang tidak tersampaikan secara utuh.

DSC 1988 | Utau-Hahagokoro: Membangun Praktik Teater yang Berakar dari Pengalaman dan Pengetahuan Para Ibu
Performing Arts Festival: Autumn Meteorite 2025 Tokyo
Utau-Hahagokoro “The Theater☆Sing! Dance! Grow! A garden of Hahagokoro ~Children’s Clothing is Reincarnation~”
Photo by Azusa Yamaguchi

Yang Terhimpun dari Ruang Latihan

Bisa dibayangkan, setiap kali latihan pasti anak-anak para anggota akan berlarian ke sana kemari, atau ketika mereka bosan akan ada yang tiba-tiba rewel. Sungguh situasi yang tentu saja tidak selalu mudah bagi para ibu-aktor ini. Yumiko menjelaskan bahwa di dalam ruang latihan kami saling menjaga anak satu sama lain. Yang menarik adalah, mereka mengambil inspirasi dari ibu lumba-lumba. Lumba-lumba memang melakukan pengasuhan secara berkelompok. Apabila salah satu ibu lumba-lumba sedang mencari makan, lumba-lumba dewasa lainnya bergantian menjaga anak-anak. Jadi, sebenarnya ruang latihan bagi mereka adalah ruang di mana mereka melakukan pengasuhan bersama. Kepercayaan mereka terhadap satu sama lain juga tercermin dari bagaimana mereka tidak segan saling mengingatkan hingga memarahi anak anggota yang lain ketika memang diperlukan.

Selain sebagai ruang pengasuhan bersama, menurut Asako, “Selama latihan kami pada dasarnya ngobrol non-stop, selain sebagai bahan pertunjukan, ruang mengobrol ini juga membuat kami menjadi lebih saling terhubung dan berempati satu sama lain. Inilah yang menyatukan kami.” Menurut Shiho, “Meski kami tidak paham secara spesifik tantangan yang orang lain ceritakan tapi kita saling mengerti dan bisa merasakan seberapa berat itu. Selain itu, dengan sesi cerita ini juga sangat membantuku untuk melewati berbagai situasi yang berbeda.”

Bagi Utau-Hahagokoro pertunjukan yang terjadi di atas panggung pada dasarnya merupakan perpanjangan dari obrolan dan situasi di ruang latihan ini. Asako juga menambahkan bahwa ia biasanya mengambil inspirasi dari cerita para anggota untuk menyusun lirik dan naskah. Namun kemudian selama proses latihan masing-masing secara organik mengembangkan personalitas dari naskah dan lirik tersebut. Secara umum prinsipnya adalah, mereka tidak mencoba menyatukan atau membuat bahasa universal, namun setiap orang memiliki keleluasaan untuk menemukan personalitasnya. Bagi saya pernyataan ini menjadi penting karena pengalaman perempuan memang tidak dapat digeneralisir, masing-masing sangat spesifik dan unik, sehingga memang penting untuk memberi ruang bagi keberagaman pengalaman perempuan tersebut.

Dari Pengalaman Pengasuhan ke Diskusi Aksesibilitas dan Kebijakan

Pernah dengar istilah “Flamingo Era” kan? Istilah yang biasanya digunakan untuk menggambarkan fase seorang ibu setelah melahirkan di mana ia merasa kehilangan jati diri atau “warna” aslinya karena fokus utamanya adalah mengurus anak. Istilah ini terinspirasi dari burung flamingo yang warna merah mudanya memudar menjadi putih atau abu-abu saat mereka menyusui dan mengasuh anaknya. Ketika ngobrol dengan anggota Utau-Hahagokoro, mereka tidak menyangkal bahwa situasi ini juga terjadi kepada mereka. “Saya juga kehilangan diri saya dan waktu untuk membuat karya juga berkurang. Jadi ketakutan memiliki anak itu valid, namun ketika memang sudah memutuskan untuk punya anak, kita akan menemukan solusi yang paling tepat,” Asuko menjelaskan. Ia juga menyatakan bahwa apa yang ingin mereka tawarkan kepada penonton adalah rasa terhubung, beresonansi, dan empati, seperti menyatakan, “kami paham apa yang kamu rasakan.” Asuko melanjutkan, “Dengan menonton pertunjukan ini, kami berharap ketika ada penonton yang datang dengan perspektif bahwa memiliki anak itu berat, yang memang benar berat, tapi selama pertunjukan setidaknya bersama kita bisa menertawakannya atau setidaknya terasa terhubung dan tidak merasa sendiri, sehingga keluar dari ruang pertunjukan terasa lebih ringan.”

BACA JUGA:  Repertoar Pūkheā di Bingkai Balada, Sebuah Catatan Tentang Gunung Dalam Perjalanan Bersepeda Lombok – Jakarta
DSC 8400 | Utau-Hahagokoro: Membangun Praktik Teater yang Berakar dari Pengalaman dan Pengetahuan Para Ibu
Performing Arts Festival: Autumn Meteorite 2025 Tokyo
Utau-Hahagokoro “The Theater☆Sing! Dance! Grow! A garden of Hahagokoro ~Children’s Clothing is Reincarnation~”
Photo by Azusa Yamaguchi

Salah satu koordinator program pertunjukan ini yang juga bagian dari tim Autumn Meteorite, Performing Arts Festival Tokyo, Shotaro Kawasaki memberikan pengalamannya ketika mengikuti proses hingga menonton pertunjukan ini. Dari pertunjukan ini ia menyadari bagaimana orang tuanya menaruh banyak cinta dan kasih sayang selama membesarkannya. Selain itu, ia juga melihat bahwa pertunjukan ini bukan sesuatu yang sangat biner dan heteronormatif, maksudnya bukan sekadar tentang sesuatu yang terkait dengan menikah dan memiliki anak. Ia melihat bahwa karya ini adalah tentang bagaimana kita terhubung dan merawat hubungan dengan orang lain, apakah itu anak, ataupun yang lain, teman, kolega, pasangan, dll. Di luar pengalamannya sendiri, Kawasaki juga menyatakan bahwa berkali-kali ia menjadi koordinator program, di akhir pertunjukan ia seringkali mendengar penonton memuji pertunjukan yang ia kerjakan. Namun kali ini, penonton yang datang kepadanya berkata terimakasih atas pertunjukan ini. Penonton yang lain juga menyatakan bahwa karya ini bukan hanya pertunjukan,  namun juga sebuah perayaan, sebuah pengingat, dan menjadi salah satu bagian yang sangat bermakna bagi festival.

Bagi saya, tawaran dalam pertunjukan ini adalah pintu masuk bagi diskusi lebih jauh soal inklusifitas dan akses dalam berbagai bidang dan keberagaman kebutuhan. Secara struktural mungkin akses universal bagi kebutuhan-kebutuhan khusus dapat diakomodasi, namun, tentu masing-masing orang punya situasi spesifiknya. Oleh karenanya dalam kasus Utau-Hahagokoro, mereka juga menyatakan bahwa tidak ada jawaban yang universal bagaimana membangun lingkungan yang lebih mendukung para anggotanya untuk kerja yang berkelanjutan, namun ada satu hal cukup signifikan yang biasanya secara umum mempengaruhi keberlanjutan kerja ini, yaitu dukungan keluarga. Di luar itu, dalam ruang latihan mereka selalu mendengarkan kebutuhan masing-masing aktor dan mengakomodasinya dalam kerangka individu. Asako melanjutkan, “Harapannya, perspektif dan akomodasi semacam ini bisa menjadi norma, bukan sesuatu yang tidak biasa dan asing.”

Utau Hahagokoro Photo by Azusa Yamaguchi | Utau-Hahagokoro: Membangun Praktik Teater yang Berakar dari Pengalaman dan Pengetahuan Para Ibu
うたうははごころ③_Utau-Hahagokoro_Photo by Azusa Yamaguchi

Selain itu, bagi Shiho, sebenarnya dengan situasi Jepang hari ini yang mengalami penurunan drastis angka kelahiran anak, karya ini dapat menjadi tawaran penting baik bagi kebijakan pemerintah, ataupun masyarakat. Sesuai dengan apa yang tercatut dalam theguardian.com tanggal 19 Juli 2024 oleh Tim Hornyak, “Surveys have shown that many young Japanese are reluctant to marry or have families because of concerns about the high cost of living in big cities, a lack of good jobs, and a work culture that makes it difficult for both partners to have jobs, or for women to return to full-time employment after having children (Survei menunjukkan bahwa banyak anak muda di Jepang enggan untuk menikah atau berkeluarga karena kekhawatiran mengenai tingginya biaya hidup di kota-kota besar, kurangnya pekerjaan yang layak, serta budaya kerja yang membuat sulit bagi kedua pasangan untuk sama-sama bekerja, atau bagi perempuan untuk kembali ke pekerjaan penuh waktu setelah memiliki anak).” 

Mungkin karya ini tidak akan serta merta mengubah situasi atau pandangan masyarakat bahwa memiliki anak itu mudah, tentu juga bukan menjadi ajakan untuk memiliki anak. Namun, lebih jauh lagi karya ini dapat menjadi pintu masuk untuk mendiskusikan seperti apa dukungan kolektif bahkan kebijakan atau dukungan pemerintah yang dibutuhkan dalam rangka mengurangi kekhawatiran bagi masyarakat untuk berkeluarga bagi yang sebenarnya memang menginginkannya.

Maka, memang karya  “The Theater ☆ Sing! Grow! A garden of Hahagokoro ~Children’s Clothing is Reincarnation~” oleh Utau-Hahagokoro ini dimulai dari cerita sederhana seorang ibu yang menyenandungkan Poop Song sembari mengganti popok anaknya. Namun dari sana, ia membawa kita semua dalam perbincangan dan refleksi tentang aksesibilitas hingga keberpihakan kebijakan pemerintah terhadap masyarakatnya.

Terimakasih kepada:

  • Tim Performing Arts Festival: Autumn Meteorite 2025 Tokyo yang mendukung dan mengkoordinir pertemuan ini, Makiko Yamaguchi, Alissa Osada-Phornsiri, Rin Terada, Shotaro Kawasaki, dan lainnya yang tidak dapat disebutkan satu per satu.
  • Hibiki Mizuno dari Art Translator Collective yang membantu menerjemahkan obrolan selama proses wawancara berlangsung.

Nia Agustina

Nia Agustina

Producer dan pendiri Paradance Festival di Yogyakarta. Bekerja sebagai kurator Indonesian Dance Festival 2017-2020.