Setelah Menonton “Letters to the Sky”-Papermoon Puppet Theatre

Oleh: Rio Heykhal Belvage

 

Boleh jadi teater adalah bentuk analog dari film–satu bagian dari seni klasik dalam bercerita, di mana penonton dapat merasai langsung sensasi kehadiran setiap tokohnya–satu hal yang gagal ditawarkan teknologi visual bioskop bahkan dengan kacamata tiga dimensi sekalipun. Dan daya-tarik Papermoon Puppet bagi orang yang baru pertamakali menonton teater boneka seperti saya, adalah kisahnya yang menggugah ingatan, sekaligus mendekatkan sisi-sisi kemanusiaan yang kian aus oleh kekinian urban.

Salah satu adegan dalam “Letters to the Sky”. Foto : Rio Heykal Belvage.

Sebelum menonton langsung Letters to the Sky, tadinya saya sempat bertanya-tanya dalam hati, apa gerangan yang membuat teater satu ini demikian banyak dikenal. Seorang kawan yang juga seniman pengasuh teater gerak di Jogja mengakui Papermoon memang sangat menarik dan layak untuk ditonton. Kesan serupa juga saya dapati ketika bercerita dengan kawan yang pernah menjadi bagian dari Teater Lilin Atmajaya Jogja. Saking tenarnya Papermoon, agaknya memang sudah bukan rahasia lagi bila teater ini biasa keliling membawa bonekanya ke luar negeri untuk berbagi cerita. Kabarnya, sebelum Letters to the Sky digelar maraton di Jogja, stok tiketnya sudah ludes terjual semua. Tak ayal ini menambah penasaran saya untuk segera menontonnya.

Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Satu jam sebelum pertunjukan dimulai, malam itu Lembaga Indonesia Perancis (LIP) yang menjadi tempat dihelatnya pertunjukan telah dipadati para calon penonton. Sebagaimana pagelaran di tempat tertutup pada umumnya yang tak membolehkan penonton mengambil gambar saat pertunjukan berlangsung, mau tak mau malam itu saya mesti memanfaatkan ingatan saya sebagai kamera cadangan untuk merekam pertunjukan. Dengan kata lain tulisan ini tak lebih dari interpretasi, cerminan memori saya sendiri, bahwa yang saya tulis di sini tak lepas dari adegan-adegan yang meninggalkan kesan tersendiri bagi saya, terlepas dari banyak momen yang tak sempat tertangkap ingatan selama pertunjukan itu berlangsung.

Memantik Imaji dan Memori

Mulanya saya sempat membayangkan secara liar Letters to the Sky seperti film The Greatest Showman, yang berkisah tentang seseorang yang dengan kemampuan imajinatifnya merancang pagelaran “orang-orang aneh”–dan dengan keanehannya itulah ia justru mendapat tempat spesial di lingkungan sosialnya. Keanehan yang saya maksud adalah saat memperhatikan dunia penonton. Bagaimana mungkin orang, puluhan, ratusan, bahkan mungkin ribuan, bersedia berduyun-duyun datang silih-berganti ke ruang yang sama hanya untuk didongengi oleh boneka? Sebuah boneka yang gerakannya meniru gerak manusia dan terlihat tak begitu fleksibel karena mesti digerakkan oleh orang (puppeteer)? Kenapa tidak si orangnya saja langsung yang bergerak memperagakan kisah itu? Tentu saja pertanyaan-pertanyaan awam semacam itu tak akan nongol bila sebelumnya saya pernah menonton teater boneka seperti Papermoon Puppet.

Boneka putih mengingatkan pada karakter kartun “Casper”. foto : Rio Heykal Belvage

Tapi ketika lampu dipadamkan dan pagelaran yang berdurasi tak sampai satu jam itu mulai, saya tersenyum-senyum sendiri. Apa yang membuat saya bertanya, terjawab satu-persatu. Pertunjukan dimulai dengan iringan musik dan munculnya boneka dengan cahaya putih digerak-gerakkan, menggelitik memori masa kecil saya. Saya mencoba mereka-reka kembali tumpukan memori masa kecil dan menemukan sosok Casper. Ya, visualitas di awal pertunjukan itu mengingatkan saya pada hantu Casper. Film populer bagi anak-anak yang tumbuh di tahun 90’an. Wujudnya seperti asap putih dan punya kelebihan menembus benda-benda padat.

***

Dengan mengadopsi teknik wayang yang bermain dengan bayang-bayang, suara musik dan gerak boneka itu saling berkelindan membentuk satu kisah utuh. Boneka itu bergerak meniru manusia, digerakkan oleh puppeteer. Sepintas memang terkesan tidak luwes sebab boneka itu mencoba meniru manusia. Bukan sekedar gerakannya, tetapi juga emosinya. Emosi yang “ditanamkan” dan menubuh dalam boneka itu adalah tiruan yang menarik perhatian karena membuat penonton seperti mendapati dirinya sendiri di depan pertunjukan. Agaknya inilah salah-satu yang membuat pagelaran ini ditunggu-tunggu. Ia dapat menggugah kenangan siapa saja. Apalagi pertunjukan ini berkisah tentang perpisahan. Satu kejutan kecil bagi saya, bahwa ternyata hanya melalui interaksi inderawi penonton dengan boneka yang diselingi musik, teknik pencahayaan, dan minim bahasa verbal, emosi penonton bisa dibawa larut ke dalam kisah. Sesekali tertawa, lalu terkesiap, diam, menyimak momen-momen dramatik.

Teater ini berkisah tentang hubungan ayah dan anak perempuan bernama Puno dan Tala. Yang akan berkebalikan dengan–bila kita bandingkan, legenda dari Sumatera, Malin Kundang: relasi antara ibu dan anak lelaki dengan pesan moral yang kuat dan berakhir tragis. Mengangkat judul Letters to the Sky, Papermoon Puppet memilih tragedi menjadi tema yang diusung dalam pertunjukan. Tala, si perempuan yang ditinggal mati ayahnya. Duka tak terbayangkan yang bisa yang muncul akibat ingatan tentang perpisahan, tentu dialami oleh semua yang hidup. Dengan menampilkan tragedi melalui kisah Puno dan Tala, Papermoon mengajak penonton menjamahi wilayah eksistensial, satu kecemasan yang bisa mendekap manusia dengan sangat personal karena kematian. Agaknya inilah wujud rekonsiliasi terhadap realitas yang tidak kenal konformis itu, realitas yang tak selalu sesuai dengan apa yang menjadi kehendak manusia. Pagelaran ini, selain sebagai karya seni, juga seperti hendak menyatakan sesuatu yang lain, yang melampaui, yaitu cara berdamai dengan kenyataan yang tak selalu lempang.

Melebur Penonton pada Tontonan

Rindu pada seseorang yang sudah tiada, dan memori Tala tentang sosok ayahnya, menerbitkan haru, menghibur penonton atau justru sebaliknya, kian membuat pemilik ingatan itu dirundung duka–suatu kerinduan yang tak mudah dirumuskan dengan bahasa kata. Efek-efek emosional inilah yang membuat pertunjukan Papermoon bersifat universal, sehingga mudah merembes dan diterima oleh kalangan dari lintas budaya. Karena tema-tema humanisme seperti kematian dan perpisahan adalah persoalan yang tidak mungkin dikotak-kotakkan. Dengan gaya berkisah dan tema yang digubah ke dalam gaya tutur klasik: teater, Papermoon menembus sekat kultural yang biasanya memisahkan manusia satu dengan manusia lain, seperti perbedaan bahasa, bangsa, sejarah, politik, gender dan seterusnya. Kisah Puno dan Tala pada akhirnya mendudukkan setiap manusia dalam ruang yang sama: cinta-kasih, memori, kematian dan kerinduan.

Surat-surat dalam bentuk perahu kertas. Foto : Rio Heykal Belvage

Tidak ada yang tidak sedih ketika mengalami perpisahan. Terlebih berpisah dengan orang-orang terdekat. Setiap orang tentu akan dirundung duka dan rindu. Dan justru dari kedukaan dan rindu itulah manusia belajar menerima atau menyiasati kenyataan. Dengan duka, manusia diingatkan betapa ia hanyalah makhluk yang terbatas. Dengan duka, ia menjadi paham betapa berharganya kebahagiaan. Itu juga mungkin yang ketika menonton Papermoon, saya seperti bertemu selarik sajak Amir Hamzah, “bertukar tangkap dengan lepas” – melalui perahu-perahu kertas.

***

Ada satu hal yang membuat pertunjukan ini menjejal di memori saya. Tepatnya pada bagian akhir cerita. Saat ruang yang sebagian terang dan sebagian lain temaram, puluhan perahu kertas berisi surat-surat yang ditujukan untuk mereka yang sudah tiada dan digantung dengan seutas benang memenuhi ruang, tiba-tiba turun perlahan. Perahu kertas itu turun sampai setinggi kepala penonton mengakhiri kisah Puno dan Tala. Pada momen itu, ketika umumnya di akhir pagelaran penonton akan kembali ke dunianya, ide pada akhir pertunjukan itu seolah menginginkan yang sebaliknya. Ia tak mengijinkan penonton kembali begitu saja ke dunianya. Alih-alih membiarkan mereka keluar satu-persatu dari ruang pagelaran, kisah itu justru mengundang penonton untuk masuk lebih dalam ke dalam kisahnya, dengan membuat mereka berinteraksi membacai sendiri surat-surat di perahu kertas. Di sinilah, pagelaran yang semula terpampang batas antara dunia “penonton” dan “yang ditonton” larut menjadi satu. Tidak ada lagi kisah Puno dan Tala sebab setiap penonton adalah Tala dengan memori tentang Puno yang beragam. *)

 

Rio Heykal Belvage, Peneliti Antropologi dan penikmat seni. Beberapa tulisan lain pernah dimuat dalam jurnal ilmiah, seperti Jurnal Kajian Seni UGM, Jurnal Masyarakat dan Budaya LIPI, Jurnal Ranah Antropologi UGM, dan tulisan lain di media-media kolektif seperti laman www.teraseni.com, www.indoprogress.com, www.geotimes.co.id, www.minumkopi.com, serta blog pribadi www.belvage.wordpress.com.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *